
Hari kini telah memasuki senja, jalan raya mulai terlihat di padati oleh kendara'an dari berbagai macam jenis, dari para buruh pabrik atau para pekerja negri sipil dan para pedagang angkringan yang keliling komplek dan kampung, yang telah melakukan aktipitasnya untuk kembali pulang ke rumah berkumpul kembali dengan keluarga.
Andi Nayaka yang nampak sudah berpakaian rapi, baju kemeja lengan panjang bermotip kotak-kotak yang di lapisi oleh Jaket rompi dari kain jens, topi warna hitam yang selalu menempel menutupi rambutnya menambah penampilannya semakin keren meski sedikit bergaya ala coboy.
Banyak wanita yang melirikan pandangannya, tapi Andi bukan tipe lelaki yang suka mengobral cinta pada setiap wanita, di hatinya cuma ada satu nama yang terukir indah di lubuk hati yang paling dalam yaitu Vina Artiyana, teman waktu sekolahnya yang sekarang sudah resmi menjalin hubungan sebagi pacar.
Anggita kakaknya Andi menatap dengan intens pada sang adik lalu berkata.
"Wah waah, adik gue ini ganteng banget, kakak mencium bau-bau mau kencan nih." Celetuk Anggita.
"Iih kak Anggita ini ada-ada aja, emang gak boleh gitu gua berpenampilan sedikit rapi." Ujar Andi.
"Ya tentu saja boleh dong, adik kakak ini walaupun tidak berdandan tidak sampai mengurangi ke gantengannya kok." Ujar Anggita.
"Berhenti memuji gua kak, karena bagi gua pujian itu adalah suatu hina'an yang bisa melemahkan keyakinan." Cetus Andi.
"Kok begitu sih kamu menilai kakakmu sendiri, harusnya kamu bersyukur, dan asal lo' tau gue bicara apa adanya." Tukas Anggita.
"Iya kak gua tau, tapi tidak begitu juga kali memujinya, karena gua gak suka dengan sanjungan." Ujar Andi.
Kemudian Sindi datang sambil membawa nampan berisikan tiga mangkok makanan, ketika Sindi melihat pada Andi yang berpenampilan agak berbeda dengan biasanya, sampai terbelalak kaget.
"Subhanallah." Celetuk Sindi sambil menyimpan nampan di meja.
"Ibuk kenapa?." Tanya Andi sedikit heran.
"Kalau melihat kamu berpenampilan begitu, serasa teringat pada mendiang ayahmu nak." Ujar Sindi bernada sedih.
"Emang kenapa dengan penampilanku ini Buk?." Tanya Andi.
Sindi tidak langsung menjawab pertanya'annya Andi, ia bergegas pergi memasuki kamarnya, dan selang beberapa menit Sindi datang dengan membawa Album.
"Ini coba kamu perhatikan." Ujar Sindi sambil membuka Album tersebut dan memperlihatkannya pada Andi dan Anggita.
Andi dan Anggita sontak saja kaget ketika melihat poto almarhum ayahnya.
"Masya Allah, ia benar susah membedakannya Buk, ini poto ayah waktu masih bujang ya Buk?." Tanya Anggita pada ibuknya.
"Iya Git, ini ayahmu waktu mau main kerumah ibuk." Jawab Sindi.
__ADS_1
"Lalu siapa yang mengambil gambar ayah." Ujar Andi bertanya.
"Bibimu Astuti, diam-diam memotret ayahmu di depan rumahnya kakek, makanya ibuk tadi sempat terharu melihat penampilqn kamu Andi." Ujar Sindi.
"Bagaikan pinang di belah dua, sekarang kalau aku rindu pada ayah, tinggak aku lihat aja dek Andi." Timpal Anggita.
"Kamu mau ke tempat Vina ya?." Tanya Sindi.
"Iya Buk, tadi Vina ngechat aku, minta di anterin ke tempat bibinya." Jawab Andi.
"Ooh begitu, ya sudah kamu hati-hati di jalan, dan jangan terlalu malam pulangnya ya, ibuk khawatir, karena di kota ini sekarang banyak sekali kejahatan berkeliaran di malam hari." Ujar Sindi memberi nasehat.
