
Andi berlari bukan karena takut atau tidak mau meladeni mereka.
Andi hanya mencari tempat yang leluasa, dan tidak mau nantinya jadi mengganggu para pengguna jalan.
Dude dak kawanannya langsung memburu Andi, yang sudah berdiri dengan kedua tangannya mengepal dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Mau Lari kemana kau Bangsat, sekarang elo akan mampus di tangan Kami." Bentak Dude.
"Jangan banyak bicara, elo jual gua beli, berapapun jumlah kalian, gua tidak akan jadi pengecut." Ujar Andi sambil membalikan topinya kebelakang.
"Bangsat kau, heaaa." Teriak Dude sambil melompat menerjang Andi.
Begitu pula ke empat kawanannya, langsung menggempur Andi.
Pertarungan pun tidak bisa di hindari lagi, Andi bergerak dengan cepat dan agresip, dalam menangkis dan melakukan serangan balik.
Kedua rekannya Dude, melayangkan sapuan tendangannya, Andi menepisnya dengan sabetan, menggunting kaki dari kedua lawan.
Di susul oleh Dude dan kedua rekannya, menyerang dari belakang.
Andi pun cukup waspada dan merasakan ada bahaya yang mengancamnya dari belakang, lalu Andi merunduk sambil memutarkan tubuhnya dalam gerakan Tampele meped.
Sepontan Andi memasukan pukulan elbonya ke tika terlihat ada celah yang terbuka dalam pertahanan kedua lawannya.
Deeeass..
Deasss....
Dua pukulan elbo kanan dan Kiri menghantam pundak kedua dari rekannya Dude.
Jeregjeg
Kedua rekannya Dude sempoyoangan terdorong oleh kerasnya pukulan elbo dari Andi.
Dude langsung melancarkan pukulannya, untuk membendung serangan Andi, yang akan menghabisi kedua rekannya.
Andi melompat mundur dua putaran dalam gerakan salto.
Serangan Dude pun makan ruang yang kosong, tapi Dude tidak kalah kesitnya, ia langsung melompat memburu Andi dengan tendangannya.
Andi menjatuhkan badan ke hampran rumput, lalu berputar, dan kakinya meluncur menendang perutnya Dude.
Buukkk...
Heeuuuu...
Dude langsung membungkuk kan tubuhnya ke depan, menahan napasnya yang tersendat.
Dari situ Andi langsung bergerak bangkit mendorongkan tubuhnya ke depan bersama'an dengan meluncurnya pukulan jep.
Deeasss...
Bogem mentah Andi menggedor congornya Dude..
Auuggghhhhh...
Dude teriak kesakitan, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Nampak terlihat darah segar berjatuhan dari telapak tangannya Dude.
Kemudian Dude membuka telapak tangannya, nampak terlihat Gigi nya lepas dan tergeletak di telapak tangannya bersama darah segar yang terus ngocor dari gusinya.
Lalu ke empat rekannya, menyerang Andi dengan Brutal dan membabi buta.
Skip
Sementara di tempat lain.
Vina nampak gelisah, seperti telah merasakan sesuatu.
"Ini ada apa ya, kok perasa'an hati gue tidak enak begini." Gerutu Vina bermonolog.
Lalu Vina meraih ponselnya, Dan di gulirnya layar kaca ponsel ke atas.
__ADS_1
Lalu Vina langsung melakukan panggilan pada kontak yang bernama Andi.
Tapi tidak ada tanda-tanda teleponnya di jawab, hingga beberapa kali Vina melakukan panggilan.
Rasa gelisah di hati Vina, kini semakin menguasai dirinya.
"Aduh, kenapa pula jantung gue berdetak tidak karuan, jangan-jangan Andi lagi dalam bahaya, gue mesti ke Gang Si'iran takut terjadi sesuatu pada Andi.
Vina lalu beranjak bangkit dari tempat tidurnya, kemudian tangan kanannya meraih jaket kulit warna coklat yang tergantung di sebuah kastop.
Perlahan Vina melangkah mendekati sebuah jendela, lalu di buka perlahan selot jendela tersebut.
Setelah itu Vina keluar dari jendala, dengan sangat hati-hati sekali, kaki Vina turun lalu loncat ke balkon.
Sambil merunduk Vina celingukan melihat suasan di bawah.
"Sepertinya aman, jam segini biasanya ibuk suka tidur, tapi gimana gue turun dari sini, Ooh gue sampai lupa, gue kan pernah belajar parkur." Batin Vina sambil merayap lalu melangkah kan kaki kanan nya melati teralis pagar balkon.
Mata Vina menatap ke bawah dak garasi, yang posisinya hampir di bawah kamarnya.
"Gue harus lompat ke atas dak garasi." Gerutu Vina.
Siuurr
Plekkk.
Vina melompat dan mendarat di atas dak garasi dengan aman.
Setelah di rasa suasana aman, Vina langsung bergelayut di dahan pohon mangga yang ada di samping garasi.
Lalu merayap turun, dengan sangat hati-hati sekali.
Pleekk.
Kaki Vina telah mendarat di tanah di luar gerbang, kemudian Vina merogoh ponselnya, lalu di buka sebuah aplikasi Grab, untuk memesan ojol.
Selang beberapa menit, sang ojol datang dan berhenti.
"Sama mba Vina ya?." Tanya sang Ojol.
"Kok buru-buru amat, seperti ketakutan begitu sih mba." Ujar sang Ojol penasaran.
"Udah jangan banyak omong." Ujar Vina
Lalu sang ojol memberikan sebuah helm pada Vina, dan Vina langsung meraihnya kemudian di pakai untuk menutupi kepalanya.
