
Anehnya Dokter itu membawa Pajar ke sebuah lorong Rumah Sakit yang sangat sepi.
Rosa sempat ragu pada ke tiga Dokter yang membawa tubuh suaminya itu.
"Ko lewat sini sih Dok?." Tanya Rosa mulai Curiga.
"Ibuk sebaiknya ikuti saja kami, kalau memang suami ibuk pingin sembuh dari depresinya." Ujar Dokter palsu alias Jony Baret sambil memberi isarat pada kedia rekannya.
Kedua rekannya Jony Baret langsung mengerti pada kode isarat dari Jony Baret ketika sudah mendekati pintu keluar, dan mobil sudah stanby , yang sebelumnya telah di persiapkan oleh Alexandro.
Dengan cepat Dokter yang satunya menyumpal Rosa dengan sebuah tisu yang sudah di campuri obat bius.
Rosa pun langsung pinsan tidak sadarkan diri, dengan sigap Alexandro yang sudah berada di dalam mobil langsung membuka pintu mobil itu.
Sungguh luar biasa aksinya mereka, tubuh Rosa segera di masukin kedalam mobil. Dan Alexandro yang di temani okeh salah satu yang berpakaian Dokter, langsung tancap gas.
Sedangkan Jony Baret yang di bantu seorang rekannya langsung mengangkat tubuh Pajar kedalam mobil.
Tanpak ada se orang pun yang tau, dengan aksinya Jony Baret, karena semua sudah di setting dengan sangat matang.
Jony Baret dan Alexandro kini telah melaju dengan cepat keluar dari area Rumah Sakit Harapan.
Sedangkan tubuh Pajar terbaring tidak berdaya di jok belakang, karena Jony baretpun telah membiusnya.
Jony Baretpun langsung menghubungi Adi Rangga, melaui Vidio coll di aplikasi whatssap, sebagai bukti bahwa kerja'annya telah berhasil.
Tinggal Vina Artiyana targetnya, berhubung Vina tidak ada ditempat.
Tidak lama kemudian Jony Baret telah tiba di tempat yang telah di tentukan oleh Rangga.
Tubuh Rosa dan Pajar yang masih berada dalam pengaruh obat bius jangka panjang di bawa kedalam sebuah ruangan dibawah tanah.
Kedua tubuh suami istri itu di masukan kedalam ruangan yang kecil, lalu di gembok dari luar.
Kemudian Jony Baret, Alexandro dan kedua rekannya serta Rangga berjalan menaiki tangga menuju ruangan di atasnya tempat pajar dan Rosa di sekap.
"Sekarang kalian cepat bawa Vina, sebelum ia melakukan otw ke Rumah Sakit, di sebuah komplek Grand City Blok G/10 di jalan mawar, karena jalan di situ semua pakai nama bunga." Ujar Rangga.
"Oke siap, pokonya rencana akan berjalan mulus." Tukas Jony Baret.
Setelah itu Jony baret, Alexandro dan Rugio, langsung melajukan lagi mobilnya menuju tempat di mana Vina Artiyana berada.
Sementara Hadio sopa menjaga bersama Rangga.
__ADS_1
Jony Baret, Alexandro dan Rugio melajukan mobil Toyota New GR Sport begitu kencang, rupanya Jony Bret bukan sekedar preman bayaran, tetapi ia juga begitu mahir sekali dalam mengemudi kendara'an roda empat.
Kini jalanan telah di kuasai sepenuhnya olehJony Baret.
Hingga tidak lama kemudian Jony Baret telah sampai di gapura pintu masuk Komplek Grand City.
Dan portal yang memasuki komplek nampak terlihat tertutup, kemudian Alexandro keluar dari dalam mobil menuju pos yang di jaga oleh tiga orang scurity.
"Selamat siang pak, bolehkah saya masuk."
"Siang kembali, Bapak hendak menemui siapa?." Tanya salah seorang dari scurity.
"Saya hendak menemui ibuk Vina artiyana." Jawab Alexandro.
"Oh Ibuk Vina, silahkan, dan bapak tinggalkan dulu ID Bapak, KTP, SiM atau surat-surat kendara'an.
Alexandro bingung sedangkan ia tidak mungkin kalau harus menanggalkan identitasnya, karena sama saja sudah meninggalkan jejaknya, tapi ia begitu pintar, dengan akal liciknya Alexandro langsung melepaskan ilmu gendamnya, sambil menepuk pundak security, ia berhasil mengelabui petugas.
