Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 108 ............


__ADS_3

Senjapun kini telah datang.


Andi, Erik dan Abeng duduk di bangku di sertai dengan secangkir kopi senja.


"Btw kok elo bisa kenal sama Erik?." Tanya Andi.


"Biar Erik aja deh yang cerita." Ujar Abeng.


"Oke kalau begitu, begini An tadi gua sepulang kerja ketika gua memasuki kawasan jalan terusan, gua melihat Perkelahian, orang satu di keroyok empat orang, tadinya gua tidak mau ikut campur urusan orang, setelah mendengar percakapan antara Abeng kawanmu ini dengan lelaki berwajah bewokan menyebut nama Andi Nayaka, gua jadi penasaran apakah ada Andi Nayaka selain elo, gua ngumpet sambil nguping argumen mereka, lama-lama yang menjadi lawannya Abeng menyebut-nyebut masalah dendam sewaktu di dalam penjara, nah dari situ gua merasa yakin bahwa Andi yang di sebutnya pasti elo An, dari situ gua keluar dari tempat persembunyian untuk membantu Abeng, terjadilah perkelahian yang dua lawan satu, akhirnya mereka kabur ketika mendengar suara alarm dari mobil patroli, dari situ gua kenalan sama Bang Abeng ini sampai menyangkut sama lo' An, gua bilang Andi sahabat gua, akhirnya Abeng gua ajak kesini, nah begitu ringkasan nya An." Ungkap Erik.


"Emang siapa Beng yang menjadi lawan lo' itu?." Tanya Andi.


"Ya siapa lagi musuh kita di penjara An." Jawab Abeng.


"Victor maksud lo'?." Lanjut Andi bertanya.


"Iya si Victor, Preman pengecut si biang kerok, malahan dia ngancam gua sama lo' akan membalaskan dendamnya waktu di penjara." Ujar Abeng.


"Kurang ajar, gak ada kapok-kapoknya itu orang, kapan dia keluar dari penjaranya, barang kali elo' tau Bang." Ujar Andi.


"Katanya sih belum lama." Tukas Abeng.


"Berarti masih tahanan luar." Ucap Andi.


"Kemungkinan begitu." Ujar Abeng.


"Kalau bikin ulah lagi kita tinggal laporkan pada yang berwajib, paling nantinya ia akan di kirim ke Nusakambangan." Sahut Andi.


"Bisa jadi, pokoknya kita mesti waspada takutnya Victor main bokong di sa'at kita lengah, karena orang seperti dia tidak akan ada kata kapok, terkecuali nyawanya sudah berpisah dengan raga." Jelas Abeng.


"Iya elo' benar Bang, orang seperti Victor tidak akan puas sebelum dendamnya terbalaskan apapun jalannya pasti dia akan nekad." Ujar Andi.


"Jalan satu-satunya kita harus lenyapkan dia An, jangan libatkan polisi ke masalah ini, kita pakai hukum ala mavia." Usul Abeng.


"Tapi gua gak bisa Bang, gua orang bisnis gak bisa melakukan hal itu, cukup sekali saja gua menghilangkan nyawa orang, itupun dulu gua lakukan dengan terpaksa karena dorongan dendam gua pada geng Ricard." Tukas Andi.


Abeng me manggut-manggutkan kepalanya pertanda mengerti dengan penjelasannya Andi.


"Oh iya kawan kita yang lain sewaktu di sel sekarang pada kemana Bang?." Tanya Andi.


"Semua sudah pada hijrah kembali ke jalan yang benar termasuk gua sendiri, tapi ada satu teman kita yang bekerja sebagai Bodygard." Cetus Abeng.

__ADS_1


"Siapa emang?." Tanya Andi.


"Edi Barong." Jawab Abeng.


"Oh yang rambutnya kribo itu." Ujar Andi.


"Iya benar, malahan dulu pernah di sewa untuk beberapa bulan, oleh pemilik perusaha'an Wirata Group." Tukas Abeng.


Andi terkejut ketika Abeng menyebut Perusaha'an Wirata Group.


