
Selepas Heru pergi meninggalkan Andi, Toglo datang menghampiri.
"Yang barusan siapa nak Andi?." Tanya Toglo.
"Itu teman aku waktu SMP Paman." Jawab Andi.
"Tadi Paman sempat mendengar obrolannya sama nak Andi, emangnya mau mengajak bisnis apa'an?." Lanjut Toglo bertanya.
"Heru ngajak join, dia jual beli motor bekas, supaya harga jualnya bisa bersaing di pasaran, dia meminta aku untuk memodifikasi lagi motor yang dia beli itu, tapi aku tidak tertarik Paman, apalagi bengkel custom aku sekarag lagi padat dan masih banyak yang belum di kerjakan."
"Iya janganlah nanti para pelanggan kita malah kecewa karena pengerjaannya jadi telat." Ujar Toglo.
"Iya makanya aku tidak menyanggupinya." Tukas Andi.
Setelah itu Andi dan Toglo kembali pada pekerjaannya, tidak memikirkan lagi tentang ajakannya Heru untuk join bisnis, ia tetap pokus pada apa yang telah ada sebagai warisan dari mendiang ayahnya. Yang mesti Andi jaga dan kembangkan agar ayahnya bahagia di alam sana.
Se iring dengan berputarnya jarum jam dan begitu cepatnya pergantian waktu.
Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 12:00.
Kedai pun mulai di banjiri oleh para karyawan, dengan beraneka macam pesanan makanan dan minuman.
Berbeda dengan Andi Nayaka dan Anggita Eka Putri yang selalu makan siang bareng ibuknya di rumah.
Makanan sudah siap sampai memenuhi meja makan, begitu Andi dan Anggita datang, Sindi yang sedari tadi menunggu langsung semringah, se akan teringat pada Nandi, almarhum suaminya yang selalu tepat waktu.
Kemudian Andi, Anggita bersama ibuknya berkumpul dalam satu meja melakukan makan siang.
Di saat lagi asiknya mereka menikmati makan siangnya, terdengar suara orang mengetuk pintu gerbang depan.
"Siapa itu, sepertinya ada tamu." Ujar Andi.
"Biar aku buka dulu siapa tau penting." Celetuk Anggita.
"Sebaiknya habisin dulu makanannya, kata orang tua, itu bisa jadi penghalang rijki kita, kalau makanan gak di abisin." Ujar Sindi.
"Oh ya sudah." Sahut Anggita.
"Alhamdulilah, semoga berkah apa yang kita makan, Buk aku duluan ya mau buka dulu Pintu gerbang." Tukas Andi sembari beranjak dari kursi makan, dan berjalan keluar rumah.
Setibanya di depan, Andi lansung membuka pintu gerbang.
Nampak berdiri se orang lelaki yang Andi tidak kenal.
"Ada apa mas?." Tanya Andi.
Kemudian orang itu memberikan sesuatu seperti sebuah surat undangan pada Andi.
"Undangan dari siapa nih." Ujar Andi sambil membolak balikannya.
__ADS_1
"Aku juga gak tau bang, aku cuma di suruh membagikan surat undangan aja udah." Ujarnya.
"Iya, yang penting duit." Tukas Andi.
"Betul itu, hehee, ayo bang ku permisi dulu." Timpalnya.
"Iya-iya Mas, makasih ya." Tukas Andi.
Kemudian Andi langsung menutup kembali pintu gerbangnya, dan berjalan menuju bangku besi pinggir taman.
"Undangan dari siapa ya, Tapi aku gak kenal dengan nama ini, lokasinya di jalan Angsa tiga Gang Macan, siapa ya, teman sekolah gak ada, ya sudahlah insa Allah gua akan datang." Gerutu Andi sambil menyimpan surat undangan tersebudi meja.
.......................
Singkat Cerita.
Pada hari Minggu, pukul 07:00, Andi sudah berpakaian rapi untuk menghadiri Undangan di Jalan Angsa tiga Gang Macan.
Masih ada rasa ragu di hati Andi, tapi karena dirinya mendapat undangan, sebagai manusia yang selalu menghargai orang, walaupun tidak kenal, Andi berusaha untuk datang.
