
Malam pun terus berlalu, suasana kota terasa sepi, hanya ada beberapa kelompok anak tongkrongan yang nampak terlihat menikmati suasana malam di setiap sudut kota.
Di sebuah rumah mewah miliknya pengusaha Tirta Wijaya.
Di sebuah kamar di lantai dua, nampak seorang wanita lagi berselimut tebal, badannya menggigil kedinginan, tak lain wanita tersebut Bela Puspita Wijaya.
Sepulangnya dari Gang Si'iran Bela terus masuk kamar, dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Di usianya yang ke tiga puluh tahun.
Baru kali ini Bela merasakan perasaan hati pada se orang lelaki yang usianya berada jauh di bawahnya.
Sehelai sapu tangan telah menempel di keningnya, dengan semangkuk air hangat di letakan di meja bekas mengompres untuk menurunkan demam yang lagi Bela rasakan.
Padahal Bela bukan demam karena sakit medis, melainkan demam dari perasaan hatinya yang di liputi oleh rasa cemburu pada Vina.
Lamunan Bela terus melayang, membayangkan Andi yang lagi mengantar Vina pulang.
"Kenapa hati gue jadi gak enak terus, lalu apakah Andi sekarang lagi berdua sama Vina." Gerutu Bela bermonolog.
Bela yang merupakan anak kedua dari Tirta Wijaya dan Mahdalena, yang kini telah tiada.
Bela begitu sangat di sayang oleh Tirta Wijaya, berbeda dengan Brian Tirta Wijaya, mungkin karena Bela anak perempuan, karena waktu Mahdalena mengandung anak kedua, Tirta sangat menginginkan anak perempuan dan namanya pun sudah di persiapkan.
Maka tak heran bila Tirta begitu sangat sayang pada Bela, seperti yang lagi di alami Bela sekarang, Tirta begitu sangat kuatir, Ketika melihat Bela langsung naik ke lantai dua dan mengurung diri dalam kamarnya.
"Brian, Briaan." Panggil Tirta pada Brian.
Brian yang lagi di kamarnya langsung keluar memenuhi panggilan ayahnya.
"Iya ayah ada apa?." Tanya Brian.
"Bela kenapa, tidak biasanya dia langsung masuk kamar?." Tanya Tirta.
"Bela lagi demam ayah, tapi tadi sudah aku kompresin." Ujar Brian.
"Kamu sebagai kakak, seharusnya cepat bawa ke rumah sakit, malah di kompresin." Tukas Tirta.
"Cuma demam biasa ko, nanti juga turun." Sahut Brian.
"Dasar kamu, penyakit itu jangan di anggap biasa." Ujar Tirta sambil melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.
__ADS_1
Brian menggerutu, Ketika ayahnya berjalan menaiki tangga untuk menemui Bela di lantai dua.
"Coba kalau aku yang sakit, ayah tak seperhatian ini padaku, ayah pilih kasih." Gerutu Brian.
Setibanya Tirta di depan pintu kamar Bela, Tirta memanggil sambil mengetuk Pintu.
Tok
Tok
Tok
"Bel, Bela buka pintunya nak." Panggil Tirta.
Tirta cukup lama berdiri di depan pintu, menunggu Bela keluar.
"Apakah Bela sudah tidur, ya sudah semoga aja sudah baikan, biar pagi aja aku temui di kamarnya." Gerutu Tirta.
Setelah itu Tirta kembali menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Ke esokan harinya.
Sebelum matahari muncul dari timur, di Gang Si'iran, tepatnya di rumah Andi Nayaka.
"Ma'af kak kalau aku ganggu." Ujar Andi.
"Kalau ganggu sih enggak, cuma agak heran aja, tumben-tumbenan kamu memasuki kamarku, emang ada apa sih?." Tanya Anggita.
"Jangan keras-keras, nanti kedengaran ibuk." Tukas Andi sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Iya ada apa." Sahut Anggita bernada pelan.
Kemudian Andi mengeluarkan kertas yang sudah di remas-remas dari dalam saku celananya.
"Ini masalah kak Bela, apa maksudnya dia meninggalkan tulisan begini." Timpal Andi sambil memberikan kertas tersebut.
Lalu Anggita membuka kertas tersebut dan di bacanya, Anggita tertawa tipis sambil senyum-senyum.
"Hehee...Andi, Andi ini tandanya Bela suka sama kamu, oh pantesan." Ujar Anggita tidak di terusin.
"Pantesan kenapa kak?." Tanya Andi mendesak.
__ADS_1
"Enggak." Jawab Anggita singkat.
"Tuh kan, kakak mulai deh, awas ya." Ujar Andi agak kesal.
"Ih kamu, dikit-dikit ngancam, iya, iya." Kata Anggita.
Kemudian Anggita pun menceritakan tentang Bela yang mendadak demam, ketika Andi mengantarkan Vina pulang.
"Nah begitu maksudnya, kakak yakin deh kalau Bela suka sama kamu." Ujar Anggita.
"Ko bisa sih kak." Sahut Andi.
"Ya bisa dong, kan ada pepatah cinta itu tidak mengenal usia dan Kasta." Jelas Anggita.
"Iya aku tau kak, tapi masalahnya aku tidak punya perasaan begitu, Kak Bela aku anggap sebagai kakak aja, tak lebih dari itu." Ujar Andi.
"Aku sangat mengenal Bela, ia belum pernah menyukai sama lelaki, walau pun banyak lelaki yang ingin mengharap cintanya, tapi baru kali ini Kakak melihat Bela bersikap seperti itu ke kamu, waduh bisa jadi masalah besar nih, bila cintanya bertepuk sebelah tangan." Jelas Anggita.
Angita yang sudah dekat dan sangat mengenal sipatnya Bela jadi bingung juga.
"Kenap jadi rumit begini, aku sendiri suka sama kak Brian, dan Bela suka sama Andi." Gumam Anggita dalam hati.
Yang jadi bingung buat Anggita, karena Bela anak dari salah satu pengusaha terkenal, dan merupakan anak kesayangannya, apa pun ke inginan Bela selalu di turuti untuk kebahagiaannya,
Mungkin kah Tirta wijaya akan berdiam diri ketika cinta anaknya bertepuk sebelah tangan.
"Ko kakak seperti kebingungan begitu?." Tanya Andi.
"Iya nih, aku paham betul siapa ayahnya Bela, ia selalu berbuat apa saja demi kebajagiaannya Bela." Ujar Anggita.
"Maksud kakak, Pak Tirta akan melakukan apapun demi cintanya Bela." Tukas Andi.
"Iya seperti itu."
"Ya juga kali kak, Pak Tirta kan orang berpendidikan, masa harus memaksa orang untuk tercapainya sebuah keinginan, apalagi dia kan orang kaya." Timpal Andi.
"Justru itu Andi, karena pak Tirta merasa banyak duit, apapun bisa di belinya dengan uang, gue jadi takut merembet pada perusahaan kita." Sahut Anggita.
"Jangan takut kak, kan kita tidak punya salah, siapapun orangnya yang akan menghancurkan perusahaan peninggalan ayah, aku akan pertahankan sampai tetes darah terakhir." Ujar Andi.
"Sebelum terlambat kamu harus bilang pada bela, katakan yang sejujurnya." Ujar Anggita.
__ADS_1
"Iya kak, aku akan ke rumahnya Bela sekarang juga, aku coba untuk menenangkan hati Bela, supaya Bela bisa menerima kenyataan ini." Tukas Andi.