
Ketika mendengar teriakan dari Buk Sari ke enam orang misterius itu dengan cepat melesat melompati tembok, dan langsung memburu pada mobilnya, hanya dalam beberapa detik saja mereka telah melaju dengan kencang keluar dari gang Si'iran.
Dan para wargapun mulai berdatangan memenuhi halaman depan rumahnya Nandi, dan Sindi pun yang sedari pas mendengar teriakan dari Buk Sari (Ibuk mertua) langsung keluar.
Pak Dirman yang hampir-hampiran terancam keselamatannya dari kebiadapan ke enam orang misterius itu, andaikan Kamal dan Andi tidak cepat datang memberi bantuan, mungkin nasib pak Dirman akan lain lagi ceritanya.
"Ada apa ini Buk Sari?." Tanya salah satu warga yang mulai berdatangan.
"Ke tiwasan pak Abdul, ada sekelompok manusia bercadar mau memasuki rumahnya Nandi, sehabis dari lapak bapak mendengar suara anjing piaraannya Andi, mungkin penasaran takut ada apa-apa" Jawab Buk Sari.
Lalu Sindi datang menghampiri Buk Sari dan pak Dirman.
"Ibuuk,, Bapak kenapa Buk?." Tanya Sindi panik.
"Tadi ada sekelompok orang bercadar mau memasuki rumahmu, dan Bapak berusaha mau mengusirnya tapi mereka malah menyerang bapak, dan akhirnya Bapak terjatuh, karena mereka bukan orang-orang sembarangan, untung saja Kamal dan Andi segera datang membantu di tambah warga pada keluar." Jelas Buk Sari.
"Lalu mereka semua kemana Buk?." Tanya Sindi.
"Mereka sudah kabur, ketika warga pada keluar rumah." Jawab Buk Sari.
Sementara di tempat lain.
Di jalan Delima Raya mobil melaju dengan kencang menuju jalan industri yang tembusnya ke jalan Angkasa.
Selang tiga puluh menit mobil itu telah memasuki Jalan Angkasa, lalu berbelok ke kanan memasuki jalan yang sangat sepi yang sangat jauh dari pemukiman para penduduk.
Sehingga mobil itu pun berhenti ketika tiba di depan bangunan kuno yang atapnya sangat tinggi dan model dari bangunan itu adalah Elegan clasik nampak terlihat dari ornamen-ornamen yang terpasang di setiap bingkai jendela, seperti bergaya arsitextur Hindu.
Lalu pintu mobil pun mulai terbuka, nampak enam orang telah keluar dari dalam mobil tersebut, dan berjalan memasuki bangunan kuno.
__ADS_1
Setibanya di dalam bangunan, mereka memburu pada tempat duduknya lalu membuka cadarnya masing-masing.
Setelah itu munculah sosok lelaki paruh baya berbadan tegap dengan sorot matanya yang tajam menghampiri dan duduk di kursi.
"Bagaiman apa sudah kalian habisi keluarganya si Nandi?." Tanya lelaki itu.
"Ma'af Bos kami gagal menjalankan aksi nya." Jawab salah satu dari mereka.
"Apa? Kalian gagal, lalu apa alasannya sampai kalian bisa gagal begitu?." Tukasnya lanjut bertanya.
"Aksi kami telah di pergoki oleh orang tuanya Nandi, dan kami pun terlibat perkelahian dengannya, hanya tinggal sedikit lagi kami hampir membunuh orang tuanya Nandi, tapi ada Dua orang satu masih muda dan satunya lagi sebaya dengan Bos datang membantu dan ilmu bela dirinya juga hebat, lalu seorang wanita tua berteriak minta tolong dan warga pun pada keluar, untung saja kami langsung sigap meninggalkan tempat itu." Ungkapnya.
"Oke lah, ke gagalan kali ini supaya di jadikan pelajaran untuk aksinya selanjutnya Nanti, gue pingin kepalanya si Nandi, yang sudah bikin gue banyak kehilangan, dulu gue hidup enak dan semua pasilitas dijamin oleh Bos gue, tapi semen jak gue mengajak seorang lelaki yang baru keluar bui untuk masuk dalam kubu Jendra Cobert, awalnya bisnis Bos maju pesat setelah wilayah timur di berikan kepercayaannya pada Teman Gue itu.." Ujarnya tidak di terusin karena sempat ke potong sama salah satu dari enam orang itu.