Motor yamaha Rx king yang selalu setia menemani dalam setiap perjalanannya, telah di nyalakan.
Setelah Pamit pada Ibuknya, Andi langsung tarik gas, dan motorpun melaju keluar dari pekarangan rumah.
Preng
Suara motor legenda terasa nyaring, melaju di sepanjang jalan Gang Si'iran.
Sementara di dalam sebuah kerangkeng besi, ketika Andi sudah pergi, si gery tidak henti-hentinya terus menggonggong, insting si gery yang sangat tajam seperti merasakan sesuatu yang akan terjadi pada diri Andi.
Suara berisiknya si Gery menggong-gong telah memecahkan suasana di pagi itu, sehingga membuat Sindi dan Anggita keluar.
"Emang Andi mau kemana Buk?." Tanya Anggita.
"Tadi bilang sama ibuk, Andi mau menghadiri undangan yang datang kemarin itu lhoo.." Jawab Sindi.
"Sepertinya gong-gongan di Gery ingin menyampaikan sesuatu pada kita Buk." Ujar Anggita.
"Kamu jangan berkata begitu Gita, Ibuk jadi kepikiran sama Andi." Tukas Sindi.
Anggita tersontak kaget, dan takut depresi yang pernah ibuknya alami terulang kembali.
"Gita sekarang kamu buka gemboknya kandang si Gery." Pinta Sindi.
"Aku tidak tau nyimpen kuncinya Buk." Jawab Anggita.
"Itu kuncinya menggantung di atas kerangkeng." Tunjuk Sindi.
Setelah itu Anggita langsung membuka kunci pintu kerangkeng si Gery.
__ADS_1
Si Gery pun langsung melompat keluar sambil menggonghong minta di bukain pintu gerbangnya.
Anggita tersenyum, lalu mengayunkan kakinya menuju pintu gerbang.
Setelah pintu gerbang terbuka, si Gery langsung melompat dan berlari entah mau kemana.
"Sebenarnya apa yang telah di rasakan oleh si Gery ya." Batin Anggita.
Setelah itu Anggita langsung mengajak Ibuknya untuk masuk kedalam rumah.
Sementara di tempat lain.
Andi yang telah sampai di tempat, di alamat yang tercantum pada surat undangan itu, Andi celingukan ke kiri dan ke kanan, merasa ada yang tidak beres dengan surat undangan tersebut.
"Ini gua sudah tepat sama alamat yang di tulis di surat undangan itu, tapi ko tempatnya kaya gini sih, sepertinya ini bukan lingkungan penduduk." Gerutu Andi bermonolog.
Kemudian Andi turun dari motornya, lihat situasi dan keadaan di tempat itu.
"Waduuh celaka, sepertinya ini jebakan, sebaiknya gua tinggalkan tempat ini." Batin Andi.
Lalu Andi menyalakan kembali motornya, baru saja Andi mau menarik gas, sekelompok orang bermunculan dari balik sudut bangunan sambil menggengam stick baseball.
Kemudian Andi mematikan kembali motornya sambil melangkah turun.
"Ada apa ini, kenapa kalian semua bersenjatakan Stick Base ball?." Tanya Andi.
Pok
Pok
Pok
Seorang pria berkulit bersih dan berkumis tebal, berpakain jas dan berdasi datang di tengah-tengan orang-orang yang menggenggam Stick Base Ball.
"Selamat datang Andi Nayaka, ternyata elo seorang lelaki sejati, sudah memenuhi undangan saya." Ujarnya.
"Ma'af anda siapa? Perasaan gua tidak mengenali anda." Tukas Andi.
"Tentu saja elo tidak akan mengenali gue, tapi kalau gue bercerita sedikit pasti elo tau." Ujarnya.
"Ma'af, gua tidak ada urusan dengan Anda." Ujar Andi sambil membalikan tubuhnya.
"Elo pasti tau sama Bang Ricard." Tukas pria tersebut.
Andi langsung berhenti, dan kembali membalikan badannya menghadap pria itu sambil menatap intens pada pria itu.
"Apa maksud Anda, jangan sebut nama itu lagi, karena orang itu telah membuat keluarga gua menderita." Ujar Andi.
Pria itu tersenyum menyeringai, sambil melangkah maju dua langkah.
__ADS_1