Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 23 Pemakaman Jenajah.


__ADS_3

Pukul 16:00


Kamal, Anggita, Konta dan Kanti telah tiba di rumah.


Buk sari, Pak Dirman dan Astuti langsung menyambut kedatangan Anggita dengan memberi nasehat agar hati Anggita bisa tenang dan tabah dalam menghadapi coba'an hidup yang kini sedang menimpa keluarga.


Alhamdulilah Anggita sudah dewasa dan bijaksana dalam menghadapi masalah itu, berbeda dengan Andi Nayaka yang belum siap untuk di tinggal oleh sang ayah untuk selamanya, di tambah Ibuknya yang tidak ada kabar berita entah di mana, dan siapa yang sudah menculik ibuknya tercinta.


Jenajah sudah beres di mandikan lalu di bawa ke masjid untuk melaksanakan solat jenajah.


Masjid yang begitu besar, hampir penuh oleh orang-orang yang ingin memberi doa atas kepergian Almarhum Nandi Suryaman menghadap sang illahi robbi, karena jasanya yang begitu besar di masyarakat dalam membela orang-orang lemah dari segala tindak kejahatan.


Pukul 16:40 menit.


Jenajah langsung di bawa ke pemakaman untuk di kuburkan.


Kini tempat pemakaman telah di penuhi oleh orang-orang yang berpakaian serba hitam.


Andi, Anggita, Kamal, Pandi, Gito, Hasan, Doni, Toglo, Jaroni, Astuti, mira, Nina, dan semua yang tergabung dalam kru the Famili Gang Si'iran berdiri sambil menyaksikan pemakaman Almarhum Nandi Suryaman alias Si Kidal.


Setelah jenajah selesai di kebumikan, acara di lanjutkan pada tawasul yang di pimpin oleh seorang ustad yang sekalian tahlilan pertama di langsungkan di pemakaman.


Selepas tawasulan, satu persatu orang-orang yang menghadiri pemakaman si Kidal memberi salam pada keluarganya Almarhum lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Andi dan Anggita duduk jongkok sambil menaburkan bunga yang beraneka macam.


"Selamat jalan Ayah, ma'afkan kami anak-anak Ayah yang belum bisa membahagiakan Ayah, hanya doa yang bisa kami panjatkan semoga ayah mendapat tempat yang layak di disisi Allah subhanahu wata'ala." Lirih Anggita bernada serak.

__ADS_1


"Ayaaahh.....kenapa tega meninggalkan aku." Teriak Andi sambil menyentuhkan kepalanya di atas kuburan yang masih merah.


Astuti dan Kamal lalu menurunkan tubuhnya sambil memegang bahunya Andi.


"Kamu yang tabah Andi, jangan membuat ayahmu tidak tenang di alam sana, berdoalah agar ayahmu tenang dan mendapat tempat yang layak." Tegur Astuti pada Andi.


"Bibimu benar Andi, kamu harus bisa menerima semua kenyata'an ini, karena semua mahluk hidup di dunia ini akan mengalami hal yang sama, cuma jalannya saja yang berbeda-beda." Tutur Kamal memberi petuah.


Sambil terisak-isak Andi menjawab. "Iya Paman aku pun tau itu, tapi kenapa tuhan terlalu cepat memanggil ayah, aku masih memerlukan ayah." Isak Andi.


Di dalam kesedihan Andi, Anggita beserta keluarga besar pak Dirman, dari jarak yang cukup jauh, ada enam bola mata yang lagi memperhatikan mereka yang lagi berduka, berpakaian serba hitam dengam netranya tertutup kaca mata hitam, tersenyum ceria sambil bisik-bisik dengan sesama temannya.


"Hehee, selamat jalan Nandi, nanti istrimu akan segera menyusul." Bisiknya.


"Iya Bos, sekarang orang terkuat yang merupakan penghalang kita sudah tamat." Balasnya berbisik.


