Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 95 Senja di Ganda Soli


__ADS_3

Siang itu suasana di pusat kota, kembali di gemparkan dengan di temukan mayat di sebuah tong sampah yang di bungkus pakai karung.


Salah se orang pemulung yang biasa mengambil barang-barang ronsokan. Awal dari penemuan mayat tersebut.


Andi Nayaka, yang lagi melajukan motor yamaha Rx kingnya. Dengan membonceng seorang gadis yang tak lain adalah Rara Amyati.


Dalam perjalanannya Andi dan Rara sempat terhenti karena harus menolong se orang pemuda yang lagi di keroyok oleh beberapa pemuda berandal.


Dari jarak yang jauh Rara duduk terdiam di atas jok motornya Andi, menyaksikan Andi berkelahi memberi pertolongan.


Ke empat pemuda berandal tidak bisa berkutik melawan satu orang Andi.


Hanya dalam beberapa jurus saja para pemuda berandal itu langsung lari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut.


Selepas itu Andi berjalan menghampiri pemuda yang korban dari pengetoyokan itu.


"Kamu tidak apa-apa?." Tanya Andi sambil mengulurkan tangannya membeti bantuan untuk bangun.


Pemuda itu pun langsung memegang tangan Andi lalu beusaha bangkit.


"Dadaku agak sakit, terima kasih Bang sudah menolongku." Tukas Pemuda itu.


"Iya sama-sama, gimana kalau saya bantu berobat ke klinik." Tawar Andi.


"Terima kasih sebelumnya,ma'af bukannya aku menolak niat baik abang, tapi nanti juga sembuh biar aku minta di urut aja ke ahli patah tulang." Ujarnya.


"Oh ya sudah, Aku antar pulang ya." Lanjut Andi memberi tawaran lagi.


"Nanti gimana cewe abang." Ujar pemuda itu.


"Itu gampang kalau kamu mau saya bisa hubungi sahabat ku yang kebetulan dekat daerah ini, emang kamu pulangnya ke mana?." Tanya Andi.


"Jalan Angkasa masuk Gang Cempaka." Jawabnya.


"Oh di situ, aku punya kenalan." Ujar Andi.


"Siapa gtu Bang, barang kali aku kenal?." Bertanya.


"Namanya Bang Jupri." Jawab Andi.


"Oh itu, aku juga dekat Bang jupri, ko abang bisa kenal sama Bang Jupri." Tukas pemuda itu.


"Oh iya, kenalin gua Andi, Asli anak Gang Si'iran." Timpal Andi memperkenalkan dirinya.


"Oh pantesan, namaku Edwar." Ujarnya sambil menyambut huluran tangan Andi.


"Pantesan kenapa?." Tanya Andi.


"Iya kalau abang anak Gang Si'iran, aku percaya, karena Gang Si'iran semua orang sudah pada tau bang." Timpal Edwar.


"Ya sudah sekarang ikut dengan ku, biar aku antar kamu pulang." Ujar Andi.


"Tapi aku gak enak sama cewe abang, biar aku naik ojeg aja bang." Ujarnya.


"Oh ya sudah, biar gua pesenin ojol ya." Tukas Andi sembari mengambil ponselnya di balik saku jaket bagian dalam.


Kemudian Andi membuka aplikasi Grab, dan memesan nya tujuan Gang Cempaka.

__ADS_1


Selang beberapa menit sang Ojol telah tiba, lalu bertanya.


"Sama pak Andi Nayaka?." Tanya sang Ojol.


"Iya Bang, ini teman gua, tolong ya anterin ke Gang Cempaka, dan ini ongkosnya sekalian gua bayar sekarang." Ujar Andi.


"Oke siap Bang." Ujarnya sang Ojol.


Setelah itu Edwar langsung menaiki motor sang Ojol.


Setelah Edwar pergi bersama Ojol, Andi pun langsung berjalan menuju pada Rara yang lagi duduk di motornya.


"Wah waaah, Aa Andi hebat, aku baru kali ini melihat Aa berantem." Cetus Rara.


"Ah lagi kebetulan aja, lawannya tidak bisa bela diri, coba kalau anak berandal tadi pada jago berantem mungkin aku yang akan lebih parah." Ujar Andi.


"Aa suka merendah." Tukas Rara.


"Ya sudah tidak usah bahas itu, ayo kita jalan, mungpung hari masih terang." Ajak Andi.


Andi lalu menyalakan motornya, dan Rara langsung melangkah naik dan duduk di jok belakangnya Andi.


Motor Yamaha Rx king kini telah melaju menelusuri jalan Kabupaten.


Rara memegang erat di pinggangnya Andi, karena takut.


Medan jalan yang turun naik dan banyak tikungan , membuat Rara sampai memejamkan matanya sambil berteriak.


