Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 174 Di kejar dua Cinta


__ADS_3

Malam pun terus bergeser, suasana kota nampak sudah terasa dingin di selimuti kabut tipis.


Vina akhirnya pamit lebih dulu, karena merasa suasana seperti tidak bersahabat, ketika melihat sikapnya Bela yang se olah ingin membuat suasana hatinya panas.


Andi yang sudah bersahabat bertahun-tahun malahan pernah menjalin hubungan berpacaran sama Vina, tersentuh hatinya tidak tega melihat Vina harus pulang sendirian, apalagi suasana kota di malam hari sedang rawan kejahatan.


Walaupun Vina menguasai tingkatan bela diri yang sudah sempurna, tapi Andi tidak mengijinkan kalau se orang wanita harus pulang tengah malam sendiri.


"Ayo aku antar." Tawar Andi.


"Tidak usah An, gue bisa pulang sendiri apalagi gue kan bawa mobil." Tukas Vina.


"Ya sudah, kalau begitu gua antar elo sampai lampu merah Delima, dari situ kan jalur yang elo lalui sudah aman." Timpal Andi.


Bela mendelik penuh rasa cemburu, sambil menyunggingkan bibirnya ia berkata.


"Widiih perhatian amat sih, sampai di antar segala." Tatap Bela penuh rasa cemburu.


"Bukan begitu kak Bela, Vina kan sahabat aku, apalagi ia sama seperti aku, anak yatim, ya sudah aku tinggal dulu ya." Ujar Andi.


"Apa perlu aku temenin Bang." Celetuk Konta.


"Oke kalau begitu." Jawab Andi sambil beranjak dari tempat duduknya untuk mengeluarkan motor Yamaha Rx kingnya.


Vina kini telah melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah, Andi mengikutinya di belakang yang berboncengan sama Konta.


Sementara Anggita memberi isarat pada Brian sambil mengerlingkan alisnya, menoleh pada Bela.


Brian menggerakan kedua bahunya sembari memonyongkan kedua bibirnya, pertanda tidak mengerti dengan sikapnya Bela.


"Ehhmmmmm." Anggita mendehem.


Bela yang wajahnya agak memerah, yang terus memandang dengan kepergiannya Andi, se olah tidak rela bila Andi mengantarkan Vina, sontak saja kaget.


"Apa sih Git." Sensitif Bela.


"Enggak apa-apa, cuma gue heran, kenapa dengan elo Bel, gue perhatiin dari semenjak kedatangan Vina, raut muka lo' kaya kecut begitu, elo suka sama adik gue." Ujar Anggita.


Mendengar perkataan polosnya Anggita, Bela mendadak pucat, se akan Anggita sudah mengetahui tentang perasaannya pada Andi.


"Iih apa sih Git, masa gue suka sama adik lo' ya kagaklah." Ujar Bela menutupi perasaannya.


"Oh gitu, ya terus kenapa dengan elo' apa elo sakit?." Tanya Anggita.


"Iya nih, badan gue seperti mau meriang." Jawab Bela.


"Ah yang benar aja sih Bel, pas dari rumah kayanya kamu biasa-biasa saja." Cetus Brian.

__ADS_1


"Iya benar bang, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba badanku ngedrop begini." Sahut Bela.


Anggita menatap intens pada Bela, sepeeti ingin membuktikan apakah benar Bela sakit, atau cuma pura-pura, karena merasa panas hati melihat Andi berjalan Sama Vina.


Setelah Anggita memperhatikan raut muka Bela, Anggita terkejut, ternyata ucapan Bela bukan pura-pura, tapi Bela benar-benar demam.


"Astagfirullah hal adzim, Bel ternyata badan elo benar-benar demam." Ujar Anggita sembari memegang tangannya Bela.


Kemudian Anggita mengajak Bela untuk masuk kedalam rumah.


Tapi Bela menolaknya, Bela meminta pada kakanya Brian, untuk pulang.


"Emang elo mau maksa pulang." Ujar Anggita.


"Iya Git mendiang gue pulang aja, Ayo Bang kita pulang." Tukas Bela sambil mengajak Brian untuk pulang.


"Oke."


