Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 33 Obat bius.


__ADS_3

Andi tersontak melihat si Gery langsung melompat sambil menjerit kesakitan.


Andi menoleh ke arah samping kanan nampak terlihat lelaki paruh baya telah berdiri sambil memegang tongkat besi bermata pisau yang sangat tajam, dengan tatapan kedua netranya yang tajam memandang dengan intens.


Andi pun begitu, memandang dengan sangat intens pada lelaki paruh baya itu.


"Orang tua ini, kalau di lihat dari gayanya kaya pernah gua lihat tapi di mana gua lupa." Batin Andi.


"Oohh iya, gua ingat sekarang, waktu itu orang tua ini mirip dengan lelaki yang menaiki mobil Honda Brio waktu acara pemakaman ayah, benar sekali." lanjut batin Andi.


Andi menatap lelaki paru baya itu kemudian berkata.


"Anda siapa orang tua?." Tanya Andi.


Lelaki paru baya berjalan dua langkah hampir mendekati pada Andi.


"Justru saya yang seharusnya bertanya, kamu siapa anak muda? Sudah sangat lancang sekali datang ke tempat saya?." Tanya lelaki paruh baya tersebut.


"Ma'af orang tua, saya datang kesini karena mencurigai tempat ini, apakah anda salah satu pemimpin dari mereka?." Andi balik bertanya.


"Iya saya adalah pimpinan dari mereka, kamu hebat anak muda sudah bisa melumpuhkan anak buah andalan saya." Ujarnya memberi pujian.


"Bukannya saya hebat orang tua, karena saya membela diri dari anak buah anda yang hendak mengancam keselamatan saya." Ungkap Andi.


"Bela dirimu sangat hebat anak muda, siapa namamu?." Tanya lelaki paru baya.


"Apa penting nama saya bagi Anda?." Andi balik bertanya.


"Siapa saja yang sudah berhadapan dengan Ricard, tidak akan bisa lagi selamat, dan saya perlu tau siapa namamu, dan dari mana asalmu, nanti bila kamu mati saya akan dengan mudah mengantarkan mayatmu ke orang tuamu." Tutur Orang tua paru baya yang mengaku bernama Ricard.


"Sombong benar kau orang tua, ingat hidup dan mati manusia ada di tangan tuhan, sadarlah dan lihat usiamu yang sudah tidak lama lagi." Ujar Andi penuh berani.


"Setan alas,, berani benar kau berceramah di hadapan saya." Hardik Ricard mulai terpancig amarahnya.


"Saya bukan berceramah tapi saya mengingatkan anda dan anak buah anda, bila kalian berada di jalan salah, kembalilah ke jalan yang benar sebelum ajal datang menjemput kalian." Tutur Andi.


Ricard menatap pada Andi penuh dengan keji dan dengki.


"Ini bocah kalau di lihat dari matanya dan postur tubuhnya mirip sekali dengan Nandi yang sekarang sudah mati." Batin Ricard.


Lalu Ricard teringat sa'at ia menghadiri acara pemakaman Nandi meski dari jarak yang jauh.


"Ooh gue ingat sekarang, bukan kah bocah ini yang ada di pemakaman Nandi, apa mungkin bocah ini anaknya Nandi, lalu mau apa dia mendatangi tempat gue, lantas tahu dari mana." Gerutu Ricard bermonolog dalam hatinya.


Kini Ricard dan anak buahnya yang sudah mulai sadar, berbisik pelan.

__ADS_1


"Coba kalian perhatikan wajah, mata dan postur tubuhnya bocah itu, banyak kemiripan dengan si Nandi." Bisik Ricard lirih di telinganya Sutaji.


"Iya betul Bos, apa mungkin dia anaknya Nandi." Jawabnya berbisik.


Ketika itu, di kala mereka masih berdiri sambil memperhatikan Andi, tiba-tiba saja si Gery menggonggong dan berlari dengan cepat ke arah bangunan tua, seperti telah terjadi sesuatu di insting dan naluri si Gery.


Andi pun sampai membelalakan kedua bola matanya.


"Ada apa? Dengan si Gery, lalu apa yang si gery rasakan di dalam bangunan tua itu, dari mulai pertama gua lagi mengintai ke arah bangunan tua itu, si Gery seperti mencium sesuatu" Batin Andi mulai curiga dan penasaran.


Lalu tidak banyak berpikir lagi Andi melesat.


Heaaaaa...


