
Andi dan Vina hanya saling pandang, lalu keduanya masuk kedalam mobil.
kemudian melaju dengan cepat meninggalkan ke empat kawanan begal tersebut.
Pukul 23:00
Andi dan Vina sudah sampai di tempat yang di tuju, yaitu rumah Bibinya Vina adik dari ayahnya yang bernama Bibi Lusiana dan suaminya Paman Badru.
Lusiana dan Badru merasa sangat gembira sekali dengan kedatangannya Vina dan Andi.
"Ayo silahkan di minum nak siapa ini?." Tanya Lusiana pada Vina.
Sebelum Vina menjawab, Andi terlebih dahulu memperkenalkan dirinya pada Bibi Lusiana dan Paman Badru.
"Nama saya Andi, Tante, Om." Ujar Andi sambil mengulurkan tangannya memberi salam perkenalan pada Lusiana dan Badru.
"Oh nak Andi, nama yang bagus sesuai dengan orangnya ganteng dan gagah." Ujar Bibi Lusiana.
Lalu Badru menoleh ke arah Vina sambil berkata.
"Itu pacar kamu Vin?." Tanya Badru.
Vina hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
"Hebat kamu Vina, mempunyai pacar seganteng ini." Lanjut Badru memuji pada Vina.
"Ya jelas dong, kan aku juga cantik Paman." Ujar Vina memuji diri sambil tertawa tipis.
"Iya-iya Paman juga tau, ponakan Paman ini sangat cantik rupawan, siap dulu dong Bibinya." Tukas Badru sambil melirik ke arah Lusiana.
"Mulai deh, sudah tua juga masih aja ngegombal." Ujar Lusiana.
"Iya Bibi, sepertinya paman ada maunya Bi." Kekeh Vina mengejek.
Andi hanya tersenyum, melihat ke akraban Vina sama Paman dan Bibinya.
"Berarti Vina sering berkunjung kesini ya." Ujar Andi.
"Iya nak Andi, Vina sering berkunjung kesini sebulan sekali, semenjak Vina kuliah di singapura Bibi merasa kehilangan, bertahun-tahun Vina tidak ada main kesini." Tukas Lusiana.
"Ma'af Tante, Om, apa Tante sama Om tidak mempunyai ke turunan?." Tanya Andi.
"Ya begitulah nak Andi, hingga sa'at ini Bibi tidak di karuniai anak, makanya Vina sudah ku anggap seperti anak Bibi sendiri." Jawab Lusiana.
"Apa Bibi sama Om sudah memeriksanya sama dokter, takut nya salah satu dari kalian ada yang mandul gitu." Ujar Andi.
"Iya sudah sih, Menurut dokter Bibi yang mandul, tidak akan mempunyai keturunan."
__ADS_1
"Oh iya, Bobi sampai lupa, tadi tuh bibi masak nasi liwet, karena Bibi tahu kalian berdua pastinya lapar." Lanjut Lusiana, sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
Lalu di langkahkan tungkai kakinya menuju ruangan dapur.
Setelah itu Lusiana kembali lagi ke ruangan tengah.
"Nasi liwetnya sudah matang." Ujar Lusiana.
"Waduuh bakal makan enak nih." Cetus Vina.
"Kalau nasi liwet tuh enaknya makan bareng di atas daun pisang, jadi berasa gitu nikmatnya." Pungkas Vina.
"Iya betul, Pak ambil daun pisang tuh di belakang." Pinta Lusiana pada Badru (Suaminya).
Setelah itu Badru langsung keluar sambil membawa pisau untuk mengambil beberapa helai daun pisang.
Tidak lama kemudian Badru kembali dengan membawa daun pisang lalu di gelar diatas lantai, dan Lusiana langsung menuangkan nasi liwet tersebut di atas daun pisang, yang di bubuhi oleh lauk pauk dan lalapan mentah serta sambal terasi untuk pelengkapnya.
Kini mereka dengan nikmatnya menyantap nasi liwet dengan lauk pauk dan lalapan.
Meski makannya sederhana tapi nikmatnya melebihi makan di sebuah restauran mahal.
35 menit kemudian.
Mereka pun telah selesai makannya, sungguh terasa indah kebersama'an.
Karena di rumah, Vina tidak pernah merasakan indahnya bersama dalam keluarga.
Selepas itu Lusiana dan Badru berpamitan untuk istirahat, melepaskan lelahnya berbaring di atas ranjang empuk.
