
Ke esokan harinya, setelah Andi melaksanakan ibadah solat subuh.
Ia langsung merebus ramuan pemberian dari Toglo untuk penyembuhan lukanya dari dalam, agar tidak terjadi impeksi.
Setelah air rebusan sudah agak hangat kuku, Andi langsung meminumnya.
"Bismilahirohman nirohiim."
Glek glek glek..
Ramuan tersebut selesai sudah Andi minum, kemudian setelah itu Sindi keluar dari kamarnya selepas melaksanakan ibadah solat subuh.
"Eeh Andi, kamu sudah solat?." Tanya Sindi.
"Sudah Buk." Jawab Andi.
"Sepertinya kamu habis menyalakan kompor, rebus air?." Tanya Sindi.
"Iya Buk, habis minum jamu, rasanya Badanku pegel-pegel." Tukas Andi.
"Oh, bagus itu, di jaman serba modern ini, banyak orang-orang yang kembali lagi seperti dulu, menggunakan ramuan herbal, selain aman tidak ada epek sampingnya juga bisa memperkuat imun tubuh." Cetus Sindi.
"Iya benar buk, bahkan para ilmuwan kesehatanpun menganjurkan untuk menggunakan herbal tapi dengan takaran yang teratur, jangan berlebihan." Jelas Andi.
Pulul 06:00
Andi duduk santai di depan halaman rumah di samping taman, sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang roko Gudang Garam filter.
Hembusan asap putih yang terhempas dari mulutnya Andi, seperti sebuah penyampaian pesan pada Konta yang lagi berlari sama Kanti saudara kembarnya, di sebelah utara rumahnya Andi.
"Widiiih wangi kopi sampai tercium kesini, sudah pasti ini Bang Andi, siapa lagi yang mempunyai aroma kopi seperti ini." Gerutu Konta.
"Iya betul kak, aku pun merasakannya, pusatnya di sebelah selatan, sudah pasti Bang Andi." Ujar Kanti.
"Kalau begitu ayo kuta samperin." Ajak Konta.
"Ayo." Sahut Kanti.
Setelah itu Konta dan Kanti langsung mempercepat laju larinya, menuju rumahnya Andi.
Setiba di depan di luar gerbang, Konta memandang pada Kanti sambil berkata.
"Tuh benar kan dek." Tunjuk Konta pada Andi yang lagi asik duduk sambil memainkan bola-bola asap dari isapan sebatang roko.
"Betul kak, nikmat benar bang Andi." Cetus Kanti.
Kemudian Konta dan Kanti, perlahan memasuki pintu gerbang secara diam-diam.
Konta dan Kanti berniat ingin membetak pada Andi.
Tapi belum saja keduanya mendekat pada Andi, Andi menoleh pada Konta dan Kanti yang lagi berjalan mengendap-ngendap.
"Heeh. Mau ngapain lo' berdua jalan pakai begitu-begitu segala." Ujar Andi.
Konta dan Kanti langsung cengengesan sambil merubah lagi gaya berjalannya.
"Ah tidak Bang, pingin aja." Tukas Konta.
__ADS_1
"Dasar lo', gua tau pasti lo' pada, mau ngagetin gua kan, dasar jail." Ujar Andi.
Konta dan Kanti tersenyum sambil menurunkan bokongnya duduk di bangku.
"Iih kopinya wangi amat sih bang." Ujar Konta.
"Elo' mau." Tawar Andi.
"Ya jelas mau lah." Ujar Konta.
"Ya sudah bikin sana." Perintah Andi.
Konta lalu melirik pada Kanti.
"Dek bikinin kakak kopi cepetan." Perintah Konta pada Kanti.
"Iih kakak, gue tidak bisa meraciknya." Sahut Kanti.
"Ya elah dek, tinggal bilang sama ibuk, ibuk tau karena sudah biasa dulu suka bikin buat almarhum uwa." Ujar Konta.
"Ya sudah." Sahut Kanti sambil beranjak bangkit dari tempat duduknya, berjalan memasuki ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian Kanti telah datang dengan membawa segelas kopi hitam.
"Ini kak kopinya, tadi ibuk bilang, kenapa tidak bikin sendiri aja, kan konta sudah tau, begitu kata ibuk." Ujar Kanti.
Sebelum Konta menjawab, terlebih dahulu Andi berkata.
"Dek kontanya aja yang kolokan itu." Ujar Andi.
"Idiih Bang Andi, ya wajar aja dong sekali-kali gua minta di bikinin adek, iya gak dek." Tukas Konta sambil melirik pada Kanti.
