
Agak sedikit malu dan canggung, Brian ingin menanyakan tentang kepribadian Anggita pada Bela.
"Abang mau bertanya apa? Oh aku tau pasti abang mau bertanya tentang Anggita kan." Ujar Bela sambil tersenyum.
Brian yang tadinya selalu sibuk dengan bisnis, dan baru kali ini hatinya mengenal sama yang namanya perasa'an cinta.
Jadi agak sedikit kaku bila mau terbuka sama Bela tentang perasa'annya.
"Abang malu mau berterus terang." Tukas Brian.
"Abang ku yang ganteng, kenapa harus malu, abang benar suka sama Gita?." Tanya Bela.
Brian cuma menganggukan kepalanya.
"Nah gitu dong, aku dukung kalau benar abang suka sama Gita, dia wanita baik, pintar pembisnis dan cantik lagi." Lanjut Bela berkata.
"Emang Anggita kerja di mana?." Tanya Brian.
"Anggita itu pemilik perusaha'an suplier, Pt Anggita Surya Mandiri, yang tadinya di kelola oleh ayahnya Pak Nandi Suryaman, salah satu pemilik perusaha'an yang ikut Andil di PT Tirta Jaya Kusuma, yang sekarang aku pegang." Jelasnya Bela.
"Yang bener lo'." Tukas Brian.
"Iya, masa aku bohong sih." Jawab Bela.
Raut wajah Brian kini nampak berseri-seri seperti ada jalan untuk lebih dekat lagi sama Anggita.
"Gimana caranya ya, untuk bisa dekat sama Anggita." Tutur Brian meminta solusi.
"Waduuh, kacian banget abangku yang ganteng ini, rupanya lagi bucin ya." Ejek Bela.
"Tuh kan ujung-ujung kamu malah ngece sama aku." Tukas Brian.
"Ma'af Bang, bercanda kali." Ujar Bela.
"Pokoknya abang tidak usah kuatir, nanti abang ikut andil di perusaha'an papah yang ku kelola sekarang, atau abang mencoba memasokan produk di perusaha'an abang ke Pt Anggita, supaya abang bisa lebih dekat nantinya sama Anggita." Lanjut Bela memberi solusi.
"Boleh juga idemu." Sahut Brian tersenyum melebar.
Setelah itu Brian keluar dari kamarnya Bela, membawa hati yang berbunga-bunga.
"Yes.." Celetuk Brian bermonolog.
Lalu Brian memasuki ruangan kamarnya sambil menutup rapat pintu kamar.
Perlahan Brian merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, kedua netranya memandang pada langit-langit kamar, bersama'an dengan terbangnya lamunan pada sosok wajah cantik berlesung pipit.
Malam pun sudah semakin larut, Brian pun sudah nampak memejamkan matanya.
__ADS_1
Udara dingin bersama kabut telah menyelimuti perbukitan dan pusat kota.
...................................
Ke esokan harinya.
Pukul 05:30 menit.
Seperti biasa lalu lalang kendara'an di jalan raya nampak sudah begitu padat, karena sebagian para karyawan dari perusahaan banyak yang memilih untuk berangkat pagi, guna menghindari kemacetan.
Seperti halnya lelaki Jangkung berperawakan atletis lagi melaju dengan sepeda motor Yamaha Rx king cobra menuju sebuah pasar Delima.
Tidak lama kemudian lelaki itu berhenti di sebuah jongko kios yang menjual sayur-sayuran.
"Halo Mang selamat pagi." Sapa lelaki itu.
"Ee'eh..Jagoan mamang nih, tumben kamu yang belanja, biasa ibukmu dan kakakmu." Ujar si penjual sayur.
"Iya mang, Ibuk lagi kurang enak badan dan kak Anggita lagi sibuk menyiapkan buat memasak pagi ini." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Andi Nayaka.
"Oh begitu, mau beli apa nih?." Tanya si mamang tukang sayur.
"Ibuk bilang tadi yang biasa, tukang sayurnya sudah tau, kata ibuk begitu." Ucap Andi.
"Siap." Ujar tukang sayur sambil mengambil beberapa sayuran dan ikan yang biasa Sindi suka beli.
