Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 14 Hilang kendali.


__ADS_3

Karena rasa penasarannya Andi pada kedua pria yang lagi mengemudi kendaraan Yamaha R15 itu, akhirnya Andi melaju ke arah jalan yang lagi di lalui kedua orang memasuki jalan dengan membututi ke dua orang itu.


Andi terus menarik gasnya, Yamaha Rx king pun kini melaju kencang.


Nampak terlihat oleh Andi kedua orang itu berbelok ke arah kiri.


"Dia belok kiri ke arah jalan Delima, semakin curiga nih gua pada kedua orang itu." Batin Andi.


Terus membututi kedua orang itu yang jaraknya sudah semakin dekat, karena kecurigaannya pada pengendara kendara'an roda dua Yamaha R15, Andi jadi lupa bahwa ia harus cepat sampai ke tempat PKL.


Ketika Andi melihat anak-anak berseragam putih abu-abu baru ia menyadari.


"Astagpirullah haladzim, gua kan mau PKL, kenapa gua jadi membututi orang itu, mungkin juga kebetulan saja kali kedua orang itu postur tubuhnya mirip dengan orang misterius itu."Batin Andi, yàng kemudian ia langsung memutar balikan lagi kendara'anya menuju jalan Angkasa.


Sementara Sutaji dan temannya yang tidak menaruh curiga pada Andi yang telah membututinya, akhirnya mereka bisa selamat dari kejarannya Andi.


Setibanya Sutaji di jalan Delima, ia lalu menyamar sebagai tukang dagang axecoris barang elektronik keliling, mengenai barang-barang Axecoris sudah ia persiapkan sebelumnya, sedangkan motornya ia titipkan di tempat sewa penitipan kendaraan.


Sutaji dan Marcu berjalan Kaki sambil menggendong tas dan barang axecoris berada dalam genggaman sebagai modus agar bisa dengan mudah memasuki kawasan PT Anggita Surya Mandiri.


Setibanya di lokasi Sutaji dan Marcu langsung singgah di kedainya Nandi duduk di sebuah bangku yang terlihat kosong tidak ada pengunjung, berhubung waktu masih berada dalam jam kerja, Sutaji pun memesan dua gelas kopi sambil menawarkan barangnya pada pelayan, yang sudah tidak lagi sama Mira.


Karena lincahnya Sutaji dalam berdialog, dan melobi sehingga lama kelama'an Sutaji pun mulai membidikan rencananya ingin mengetahui sang pemilik perusahaan Distributor itu.


Pelayan kedaipun tidak menaruh curiga, apa yang di pertanyakan oleh Sutaji ia jawab dengan apa adanya.


Kini apa yang telah di tugaskan oleh Ricard kepada dirinya sudah berada dalam benaknya.


Akhirnya Sutaji dan Marcu membayar dua gelas kopi bekas minumnya.


Kemudian beranjak pergi dari kedai itu, karena apa yang mereka lakukan sudah berhasil dengan sangat mulus tanpak harus ada pertumpahan darah.


Sutaji dan Marcu berjalan agak terburu-buru menuju ke jalan Delima yaitu ke tempat penitipan kendara'an.


Setiba ditempat mereka langsung membayar sewa parkir, setelah itu mereka melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


Sekiranya di rasa aman Sutaji menghentikan kendara'annya, lalu ia menghubungi Ricard dan memberi tahu, bahwa Nandi lagi ada kerjaan di semarang.


Ricard pun sangat senang, kali ini niatnya yang ingin melenyapkan Nandi dan Keluarganya akan segera terlaksana.


Dua Hari kemudian.


Ricard dan Sutaji sudah berada di kota semarang, mereka menyewa satu kamar di hotel berbintang, supaya dengan leluasa memantau keberadaan Nandi, melalui nomor ponsel Pribadi Nandi yang Suta dapatkan di akun bisnisnya.


Ricard yang pernah terjun di dunia Mavia selama puluhan tahun dan sudah sangat pandai dalam melacak keberadaan orang, Akhirnya Ricard menemukan titik terang.

__ADS_1


"Kita berhasil Suta, Nandi sekarang ada dekat kita." Ujar Ricard sembari tersenyum semringah.


"Maksud Bos?." Tanya Suta belum paham dengan perkataannya Ricard.


"Nandi berada satu hotel dengan kita, Nanti malam kita jalankan misi kita untuk melenyapkan Nandi." Jawab Ricard.


"Oke Bos, kita bikin mampus si Nandi, tapi pak Bos Nandi bela dirinya sangat hebat." Ujar Sutaji.


"Dasar bodoh, kita membunuh Nandi tanpak harus mengotori tangan kita." Tukas Ricard.


Hari pun kini sudah mulai gelap, langit di atas bumi semarang nampak hitam seperti akan turun hujan, bintangpun tidak nampak bersinar hanya kilatan-kilatan halilintar yang terlihat menggurat membelah angkasa.


Pukul 00:15 menit.


Suasana di hotel nampak sepi apalagi air yang turun dari langit masih terus mengguyur dengan derasnya.


Ricard pun langsung merogoh Ponselnya di balik saku jasnya bagian dalam, lalu ia menghubungi seseorang yang sudah ia bayar sebelumnya untuk mencelakai Nandi, dengan cara bikin rem mobilnya Nandi jadi blong.


