Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 52 Rasa kecewa


__ADS_3

Setibanya di depan rumah.


Vina lalu keluar dari dalam mobil untuk membuka pintu gerbang.


Lalu Andi mengemudi mobil memasuki gerbang, dan mobil langsung di masukin ke garasi.


Andi keluar dari dalam mobil, lalu berjalan ke arah Vina.


"Vin gua gak bisa berlama-lama, Soalnya banyk kerja'an di bengkel." Ujar Andi.


"Iya An tidak apa, Tanks ya, sudah meluangkan waktunya mengantar gue ke tempat Bibi, Apa lo' tidak minum dulu." Ujar Vina.


"Iya sama-sama, maksih sebelumnya, maaf bukan gua menolak, tapi nanti aja di bengkel." Ujar Andi melangkah pergi memburu pada motor Rx kingnya.


Ketika Andi baru menyalakan motornya, muncul se orang Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun, berjalan menghampiri Vina.


"Itu siapa Vin?." Tanya nya.


"Iya itu Andi mah, teman aku sewaktu di SMA dulu." Jawab Vina.


"Andi yang di penjara itu." Ujarnya mamahnya Vina sedikit ketus.


"Iih mamah jangan keras-keras nanti hati Andi tersinggung mah." Ujar Vina berbisik.


Sementara Andi yang telah menyalakan motornya, kemudian di matiin, dan melangkah turun lalu berjalan mendekat pada Vina dan mamahnya.


"Selamat siang Tante." Sapa Andi sambil mengulurkan tangannya memberi salam pada mama nya Vina.


"Siang juga." Ujarnya pasang sikap yang kurang berkenan.


"Mamah ko begitu sih." Bisik Vina.


"Mamah gak suka kalau kamu bergaul dengan mantan Navi." Ketus mamanya Vina.


Andi yang mendengar celotehan mamanya Vina, langsung memerah wajahnya, serasa ia tidak ada harga diri di mata mamanya Vina.


"Iya Tante, jujur saja saya mantan nara pidana, ma'af sebelumnya tante, kalau kehadiran saya di sini membuat Tante merasa tidak nyaman, saya pamit pulang dulu Tante, Vin gua pulang dulu ya." Ujar Andi sembari melangkahkan tungkai kakinya menuju pada motornya.


Andi menyalakan kembali motornya, lalu di gas perlahan.

__ADS_1


Tid tidid.


Andi menekan tombol klakson motornya, seiring dengan melajunya kendara'an yang Andi kemudi melaju keluar dari gerbang.


Vina yang sudah hapal betul dengan sikapnya Andi, yang sudah pasti merasa tersinggung akan sikap mamanya.


"Tuh kan mah, pasti Andi tersinggung dengan kata-kata mamah." Cetus Vina.


"Kenapa harus tersinggung, dia pun bilang jujur tadi, pokonya mamah tidak mau kalau kamu berteman sama mantan Navi, lantas apa kasusnya dia sampai masuk penjara.


Vina merasa bingung antara jawab dengan jujur, atau berbohong.


"Gue harus bilang apa sama mamah, kalau gue berbohong, takutnya nanti mamah tahu kabarnya dari orang-orang, gue harus jujur apapun nanti sikap mamah setelah mendengar semua penjelasanku." Batin Vina bermonolog.


Kemudian Vina pun menjelaskan kasusnya Andi, sampai masuk penjara.


Setelah mamanya mendengar semua penjelasan dari Vina, kalau Andi di penjara karena kasus membunuh balas dendam atas kematian ayahnya.


"Apa... Berarati dia seorang pembunuh, dari mulai hari ini, detik dan jam ini, kamu tidak bileh lagi berteman dengan dia titik." Ujarnya dengan tegas.


"Tapi mah, Andi itu sebenarnya orang baik, welas asih dan berjiwa sosial." Ujar Vina membela Andi.


Vina terbelalak kaget, atas sikap mamanya yang begitu bencinya pada Andi.


"Kenapa dengan mamah, padahal dulu waktu sekolah, aku suka di antar pulang sama Andi, mamah bersikap baik, tapi kenapa sekarang jadi begitu, apa karena Andi di penjara." Batin Vina.