"Biasa." Jawab tukang sayur.
"Ya biasa berapa, kan gua gak tau." Tukas Andi.
"Enam puluh ribu." Jawabnya.
Kemudian Andi mencabut dompetnya dari saku celana bagian belakang, dan di ambilnya uang berjumlah enam puluh ribu.
"Ini mang." Ujar Andi sambil memberikan uang pada si tukang sayur tersebut.
"Terima kasih." Jawabnya sambil menerima uang dari huluran tangannya Andi.
"Sama-sama." Ucap Andi.
Setelah itu Andi langsung beranjak pergi meninggalkan tukang sayur itu dengan sepeda motornya melaju memasuki jalan Gang Si'iran.
Tidak lama kemudian.
Andi sudah sampai di depan rumah, lalu Andi melangkah turun dari sepeda motornya, dan berjalan memasuki kedalam rumah.
Setibanya di dalam Andi langsung menuju ruangan dapur, di simpannya sayuran tersebut di atas meja.
__ADS_1
Kemudian Andi meraih sebuah gelas dari rak, lalu di tuangnya serbuk kopi bersama satu sendok gula kedalam gelas.
Lalu di seduhnya dengan air yang masih mendidih dari sebuah panci, lalu di aduk-aduk dengan sendok sampai kopi dan gula itu larut, sehingga menciptakan cita rasa dan aroma yang khas.
Andi mencium aroma dari kopi yang nampak terlihat mengepul dengan indra penciumannya.
"Waah mantap, wangi dari biji kopi pilihan membuat orang tidur jadi melek." Gerutu Andi.
Kemudian Andi melangkah kan kakinya menuju keluar rumah, seperti biasa Andi duduk di bangku besi sambil melihat ikan-ikan yang berenang di kolam.
Satu seripiran kopi di gelas kaca, sebagai awal pembuka perjalanan hidup di hari ini.
Pukul 07:15 menit.
Andi beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah masuk kedalam rumah dan berjalan menuju ruang kamarnya.
Kemudian Andi meraih jaket levis yang menggantung di kastop, lalu ia keluar dari kamarnya sambil memanggil ibuknya.
"Buk, ibuk.." Panggil Andi.
"Iya..ada apa?." Ucap Sindi bertanya.
"Aku mau ke bengkel di jalan ketupat buk, sekalian mau memperbaiki bengkel dan toko yang ruksak itu." Pamit Andi.
"Iya nak, kalau bisa sekalian bikin gerbang yang tinggi, agar tidak terlalu terbuka, ya untuk menjaga dari perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab kaya kemarin." Usul Sindi.
"Iya buk, itupun sudah aku rencanakan, dan aku mau nambah karyawan dua lagi buat jaga malam di bengkel, kalau di kantor dan distributor kan sudah ada pak Rojak dan pak Gandi." Jelas Andi.
"Ya bagus itu, terus dananya kamu ada." Tukas Sindi.
"Untuk sementara ku pakai dulu uang tabunganku Buk." Ujar Andi.
"Wualaaah .. Nanti gimana dengan tabunganmu." Ujar Sindi.
"Ya harus gimana lagi Buk, namanya juga bisnis, dari pada kita pinjam ke Bank, mending pakai tabunganku dulu." Ucap Andi.
"Ya sudah, kamu gak sarapan dulu." Ujar Sindi.
"Nanti aja di situ, lagian sekarang aku belum lapar Buk." Sahut Andi.
Kemudian setelah itu Andi melangkah keluar menuju pada sepeda motornya.
Andi melangkah naik duduk fibatas jok sepeda motornya, setelah sepeda motor menyala, Andi menarik gasnya, motorpun melaju di sepanjang jalan Gang Si'iran.
Setiba di pertiga'an jalan Delima Andi langsung mengambil arah ke kanan.
Andi melajukan sepeda motornya dengan cepat dengan tujuan Jalan ketupat.
__ADS_1
Suara yang khas dari sang legenda dengan di iringi oleh hembusan asap putih yang keluar dari selongsong knalpot menari-nari tersapu angin.