
Ketika itu pula puluhan petugas pada berdatangan sambil menodongkan senjata apinya.
"Lagi-lagi kalian." Bentak petugas sambil menunjuk pada Andi.
"Bukan kami pak yang duluan, Victor yang nyegat kami dan kami hanya membela diri." Jawab Andi.
Lalu Abeng memperkuat perkata'an Andi.
"Iya betul pak Victorlah yang biang masalah, coba saja perhatikan mereka bersenjatakan lengkap, itu ber'arti Victor sudah merencanakan jelek pada kami." Tukas Abeng.
Para petugas lalu memberi peringatan, pada Victor agar tidak mengulangi.
"Sekali lagi kalian bikin masalah, pihak LP akan mengirimkan kalian ke nusa kambangan."
Selepas itu para tahanan langsung di giring kembali pada kamar tahanannya masing-masing.
Kini nama Andi, di LP sudah di kenal bahkan ke luar.
Kini matahari sudah miring kebarat, cahaya merah jingga pun sudah nampak menggurat di atas cakrawala, pertanda senja telah datang untuk menyambut sang malam.
Andi yang lagi kumpul bersama anak buahnya, menikmati suasana senja yang sudah memancarkan aura dingin, lalu petugas datang dan memanggil pada Andi.
"Andi Nayaka, ada telpon untuk kamu." Ujarnya.
Andi lalu beranjak bangkit dan melangkah menuju pada petugas. "Telepon dari siapa pak?." Tanya Andi.
"Saya tidak tau." Jawabnya sambil membuka gembok pintu sel.
Lalu Andipun keluar menuju ruangan kerjanya petugas.
"Assalam mualaikum pak, katanya ada telepon buat saya." Sapa Andi.
"Iya bentar saya hubungi dulu." Ujarnya sambil mencoba menghubungi penelpon yang tadi masuk.
Tidak lama kemudian telepon pun sudah terhubung, dan petugas langsung memberikan telpon duduk itu pada Andi.
📞.Andi "Halo dengan siapa ini.
📞....."Ini gue Vina An masa lo' kagak kenal.
📞.Andi "Ooh elo' Vin, sory bukannya begitu ini kan telpon kantor Lapas bukan telpon genggam, gimana kabar lo' di sana menyenangkan?."
📞.Vina "Alhamdulilah belajarku cukup menyenangkan, sebaliknya kabarmu di situ bagaimana."
📞.Andi "Alhamdulilah gua baik-baik aja, gua ikut senang mendengarnya bila belajarmu di sana menyenangkan semoga lo' sukses ya."
__ADS_1
📞.Vina "Amiin, terima kasih ya An, ya sudah kalau begitu takut kelama'an, pesan dari gue jaga hati lo' untuk gue, dan semoga lo' cepat keluar."
📞.Andi "Iya Vin terima kasih."
Lalu Andi mengembalikan telpon tersebut ke meja kerjanya petugas.
"Terima kasih pak." Ujar Andi.
"Iya sama-sama." Jawabnya.
Kemudian Andi melangkah menuju kamar tahanan yang lagi di jaga oleh petugas, setelah Andi tiba, petugaspun langsung membuka pintu jeruji besi itu, dan Andi langsung masuk, petugas pun langsung menutup kembali dengan di gembok untuk menjaga agar para navi tidak bisa kabur.
..............
Sementara di tempat lain.
Tepatnya di tempat Toglo di Gang Sawah, semenjak kepergiannya nenek Jumi menghadap sang illahi, Toglo bersama istri tercintanya Wulan, membangun rumah di sampingnya rumah Almarhumah nenek Jumi, yang sekarang sudah di bagusin oleh Wawan dan Wiwin.
Di suasana malam yang terasa dingin, di tambah malam itu malam purnama.
Toglo dan Wulan serta anak pertamanya yang sudah berusia enam tahun, lagi duduk di bangku sambil menikmati cahaya bulan purnama yang memancar menerangi bumi.
"Kalau kita kaji lebih dalam, betapa besarnya ciptaan Allah Swt, ada siang, ada malam, ada pria ada wanita, ada gelap ada terang, itu semua Allah ciptakan berpasang-pasangan."Cetus Toglo
"Mah, pah, Allah itu yang menciptakan manusia, langit dan bumi kan." Pungkas Ali Erwanda.
