Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 60 Mengusik Macan tidur


__ADS_3

Begitu mendapat laporan dari Edi, kamal langsung bangkit dari tempat duduknya, nampak di wajahnya memerah menahan amarah yang begitu besar, tapi Kamal tidak mperlihatkan kepanikannya pada Edi.


"Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih pada kalian sudah memberi kabar, apakah kalian mengenal orang-orang itu?." Tanya Kamal.


"Aku yang pertama melihat, malahan berusaha mengejar mereka tapi mereka dengan sangat cepat menjalankan motornya, aku tidak kenal sama mereka." Jawab Edi.


"Apakah ada ciri dari pakainnya atau yang lainnya gitu." Tukas Kamal.


"Cirinya mereka mengenakan Jaket Rompi, kalau tidak salah ada gambar kaya laba-laba gitu." Ujar Edi memberi laporan.


"Oke, segitu juga ada jejak untuk mencari mereka, terima kasih banyak ya, kalian sudah sangat peduli pada keluarga saya." Ujar Kamal.


"Sama-sama pak Kamal, justru kami banyak berhutang Budi pada keluarga Gang Si'iran yang sudah banyak menolong kami para pedagang kecil, dari orang-orang jahat, kalau begitu kami pamit dulu ya, semoga anak Bapak cepat di ketemukan." Ujar Edi pamitan sambil bersalaman pada Kamal.


"Iya, Nih buat kalian beli roko dan kopi, terimalah ini sebagai ucapan terima kasih saya pada kalian." Ujar kamal sambil memberikan mereka uang.


"Iiih apa-apa'an pak Kamal, kami melakukan ini karena kita sama-sama warga Gang Si'iran." Tukas Edi.


"Iih tidak apa-apa, terimalah ini sudah rijki kalian." Ujar Kamal.


Walau terasa berat dan malu akhirnya Edi dan kedua temannya menerima uang pemberian dari Kamal.


Setelah itu Edi dan yang lainnya beranjak keluar dari ruangan kerja Kamal, dan melaju dengan sepeda motornya.


Setelah Edi keluar, munculah Andi memasuki ruang kerja Kamal.


"Ma'ap Om kalau aku lancang memasuki ruang kerja om." Sapa Andi.


"Iya Andi ada apa?." Tanya Kamal.


"Tadi kan aku bertemu sama bang Edi, membawa kabar tentang dek Konta dan dek Kanti." Ujar Andi.


"Iya, barusan aja Edi sudah pulang." Tukas Kamal.


"Siapa katanya yang menculik dek Konta dan dek Kanti itu?." Tanya Andi.


"Edi bilang tidak kenal, cuma di jaketnya bergambarkan laba-laba." Jawab Kamal.


"Apa om, laba-laba, tidak salah lagi mereka kompotan Dude." Gerutu Andi.


"Kamu kenal mereka Andi?." Tanya Kamal.


"Mereka semua dulunya kaka kelas aku om, dan selalu bikin onar dan suka ngebuli padaku, sampai akhirnya aku hillang kesabaran, dan ku lawan, ternyata mereka cuma berani main keroyokan saja, mereka semua di keluarkan dari sekolah, hingga sampai sekarang mereka menyimpan dendam padaku, kalau begitu biar aku datangi sarang mereka Om." Timpal Andi.


"Kamu jangan sendiri kesana, Om pun harus ikut, mendatangi mereka, kurang ajar, mereka meski di kasih pelajaran." Cetus Kamal sambil mengepalkan jari-jari tangannya.


"Sekarang kamu pulang kasih tau ibukmu, dan Om akan mengabarkan masalah ini pada Bibimu." Tukas Kamal.


Andi pun lalu keluar dari ruang kerjanya Kamal, sedangkan Kamal sendiri langsung menghubungi Astuti melalui panggilan Whatssap.


Pukul 14:00.


Astuti datang dengan mengendarai mobil portuner, lalu melangkah keluar dari dalam mobil, dan terburu-buru Astuti memasuki kantor yang di tuju ruang kerjanya Kamal.


Setiba di ruang kerjanya Kamal, Astuti langsung duduk di sopa dengan perasa'an cemas dan was-was akan keselamatan si kembar.


"Siapa kiranya yang sudah menculik anak kita pah?." Tanya Astuti.

__ADS_1


"Ya aku juga tidak tau mah, tapi menurut Andi mereka musuhnya Andi yang mempunyai dendam sama Andi." Ujar Kamal.


"Kenapa harus anak kita yang jadi sasarannya." Ujar Astuti kesal bercampur emosi.


"Itu adalah sebuah siasat, istilah nya umpan untuk mendapatkan ikan yang mereka inginkan Mah, percayalah Konta dan Kanti akan baik-baik aja, ya sudh sekarang kita pergi cari anak kita, tapi Mamah jangan bilang-bilang pada Anggita dan yang lainnya nanti semua karyawan pada tahu." Ujar Kamal.


"Oke Pah, kita cari pakai motor aja." Sahut Astuti.


"Iya aku juga akan minta ijin dulu sama atasan( Anggita) untuk keluar dulu." Ujar Kamal.


"Ya sudah aku tunggu di rumah." Ujar Astuti sambil beranjak pergi keluar dari dalam ruangan kerjanya Kamal.


Astuti langsung melaju kembali mobilnya menuju rumah.


Setibanya di rumah Astuti langsung ganti salin, dengan pakaiannya yang waktu masih gadis yang masih ia simpan di lemari.


Celana Jens warna hitam, kaos lengan panjang ketat yang di lapisi oleh jaket kulit warna hitam, sebuah topi untuk menutupi kepalanya.


