Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 101 Petarung Jalanan.


__ADS_3

Pagi itu Andi masih terus melakukan olah raga, lalu terlintas dalam hati Andi untuk mengajak si Gery pergi ke suatu tempat yang di anggap keramat.


"Gery mungpung masih pagi kita pergi ke bukit." Ajak Andi.


Si Gery hanya membalas dengan gonggongan mungkin si Gery menyanggupi ajakan dari Andi.


"Kalau begitu kejar gua Gery." Ucap Andi sembari mempercepat langkahnya, berlari menuju tempat yang sering ia kunjungi.


Gok


Gok


Gok


Si Gery menggonggong sambil melompat dan berlari mengejar Andi.


Aksi kejar kejaran antara Andi dan si Gery menjadi tontonan dan bahan pembicara'an orang-orang yang Andi lalui di setiap jalan Gang Si'iran Barat.


"Bukankah itu Si Andi ya, anaknya almarhum pak Nandi." Tukasnya.


"Iya benar itu si Andi, dan binatang piara'annya begitu nurut dan setia." Timpalnya.


"Mau kemana dia."


"Paling mau kebukit itu, biasa tempat ayahnya dulu, kan leluhurnya di makam kan di bukit itu." Timpalnya.


"Kita sebagai warga Gang Si'iran merasa bersyukur banget, karena selalu lahir sosok pahlawan yang selalu menjaga dan menjadi bentengnya ke kuatan Gang Si'iran."


"Iya benar, Andi memiliki sipat yang sama persis dengan mendiang ayahnya, belum di tambah oleh Astuti dan kedua anaknya yang kembar yang katanya sudah mewarisi semua kepandaian dari kedua orang tuanya."


"Karena mereka terlahir dari orang baik-baik, ya turunannya juga pada baik."


Begitulah celotehan orang-orang yang memperbincangkan Andi dan keluarga Gang Si'iran.


Sementara yang lagi di perbincangkannya sudah sampai di sebuah bukit.


Andi terus melatih jurus-jurus bela dirinya, karena semakin bertambah hari, minggu, bulan dan tahun, kehidupan manusia seperti telah hilang akal sehat dan urat malunya.


Kekerasan sering terjadi di setiap penjuru kota, yang dampaknya banyak orang-orang yang tidak berdosa menjadi korbannya.


Andi berkeinginan mau meneruskan jejak sang ayah yang selalu menjadi penolong bagi orang yang membutuhkan dan menjadi pelindung keluarga dan orang-orang lemah.


Andi terus melatih semua jurus-jurus beladirinya. Si Gery yang memperhatikan semua gerakan yang Andi peragakan.


Binatang yang pintar yang telah di anugrah kan oleh semesta untuk menjadi teman setia Andi.


Diam-diam si Gery meniru gerakan Andi melompat-lompat sambil menggonggong terkadang meniru gerakan Rol dan Backrol.


Sepintas Andi selagi melakukan gerakan menautkan pandangan ke arah si Gery, Andi tersenyum tipis lalu menyerukan perkata'an pada si Gery.


"Ayo Gery ikutin gerakan ku." Seru Andi.


Gok


Gok

__ADS_1


Gok


Si Gery menggonggong merasa senang dengan kata seruan dari Andi.


Tidak terasa matahari pun telah terpancar dengan sinarnya yang kuning ke emasan, telah membuat Andi basah kuyup oleh keringat yang terus keluar dari pori-pori kulitnya.


Kemudian Andi menyudahi latihannya, dengan meditasi pernapasan sambil duduk bersila di atas batu hitam, untuk mengatur peredaran darah dalam tubuh.


Setelah beberapa menit kemudian.


Perlahan Andi mulai menurunkan kakinya ke tanah, lalu berjalan mendekati si Gery yang lagi duduk sambil menjulurkan lidahnya karena kecapean.


"Ayo Gery kita pulang." Ajak Andi.


Gok gok gok..


Si Gery menjawab.


Kemudian Andi dan binatang piara'annya berjalan santai menuruni jalan berbatu menuju Gang Si'iran.


Tidak lama kemudian Andi dan si Gery telah sampai di depan rumah.


Lalu Andi mendorong pintu besi dan di langkahkan tungkai kakinya memasuki pekarangan rumah, yang di ikuti oleh si Gery.


"Bentar ya Gery gua mau bikinin dulu kopi dan ambil makanan buat kamu." Ujar Andi.