"Orang itu, Nandi yang di maksud Bos?." Tanya nya memotong.
"Lalu apa masalahnya Bos sama Nandi."
"Ternyata Handoko punya dendam pribadi pada Nandi, katanya dia seorang Ceo di perusaha'an suplier, masalahnya Handoko tergeser reputasinya di PT Tirta Jaya Sakti oleh Nandi yang berhasil memasokan semua prodauknya ke pasaran lokal.
Nah dari situlah persaingan bisnis Handoko mulai tidak sehat, dia melakukan segala cara untuk menjatuhkan Nandi tetapi semua sia-sia, karena Nandi bukan orang sembarangan." Jelasnya.
"Lalu masalahnya Bos sama Nandi, letaknya diman?." Tanya nya.
"Masalah gue sama Nandi, karena Gue sudah kehilangan Bos gue (Rudi gardan) walaupun bukan Nandi yang membunuhnya dan Gue telah kehilangan semuanya gara-gara Nandi, maka dari itu gue pingin Nandi dan keluarganya lenyap." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Ricard salah satu kaki tangannya geng mavia Jendra Cobert yang masih tersisa dari pembantaian di dekat danau tujuh belas tahun yang lalu.
"Ya sudah sekarang kalian istirahat, nanti gue atur lagi siasat untuk melenyapkan Nandi dan keluarganya." Ujar Ricard.
Setelah itu Ricard pun langsung memasuki lagi ruangan tempat ia beristirahat, dan ke enam anak buahnya pun langsung memburu pada tempat tidurnya masing-masing.
__ADS_1
Ke esokan harinya.
Ricard bersama ke enam anak buahnya yang sangat terlatih dalam ilmu bela diri Ninja, lagi duduk sambil menikmati kopi di gelas kaca.
"Sekarang dua orang dari kalian pantau lagi keada'an di rumah Nandi dan cari tau titik kelemahannya Nandi." Ujar Ricard.
"Tapi kemarin saya tidak melihat Nandi Bos, yang ada Istrinya dan satu lagi wanita tua." Tukas orang yang bernama Sutaji.
"Apa mungkin Nandi ada tugas di luar kota, coba kalian cari tau." Titah Ricard.
"Siap Bos."
"Andaikan Nandi benar lagi ada kerjaan di luar kota, cari tau di mana, jadi kita akan sangat leluasa melenyapkan Nandi." Ujar Ricard.
Selepas itu Sutaji dan satu temannya yang di percayakan untuk menyelidik dan mencari tau Nandi, langsung bergegas pergi dengan mengendarai kendara'an roda dua.
.......................
Sementara di lain tempat, tepatnya di Gang Si'iran Andi sudah mulai menyalakan motornya untuk pergi ke tempat PKL.
Motor pun melaju dengan sangat kencang, karena memburu waktu supaya lebih cepat sampai di tempat yang di tuju, meluak liuk Andi dalam melajukan motornya menyalip kendara'an lain.
Andi langsung menghentikan motornya karena lampu stopan telah berwarna merah, sambil celingukan ke sana kemari ke arah jalur kendara'an dari arah kanan, tiba-tiba Andi terkejut ketika melihat orang yang menunggangi motor Yamaha R15, lalu Andi membuka kaca penutup helmnya.
"Rasanya gua pernah melihat kedua orang itu." Gumam Andi sambil mengkerutkan kulit jidatnya.
Lalu Andi seperti telah menemukan tentang kedua orang itu.
"Sekarang gua ingat, postur dan bentuk tubuh kedua orang itu hampir sama percis dengan pelaku manusia bercadar itu, walaupun gua tidak bisa melihat wajah nya, tapi bentuk tubuhnya mirip seperti orang yang lagi mengemudi R15 itu." Lanjut Andi bermonolog.
__ADS_1