Bila melihat Astuti berpakaian seperti itu, nampak seperti dua puluh tahun kebelakang, si gadis tomboy atau srigala betina Gang Si'iran yang dulu pernah mengguncang para preman bersama kakanya Nandi suryaman atau Si kidal.


Sementara Andi Nayaka, telah berpamitan pada ibuknya untuk mencari Konta dan Kanti yang di culik oleh orang-orang Berandal.


"Kamu hati-hati nak, ibuk tidak ingin apa telah terjadi pada ayahmu nak." Ujar Sindi.


"Ibuk jangan cemas, ingat pesan ayah, manusia itu sudah punya jalannya masing-masing ketika di panggil oleh sang pencipta, kita selaku manusia harus banyak menolong orang yang kesusahan apalagi ini menyangkut keselamatan dek Konta dan dek Kanti." Ujar Andi sambil menyalakan motornya.


"Iya semoga cepat di ketemukan, mana Bibi dan Pamanmu?." Tanya Sindi.


"Paling sebentar lahi datang." Jawab Andi.


Lalu Astuti dan Kamal datang, memasuki halaman rumah.


"Kok bawa motor sih dek." Ucap Sindi.


"Biar gampang teh, apalagi nanti sore jalanan suka macet." Ujar Astuti.


"Iya teteh juga tau, nanti kalau Konta Kanti mau di bawa pakai apa." Usul Sindi.


"Oh iya ya, aku tidak kepikiran kesitu, ya sudah Pah kamu ambil mobil sana." Ujar Astuti.


"Iih ngapain pakai balik lagi segala, mobil ini aja pakai." Usul Sindi sambil menunjuk pada mobil Pajero yang masih di garasi.


"Nanti kalau Anggita butuh gimana." Ujar Astuti.


"Itu gampang, kunci mobilmu aja tinggalin di sini." Ujar Sindi.


"Iya ya, kok aku tidak kepikiran kesitu sih, ya sudah ini kuncinya teh." Ujar Astuti.


"Sebentar ya aku ambilkan dulu kunci mobilnya." Ujar Sindi setelah menerima kunci mobil portuner memasuki kedalam rumah.


Selang beberapa menit Sindi datang.


"Ini kuncinya." Ujar Sindi sambil memberikan kunci mobil pajero pada Astuti.


Singkat Cerita.


Kamal dan Astuti sudah memasuki mobil Pajero new sport

__ADS_1


Kemudian mobil pun melaju bersama'an dengan suara klakson berbunyi.


Tid tidid.


"Teh Sindi aku pergi dulu ya." Sapa Astuti sambil membuka kaca jendela mobil.


"Iya dek, hati-hati semoga cepat di temukan." Balas Sindi.


Mobil sudah melaju keluar dari gerbang mengikuti Andi yang sedang melaju cepat dengan sepeda motornya.


Setelah melalui jalan Delima, Andi berbelok ke kiri mengambil jalur yang tidak macet, menuju kawasan pergudangan di Jalan Pungpurutan, karena tidak jauh dari lokasi itu Dude bersama kawanannya bermarkas.


Setelah Andi melewati pergudangan yang sudah tidak di pakai lagi, Andi menghentikan laju motornya.


Kamalpun langsung meminggirkan mobilnya dan berhenti.


"Andi emangnya di sini mereka bermarkas?." Tanya Astuti.


"Dulu mereka bermarkas di sekitar wilayah sini, dan markasnya jauh disana, di dekat pembuangan sampah, di situ ada salah satu gudang kimia yang sudah kosong." Ujar Andi.


"Kalau masih jauh kenapa kamu berhenti di sini?." Tanya Astuti.


"Sebaiknya mobil di taro di situ di bawah pohon beringin untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan Om." Ujar Andi


Setelah itu mereka bertiga berjalan kaki sambil ngendap-ngendap menuju sebuab gudang kimia yang sudah tidak terpakai lagi.


Setibanya di depan pintu besi yang cukup tinggi, Andi mencoba mendorong pintu tersebut.


"Tidak di kunci." Bisik Andi.


Rekeeeeettt.


Suara pintu terbuka nyaring sekali, Perlahan mereka melangkah kan tungkai kakinya memasuki kedalam.


Suasana di dalam gudang nampak sangat sepi sekali, Mereka berjalan perlahan, di antara banyak drum yang berjejer.


"Tapi sepertinya tidak ada orang Andi." Bisik Astuti.


"Iya kita coba cari dulu, tapi kita harus waspada, siapa tau ini jebakan, pasang mata dan telinga, lihat kesekeliling ruangan ini, takutnya mereka pasang jebakan." Cetus Kamal yang sudah tahu dengan taktik para mavia.


Baru saja kamal berkata, dari arah samping kiri kanan, terdengar desingan suara meluncur ke arah mereka.


Siiieeng


Siiieeeng...


"Awaaas Paman, Bibi." Teriak Andi sambil melompat kebelakang.


Begitu pula Kamal dan Astuti melompat mundur, ketika tiga buah panah besi meluncur ingin membinasakannya.


"Benar duga'anku, para cecunguk itu sengaja memancing kita agar masuk perangkapnya." Bisik Kamal.


"Sekarang kita harus lebih waspada, mungkin mereka telah mengetahui kedatangan kita." Balas Andi berbisik.


Lalu Andi berteriak dengan perkata'an sebuah tantangan.


"Woi keluarlah, jangan cuma bersembunyi, ayo hadapi gua bangsat." Teriak Andi.

__ADS_1


Tapi suasana di dalam masih tetap saja sepi mencekam.


<><>Bersambung<><>


__ADS_2