Si Geri hanya menengadahkan wajahnya ke atas menatap pada Andi sambil merapatkan bokongnya ke lantai yang di komblok.


Selang beberapa menit.


Andi datang dengan membawa segelas kopi dan bungkusan kantong plastik.


Sedangkan Andi langsung melangkah menuju bangku besi yang ada di samping taman.


Kemudian Andi duduk sambil menyimpan gelas kopi di meja.


Satu seripitan kopi yang nampak masih mengepul telah cukup untuk membasahi tenggorokannya.


Lalu sebatang roko gudang garam Filter di tarik dari bungkusnya dan di bakar ujungnya oleh api yang keluar dari sebuah korek gas.


Seepuuuuhhh...


Satu hembusan asap putih tipis keluar dari


mulutnya Andi.


Ketika Andi lavi duduk santai sambil menikmati suasana pagi dengan secangkir kopi.


Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Drreet drreettt.


Andi lalu mengangkat panggilan masuk yang bertuliskan nama Erik.


📞. Andi "Halo Rik ada apa?."

__ADS_1


📞.Erik "An lo bisa gak tolongin gua."


📞.Andi "Emang elo kenapa Rik?."


📞.Erik "Gua kini lagi di kejar oleh para Geng gara-gara motornya sempat bergesekan dengan motor gua.


📞.Andi "Oke siap, pisisi lo di mana?."


📞.Erik "Di jalan Angkasa, cepetan ya mereka banyakan An."


Selepas itu Andi langsung menutup panggilannya dan memasukan ponselnya ke dqlam saku, lalu ia bergegas menuju ke dalam rumah.


Tidak lama kemudian Andi telah keluar dari kamar dengan pakaian yang biasa ia sering pakai, Andi pamit pada ibuknya yang lagi bersih-bersih di dapur.


"Buk aku pamit dulu ya, mau menolong Erik lagi ada masalah." Ujar Andi.


"Wulaaah nak, masalah apa? Ya sudah kamu hati-hati kalau bisa hindari pertikaian." Ujar Sindi.


"Iya Buk." Jawab Andi sambil mencium punggung telapak tangan Sindi.


Setelah itu Andi langsung melaju dengan sepeda motor kesayangannya, menunu Jalan Angkasa.


Andi melaju dengan cepat untuk segera sampai fi Jalan Angkasa, sedangkan suasana di jalan sudah mulai di padati oleh berbagai macam kendara'an.


Tapi Andi tidak begitu sulit dalam mengendalikan setang , di sa'at melaju yang saling berhimpitan.


Tidak lama kemudian Andi telah sampai di Jalan Angkasa.


Andi celingukan kesana kemari mencari posisi Erik berada di mana.


Setelah Andi berjalan tiga ratus meter nampak di depan seperti ada suara kegaduhan, Andi langsung tarik gasnya untuk segera sampai.


Setibanya di tempat yang gaduh oleh suara kasar teriakan dari sekelompok orang.


Nampak jelas terlihat oleh Andi, Erik lagi di kurung oleh belasan orang-orang yang pasang wajah garang.


Lalu Andi turun dari motornya dan masuk di sela-sela orang-orang tersebut.


"Sebentar-sebentar ini ada apa ya?." Tanya Andi.


"Heh siapa lo?." Tanya salah seorang yang teinganya di anting kiri kanan.


Kemudian Andi mencoba untuk menenangkan suasana mereka yang lagi lepas kontrol.


"Tenang dulu Bang, janga dulu pakai emosi, kita selesaikan masalahnya dengan pikiran yang jernih, emang apa permasalahannya." Tukas Andi.


"Orang ini sudah menyempet motor teman gue." Jawabnya.


Lalu Andi menautkan pandangannya pada Erik dan bertanya.


"Emang bdnar lo yang menyerempet?." Tanya Andi pada Erik.


"Ya bukannya gua nyerempet, kan posisi lagi padat, malahan motor orang itu yang terus nyeruduk sudah tau posisi lagi macet, malah gua yang di salahain." Bela Erik.


"Abang dengar kan pengakuan teman gua, temen lo yang duluan, sekarang gini aja, kita selesaikan masalah ini secara kekeluarga'an dan kita cari tempat, agar tidak mengganggu para pengguna jalan yang lain gimana?." Tawar Andi.

__ADS_1


"Oke gue setuju." Jawabnya dengan suara lantang.


Merasa diri paling hebat para komplotan geng itu


__ADS_2