Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 39 Huru Hara di dalam penjara.


__ADS_3

Dengan cepat mereka pun langsung bangkit, dengan sangat bringas menyerang lagi Andi, dalam posisi ruangan yang tidak leluasa dalam gerakan Andi melompat ke dinding lalu berbalik dengan sapuan tendangan.


Heaaa


Buk buk buk buk buk..


Auuuuggghhhh


Jerit kesakitan dari mereka, karena tendangan Andi begitu berbobot bagaikan sapuan halilintar yang menghantam bumi.


"Ayo masih mampukah mengadakan perlawanan." Tantang Andi.


"Ampun Bos, kami menyerah mengaku kalah, dan sekarang ke tua geng disini adalah anda." Ujar lelaki yang bernama Abeng salah satu pentolan sebelum Andi masuk kesitu.


"Tidak ada geng-gengan semua manusia sama dan harus saling menghargai." Ujar Andi.


"Memang sudah aturannya begitu, di setiap penjara pasti ada ketua gengnya, ini kan penjara terbesar di kota ini." Ungkap Abeng.


"Ya terserah kalian mau panggil gua apa." Cetus Andi.


Selepas itu petugas penjara datang, sambil memukul jeruji besi, dan membuka kunci gembok.


"Sa'atnya makan siang." Ujarnya.


Para Navi dari setiap sel pada keluar menuju ruangan besar tempat para Navi untuk melaksanakan makan.


Andi bersama delapan orang yang tergabung dalam satu sel berdiri berbaris dalam antrian yang panjang


Tidak lama kemudian Andi dan ke delapan temannya sudah mendapat giliran, dan berjalan menuju meja yang masih kosong.


Tanpak mereka sadari ada beberapa bola mata yang mengintai pada Andi.


Andi tetap saja pokus pada makanan yang lagi di santapnya.


Srek srek srek


Andi menangkap ada beberapa kaki yang lagi berjalan mendekati dirinya, Andi melirik dengan sudut matanya dan pasang waspada, karena Andi sudah di beri tahu oleh Abeng, bahwa kehidupan di penjara jauh lebih keras di banding kehidupan di jalan.


Ketika Andi masih pokus pada makanannya yang tinggal sedikit lagi, ada sebuah cairan dingin telah mengguyur kepalanya hingga basah kuyup, Andi tidak menghiraukan ia tetap ingin menghabiskan makanannya.


Ketika makanan sudah Andi habiskan, perlahan Andi mengangkat tubuhnya berdiri lalu berbalik menghadap ke arah mereka.


"Anda tidak di ajarkan sopan santun rupanya." Tegur Andi.


Hahahahahaha


Mereka hanya tertawa puas mendengar perkata'an dari Andi.


"Heh bocah berani juga berceramah pada kita-kita ini." Ujarnya sambil memandang pada kedua temannya.


"Jadi kalian masuk penjara karena otak kalian sudah terbalik gitu, kalian salah masuk seharusnya kalian masuk RSJ." Ujar Andi kesal.

__ADS_1


"Setan alas, ku bunuh kau." Teriaknya sambil meluncurkan pukulannya ke arah Andi.


Andi merunduk sambil menangkis pukulan lawan dengan pukulan guntingan.


Kemudian kedua temannya secara bersama'an melompat ingin menghabisi Andi, tapi belum saja sampai, tendangan Andi terlebih dahulu telah menggedor tulang rahangnya.


Jerejeg


Lelaki bertubuh gembal terdorong beberapa langkah.


Lalu kedua temannya meraih gelas yang ada di meja dan di pecahkan, benar-benar ke tiga lelaki ingin membunuh Andi, tapi Abeng dan kawan-kawan tidak tinggal diam biar bagaimanapun Andi adalah teman satu sel dengannya.


Abeng meraih kursi lipat dan di hantam kan pada lelaki bertubuh gempal, kemudian di iluti oleh kedelapan temannya.


Kini perkelahian pun terjadi antara kubu Andi dengan kubu Victor.


Bertahun-tahun Victor yang memegang kendali di penjara itu, kini harus menerima kekalahannya.


Setelah perang berakhir dan kubu Andi yang memegang kendali di penjara itu, banyak para Navi yang lain yang pro dengan Andi.


Piring-piring dan gelas pada berantakan, lalu para petugas datang sambil menodongkan senjata.