Ke esokan harinya.


Nandi, Astuti dan Nina yunita sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke kota parahiyangan.


Nandi keluar dari kamar no ××× lalu berjalan menuju Lift untuk turun ke lantai dasar, sedangkan Astuti dan Nina sudah sedari tadi menunggu di bawah.


Setelah itu Nandi keluar dari sebuah kamar kecil (Lift) dan melangkah keluar menuju pada kendara'annya yang terparkir, nampak Nina dan Astuti lagi duduk di bangku.


"Iya Pak, lebih cepat lebih baik, sepertinya sekarang sudah mulai mendekati pada musim hujan." Jawab Nina.


"Oke kalau begitu, dek Tuti mau sama abang atau sama Buk Nina." Ujar Nandi memberi tawaran pada adiknya.


"Aku ikut Buk Nina aja deh." Jawab Astuti.


"Baiklah,, ayo kita berangkat." Ajak Nandi.


Setelah itu mereka pun sudah memasuki mobilnya masing-masing.


Sementara kepergian Nandi, ada empat bola mata yang menyaksikan kepergiannya Nandi keluar dari area parkiran hotel.


Dengan wajah penuh berseri, dan tersenyum sinis terpampang di perangainya yang penuh dengan kebencian dan dendam.


"Selamat jalan ke Neraka Nandi Suryaman." Bisiknya bernada parau sambil menyunggingkan senyumnya.


Ke empat bola mata itu tak lain adalah Ricard dan Sutaji, yang sudah merasa yakin, bahwa kali ini usahanya akan berhasil, dendamnya terhadap Nandi yang di simpan selama bertahun-tahun baru kali ini Ricard bisa membalaskan dendamnya.


Sementara Nandi sudah melaju dengan mobil pajeronya yang di ikuti oleh Nina yunita dan Astuti.

__ADS_1


Nandi begitu kencang dalam melajukan mobilnya sehingga Nina pun jauh tertinggal di belakang.


Mobilpun sudah melaju keluar dari kota semarang, jalan bebas hambatan yang lurus membuat si pengemudi jadi ke asikan karena medan jalan yang lurus dan jarang sekali di temukan tikungan.


Ketika Nandi mau melewati jalan yang menurun dan berbelok sedikit, Nandi langsung menginjak remnya namun apa yang Nandi rasakan, rem terasa tidak berpungsi, Nandi nampak mulai panik dan hilang kendali. Apalagi mobil yang Nandi kemudi melaju dalam kecepatan diatas 8o km.


Mungkin hari baik lagi tidak berpihak pada Nandi, tidak bisa di kendalikan lagi karena mobil melaju begitu kencang, Nandi langsung membantingkan setirnya ke kiri, ketika Mobil mau menghantam pembatas secepat kilat Nandi membuka pintu mobil dan melompat.


Mobil meluncur dengan kencang menghantam pembatas dan Tebing bebatuan sebelah kiri.


Sedangakan Nandi tubuhnya melayang terpental sangat jauh dan menimpa jalan sampai tubuh Nandi berputar seperti roda.


Darah pun terus keluar dari kepala Nandi yang sudah tidak sadarkan diri.


Pengendara lain pun langsung menghentikan laju kendara'annya, dan mencoba memberikan pertolongan.


Dan setelah itu Nina dan Astuti yang tadinya tertinggal jauh di belakang, baru tiba di lokasi tempat Nandi mengalami ke celakaan, Nina pun berhenti karena jalan mendadak macet.


"Ada apa ya, ko tiba-tiba macet begini." Ujar Nina.


Astuti pun merasa penasaran lalu ia membuka pintu mobil dan berjalan kedepan lalu bertanya pada pengendara lain.


"Ini ada apa sih pak, gak biasanya jalan ini mengalami kemacetan begini?." Tanya Astuti.


"Ada kecelakaan Buk, sebuah mobil Pajero Warna putih, menghantam pembatas dan tebing batu, mobilnya pun ringsek." Jawabnya.


Mendengar kabar dari pengendara itu, tiba-tiba jantung Astuti berdebar kencang dan dadanya terasa sesak, spontan Astuti berlari.


"Astagpirullah hal adzim, jangan-jangan Aa Nandi." Ujar Astuti bermonolog.


Astuti berlari menuju ke temapat kejadian kecelakaan itu.


...................


Sementara di tempat lain.


Tepatnya di Gang Si'iran ketika Sindi lagi memasak untuk mempersiapkan makanan karena sudah di kabari bahwa hari ini suaminya akan pulang, paling sampai ke rumah antara sore dan malam hari.


Sindi di kagetkan dengan sebuah suara seperti benda jatuh di ruangan keluarga.


Praaak


Pralaaaak.


Sindi pun langsung bergegas menuju ruangan tengah, Sindi tersontak kaget ketika ia melihat Poto perkawinannya yang terpasang di dinding tiba-tiba jatuh , bingkai dan kacanya hancur berantakan.

__ADS_1


"Astagpirullah hal adzim ya Allah ada apa ini, kenapa poto ini bisa jatuh, dan hatiku merasa tidak enak begini." Cetus Sindi bermonolog sambil memunguti pecahan kaca yang berserakan.


__ADS_2