Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 144 Tiga Sahabat


__ADS_3

Sementara di tempat lain.


Di Rumah Sakit Harapan, Suster yang biasa bertugas mengantar makanan untuk pasen yang bernama Pajar Arya Wirata, heboh bahwa pasen sudah tidak ada lagi di tempat, cuma ada satu dua pakaian keluarga pasen yang biasa menunggu.


Kabar hilangnya pasen yang bernama Pajar Arya Wirata salah seorang pengusaha besar dari Wirata Jaya Abadi Group telah di muat oleh seorang jurnalis di sebuah Televisi swasta.


Kebetulan siang itu Andi dan Anggita dan beberapa stap Pt Anggita Surya Mandiri lagi istirahat setelah melakukan acara meeting, sambil ngopi dan makan makanan snack, terkejut mendengar berita di acara Televisi.


"Bukan kah itu orang tuanya Vina', Andi." Ujar Anggita.


"Iya benar kak, ko bisa ya pak Pajar sampai melarikan diri dari rumah sakit, tapi sepertinya ada yang janggal deh, tadi ku dengar ada beberapa bagian Cctv yang mati, wah ini seperti kejadian almarhum ayah dulu persis kaya gini." Ujar Andi.


"Bisa jadi, sepertinya itu sudah di rancang dengan sangat matang sebelumnya, emang Pak Pajar punya musuh atau saingan bisnis gitu." Pungkas Kamal ikut bicara.


"Kalau masalah itu aku kurang tau sih Om, apa jangan-jangan..." Tukas Andi bikin penasaran yang mendengar.


"Maksudmu gimana Andi?." Tanya Kamal penasaran.


"Ya itu baru perkira'an Om, sebelumnya aku dan Konta waktu mau bantuin betulin mobil Vina yang mati dalam perjalanan, melihat Vina dan mantan Suaminya berantem, dan Rangga di hajar habis-habisan oleh Vina." Jelas Andi.


"Memang Vina jago bela diri?." Tanya Anggita.


"Vina pernah meraih juara satu sepropinsi, bela diri Karate wanita antar pelajar." Ujar Andi.


"Wah hebat juga ya Vina." Timpal Kamal.


"Kalau mendengar dari ceritamu, sepertinya ada kemungkinan pak Pajar korban dari sebuah dendam, coba kamu hubungi nomor ponselnya Vina." Usul Anggita.


Andi langsung meraih ponselnya dari atas meja, lalu melakukan panggilan pada nomor Vina Artiyana.


"Ponselnya Vina malbok." Ujar Andi.


"Wah ini semakin kuat duga'anmu itu, sepertinya kasus ini ada campur tangan mavia kelas kakap." Tukas Kamal.


"Kamu harus segera memberi pertolongan Andi, walau Vina pernah menyakitimu, menolong orang yang tertindas itu bukan lagi pilihan, melainkan suatu keharusan." Ujar Anggita.


"Iya kak, aku akan coba kerumahnya Vina dulu, siapa tau dapat jawabannya di sana." Ujar Andi.


"Kamu jangan Sendiri An, jangan lupa libatkan si Gery untuk melacak keberada'an mereka, karena si Gery akan bisa menangkap melalui jejak langkah dan bau dari aura manusia itu." Saran Kamal.


"Om Kamal benar, karena yang akan kau hadapi nanti, adalah orang-orang penjahat kakap yang sangat licin, buktinya pihak Rumah sakitpun sampai di buat keder dengan kasus itu." Cetus Anggita.


"Iya kak, aku akan meminta bantuan sahabat aku." Tukas Andi.

__ADS_1


Setelah itu Andi beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari Kantor Pt ASM.


Setelah Andi tiba di Rumah, Andi mendorong motor yamaha Rx kingnya ke depan halaman rumah.


Lalu Andi melangkah mendekati kerangkeng tempat si Gery istirahat.


Si Gery menggonghong keras, sambil menatap pada Andi yang lagi membuka kunci gembok kerangkeng tersebut.


"Kita jalan-jalan lagi kawan." Ujar Andi.


Setelah pintu kerangkeng terbuka, binatang itupun langsung melompat dan berlari-lari memutari halaman rumah.


