Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 168 Cafe Diana


__ADS_3

Siang itu Anggita, Andi dan Sindi lagi duduk di kursi meja makan, melakukan makan siang bareng sama ibuknya tercinta.


Selagi mereka makan, Sindi memperhatikan perangainya Anggita nampak berbeda dengan biasanya.


"Ada apa dengan Anggita, sepertinya ia telah menemukan sesuatu yang membuat hatinya senang." Batin Sindi menatap datar wajah Anggita.


Kemudian Sindi menoleh pada Andi, bertanya dengan bahasa isarat.


Andi pun menjawab dengan menggerakan kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau.


Padahal Andi sudah mengetahui sebab dari sikapnya Anggita yang banyak perubahan.


Selepas itu Andi dan Anggita keluar rumah, sambil menunggu jam kerja di mulai, mereka duduk bersantai di depan samping taman.


"Eeh kak tadi ibuk sepertinya curiga deh pada sikap kakak yang tidak seperti biasanya." Ujar Andi.


"Aku biasa aja ko, gak ada perubahan dalam penampilan." Tukas Anggita.


"Ibuk menilai kakak bukan dari cara penampilan pisik kak, kakak gak sadar kan ketika kita lagi makan, Ibuk terus memandang wajah kakak yang selalu berbunga-bunga." Ungkap Andi.


"Itu mungkin cuma perasa'anmu aja kali, aku lihat Ibuk biasa aja, kalau ibuk curiga pasti deh bertanya." Ujar Anggita.


Kemudian Setelah itu, Andi dan Anggita kembali lagi ke tempat kerjanya setelah jam istirahat sudah habis.


.........................


Sementara di tempat lain.


Brian yang masih berada di indo, serasa enggan kembali ke singapur, setelah ia mengenal sosok wanita cantik berlesung pipit.


"Kenapa ya sekarang aku serasa males untuk kembali ke singapur, inikah yang di namakan cinta, rasanya dunia ini hampa bila ku harus jauh dengan Anggita." Batin Brian.


Brian jadi salah tingkah, apa yang harus ia lakukan, menghubungi Anggita lewat telpon rasanya gak mungkin, karena Anggita lagi sibuk dalam pekerjaannya.


"Apa ku ajak ketemuan aja ya, tapi di mana? Aku belum begitu mengenal wilayah kota ini, apa ku tanya aja ya pada Bela." Gerutu Brian bermonolog.


Lalu Brian meraih ponselnya di atas meja, mencoba kirim chat pada Bela.


📱.Brian "Ma'af Bel kalau abang mengganggu waktu kerjamu."


Brian menunggu chat balasan dari Bela, sambil menyimpan kembali ponsel di atas meja.


Selang beberapa menit, ponsel Brian nampak bergetar.


Brianpun langsung membuka chat yang masuk di via whatssap.


📱.Bela "Iya Bang ada apa?."

__ADS_1


📱.Brian "Aku mau tanya? Apa di sekitar sini ada cafe gak?."


📱.Bela "Ada, cafe Diana, emang abang mau ke ka cafe?."


📱.Brian "Iya."


📱.Bela "Dari jalan raya abang lurus terus nanti di pertigaan jalan Abang ambil kiri dari situ paling dua ratus meteran ada Cafe Diana tepatnya ada di kiri jalan."


📱.Brian "Oke terima kasih Bel."


Setelah itu Brian langsung, mengirim chat pada Anggita, mengajak ketemuan di cafe Diana.


Anggita pun langsung membalas chatnya Brian, menyetujui ajakan dari Brian.


Di waktu sore hari, Anggita mulai bersiap-siap untuk berangkat ke Cafe Diana, memenuhi ajakannya Brian.


Berdandan sangat rapi, bermik up tipis, bibir merah bergincu, rambut hitam tebal, ikal panjang bergelombang, telah memberi warna pada kecantikan paras wajahnya Anggita.


Anggita berjalan keluar rumah, menuju pada mobil pajero yang lagi di parkir di depan pekarangan rumahnya.


Kemudian Anggita melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumahnya.


