Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 107 Kawan lama di balik jeruji


__ADS_3

Tidak lama kemudian Andi dan Rara telah tiba di tempat kerjanya.


Rara turun di depan distributor sedangkan Andi langsung membawa mobil pajero new sport ke area parkiran di halaman kantor Pt Anggita Surya Mandiri.


Kemudian Andi keluar dari dalam mobil, lalu Andi memanggil security.


"Pak, pak ibnu." Panggil Andi.


Security pun langsung bergegas memenuhi panggilan Andi.


"Iya pak Bos." Ujar Ibnu.


"Tolong kasihkan kunci mobil pada Buk Anggita ya." Pinta Andi.


"Baik Pak Bos." Tukas Ibnu sambil mengambil kunci dari huluran tangannya Andi.


Setelah itu Andi langsung berjalan menuju bengkel, karena sebentar lagi jam masuk kerja.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi.


"Wa alaikum salam." Jawabnya serempak.


"Dari mana pak Bos?." Tanya Asep.


"Biasa pak Asep, abis makan siang di luar." Jawab Andi.


"Wah seru dong Bos." Pungkas Gio ikut bicara.


"Apanya yang seru pak Gio, kaya nonton bola aja." Tukas Andi.


"Ya seru makan siangnya sama gebetan pak Bos." Ujar Gio.


"Pak Gio ini ada-ada aja, bukan seru-seru lagi, tapi romantis." Timpal Andi.


"Widiiiiih muuantap." Cetus Peri.


"Iya dong." Sahut Andi.


"Waduuh jadi pingin muda lagi dong, kita-kita ini, iya gak yo." Celetuk Asep.


"Ah dasar lo', ingat tuh anak bini." Pungkas Gio.


"Ya gua ingat dong sama anak bini, emang salah kalau gua berpenampilan muda, meski wajah agak ketua'an dikit sih." Ujar Asep.


"Huuuuhhhh, dasar p'a." Semua serempak.


"Orang begini nih, tua sebelum usia, karena kurangnya piknik." Cibir Asep.


Andi dan Toglo hanya tersenyum tipis menyaksikan tingkahnya Asep dan Gio.


"Kalian itu persis seperti pak Kamal dan Pak Hasan." Ujar Toglo ikut nimrung.


"Oh iya seperti di ingatkan, pak Hasan kemana ya ko sudah beberapa hari tidak masuk." Timpal Peri.


"Pak Hasan lagi kurang sehat." Jawab Andi.


"Saya perhatikan pak Hasan akhir-akhir ini sering sakit-sakitan." Cetus Asep.

__ADS_1


"Mungkin karena paktor usia kali." Ujar Gio.


"Mungkin juga, soalnya pak Hasan, orang paling tua di famili Gang Si'iran." Timpal Toglo.


"Oh aku kira Almarhum pak Nandi yang paling tua, ternyata pak Hasan, pantesan pak Hasan sudah punya cucu." Timpal Asep.


"Tau dari mana kamu kalau Pak Hasan sudah punya cucu?." Tanya Toglo.


"Ya kan waktu liburan akhir bulan itu di danau, pak Hasan membawa cucunya." Jawab Asep.


"Oh iya, ternyata kamu panjang ingatannya, hehee." Ujar Toglo tersenyum sedikit.


"Wah sudah jam satu nih, ayo kita kerja lagi." Pungkas Andi.


Andi, Toglo dan ketiga anak buahnya langsung bersiap-siap untuk memulai lagi aktip vitasnya.


Kesibukan mereka dalam beraktip vitas, sudah menjadi kecinta'annya bergelut di dunia otomotip.


Walau harus bermandikan oli dan kotoran dari sebuah kendara'an yang mereka kerjakan, sedikitpun tidak membuat mereka hilang semangat.


Bengkel SKD motor kini semakin berkembang pesat dan menjadi bengkel terbesar di kota itu, banyak para castamer dari luar wilayah kota yang datang, karena pelayanannya yang bagus dan dalam pengerja'annya yang sangat profesional, membuat para pelanggan merasa puas.


Pukul 16:30 menit.


Semua karyawan PT Anggita Surya Mandiri telah keluar dari ruangan kerjanya masing-masing dan sudah memenuhi area parkiran kendara'an.


Satpam pun kini telah sibuk mengatur kendara'an yang keluar dari area parkiran satu persatu.


Setelah semua karyawan keluar, satpam langsung menutup gerbang dan di kunci dengan sebuah gembok menggunakan kode tertentu.