"Pelan-pelan dong Aa, aku masih pingin hidup lebih lama lagi." Teriak Rara.


"Sudah kamu jangan terlalu ketakutan begitu, aku pun sama masih pingin hidup lebih lama lagi sama kamu." Teriak Andi tidak sadar telah berkata begitu.


"Apa gak salah apa yang aku dengar barusan." Gumam Rara dalam hati.


Rara terdiam memikirkan perkata'an Andi barusan, mungkinkah Andi lagi bergurau, atau itu kata yang terlintas dari lubuk hatinya.


Rara ingin mempertanyakan sekali lagi pada Andi, tapi entah kenapa bibir Rara seperti terkunci untuk bertanya.


Kata yang terucap di bibir Andi itu, membuat Rara tidak behenti terus berpikir, andaikan benar Andi berkata begitu tercetus dari hatinya, betapa bahagianya hati Rara.


Karena ia pun secara diam-diam telah menyimpan perasa'an yang besar pada Andi.


Saking asiknya Rara berpikir, sehingga tidak terasa motor yang ia tumpangi mrndadak berhenti tidak bergerak lagi.


"Ko berhenti Aa?." Tanya Rara.


"Ya terus mau kemana lagi, mau nyebur ke sawah." Balas Andi.


"Ko Aa gutu sih." Timpal Rara.


"Ya iya, toh kita sudah sampai ko, emang kamu tidur apa, masa tidak mengenali daerahmu sendiri." Tukas Andi.


"Oh jadi kita telah sampai Aa." Sontak Rara kaget.


"Masya Allah Ra, Ra, kamu Amnesia apa?." Tanya Andi.


"Ya enggak lah, aku masih ingat." Uajr Rara.

__ADS_1


"Ya terus, kenapa kamu sampai tidak mengenali daerahmu sendiri?." Tanya Andi sambil membalikan mukanya ke arah Rara.


"Aku aku merem Aa, karena takut, Aa bawa motornya seperti bawa rongsokan aja sih, tidak memperdulikan yang di boncengnya gimana." Cetus Rara.


"Iya ma'af deh, aku buru-butu takutnya ke malaman, apalagi cuaca tadi sudah mendung." Uajar Andi.


Setelah itu Rara pun melangkah turun dari motor, lalu keduanya langsung melangkah menuju teras depan Rumah.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Rara.


Selang beberapa menit nampak jelas terdengar ada suara Wanita sudah berumur menjawab salam dari Rara.


"Wa alaikum salam, siapa?." Bertanya.


"Ini aku Buk, Rara." Jawab Rara.


"Oh kamu, sebentar." Jawabnya.


Tidak lama kemudian Pintu terbuka bersama'an dengan munculnya seorang wanita paruh baya.


"Uluuh, sama nak Andi, ayo masuk." Tukasnya wanita tersebut yang tak lain ibuknya Rara.


"Ayo Aa." Ajak Rara.


"Iya Ra."


Andipun melangkah di belakangnya Rara memasuki kedalam rumah, lalu Ibuknya Rara mempersilahkan pada Andi untuk duduk di sopa ruangan tamu.


"Duduk dulu nak Andi, ibuk mau ambilkan dulu air minum." Cetus ibuknya Rara.


"Iya Buk terima kasih."


"Aa tunggu dulu ya, aku mau ganti salin dulu." Celetuk Rara.


"Ya sudah, lekas mandi sana, biar badanmu tidak bau asem." Jawab Andi.


"Enak saja, biarpun tidak mandi tiga hari badanku tetap wangi ko." Tukas Rara.


Senja kini telah datang, cahaya merah jingga telah menyala di atas cakra wala sebelah barat.


Andi dan Rara keluar dan duduk di teras, dengan kedua netranya menatap dengan intens pada cahaya senja yang menghiasi langit begitu indah diatas pedesa'an Ganda Soli.


Semilir angin senja membuat Andi terasa lebih nyaman berada di tengah pedesa'an Ganda Soli, para penduduknya yang ramah, yang selalu tegur sapa pada setiap orang, membuat Andi lebih kerasan lagi.


"Alhamdulilah hari ini kita masih bisa melihat suasana senja yang nampak indah." Cetus Andi.


"Iya Aa, mudah-mudahan besok kita masih bisa melihat kembali ke indahan alam semesta ini." Tukas Rara.


Pukul 18:00


Selepas maghrib Andi pamit pada Rara dan kedua orang tuanya untuk kembali pulang ke kota.

__ADS_1


Kedua orang tuanya Rara, meminta Andi untuk nginap, tapi Andi tetap kekeh mau pulang, alasannya tidak enak di pandangan masyarakat di situ.


__ADS_2