Mobil Pajero new sport melaju begitu kencamg di Jalan Delima menuju cafe Diana di Jalan Belimbing Km 34.


Sedangkan Brian sudah tiba lebih dulu di cafe Diana, karena jarak tempuhnya yang lebih dekat, di banding dengan jarak yang lagi di tempuh oleh Anggita.


Kemudian Brian tersenyum melebar ketika mobil pajero new sport warna putih memasuki area parkiran.


"Panjang umur deh, baru saja aku omongin, eeh Anggita datang." Batin Brian.


Sementara sang pengemudi mobil pajero new sport keluar dari dalam mobil.


Melangkah teratur memasuki sebuah ruangan Cafe yang banyak di penuhi oleh meja dan kursi-kursi.


Anggita membagikan pandangannya, mencari seseorang yang telah menunggunya.


Anggita tersenyum tipis ketika ke dua netranya melihat se orang lelaki tampan tersenyum padanya sambil mengacungkan tangannya ke atas, lalu Anggita melangkahkan tungkai kakinya, menghampiri lelaki tersebut.


"Hai kak, sudah lama menunggu ya." Sapa Anggita sambil duduk berhadapan.


"Enggak juga ko." Tukas lelaki tampan itu yang tak lain adalah Brian.


"Emang ada apa sih kak, kita ketemu di sini?." Tanya Anggita.


"Ya kita ngobrol sambil makan-makan, sekalian aku pingin lebih tau wilayah di kota ini." Ujar Brian.


Sebelum masuk pada obrolan, Brian memanggil pelayan Cafe untuk memesan makanan dan minumannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pelayan datang membawa pesanannya Brian, sampai memenuhi meja.


"Wah waah, banyak amat kak, ini siapa yang mau makan." Cetus Anggita.


"Hehee, ma'af aku sengaja mesen banyak menu, karena aku belum tau makanan dan minuman favoritmu." Ujar Brian.


"Lagian kak Brian gak nanya dulu sih." Tukas Anggita.


Brian dan Anggita nampak asik ceria bercanda, tertawa cekikikan, siapa yang akan menghabiskan makanan sampai penuh satu meja.


"Oh iya Git, kamu tau kan tempat liburan di sini?." Tanya Brian.


"Ya jelas tau dong." Jawab Anggita.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan." Tawar Brian.


"Boleh, kapan?." Tanya Anggita.


"Ya pas hari libur aja." Jawab Brian.


"Oke, siapa takut." Ujar Anggita.


"Kalau begitu, nanti aku kabarin tanggal dan waktunya yang tepat untuk kita jalan bareng." Tukas Brian.


Pendekatannya Brian pada Anggita telah menjadikan momen terindah dalam hidupnya, karena selama ia berusia baligh hingga sampai sekarang baru kali ini Brian mengenal yang namanya cinta.


Begitu pula Anggita, selama ia lulus kuliah hingga menjadi penerus perusaha'an almarhum ayahnya baru kali ini hatinya benar-benar tersangkut pada sosok Brian Tirta Wijaya.


Seiring dengan berputarnya jarum jam, akhirnya mereka pun berjalan keluar dari Cafe Diana.


"Apa perlu aku antad sampai rumah." Tawar Brian.


"Ih jangan kak, bukannya aku gak mau, aku takut nanti pulangnya kakak jadi nyasar, nanti aja sama Bela." Ujar Anggita.


"Kamu menganggap aku anak kecil ya." Tukas Brian.


"Bukan begitu kak, Jalan menuju ke arah ku banyak sekali tikungan, dan jalan arah pulang dan pergi lain lagi arahnya." Ungkap Anggita.


"Lhoo..Ko bisa." Tukas Brian.


"Ya gak tau, memang sudah begitu aturannya, makanya aku menyuruh sama Bela juga." Ujar Anggita.


"Okelah kalau begitu, nanti akan ajak Bela main ke rumahmu." Tukas Brian.


"Oke di tunggu ya." Ujar Anggita.


"Sipp, hati-hati Git jangan ngebut." Pesan Brian.

__ADS_1


"Iya, terima kasih." Jawab Anggita sambil membuka pintu mobilnya.


__ADS_2