Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 45 Kembalinya sang Legenda.


__ADS_3

Secangkir kopi hitam yang nampak sudah terasa dingin, terus menemani pemuda jangkung, berkulit putih bersih.


Jaket levis berwarna telor asin, kini di singsingkan ke atas sikut, matanya yang liar dan tajam terus mengintai pada tiga pemuda bertato yang berkeliling mendatangi setiap pedagang, untuk di mintai jatah dengan dalih uang ke amanan.


"Mungkin ke tiga lelaki itu adalah anak buahnya dari si ladev, lalu di manakah si Ladev itu bermarkas." Gerutu Andi dalam hatinya.


Andi mulai beranjak bangkit dan berdiri, ke tika ke tiga lelaki itu meminta upah dengan paksa pada pedagang buah-buahan.


"Woi mana setoran minggu ini." Desaknya dengan memaksa.


"Aduh bang saya belum dapat duit, baru aja mau buka." Bela tukang buah-buahan.


"Saya tidak peduli, daganganmu laku atau tidak, yang penting kamu harus cepat bayar." Paksa mereka.


"Iya saya pasti bayar bang, tapi dagangan saya sekarang belum ada yang beli." Ujarnya.


"Bodo amat, cepetan bayar jatah minggu ini." Ujarnya dengan paksa membuka laci tempat menyimpan uang.


"Ini apa, kamu sudah mulai berbohong." Ujarnya.


Ketika salah satu dari ke tiga lelaki itu lagi menghitung uang yang ia ambilnya dari dalam laci, sekelebatan bayangan dengan cepat langsung menyambar uang tersebut.


Ke tiga lelaki iru sampai terbelalak matanya, ketika menolehkan pandangannya ke arah pemuda jangkung itu.


"Kurang ajar, siapa kamu?." Bentaknya.


"Lo tidak usah tau siapa gua, enak saja orang susah payah mendapatkan uang, kalian dengan gampangnya memaksa bayar jatah, orang kaya gini nih yang harus di singkirkan." Celetuk pemuda jangkung yang tak lain adalah Andi.


"Kurang ajar, jangan campuri urusan kami, mau sok jadi pahlawan rupanya." Bentaknya.


"Sekarang sudah menjadi urusan gua." Tukas Andi.


"Bedebah kau, ayo teman kita habisi orang yang sok pahlawan ini." Serunya memberi komanda pada kedua temannya.


Ketiga orang itu dengan sangat bringas menyerang pada Andi dari tiga penjuru mata angin.


Andi betkelebat mundur mencari tempat yang leluasa, supaya tidak menimbulkan keruksakan pada dagangannya tukang buah-buahan itu.


Ketiga orang itupun langsung melompat mengejar Andi.


"Jangan lari kau bangsat." Bentak nya merasa dirinya yang paling hebat, padahal Andi hanya menjauh dari pedagang buah itu guna menghindari banyaknya keruksakan pada dagangannya.


Setiba di tempat parkiran Andi berdiri dengan membelakangi mereka, sambil berkata.


"Kalian semua ayo serang gua." Tantang Andi.


"Sekarang bersiaplah kau untuk mampus." Teriaknya sembari melesat menyerang Andi.


Andi langsung mekesit ke atas dengan gerakan memutarkan tubuhnya.


Kedua kaki Andi secara bergantian langsung menghantam dagu lawan.


"Whuuk whuukk..

__ADS_1


Deass..deaass...


Sontak saja kedua orang itu langsung terhoyong kebelakang ketika kaki Andi menghntam dirinya..


Andi berdiri dengan tenang sambil tersenyum menyeringai penuh keji pada ke tiga orang itu.


"Hahaha,, cuma segitukah kemampuan kalian yang sok jago itu." Ejek Andi.


Di sa'at itu pula Si Gery langsung melompat, sambil menggonggong keras.


Gok gok gok...


Andi tertawa tipis, sambil berkata pada di Gery.


"Ayo Gery serang mereka." Teriak Andi.


Ketiga orang itu melompat mundur guna menghindari serangan dari si Gery yang ganas dengan gigi dan taringnya yang tajam siap untuk meremukan tulang belulang mereka.


"Dasar Anjing sialan, akan ku robek lehermu binatang sialan." Teriaknya sambil mencabut pisau lipatnya dari balik jaket rompinya.


Melihat si Gery dalam.bahaya, spontan Andi melompat dengan jurus kuda terbang.