"Ya sudah sekarang kita tinggalkan tempat ini, sebelum kehadiran kita di curigai." Ujarnya lirih berbisik sambil membalikan badannya lalu berjalan dengan santainya menuju pada kendara'annya yang terparkir di pinggiran jalan.


Kemudian Andi Mengangkat kepalanya dan netranya secara tidak di sengaja menatap datar jauh ke arah ke tiga lelaki yang lagi berjalan menghampiri sebuah mobil Honda Brio satya E Cvt berwarna abu-abu.


Entah apa yang tersirat di benak Andi, yang tadinya nampak bersedih kini mukanya mendadak merah, perlahan ia bangkit berdiri dengan kedua netranya menatap curiga pada ke tiga lelaki yang sudah mau memasuki kendara'annya.


Tanpak di sadari Andi melompat dan berlari ke arah ke tiga orang itu yang sudah memasuki ke dalam mobil.


"Wooi Siapa kau." Teriak Andi sambil berlari kencang memburu mobil Honda Brio yang sudah mulai melaju.


Astuti dan semua para famili Gang Si'iran sontak saja merasa kaget dengan sikapnya Andi.

__ADS_1


"Andi kamu kenapa Andi, sadarlah nak." Teriak Astuti sambil ikut mengejar Andi Nayaka.


Sedangkan mobil yang Andi buru sudah melaju jauh meninggalkan area pemakaman Gang Si'iran.


"Bibi saya yakin sekali ke tiga lelaki yang ada di dalam mobil Honda Brio itu, seperti lagi mengintai kita, batin saya mencurigai ke tiga orang itu Bibi." Ungkap Andi.


"Kamu jangan mencurigai orang tanpak alasan yang kuat, mungkin mereka itu teman ayahmu habis ngelayat." Ujar Astuti.


"Tidak Bibi, hati saya merasakan, ketiga orang tadi seperti ada sangkut pautnya dengan kecelaka'an ayah." Tukas Andi tetap keukeuh pada perasaan hatinya.


"Itu semua karena hatimu sudah di liputi oleh prasangka, dan ke tidak iklasan kamu dengan kepergian ayahmu, sekarang tenangkan dulu hatimu, biar nanti petugas kepolisianlah yang menghusut kasus ini." Tutur Astuti memberi penerangan.


Andi tidak berkata apa-apa lagi, ia cuma merunduk dan menuruti pada Bibinya.


Selepas itu para famili Gang Si'iran bubar meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


Andi yang di dampingi oleh kakaknya Anggita eka putri, Astuti dan Kamal beserta para famili Gang Si'iran terus menenangkan hati Andi yang sudah di liputi oleh rasa dan perasaan dendam, tapi semua itu tidak berarti di hati Andi.


Ketika Toglo mencoba menenangkan hati Andi, entah kenapa hati Andi bisa luluh oleh perkataannya Toglo.


"Sekarang hatimu tenangkan dulu, apa kamu tidak kasihan pada ayahmu, dengan hatimu yang begitu kepergian ayahmu tidak akan tenang nak, air mata yang terus kau teteskan, akan menjadi penghalang dalam perjalanan ayahmu menuju ke nirwana, dari air matamu itu akan menjadi badai topan dan petir yang menyambar-nyambar, iklaskanlah agar ayahmu mendapat ke tenangan." Tutur Toglo mencoba melunakan hati Andi yang sudah termakan bisikan setan.


"Benarkah itu Paman." Ujar Andi bernada pelan.


"Iya nak, coba kamu tanya pada guru ngaji kamu, bila paman berkata bohong." Jawab Toglo.


"Apa yang di katakan Paman Toglo itu benar dek, kamu jangan terus-terusan begitu, kasihan ayah di sana." Pungkas Anggita ikut bicara.

__ADS_1


"Iya kak, aku akan berusaha mengiklaskan kepergian ayah."


Setelah itu mereka semua telah tiba di rumah, para famili Gang Si'iran sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara nanti malam yasinan yang kemungkinan akan di penuhi oleh warga Gang Si'iran dan para Santri dari pondok haur koneng.


__ADS_2