Andi berlari mengejar si Gery ke arah bangunan tua tersebut.


Betapa kagetnya Ricard dan anak buahnya ketika melihat Andi dan binatang piara'annya berlari ke arah markasnya.


"Kejar anak itu dan bunuh bila perlu." Perintah Ricard.


Sutaji dan Marcu serta yang lainnya langsung berkelebat mengejar Andi.


"Hai anak muda mau lari kemana kau." Teriak Sutaji.


Gok gk gok gok....


Si Gery telah memberi tahu pada Andi bahwa di dalam bangunan letaknya di sebuah kamar yang ada jendelanya satu di atas ada seseorang yang lagi di tawan, cuma Andi belum begitu peka akan bahasanya si Gery.


"Memangnya di dalam ada apa Gery?." Tanya Andi.


Gok gok gok gok...


Si Gery terus menggonggong sambil melompat lompat ingin naik ke atas jendela.


Tapi baru saja Andi mau mencoba menaiki ke atas jendela, terdengar suara anak buahnya Ricard.


"Woiii berhenti lo'." Bentaknya.


Andi pun lalu membalikan badannya, baru saja Andi mau berkata.


Sebuah benda seperti jarum melesat dengan cepat dan Andi tidak sempat untuk menghindar, telah menusuk pangkal lengannya, perlahan netra Andi nampak terlihat lesu, kemudian Andi jatuh pinsan.


"Hahaha...Mampuslah kau anak muda." Ujar lelaki yang tertawa lepas di belakangnya Sutaji dan Marcu.


"Pak Bos."

__ADS_1


"Iya gue sengaja cuma melumpuhkannya dengan senjata jarum yang sudah ku masukan obat bius, gue sengaja tidak membunuh anak ini, dan gue akan menjadikannya dia monster pembunuh, Sutaji cabut jarum suntik di lengan anak itu.


Si Gery yang melihat Majikannya jatuh pinsan, langsung melompat dan berlari kencang menjauhi dari bangunan tua tersebut.


Si gery laksana sebuah binatang macan tutul yang lagi memburu mangsanya berlari begaikan anak panah yang keluar dari busurnya, setelah tiba di motornya Andi yang lagi terparkir di jalanan yang sepi di bawah pohon Mahuni yang besar, si Gery berhenti lalu duduk sambil menjulurkan lidahnya yang panjang.


Kenapa dengan sikapnya si Gery, apa mungkin si Gery merasakan ada sesuatu yang membahayakan dirinya.


Sementara di tempat lain.


Kala itu waktu hampir mendekati dengan pagi, Astuti yang dan keluarga yang lagi terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba tersintak bangun sambil berteriak


"Aaaa, Nandi....."


Kamal pun yang langsung terperanjat bangun, sambil menoleh ke arah Astuti.


"Heh kamu kenapa?." Tanya Kamal.


Astuti belum menjawab pertanya'an dari suaminya, kamal pun mengerti lalu ia bangun menurunkan kakinya dan melangkah ke arah meja, lalu kamal meraih sebuah teko kecil berisi air putih dan sebuah gelas.


Lalu di tuangnya air putih kedalam gelas, kemudian melangkah menghampiri istrinya.


"Ini minum dulu." Ujar Kamal sambil memberikan segelas air pada Astuti.


Glek glek glek


Astuti pun langsung meminum air putih pemberian dari suaminya. Dan kamal langsung bertanya?.


"Kamu kenapa mimpi ya?." Lanjut Kamal bertanya.


"Iya Aa, aku mimpi, Aa Nandi marah padaku, katanya brgini.


"Kamu malah diam saja, melihat anaku yang hampir tewas di tangan orang jahat, Bibi macam apa kamu.


"Nah begitu Aa, Aa Nandi memaki aku, apa jangan-jangan Andi lagi dalam bahaya." Ujar Astuti.


"Kamu yang tenang ya, hari ini abis solat subuh, ku bersama, Toglo, Gito, Jaroni, Hasan dan Pandi akan ke tempat andi tinggal, yang alamat sudah di kirim oleh dek Gita tadi malam." Ujar Kamal sambil memegang kedua pipi istrinya.


"Iya Aa terima kasih." Ujar Astuti.


.......


Singkat cerita.


Selepas menjalankan ibadah solat subuh, para Famili Gang si'iran, sudah mulai on the way menuju ke timur kota.

__ADS_1


__ADS_2