"Iya betul nak, dan kita harus bersukur, dengan cara melakukan perintahnya dan menjauhi apa yang telah di larangnya." Jelas Toglo.
Ketika mereka lagi asih ngobrol, munculah Wawan dan Wiwin, yang sudah dewasa sekarang.
"Widiiih Bang Wanda, teh Wulan, lagi asik nih." Cetus Wawan.
"Iya dong." Jawab Wulan.
"Paman, Bibi ko aku tidak di sebut sih." Ujar Ali.
"Oh iya, ma'af ya dek Ali, Bibi sampai lupa." Ujar Wiwin sambil mendekati ke arah Ali.
"Eeh Dek Wiwin Bikini kopi sana, kalau rame begini asik nih sambil minum kopi dan teh hangat." Pinta Toglo.
"Iya Bang." Jawab Wiwin langsung melangkah memasuki rumahnya Toglo.
"Bang bagaimana ke ada'an Andi di penjara, baik-baik aja kan?." Tanya Wawan pada Toglo.
"Abang juga belum jenguk, kalau jadi besok akan mulai jenguk bersama Bibi Astuti dan Anggita." Jelasnya Toglo.
__ADS_1
"Aku ikut dong Bang." Ujar Wawan.
"Nanti aja Wan, bareng sama Om Kamal, soalnya tidak boleh banyakan." Ungkap Toglo.
"Oh begitu ya, baiklah nanti aku minta bareng saja sama Om Kamal." Sahut Wawan.
Tidak lama kemudian muncul lah Wiwin, dengan membawa nampan yang ber isikan dua gelas kopi dan dua gelas teh hangat manis.
"Ini kopi dan tehnya." Ujar Wiein sambil mendaratkan nampan di meja.
Semilir angin malam yang meniup sepoi-sepoi terasa dingin menusuk, Toglo dan Wawan langsung menyeripit kopinya yang terasa masih panas, sangat cocok buat menghangat kan isi dalam perutnya.
Begitu pula Wiwin dan Wulan beserta Ali meminum teh manis hangat, sungguh keluarga yang harmonis yang selalu menjaga kekeluarga'an.
Toglo alias Wanda yang paling tua di keluarga, selalu memberi contah yang baik pada adik-adiknya.
Nyata terbukti hasil dari didikan Toglo dan nenek Jumi selagi masih hidup, Wawan dan Wiwin selalu patuh pada perintah kakanya. Karena bagi Wawan dan Wiwin Toglo adalah seorang pahlawan yang telah berjuang demi adik-adiknya.
Hembusan-hembusan asap putih yang keluar dari mulutnya Toglo dan Wawan akibat dari pembakaran sebuah roko telah mewarnai suasana malam purnama.
"Widiiiih mantap kopinya." Celetuk Wawan.
"Iya dong, karena kopi ini di buat dari biji kopi yang berkualitas, sehingga tidak menimbulkan asam di mulut." Ujar Toglo.
"Kopi apa namanya?." Tanya Wawan.
"Namanya sih gak tau, ini kopi pemberian dari buk bos." Jawab Toglo.
"Ooh pantesan kopinya beda dengan kopi pada umumnya." Ujar Wawan.
"Ya jelas beda, kopi ini biasa di gunakan di kedai Almarhum pak Bos." Ujar Toglo.
Ketiga kakak beradik itu sangat akur, dan selalu ceria sehingga keluarga kecil mereka menjadi lebih berwarna, apa lagi dengan hadirnya Ali Erwanda yang selalu bersikap lucu dan menggemaskan.
"Paman, Bibi besok ajarin aku naik sepeda ya, Paman dan Bibi sudah berjanji akan mengjarkan itu pada aku." Ujar Ali.
"Iya sayang, Bibi gak mungkin lupa ko, besok Bibi akan ajarkan." Tukas Wiwin.
"Bibi janji ya." Ujar Ali.
"Okee.."
Toglo dan Wulan hanya tersenyum tipis melihat anaknya yang begitu tegas menagih janji pada bibinya.
Sedangkan Wiwin sendiri merasa senang bila bermain dengan Ali, selain orang pemberani seperti ayahnya, Ali pun sosok anak yang pandai bergaul dan mempunyai hati yang welas asih.
__ADS_1