"Wirata Group, bukankah itu perusaha'an miliknya ayahnya Vina, apa jangan-jangan Bodygard yang dulu waktu mengantar Vina di acara ulang tahun gua." Gumam Andi dalam hati.


"Kenapa lo'? Ko seperti kaget, apa lo' pernah berjumpa dengan Edi Barong?." Tanya Abeng.


"Oh tidak, cuma gua serasa di ingatkan pada seorang Bodygard yang mengawal pacar gua dulu." Tukas Andi.


"Oh ya."


"Iya cuma gua tidak mengenal wajahnya, karena Bodygard itu selalu menghindar ketika gua perhati'in." Ujar Andi.


"Bisa jadi itu Edi Barong An." Cetus Abeng.


Senjapun kini telah berlalu, Andi, Abeng dan Erik langsung pergi ke masjid ke tika mendengar suara adzan yang berkumandang.


Mereka bertiga memasuki masjid dan berdiri di barisan paling belakang untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.


Setelah selesai melaksanakan solat maghrib, Andi langsung mengajak Abeng dan Erik masuk ke ruangan untuk makan malam.


Abeng dan Erik pun tidak banyak berpikir lagi karena mereka memang belum makan, apalagi sewaktu terlibat cekcok dengan Victor dan sampai terjadi perkelahian yang sudah barang tentu menguras tenaga.


Selepas mereka makan malam, Andi pun mengajak Abeng dan Erik kembali pada bangku di samping Taman.


Secangkir kopi senja yang masih setengah lagi, kini di sambung kembali.


Pertama kalinya Abeng menginjakan kakinya di rumah Andi, ia merasa senang sekali dengan suasananya yang damai.


"Gua betah berada di sini An." Ujar Abeng.


"Ya sudah tinggal sama gua di sini." Tawar Andi.


"Gile, ya kagaklah kalau gua harus tinggal di sini, biarpun hidup gua tidak menentu, gini-gini juga gua masih punya tempat tinggal." Tukas Abeng.

__ADS_1


"Ya itupun kalau elo mau." Timpal Andi.


"Gua sangat berterima kasih sekali atas tawaran baik lo' An, nah sekarang kan gua sudah tau tempat lo', pastinya gua akan sering ke sini." Ujar Abeng.


"Kalau elo mau main bisa kabarin gua oke." Pungkas Erik.


"Memangnya tempat lo' di mana Rik?." Tanya Abemg.


"Jalan Angkasa dua yang mengarah ke jalan kabupaten masuk Gang uncal, di situ gua bertempat tinggal." Jawab Erik.


"Oh di situ."


Pukul 21:00


Andi, Abeng dan Erik berjalan keluar dari halaman rumah.


Tiga motor Yamaha Rx king melaju beriringan dengan santai.


Andi yang kriterianya berbeda dengan kebanyakan orang, ketika mendengar Victor mengancam dirinya, itu membuat Andi merasa yidak tenang hati bila belum menemukan Victor.


Makanya sebelum Victor berlaku tidak baik padanya, terlebih dulu Andi ingin menemuimya.


Andi, Abeng dan Erik terus keliling kota, bahkan sampai ke sudut-sudut kota mereka telusuri, Victor of the Geng tidak kunjung mereka temukan.


Kemudian Andi mengajak kedua rekannya untuk istirahat dulu sejenak, mereka meluncur memasuki aare parkiran sebuah cafe, lalu ke tiganya melangkah turun dan berjalan masuk ruangan cafe tersebut.


"Rik pesen minuman yang seger-seger rasanya malam.ini cukup gerah." Pinta Andi.


"Oke' Sama apalagi Bro?." Tanya Erik.


"Makanan tervaforit di sini." Jawab Andi.


Erik langsung memanggil pelayan Cafe, dan langsung me mesan minuman dan makanan yang paling vaforit di cafe tersebut.


Lima belas menit kemudian.


Pelayan Cafe datang membawakan tiga porsi makanan plus minumannya.


"Silahkan pak, segera di nikmati idangannya, makanan ini lebih enak di komsumsi lagi dalam keada'an hangat." Ujar pelayan.


"Oh gitu ya Mbak, oke terima kasih mbak." Tukas Andi.

__ADS_1


__ADS_2