Andi tersenyum melihat binatang piara'annya, yang seperti merasa terbebas.


Sebelum Andi melajukan kendara'annya, terlebih dulu Andi mengirimkan sebuah chat di via whatssap pada Erik dan Abeng.


Di minta ke rela'annya untuk membantu mencari sahabatnya, yang kemungkinan telah di culik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.


Abeng dan Erik pun langsung memberi balasan pada Andi.


Oke siap.


Kemudian Andi langsung menyalakan motornya, dan memberi kode isarat pada si Gery.


Sungguh binatang yang sudah terlatih, begitu Andi memberi isarat, si Gery langsung melompat dan duduk di jok belakangnya Andi, yang sudah diberi pembatas viber plastik.


Andi pun langsung melajukan sepeda motornya, di jalan Gang Si'iran.


Tiga menit kemudian.


Andi sudah melaju dengan cepat di jalan Delima. Lalu lalang kendara'an pun begitu padat, tapi tidak menjadikan penghalang bagi Andi.


Ketika Andi tiba di lampu merah Jalan Mengkudu, Erik dan Abeng pun muncul dari jalur jalan angkasa.


Ketika lampu sudah berwarna hijau, Andi belok kanan, sedangkan Abeng dan Erik tinggal lurus untuk memasuki Jalan Mengkudu.


Kini ke tiga motor Yamaha Rx king melaju beriringan di Jalan Mengkudu menunu komplek Grand City.


Tidak lama kemudian.


Mereka telah sampai di depan luar gerbang rumah mewah miliknya Pajar Arya Wirata.


Andi langsung melangkah turun dari motornya, lalu melangkah mendekati gerbang.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Permisi, Pak, pak Usman apakah Bapak ada di dalam." Panggil Andi pada mang Usman yang bertugas menjaga rumahnya Pajar.


Lalu Erik menoleh ke arah kunci gembok yang nampak terlepas.


"An, gemboknya sudah lepas ko." Ujar Erik pada Andi.


Andi pun menautkan pandangannya ke arah gembok yang tidak terkunci.


"Iya betul, apa yang telah terjadi di sini." Ujar Andi terbelalak kaget.


Kemudian Andi, Erik dan Abeng langsung masuk kedalam, yang pertama Andi tuju adalah pos jaga.


"Astagfirullah hal adzim, mang usman, mang, mang Usman." Ujar Andi sambil menggoyang-goyangkan tubuh mang Usman yang lagi dalam ke ada'an pinsan.


Selang beberapa menit.


Mang Usman pun langsung bangun, dan membuka kedua netranya menatap pada Andi dengan intens.


"Aa aa Andi, kan?." Tanya Mang Usman.


"Iya betul Mang, ini saya Andi, sebenarnya apa yang telah terjadi?." Andi balik bertanya.


Kemudian mang usman langsung menceritakan detik-detik kejadian, waktu pertama kali ada seorang lelaki datang mengaku sebagai utusan dari Rumah Sakit Harapan.


"Nah begitu nak Andi, ketika saya mau memanggil non Vina tiba-tiba leher saya di cengkram sebuah tangan kekar dan pernapasan saya di sumpel pakai tisu." Jelasnya Mang Usman.


"Lalu non Vina kemana?." Tanya Andi.


"Mamang gak tau, kan mamang pinsan, jadi tidak tau apa yang telah terjadi pada non Vina." Tukas mang Usman.


Setelah itu Andi, Abeng dan Erik serta si Gery langsung masuk ke dalam rumah memeriksa ke ada'an di dalam.


Si Gery terus menggonggong dan berlari menaiki trapan tangga menuju lantai dua, ketika tiba di depan kamar yang biasa di pakai oleh Vina si Gery berputar sambil mendenguskan indra penciumannya, lalu berlari lagi ke bawah sambil menggonggong mengajak Andi untuk keluar.


Andi sudah paham dengan sikapnya si Gery.


"Rik, Beng ayo kita ikutin si Gery,, binatang itu sudah menangkap arah nya mereka kemana." Ajak Andi pada Erik dan Abeng.

__ADS_1


__ADS_2