Kemudian Vina pun berjalan memasuki rumah, dengan sedikit lesu dan kurang bergairah.


Sementara Andi, yang lagi melajukan motornya setengah melamun, memikirkan ucapan mamanya Vina yang berubah sikapnya menjadi kurang berkenan.


"Kenapa mamah nya Vina jadi berubah begitu sikapnya sama gua, apa karena gua pernah di penjara." Batin Andi, yang terus melajukan motornya.


Yang seharusnya Andi mengambil arah kiri untuk menuju Gang Si'iran, tapi ia malah lurus menuju jalan Ketupat.


Pas sadar-sadar Andi menoleh ke sisi kiri kanan jalan, ia tersontak.


"Astagpirullahhal adzim, ini gua ko kejalan ketupat sih, gua sudah terbawa oleh lamunan, mana perut gua lapar lagi." Gerutu Andi bermonolog.


Sekitar dua ratus meter ke depan, ke tika Andi mau memasuki sebuah rumah makan, tiba-tiba banyak orang berkerumun, lalu Andi bertanya pada salah seorang pemuda yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


"Ma'af Bang di depan ada apa ini?." Tanya Andi.


"Biasa bang yang pegang wilayah ini, lagi ngamuk karena ada pedagang baru bikin kios, dasar orang berandal, itu kan tanah-tanah dia mau bikin apa juga itu hak yang punya tanah." Ungkapnya.


"Lantas masalah gimana sih Bang." Ujar Andi belum paham.


"Biasa minta jatah, setiap ada pedagang baru harus bayar sama pemegang wilayah." Ujarnya.


"Ooh begitu, kenapa tidak di laporkan aja sama polisi." Tukas Andi.


"Mereka pada takut, selalu di ancam akan di bunuh." Ujarnya.


Lalu Andi melangkah turun dari motornya dan berjalan memasuki di sela-sela orang yang berkerumun.


Setibanya di lokasi, Andi melihat ada enam orang lelaki berwajah sangar, dan salah satu dari mereka lagi menodongkan sebuah pisau pada seorang lelaki paruh baya sambil berkata kasar.


"Cepetan kamu mau bayar gak, atau warung ini saya acak-acak." Bentaknya, dengan tangan kiri menjambah kerah baju lelaki paruh baya tersebut dan tangan kanan menodongkan ujung pisau ke arah lehernya.


"Iya Bang nanti saya bayar, tapi sekarang saya belum ada duit bang, kasih saya waktu." Timpal lelaki paruh baya.


"Oke gue kasih kamu waktu sehari, kalau besok belum bisa bayar terpaksa warung kamu akan gue ratakan dengan Tanah." Bentaknya.


Andi yang sedari tadi berdiri di belakang orang itu, merasa tidak tahan akan sikap lelaki sangar itu.


"Sunghuh enak betul kerja'an kalian, meminta uang dengan paksa, apa kalian tidak punya rasa kasihan sedikitpun." Ujar Suara yang terdengar di belakang lelaki sangar itu.


Sontak saja lelaki itu, melepaskan cenkramannya, lalu menoleh ke arah pusat suara tersebut.


Dengan tatapan matanya yang tajam lelaki sanagar itu langsung melangkah menghampiri Andi.


"Heh lo' siapa?." Tanya lelaki sangar itu.


"Gua bukan sipa-siapa kalian, dan bukan pula siap-siapa si bapak pemilik kios ini, cuma gua tidak suka bila ada kesewenang-wenangan menari-nari di depan gua." Tukas Andi.


"Owh rupanya ada sang pahlawan datang membela, mungkin orang ini sudah bosan hidup kali ya, hahahaha." Ujarnya tertawa terbahak sambil memandangi ke lima kawanannya.


Lalu salah satu dari mereka yang merupakan kepalanya, berjalan mendekati Andi.


"-Heh anak muda sekali lagi hmgue kasih kelonggaran, mendingan lo' pulang, jangan ikut camupur urusan gue." Ujarnya sambil menforong dada Andi.

__ADS_1


Andi tidak buru-buru mengambil kesimpulan untuk bertindak, Andi memberi nasehat pada mereka, kalau perbuatannya itu telah menyalahi aturan.


__ADS_2