Hiuuukkk.


Siuuurrr.... Keletruang..


Sapuan tendangan Andi dengan cepat menendang Tangan orang itu, sehingga pisau lipat terlepas dari gengamannya terpental jauh.


Hiuuuukkk


Jebrod.


Pukulan Andi dengan kecepatan seperti angin telah mendobrak dadanya lawan.


Bruuuugghh.


Auuugghhh...


Jerit kesakitan dari orang itu, ketika dadanya seperti di hantam sebuah batu yang besar, tubuhnya terpental beberapa langkah kebelakang dan jatuh tersungkur.


Sementara dua temannya yang menyaksikan tingkat kepandaian bela diri Andi, tercengan seperti telah ke hilangan nyalinya dan keberaniannya.


"Ayo kalian mau bernasib sama seperti temanmu itu, bersiaplah." Timpal Andi menakut-nakuti.


"Jangan berbesar hati dulu bangsat, bersiaplah kau akan mampus di tangan Bos Ladev." Teriaknya sambil menunjuk muka Andi.


Lalu kedua orang itu, memburu salah satu temannya yang lagi tersungkur, kemudian di angkatnya dan di bawa pergi menjauh dari area perkelahian itu.


Andi tertawa terkekeh, sambil melemparkan ujarannya.


"Woii cepet baya Bos mu itu, gua tunggu di warung kopi." Teriak Andi.


Setelah itu Andi mengajak si Gery untuk kembali ke warung kopi.

__ADS_1


"Ayo Gery kita kembali ngopi." Ajak Andi pada binatang piara'annya.


Jegok gok gok.


Si Gery menjawab dengan gonggongannya yang keras, Andi lalu menurunkan tubuhnya dan duduk di bangku kayu.


"Mang beli roko dong." Ujar Andi.


"Roko apa? Bos?." Tanya pemilik warung.


"Gudang garam filter mang." Ujar Andi.


Setelah itu Pemilik tukang warung memberikan sebungkus roko Gudang Garam Filter pada Andi.


Sementara ke tiga preman itu yang selepas bertarung sama Andi, mereka langsung menuju markas dimana Bosnya itu berada, berjalan terhuyung sambil memboyong temannya yang ke ada'annya lebih parah.


"Celaka Bos." Ujarnya.


"Celaka kenapa?." Bertanya.


"Ada pemuda yang melindungi para pedagang yang kita mintai jatah itu." Ujarnya.


"Siapa pemuda itu, ada berapa orang?." Tanyanya dengan nada membentak.


"Saya tidak tau namanya, yang jelas pemuda itu bertubuh jangkung dan berwajah ganteng, ia cuma seorang bersama se ekor Anjing." Jelasnya.


"Bodoh, cuma satu orang saja kalian sudah keok." Bentak Si Ladev.


"Ilmu bela diri pemuda itu sangat luar biasa, kemampuannya sudah di atas rata-rata Bos." Timpalnya.


"Sekarang ada di mana dia?." Tanya si Ladev.


"Pemuda itu, menunggu kedatangan Bos, dia menantang Bos adu kekuatan." Ujarnya Mulai menaburkan hawa panas pada di Ladev.


"Kurang ajar, berani benar dia menantang si Ladev, belum tau rupanya dengan si Ladev." Ujarnya sambil menepuk dada dengan geramnya si Ladev, lalu ia beranjak bangkit dari tempat duduknya


"Ayo kita hajar pemuda itu." Ujar si Ladev.


Dengan amarah yang sudah tidak bisa di pertahankan lagi, si Ladev langsung keluar dari dalam markasnya, lalu memburu pada motornya yang terparkir di luar depan markasnya.


Garoung graouunng.


Si Ladev menggeber-geberkan gas motornya, lalu di tariknya gasnya, kini si Ladev sudah meluncur cepat dengan kendara'annya menuju pasar Delima raya.


Tiga puluh menit kemudian si Ladev, telah sampai di area parkiran pasar Delima.


"Mana pemuda yang mengalahkan kalian itu?." Tanya si Ladev.


Ke tiga anak buahnya Di Ladev lalu celingukan mencari keberada'annya Andi.


Sedangkan yang di carinya masih asik duduk santai sambil menikmati kopi dan isapan dari sebatang roko.


Kemudian pemilik warung melihat ke arah parkiran, nampak si Ladev dan ke tiga anak buahnya seperti lagi mencari sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2