Sore itu Rara berjalan kaki menuju pada sebuah mes yang baru di sediakan oleh pihak perusaha'an, bersama beberapa karyawan yang berdomisili jauh di luar kota.


"Ya enggak lah Mit, malu aku kalau harus minta di anter terus." Jawab Rara.


"Kalau pak Andi yang minta gimana, mau kaaan." Ejek Mira.


"Gimana ya." Ujar Rara sambil menengadahkan wajahnya ke angkasa.


"Tinggal jawab mau apa gak, susah amat sih." Cibir Mita.


"Uluuuh ko jadi kamu yang sewot sih." Tukas Rara.


"Lagian jawab gitu doang, mikirnya sampai ke ujung langit ke tujuh." Timpal Mita.


Kedua temannya yang lain yaitu, Alya dan Anisa ikut nimrung meramaikan suasana.


"Wah waah, aku perhatikan kalian berdua ini ribut aja, ngomongin masalah apa sih, kayanya penting banget." Celetuk Alya.


"Apa aja boleh." Tukas Rara.


"Tuh kan, di tanya malah gitu, awas ya kalau suatu sa'at butuh aku, jangan harap aku mau." Timpal Alya sambil mencubit pinggangnya Rara.


"Adawww, sakit tau." Jerit Rara.


"Rasain tuh, makanya di tanya itu jawab yag benar, Woo." Ejek Alya sambil memonyongkan bibirnya.


"Awas lho nanti aku bilangin sama pak Andi." Ancam Rara bergurau.

__ADS_1


"Bilang aja." Jawab Alya.


"Sudah-sudah kalian ini ribut aja, sekarang kita mempunyai tugas untuk mengepel mes baru yang akan kita tempatin." Ujar Anisa.


Setelah itu empat gadis yang masih berusia muda belia, sibuk mengepel dan menata kamar yang akan di jadikan mereka tempat tinggal.


Kini hari sudah mulai senja, nampak di kejauhan dua pengendara motor Yamaha Rx king sedang melaju mendekati pada Rumahnya Andi.


Setiba di luar depan gerbang rumah kedua pengendara itu berhenti, sambil mengetuk pintu besi.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaium." Sapanya bernada agak tinggi karena jarak pintu gerbang dan rumah lumayan agak jauh.


Dua menit setelah orang itu mengetuk pintu besi, Nampak terlihat pintu depan rumah mulai terbuka perlahan, bersama'an dengan munculnya sosok tubuh jangkung kekar padat berisi, yang tak lain adalah Andi Nayaka.


"Selamat Sore An." Sapanya.


"Hai Rik, sore kembali, ya sudah masuk aja pintunya tidak di kunci ko." Ujar Andi.


Ternyata orang itu adalah Erik.


Kemudian Erik membuka pintu besi tersebut, Lalu melajukan motornya memasuki halaman rumah yang di ikuti oleh temannya.


Sedangkan Andi terus memandang pada temannya Erik dengan intens.


"Siapa yang di bawa Erik, kalau lihat posturnya kaya gua kenal, tapi wajahnya masih tertutup helm." Gumam Andi dalam hati.


Setelah kedua motor di parkir, Erik dan temannya melangkah turun dari motor sambil berkata.


"Coba lo' perhati'in siapa yang gua bawa." Ujar Erik.


"Ya mana gua tau, jelas juga kagak wajahnya." Tukas Andi.


"Masa lo gak kenal sih, coba lo perhatikan baik-baik siapa nih." Timpal Erik sambil memegang bahu kanan temannya itu.


Andi merenung sambil mengkerutkan jidatnya, seperti lagi mengingat-ngingat sosok tubuh yang ada di depannya itu.


"Sebentar, kalau sosok tubuh seperti ini kayanya tidak asing deh." Ujar Andi sambil memandang orang itu turun naik.


Lalu Andi secara tidak sengaja memandang pada jempol tangan orang itu yang bengkok, Andi kini tersenyum tipis.


"Abeng." Tunjuk Andi pada orang itu.


Ketika Andi menyebut nama Abeng, orang itu langsung membuka helmnya.


"Bener kan elo Abeng." Tunjuk Andi lagi semringah.


"Haha, daya ingatanmu sangat peka sekali Bang, ia benar gua Abeng kawan lamamu di jeruji." Ujar orang itu.


Lalu Andi dengan replek memeluk orang itu yang bernama Abeng.


"Gua senang sekali bisa bertemu lo." Ujar Andi sambil memeluk Abeng.

__ADS_1


"Gua juga sama Bang." Balas Abeng.


Lalu Andi melepaskan pelukannya dan menuntun Abeng menuju sebuah bangku besi.


__ADS_2