Kemudian Bela dan Brian pamit pada Anggita, sebenarnya Brian masih ingin berlama-lama lagi ngobrol sama Anggita, berhubung Bela yang mendadak demam, apa boleh buat Brian pun mengalah.


"Sory ya Git, Gue jadi ngerepotin elo, salam ya buat ibuk dan Andi serta Konta." Ujar Bela.


"Aku pulang dulu ya Git." Ujar Brian sambil menatap Anggita.


"Iya, kalian hati-hati, jangan kapok ya nanti kapan-kapan main lagi." Sahut Anggita.


Setelah itu Mobil mewah yang di kemudi oleh Brian, sudah melaju keluar dari pekarangan rumah.


Setelah itu Anggita langsung menutup pintu gerbang, dan kembali masuk kedalam rumah.


Sementara di tempat lain.


Andi yang berboncengan sama Konta, lagi melaju di jalan Delima menuju pulang ke rumah.


Ketika tiba di pertigaan yang mau memasuki kawasan Gang Si'iran, Andi berpapasan dengan mobil mewah yang Brian kemudi.


Andi memanggil sambil memijit tombol klakson.


Tid tidid.


"Bang Brian, Kak Bela." Panggil.Andi.


Entah tidak terdengar oleh Brian atau Bela, Mobil mewah yang Brian kemudi nampak melaju kencang mengambil jalur kanan.


"Kenapa dengan mereka dek, masa iya mereka gak dengar, kan ini malam lagi sepi banget." Cetus Andi sambil menoleh kebelakang pada Konta.


"Mungkin gak dengar kali Bang, atau mereka tidak peka pada panggilan abang." Sahut Konta.

__ADS_1


"Iya juga kali ya." Tukas Andi.


Setelah itu Andi, langsung tancap gas kembali, motor Yamaha Rx king melaju di sepanjang jalan Gang Si'iran.


Setiba di depan gerbang, tidak sengaja Andi menoleh ke samping kanan. Hati Andi merasa penasaran ingin mengambil sebuah kertas yang dilipat tergrletak.


Lalu Andi melangkah turun, dan meminta pada Konta untuk memasukan motornya ke garasi.


"Dek tolong masukin dulu motor." Ujar Andi.


Konta pun tidak banyak protes, lalu melangkah menaiki motor Andi, dan melaju masuk garasi.


Sedangkan Andi langsung meraih sebuah kertas tersebut, lalu di buka lipatan kertas tersebut dan di bacanya.


"Ma'af ya Andi kakak pulang, badanku terasa demam, terima kasih ya sudah bikin aku seneng"


......(Bela Puspita Wijaya)...


Setelah Andi selesai membaca isi tulisan di kertas tersebut, Wajahnya terlihat bingung.


"Apa maksudnya kak Bela, mungkinkah Bela suka sama gua, masa iya, kan usia gua jauh di bawahnya." Gumam Andi.


Lalu Andi di kagetkan dengan suara mendehm.


Hhhmmm...


Sontak saja Andi, langsung mengepal kertas tersebut, sambil memasukannya kedalam saku celana.


"Ngapain lo' ngagetin aja." Cetus Andi.


"Kagak, lagi bamca apa tuh, ko Abang seperti ketakutan begitu." Ujar Konta.


"Enggak."


"Hehee, jangan bohong gua juga tau abang tadi lagi baca, emang surat apa sih, coba gua lihat." Desak Konta.


"Oh itu, catatan buat belanja besok." Ujar Andi berbohong.


Konta tersenyum tipis, sambil menganggukan kepalanya, lalu bergumam dalam hati.


"Abang-abang, gua tau abang bohong, di kira gua anak kecil kali." Gerutu Konta dalam hati.


Karena malam sudah semakin larut, konta pun tidak banyak tau tentang isi surat tersebut, Konta pamit untuk pulang ke rumah.


"Ya sudah gua pulang dulu ya, ngantuk nih." Ujar Konta.


"Iya dek, makasih sudah mau nganter abang." Sahut Andi.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


Kemudian Konta berjalan pulang ke rumah, dan Andipun langsung mengunci pintu gerbang, lalu melangkah masuki kedalam rumah.


__ADS_2