Sedangkan Vina dan Andi duduk berdua di belakang rumah, yang di kelilingi oleh pagar tembok yang tinggi, dan banyak tumbuh pohon lengkeng dan mangga yang rindang di bawahnya tersusun bangku kayu dan meja yang di tata sedemikian rupa.
Vina Duduk merapat dengan Andi, yang di kipasi oleh hembusan angin malam yang menerpa begitu dingin terasa.
"An, malam ini sepertinya malam pertama kita bisa duduk berdua ." Celetuk Vina. Sambil perlahan-lahan menyandarkan punggungnya di dada Andi
"Iya Vin, apalagi udara di sini masih terasa alami banget." Tukas Andi.
Vina tengadahkan wajahnya menatap keatas pada Andi.
Lalu Andi menatap turun memandang wajah Vina yang anggun menawan, sambil membelai rambut Vina yang bergelombang.
Jantung Vina kini terasa berdegup kencang, apa lagi wajah Andi yang dikit demi sedikit turun.
Kedua netra Vina dan Andi terlelap dalam pandangan Asmara cinta.
Cep
__ADS_1
Vina merasakan ada sentuhan basah di kedua bibirnya, ternyata Andi sudah mulai mengulum bibir sexinya Vina.
Vina pun tidak bisa menolak permainan dari ciumannya Andi.
Desah napas Vina kini sudah mulai tidak beraturan, ketika Ciuman Andi sudah menjelajah ke lingkaran lehernya Vina.
Vina menggeliat sambil kedua tangannya di lingkarkan pada lehernya Andi.
Di malam yang hening sunyi, yang di iringin oleh tiupan angin sepoi-sepoi se akan menjadi saksi pada dua insan yang lagi mencurahkan rasa cintanya.
Ciuman Andi begitu agresip membuat Vina semakin tidak berdaya terbuai dalam ikatan cinta dan asmara.
Kemudian Vina bangkit dari bersandarnya di dada Andi, lalu Vina membalikan badannya jadi saling berhadapan.
Perlahan Vina menurunkan tubuhnya dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kayu tersebut, sambil menarik tubuh Andi.
Andi memeluk tubuh Vina yang montok berisi, dirasakan benturan gunung kembarnya Vina yang masih padat dan keras tertekan oleh dada Andi.
Kedua tangan Andi lalu bergerak, menyentuh dengan lembut tubuh Vina.
Vina semakin pasrah dengan belaian pemuda gagah dan ganteng yang ia cintai sejak duduk di bangku kelas dua SMA.
Tapi tiba-tiba Andi tersontak Kaget, seperti telah di ingatkan oleh teguran yang berbisik lirih di telinganya.
"Ingat nak, kamu jangan sampai melakukan perbuatan yang di larang agama." Begitulah suara yang bergeming di telinganya Andi.
"Ibuk..." Sontak Andi kaget sambil melepaskan pelukannya pada Vina.
"Elo' kenapa And?." Tanya Vina.
Andi lalu mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Astagpirullah hal adzim." Uja Andi.
"Ma'afin gua Vin, gua gak sadar telah terbawa oleh kekuatan cinta kita." Lanjut Andi memohon maaf pada Vina.
"Iya tidak apa An, justru gue yang minta ma'af, andaikan gue menolak tentu kamu juga tidak akan memaksa." Ujar Vina.
"Ya sudah anggap saja yang barusan itu suatu kehilapan, yang terpenting aku dan kamu masih dalam ke ada'an suci, belum ternodai." Ucap Andi.
Selepas itu Vina langsung tidur pergi ke kamar yang telah di sediakan oleh Bibinya kalau sewaktu-waktu Vina datang berkunjung.
Sementara Andi tiduran di sopa di ruangan tengah, sambil netranya menatap langit-langit rumah.
"Ampini aku ya Allah, walaupun aku belum melakukan perbuatan nista, setidaknya aku telah berbuat dosa, karena Vina belum halal untuk di sentuh." Batin Andi bermonolog.
Kemudian Andi pun mulai memejamkan matanya, hingga akhirnya ia tertidur dengan sangat pulasnya.
__ADS_1
Malam pun semakin larut, udara dingin sudah terasa menyelimuti kota, di kejauhan nampak terlihat bayangan hitam menjulang tinggi dengan kokoh membentengi kota Tasik malaya, yaitu Gunung Galunggung.