Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 72 Pdkt Adi Rangga.


__ADS_3

Pukul 12:00


Vina keluar dari ruangan kerjanya, hendak pergi ke sebuah cafe untuk makan dan minum, tapi langkah Vina mendadak terhenti ketika ada yang memanggilnya.


"Vin tunggu sebentar." Panggilnya


Vina pun langsung membalikan badannya, ke arah suara yang memanggil dirinya.


"Papah, ada apa pah?." Tanya Vina.


"Nanti sehabis Istirihat kita ada meeting, di Cafe mutiara." Ujar Pajar.


"Apa pah, kita." Tukas Vina.


"Iya kamu dan Papah, nanti konsepnya Papah suruh Budi untuk mengantarkan ke ruang kerja kamu." Ujar Pajar.


"Jam berapa pah?." Tanya Vina.


"Sekitar pukul setengah tiga, sekarang kamu mau kemana?." Tanya Pajar.


"Mau cari makan dan minum, di depan sana." Jawab Vina.


"Oh ya sudah, kamu hati-hati." Tukas Pajar.


"Iya Pah." Jawab Vina singkat.


Setelah itu Vina pun langsung beranjak pergi, menuju sebuah Cafe yang tidak jauh dari tempat ia bekerja.


Setiba di sebuah Cape.


Vina lalu duduk di kursi, dan se orang pelayan Cafe datang menghampiri sambil memberikan buku menu makanan dan minuman di Cafe tersebut.


Vina langsung melihat-lihat beberapa menu makanan dan minuman.


Setelah menemukan makanan dan minuman yang cocok Vina berkata.


"Ini Mb, makakanannya Pasta dan minumannya Ice drink." Ujar Vina.


"Iya Buk, ditunggu sebentar ya." Ujar pelayan, sembari melangkah pergi untuk mempersiapkan pesanannya Vina.


Tidak lama kemudian Pelayan datang dengan membawa nampan berisikan makanan dan minuman pesanannya Vina.


"Silahkan Buk, selamat menikmati hidangannya." Ujar pelayan.


"Iya Mb, terima kasih ya." Tukas Vina.

__ADS_1


"Sama-sama Buk." Ujarnya sambil kembali melangkah pergi.


Vina pun langsung menyantap makanannya dengan nampak terlihat lapar sekali.


Tiga puluh menit kemudian Vina beranjak berdiri, sambil menyimpan uang di meja, sebagai pembayaran atas makanan dan minumannya.


Lalu Vina berjalan keluar menuju pada mobilnya yang terparkir di area parkiran cafe tersebut.


Setelah itu Vina langsung melaju keluar dari area parkiran.


Tidak lama kemudian Vina telah sampai di depan kantornya.


Lalu keluar dari dalam mobil, dan berjalan memasuki kantor menuju ruangan kerjanya.


Setibanya di dalam, nampak terlihat oleh Vina ada sebuah map terdampar di depan Laptopnya.


Lalu Vina duduk, sambil membuka map tersebut dan di pelajarinya konsep meeting hari ini.


Pukul 14:30 menit.


Pak Pajar, Vina Artiyana dan Budi Ahmad, beserta beberapa wakil dari sebuah perusaha'an lain, telah duduk berbaris dan saling berhadapan dengan sajian hidangan kentang goreng dan minuman favorit cafe Mutiara.


Salah seorang pemuda berwajah tampan pemilik perusaha'an yang sedang berkembang yang ikut andil dalam perusaha'an Pt Wirata Sentosa, mrntap Vina dengan intens.


"Wah cantik banget putri Tante Rosa ini, gue harus tampil bagus dalam meeting ini." Batinya pemuda terdebut yang tak lain adalah Adi Rangga.


Meeting sudah selesai dan hasilnya sangat memuaskan.


Begitu mendengar penyampaian Vina yang begitu padat menjanjikan dan cukup di mengerti, tentang produk baru, yang akan bersaing di pasaran.


Adi Rangga mengajak Vina untuk duduk santai sebentar,


Sementara Pak Pajar, Budi Ahmad dan yang lainnya langsung pergi.


Sambil berjalan pelan, Adi Rangga berkata dengan lembut dan sopan.


"Ternyata ibuk Vina ini hebat sekali, semoga sukses ya." Ujar Adi Rangga memuji.