"Iya Buk, sekarang ku pergi dulu ya Buk, kak Angita." Ujar Andi.
"Iya kamu hati-hati, awas jangan nackal ya." Cetus Anggita.
"Iih kaka ini, emang gua cowo apa'an." Tukas Andi.
Setelah itu Andi langsung keluar memburu pada motornya yang terparkir di halaman rumah.
Pintu gerbang nampak masih terkunci karena Jaroni yang biasa bertugas jaga belum datang.
Andi mendorong motornya keluar setelah ia membuka kunci pintu gerbangnya, lalu motornya di nyalakan, kemudian ditarik gasnya perlahan, kini motorpun telah melaju meninggalkan rumah.
Tidak lama kemudian Andi telah sampai di tempat yang dituju, lalu ia melangkah turun dari atas motor, dan berjalan menuju pintu gerbang sebuah rumah mewah.
Tek tek tek.
"Permisi,, Assalam mu'alaikum." Sapa Andi.
Beberapa menit kemudian seorang wanita keluar dan berjalan menghampiri Andi yang lavi berxiri di luar pintu gerbang.
"Mau ketemu siapa mas?." Tanya wanita tersebut, kemungkinan wanita itu adalah pembantu di rumah mewah tersebut.
"Non Vina nya ada Bi?." Andi balik bertanya.
"Oh non Vina, bearati kamu Andi ya." Ujar wanita itu.
"Iya Bi, ko Bibi tau sama saya." Tukas Andi sedikit heran.
__ADS_1
"Tadi non Vina berpesan kalau ada pemuda bernama Andi suruh tunggu dulu sebentar, ayo masuk." Ujar si Bibi pembantu sambil membukakan pintu gerbang.
Andi pun melangkah masuk, lalu duduk di kursi yang ada di teras depan rumah.
Sementara si Bibi langsing masuk ke dalam, untuk memberi tahu pada Vina bahwa di luar Andi sudah datang menunggu.
Sekitar lima menit kemudian.
Vina muncul dengan berpakaian rapi.
"Hai An, sudah lama menunggu ya." Sapa Vina.
"Tidak juga, jadi ke tempat Bibimu itu?." Tanya Andi.
"Ya jadi dong, motormu masukin aja, kita berangkat pakai mobil, soalnya sekarang sudah mendekati musim hujan." Ujar Vina.
Andi pun langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pada motornya yang terparkir di luar gerbang.
Setelah Andi mendorong motornya ke dalam gerbang, lalu Vina pun memberikan kunci kontak mobil pada Andi.
"Inih kuncinya, mobilnya Yang Civic warna merah itu." Tunjuk Vina
Kemudian Andi pun berjalan mendekati mobil Honda civic warna merah sambil menekan remot control untuk membuka pintu mobil.
Singkat cerita.
Andi dan Vina sudah melaju keluar dari halaman rumah, dan melaju di jalan komplek perumahan menuju keluar komplek.
Setibanya di jalan raya, mobil pun melaju dengan kecepatan di atas delapan puluh kilo meter, dengan tujuan kota Tadik malaya, mau silaturahmi pada saudara dari ayahnya.
Perjalanan yang lumayan cukup jauh memerlukan waktu berjam-jam untuk sampai di tujuan.
Ketika Andi lagi melalui jalan yang sepi, nampak terlihat dari spion ada empat kendara'an roda dua mengikutinya, dari gerak geriknya yang nampak mencurigakan.
"Vin coba lo' lihat ke belakang, empat orang pengendara roda dua seperti mencurigakan sekali." Ujar Andi.
Lalu Vina pun mengintip lewat sensor yang ada di mobil.
"Iya benar, tambah kecepatan An, nanti bila sampai di tempat ramai kita berhenti, apa benar ke empat pengendara motor itu ada niat jahat pada kita, apa cuma keberulan saja." Ujar Vina.
__ADS_1
Andi pun langsung menginjak gasnya, dan mobilpun melaju dengan sangat cepat, Vina pun sampai melotot kaget, tida menduga sebelumnya kalau Andi jago juga dalam mengemudi kendara'an roda empat.
"