Sebuah motor Yamaha Nmax dari sang Ojol sudah melaju keluar dari komplek Grand City.
"Di gas Bang." Cetus Vina.
"Siap mba, ke Gang Si'iran kan?." Tanya sang Ojol.
"Iya Bang."
Sang Ojol pun langsung menarik gasnya, dan motor kini melaju dengan kecepatan yang maximal.
Ketika Sang Ojol melaju di Jalan Delima raya, Sekelebatan Vina menoleh kesamping kiri, Sontak saja Vina terkejut, lalu menepuk-nepuk pelan pada bahu sang Ojol.
"Sebentar bang, coba kurangi dulu kecepatannya dan berhenti." Celetuk Vina sambil menolehkan pandangannya kebelakang
"Ada apa Mba, kan masih jauh." Timpal sang Ojol.
Lalu Vina melangkah turun, dan berjalan, netra Vina memandang intens pada sebuah motor Yamaha Rx king cobra yang terparkir di pinggiran trotoar.
"Jelas itu motor Andi, gue kenal banget dengan modipikasinya." Gerutu Vina sambil membalikan badannya, dan berjalan kedepan ke arah sang Ojol.
"Ini Bang onkosnya, yang aku cari ada di sekitar sini." Ujar Vina sambil memberikan uang Lima puluh ribu rupiah.
"Gak ada uang pas Mba?." tanya sang Ojol.
"Sudah ambil saja kembalinya Bang, Jawab Vina sambil berlari ke arah motor yang berjejer terparkir di pinggiran trotoar.
Sang ojol hanya terbelalak kaget dan tidak mengerti dengan sikapnya Vina, sebenarnya ada apa?
__ADS_1
"Aneh, gadis itu membuat otaku puyeng, ya sudahlah mungkin gadis itu punya urusan penting kali." Gerutu sang Ojol sambil menyalakan kembali motornya.
Sedangkan Vina setiba di dekat motor Yamaha Rx king Cobra, ia celingukan ke sana kemari.
"Andinya dimana, dan yang lima ini motor siapa?." Batin Vina bertanya-tanya.
Beberapa menit Vina mencari keberada'annya Andi tapi tak kunjung ketemu.
Kemudian Vina tersontak kaget, ketika pendengarannya samar-samar menangkap suara keributan, mundar-mandir Vina mencari arah suara itu.
Lalu menoleh jauh ke sebuah lapangan rumput, nampak jelas ada beberapa orang yang lagi berkelahi.
"Tidak salah lagi itu Andi." Ujar Vina sambil berlari dengan cepat.
Setibanya di tempat, tidak banyak berkomentar lagi, Vina langsung melompat di tengah tengah arena perkelahian dengan melayangkan tendangannya ke punggung lelaki yang mau memukul Andi dari belakang dengan kayu gelondongan.
Buuukk...
Lelaki itu terdorong dan hampir mau jatuh.
Sepintas Andi melihat dari sudut netranya, ada gadis yang sangat ia kenali dan cintai.
"Vina." Sapa Andi.
"Iya ini aku An." Jawab Vina sambil menempelkan punggungnya di punggung Andi.
Dude yang merasa sudah baikan dari lukanya, beranjak bangkit sambil menatap tajam ke arah Vina.
"Sepertinya gue kenal wanita itu." Gerutu Dude.
Lalu rekannya Dude yang mengenal pada Vina berceloteh.
"Widiih hebat, pasangan Romeo dan Juliet, rupanya pandai bela diri juga, lo' Vina kan?." Bertanya.
"Iya gue Vina, dan kalian semua tidak ada kapok-kapoknya, udah sekolahmu dulu di keluarkan, emangnya kalian ini mau jadi apa sih." Celoteh Vina.
"Ngapain lo ngurusin hidup gue, terserah gue mau jadi apa." Timpalnya.
"Sudah Vin, orang seperti mereka ini tidak akan mempan di nasehati, hanya ini nih yang membuat mereka kapok." Ujar Andi sambil mengacungkan kepalan tinjunya.
"Bangsat lo', jangan merasa menang kau, Kami belum kalah, rasakan ini kau Bangsat." Ujarnya sambil mengayunkan kayu gelondongan pada Andi.
Andi memiringkan tubuhnya, lalu di putar ke samping kaki kanannya, untuk menarik kaki kirinya, dan setelah itu tendangan Andi melesat menghantam lehernya lawan.
Bruuukkk..
Tendangan yang begitu keras, telah membuat rekannya Dude terjatuh, bersama'an dengan lepasnya balok kayu dari gengamannya.
Vina pun langsung bergerak menyerang lawannya, gaya bertarung Vina yang cukup handal dan cerdik, layaknya seorang super hero atau jagoan berantem, apapun yang dekat bisa Vina jadikan senjata.
Sambil melompat mundur, menghindari serangan dari kedua lawannya, dengan cepat Vina meraih ranting kayu yang banyak daunnya, lalu di sabetkan ke arah muka lawannya.
Cereket
Cereket..
Daun-daun di ranting kayu itu sampai berhamburan lepas dari tangkainya ketika berbenturan dengan ke dua muka lawannya Vina.
Kedua lawannya Vina berteriak, merasakan perih dan sakit di bola matanya.
Otomatis pertahannya pun tidak terjaga, dari situ Vina tidak memberikan ruang untuk bergerak pada mereka.
Dengan Cepat Vina menghujani ke dua lawannya dengan pukulan dan tendangan.
Buk
Buk
Buk
Buk
Deasss....
__ADS_1
Blak blak..
Kedua lawannya Vina tidak bisa lagi menahan daya tahan tubuhnya, Keduanya terjatuh dan tidak berdaya lagi.