"Wah pak Rangga ini, terlalu berlebihan memuji saya, saya kan baru pertama masuk kerja di perusaha'an papah." Tukas Vina.


"Itu bukan pujian, tapi kenyata'annya kok, bahkan semua yang ikut meeting tadi pada ngacungin jempol." Timpal Adi Rangga.


"Ya, secara kebetulan saja, konsepnya tidak terlalu sulit, oh iya Pak Rangga, saya duluan ya, di kantor kerja'an masih numpuk." Ujar Vina.


Secara sepontan tangan Rangga meraih tangannya Vina yang hendak melangkah, sontak saja Vina terkejut, lalu netranya melirik ke arah tangan Rangga.

__ADS_1


Rangga nampak terlihat malu, lalu ia berkata meminta ma'af.


"Ma'af Buk ma'af, saya sepontan saja tadi, tidak ada niat untuk berlaku kurang ajar." Ujar Rangga melepaskan pegangan tangannya sambil memohon🙏🙏


"Iya tidak apa-apa, saya duluan ya." Tukas Vina, sambil berjalan terburu-buru memburu pada mobilnya.


Sementara di tempat lain.


Tepatnya di Gang Si'iran, nampak Andi lagi sibuk melayani para castamer, yang terus berdatangan memenuhi area bengkel.


Toglo dan ke tiga anak buahnya merasa kewalahan, makanya Andi turun tangan membantu.


Kulit putih bersih Andi, kini telah belepotan dengan oli bekas, tapi Andi merasa senang dan bahagia dengan keja'annya.


"Wah pak Bos, tidak usah turun tangan, waduuh kita jadi malu nih." Celetuk Asep.


"Tenang saja Bang Asep, kasihan para langganan menunggu terlalu lama, biar cepat kelar." Ujar Andi.


"Masa Bos ikut belepotan sih." Pungkas Gio.


"Ah Bang Gio, Bos juga manusia sih Bang." Tukas Andi.


Tidak lama kemudian, para pelanggan sudah berkurang, tinggal beberapa kendara'an saja yang lagi di tangani oleh Toglo dan ke tiga anak buahnya.


Andi pun segera membersikan tangannya dari noda hitam bekas kotoran yang bercampur sama oli dari sebuah kendara'an yang ia tangani.


Lalu Andi duduk di kursi plastik, dan di ambilnya sebatang roko yang tergeletak di atas meja, bersama'an dengan itu di nyalakan pula korek gas untuk membakar ujung roko tersebut.


"Kenapa ya tadi hati gua merasa tidak enak begitu, gua jadi teringat sama Vina, apakah dia baik-baik aja, apa gua kabarin ya, ah tapi jangan deh, dia kan lagi sibuk kerja di hari pertamanya." Gerutu Andi bermonolog.


Rupanya Andi telah sugesti, ketika Vina lagi duduk sama Adi Rangga.


Dan batin Andi mungkin merasakan ada hal yang tidak beres dengan ibuknya Vina yang memaksa Vina untuk kerja di kantor papanya.


"Apa mungkin ini sebuah rencana mamanya Vina, supaya bisa melupakan ku dengan bekerja di perusaha'an papanya setidak nya akan banyak lelaki yang mencoba untuk mendekatinya." Batin Andi.


Lalu Andi terperanjat kage ketika Toglo meminta untuk di ambilin sapre part Honda pada Andi.


"Nak Andi tolong ambilkan kampas rem belakang Honda Supra x." Pinta Toglo.


"Iya Paman." Ujar Andi kaget langsing berdiri dan melangkah masuk ke dalam untuk mengambil apa yang toglo pesan.


"Ini Paman." Ujar Andi sambil memberikan sebuah kampas rem.


"Kamu itu kenapa sih, Paman perhati'in kamu seperti sedang melamun begitu?." Tanya Toglo sambil meraih kampas dari huluran tangannya Andi.

__ADS_1


"Oh tidak Paman, aku tidak sedang melamun kok." Ujar Andi berbohong.


"Jangan berbohong, Paman bisa merasakan di raut wajahmu yang nampak murung, jangan banyak melamun, ennoy aja kalaupun ada masalh cerita ding siapa tau Paman bisa memberikan jalan keluar." Tukas Toglo sembari memasangkan kampas rem baru pada motor yang sedang di betulin.


__ADS_2