"Jangan bergerak." Tegurnya.


"Ah bapak-bapak ini kaya polisi india saja, masalah sudah reda batu muncul." Ujar Abeng.


"Diam kau, siapa biang masalahnya." Ujarnya.


"Ya sudah sekarang kalian bubar-bubar." Bentaknya.


Selepas itu semua Navi kembali pada selnya masing-masing.


...................


Sementara di tempat lain.


Tepatnya di Gang Si'iran, Sindi dan Anggita lagi duduk di sebuah bangku belakang rumah sambil pikirannya melayang jauh pada Andi.


"Adikmu gimana ya di penjara, pasti Andi merasa jenuh biasa hidup bebas, dan si Gery tidak henti hentinya menggonggong, mungkin ingin rasa ikut majikan kedalam penjara.


"Ibuk yang tenang, Andi lagi menebus dosanya, biar bagaimanapun Andi lelaki penuh tanggung jawab, Gita yakin Andi akan baik-baik saja." Sahut Anggita.


Di sa'at mereka lagi asik duduk, muncul Buk Sari dan pak Dirman.


"Wah waah lagi asik nih, bolehkah ibuk dan Bapak ikut gabung." Sapa Buk Sari.


Lalu Sindi dan Anggita menoleh ke arah pusat suara itu.


"Ooh ibuk, ya boleh dong Buk, pak ayo duduk." Ujar Sindi mempersilahkan pada Buk Sari dan Pak Dirman untuk duduk.


Lalu Sindi meminta pada Anggita untuk bikinin air minum

__ADS_1


"Git bikinin air minum buat nenek sama kakek." Perintah Sindi.


"Iya Buk, oh iya nek, kek mau minum apa?." Tanya Anggita.


"Kakek kopi aja dek." Ujar Pak Dirman.


"Nenek cukup teh hangat pait saja cucuku." Ucap Buk Sari.


"Oke."


Tidak lama kemudian Anggita telah datang dengan membawa nampan berisikan satu gelas kopi dan satu gelas teh hangat pahit.


"Ini buat nenek dan ini buat kakek." Ujar Anggita sambil menyimpan gelas di meja.


"Terima kasih cucuku."


Seruupuuutt


Satu seripitan kopi yang nampak masih panas begitu nikmat di rasakan.


Buk sari cuma menggelengkan kepala, ketika mendengar suaminya dalam menyeripit kopi.


"Wah Bapak ini, seperti nikmat sekali rasanya, aku jadi teringat sama Almarhum, kalau minum kopi persis kaya Bapak." Cetus Sindi.


"Iya atuh nak, kan Bapak ayah kandungnya." Jawab pak Dirman.


Lalu Buk Sari memotong dengan mengalihkan pembicara'an takutnya terjadi hal yang buruk pada Sindi, karena ia baru sembuh dari ke jiwa'annya.


"Ya sudah tidak boleh membahas yang telah tiada, Oh iya Sin gimana kabarnya Andi, apa kamu sudah menjenguknya." Pungkas Buk Sari.


"Belum Buk, paling Nanti sama Dek Tuti dan Om Kamal." Ujar Sindi.


Kini hari pun sudah mulai mendekati senja, cahaya merah jingga telah menggurat di sebelah barat di atas cakrawala.


Dari depan rumah terdengar suara orang memberi salam sambil mengetuk pintu.


Anggita langsung beranjak pergi memasuki kedalam rumah dan berjalan menuju ruangan depan, lalu Anggita membuka kunci pintu sebanyak dua kali putaran, dan di bukanya pintu perlahan.


"Eeh Paman Toglo, ada apa Paman?." Tanya Anggita.


"Ini dek Gita, paman mau simpan kunci." Ujar Toglo.


"Ooh, atuh bawa aja Paman, biasanya juga kan Paman yang pegang kunci-kunci." Tukas Anggita.


"Ya sudah kalau begitu, paman pamit dulu ya, Jaroni belum datang dek?." Tanya Toglo.


"Belum Paman mungkin nanti habis maghrib." Timpal Anggita.


Setelah itu Toglo undur dari hadapannya Anggita memburu pada motornya yang terparkir di luar pintu gerbang.


Maaf ya Aithor up nya sedikit, berhubung kesehatanku belum begitu membaik.

__ADS_1


__ADS_2