"Hahahaha....Emang enak." Pungkas Andi memotong.
"Iih kalian kompakan amat sih." Ketus Konta.
"Marah niiyee." Ujar Andi sambil tersenyum.
Konta tak menghiraukan ejekan Andi, ia langsung meraih gelas kopi dan di seripitnya, terdengar begitu nikmat.
"Bang, minta rokonya dong." Ujar Konta sambil senyum-senyum.
"Ya sudah ambil aja sih." Tukas Andi.
Konta langsung mengambil sebatang roko dan korek gas, lalu di bakar ujung roko tersebut.
Seepppppuuuuhhh....
Hembusan asap putih tipis meluncur dari mulutnya Konta.
Konta yang baru saja di perbolehkan meroko sama orang tuanya, nampak terlihat begitu nikmat, dalam setiap hisapan-hisapannya.
"Widiiiiih nikmat benar kau." Ujar Andi.
"Heheee,, iya nih rasanya hidup ini lengkap kalau kita lagi meroko dan segelas kopi, pantesan orang bilang meroko dapat menghilangkan stres, ternyata benar bisa bikin hidup lebih semangat." Tukas Konta.
Begitu asiknya Andi dan Konta, dalam menikmati suasana di pagi hari.
__ADS_1
Matahari kini sudah nampak memancarkan cahayanya.
Satu persatu karyawan Pt Anggita Surya Mandiri telah berdatangan.
Rara dan ketiga temannya sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja, yang tidak jauh dari mes yang mereka tempatin.
Ketiga gadis itu lalu keluar dari dalam mes, dengan berpakaian seragam biru bercorak kuning, mereka nampak sekali akrab dan bersahabat.
"Oh iya, Ra, semalam gue kan habis pulang dari alfamart, secara tidak sengaja gue melihat pak Andi lagi bersama wanita cantik sekali, bawa mobil Honda Brio." Ujar Mita.
Rara hanya tersenyum mendengar ujarannya dari Mita.
"Lho ko, kamu hanya senyum-senyum aja sih, tidak cemburu gitu." Tukas Mita.
"Ya ngapain aku cemburu, toh aku pun sudah tau dengan wanita itu, Honda Brio warna merah kan?." Tanya Rara pada Mita.
"Iya benar, lho ko kamu tau." Mita kaget.
"Ya taulah, wanita itu namanya Vina, teman sekolahnya pak Andi yang sekaligus mantan pacarnya." Ungkap Rara.
"What, mantan pacar." Sontak Mita terkejut.
Rara sangat pintar menyembunyikan expresi dari rasa cemburu di hatinya, padahal yang sesungguhnya hati Rara sangat terbakar dengan kabar yang Mita sampaikan padanya.
Dengan berpura-pura cuek Rara agak mempercepat langkahnya sambil berkata.
"Ayo cepetan, kita sarapan dan minum teh di kedai, nanti keburu penuh dan tidak kebagian tempat duduk deh." Ujar Rara mengalihkan pembicara'an.
Mita dan kedua temannya itu, langsung mengikuti jalannya Rara.
Padahal Rara berjalan agak cepat karena di hatinya kini mulai resah dan kacau, bayangan-bayangan Andi dan Vina terus bermunculan, ketika masih menjalin hubungan pacaran.
Pikiran-pikiran negatip di hati Rara kini mulai menghantui rasa percayanya pada Andi.
"Mungkin kah Pak Andi menyukai ku hanya sekedar pertemanan aja, kalau begitu, berarti aku nya aja yang terlalu kepedean." Gumam Rara dalam hati sembari terus berjalan tidak menghiraukan pada ke tiga temannya.
Mita dan kedua temannya memanggil-manggil Rara.
"Heh Ra, tungguin dong."
Rara tidak menjawab panggilan dari temannya ia malah mempercepat langkahnya.
Sepuluh menit kemudian, Rara telah sampai di depan kedai, ia langsung masuk dan memanggil Mira.
"Pagi Mbak Mir." Sapa Rara.
"Eeh Rara, pagi juga, mana yang lainnya?." Tanya Mira.
"Tuh mereka." Tunjuk Rara dengan expresi wajahnya.
"Wah tumben-tumbenan nih kalian tidak kompak, lagi musuhan ya." Ujar Mira.
"Ya enggak lah, aku sengaja duluan karena, perut sudah mulai minta di isi." Ujar Rara.
"Oh gitu, mau pesan apa?." Tanya Mira.
"Roti bakar sama teh angat Mbak." Sahut Rara.
__ADS_1
"Oke."
Mira pun langsung mempersiapkan apa yang Rara pesan.