"Ma'af pak saya buru-buru, saya di tugaskan dari Rumah sakit Harapan untuk menemui Ibuk Vina karena orang tuanya lagi dalam keada'an kritis." Ujar Alexandro.
Dan anehnya petugas itupun langsung menuruti kemauan Alexandro.
"Oke silahkan."
"Sama-sama." Jawab Scurity sambil membuka pintu portal.
Lalu Alexandro pun langsung masuk kedalam mobil, dan melajukan kembali mobilnya menuju jalan mawar, Blok G no 10.
Setibanya di tempat.
Nampak Pintu gerbang rumahnya terkunci rapat hanya ada seorag petugas yaitu pak Usman.
"Gimana Bang ternyata ada penjaganya." Ujar Alexandro.
"Gampang kita lumpuhkan saja petugas itu." Tukas Jony Baret.
Kemudian Jony Baret meminta pada Rugio untuk masuk memanjati tembok pagar rumah, dan Alex memancing Satpam penjaga untuk keluar dari dalam pos.
Aksi pun langsung di jalankannya, Alexandro keluar dan berjalan mendekati pintu gerbang sambil memanggil satpam penjaga.
"Selamat siang pak." Sapa Alex dengan tutur lemah lembut.
Mang Usman pun langsung bergegas keluar dari pos jaga, dan Rugio langsung naik memanjati tembok.
__ADS_1
"Iya selamat siang juga pak, ada yang bisa saya bantu." Ujar mang Usman.
"Saya dari pihak Rumah sakit Harapan, hendak menemui ibuk Vina, apa ibuk Vinanya ada Pak?." Tanya Alexandro.
"Oh ada, Bentar ya saya panggilkan dulu." Ujar Mang Usman.
Baru saja mang usman mau membalikan tubuhnya, sekelebatan tangan kekar telah menekuk leher mang usman bersama'an dengan sehelai tisu telah membekam hidungnya mang Usman.
Mang Usman langsung mendelikan matanya, bersama'an dengan melemasnya tubuh dan jatuh pinsan.
Lalu Rugio membawa tubuh mang usman ke dalam pos sambil merogoh kunci gerbang di saku celananya mang Usman.
Setelah itu, Rugio langsung membuka kunci gerbang tersebut, dan di dorongnya perlahan agar tidak menimbulkan suara yang berisik.
Jony Baret langsung melajukan mobilnya memasuki halaman rumah mewah tersebut.
Setelah itu Jony Baret, Alex dan Rugio melangkah perlahan memasuki ke dalam rumah.
Dengan langkah yag begitu sangat pelan dan hati-hati sekali, jony Baret pun langsung menuju ruang di lantai dua, sesuai dengan apa yang Rangga ujarkan.
Setiba di depan pintu ruangan kamarnya Vina Jony Baret perlahan mengetuk Pintu kamarnya Vina, sedangkan Alexandro dan Rugio sudah bersiap-siap untuk melumpuhkan Vina dengan sebuah tisu yang sudah di campur obat bius.
Pintu pun mulai terbuka perlahan, bersama'an dengan munculnya Vina Artiyana.
Alex dan Rugio langsung menjalankan aksinya, sebuah tisu yang sudah di campuri obat bius dengan dosis tinggi, akhirnya Vina jatuh terkulai dalam rangkulan Alex.
Jony Baret begitu terkesima melihat kecantikannya Vina Artiyana.
"Wanita ini sungguh sangat cantik sekali, kalau kita tidak lagi menjalankan misi kita, kita nikmati dulu tubuh mulus berkulit putih bersih ini." Ujar Jony Baret.
"Jangan Bang kalau misi kita tidak mau kena sial, terkecuali kalau di luar kerjaan kita, baru kita melakukan sepuasnya." Tukas Alexandro.
Kemudian mereka langsung memboyong tubuh Vina menurun trapan tangga.
Singkatnya, tubuh Vina sudah berhasil di masukin kedalam mobil, Alexandro dan Rugio duduk di jok belakang menjaga Vina.
Demi mempercepat waktu, Jony Baret langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya Pajar Arya Wirata.
Setelah mobil berada di luar gerbang Jony Baret meminta pada Rugio untuk menutup kembali pintu gerbang dengan rapi.
Rugio pun langsung membuka pintu mobil bagian belakang dan melangkah turun.
Sebelum pintu di tutup, terlebih dahulu Rugio mengenakan sarung tangan di kedua telapak tangannya untuk menghilangkan jejak dari sidik jari yang kemungkinan akan terjadi.
__ADS_1