
Setiba nya di rumah Jupri, Andi tengok sana tengok sini seperti ada yang di cari, Jupri tersenyum tipis melihat sikapnya Andi lalu ia berkata.
"Gue hidup se orang diri, orang tua gue sudah meninggal semua." Cetus Jupri.
"Lho ko lo' bisa tau kang, kalau gua mencari penghuni rumah selain akang, wah akang Jupri hebat bisa tau isi hati gua." Tukas Andi.
"Ya gue kan lihat dari sikap elo, seperti mencari sesuatu." Ujar Jupri.
"Hebat Kang Jupri bisa membaca karakter orang, gua mesti hati-hati nih dalam bersikap." Ujar Andi.
"Ah kamu bisa aja, lo mau ngopi kagak?." Tanya Jupri.
"Boleh, pingin coba." Jawab Andi.
Jupri sedikit heran lalu bertanya?
"Emang lo belum pernah ngerasain enaknya ngopi?." Tanya Jupri.
"Pernah sih sekali, kalau meroko belum pernah, kan gua baru aja lulus sekolah." Ujar Andi.
Setelah itu Jupri langsung bikin dua gelas kopi dan satu mangkok susu untuk si Gery atas permintaan Andi.
..................
Sementara di tempat lain, tepatnya di Gang si'iran Anggita, Astuti serta pak Dirman dan buk Sari, lagi kebingungan dengan kepergiannya Andi yang hingga sa'at ini belum juga pulang.
"Coba dek Gita, hubungi ke nomor temannya." Ujar Astuti.
"Iya Bibi, tapi aku tidak tahu nomor temannya." Jawab Anggita.
"Ya elah kan ponselnya Andi tidak di bawa, tinggal cek aja." Ujar Astuti.
"Iya benar Gita, coba hubungi temannya." Timpal Buk Sari merasa khawatir dengan Andi, yang masih belum dewasa.
Anggita pun lalu bergrgas pergi menuju kamarnya Andi guna mengambil ponselnya Andi yang tertinggal lupa tidak di bawa, atau kah mungkin sengaja tidak di bawa.
Singkatnya Anggita sudah kembali dengan membawa ponselnya Andi, lalu di bukanya tapi nampak di wajah Anggita ada rasa kekecewaan.
"Kenapa dek Gita?." Tanya Astuti.
"Pake sandi Bibi, aku gak tau sandinya." Jawab Anggita.
"Coba aja pakai tanggal lahirnya siapa tahu bisa." Saran Astuti.
Kemudian Anggita memasukan tanggal lahirnya Andi sebagai sandi untuk membuka kunci layar ponselnya Andi.
"Tidak bisa Bibi." Cetus Anggita.
"Gak bisa juga, Andi-Andi gimana sih kamu, semua orang di rumah sangat kuatir padamu." Celetuk Astuti.
"Ya sudah kalau memang tidak bisa, mungkin sebentar lagi pulang, terus gimana dengan Toglo, Kamal, Gito, Rendi dan Hasan dalam pencarian Sindi apa sudah ada kabar." Pungkas Buk Sari.
"Tadi ayahnya Konta dan Kanti ngirim chat, katanya belum menemukan titik terang, dan sekarang lagi dalam perjalanan pulang, dan akan dilanjutkan kembali besok katanya." Jawab Astuti.
"Apa mungkin Andi dengan diam-diam ia mencari ibuknya." Celoteh pak Dirman.
"Oh iya, bisa jadi begitu pak, soalnya tabiatnya Andi sama persis dengan Almarhum ayahnya." Tukas Buk Sari.
__ADS_1
Ketika mereka lagi duduk berdiskusi masalah kepergiannya Andi, dan pencarian Sindi, lima buah motor masuk kedalam gerbang yang terbuka dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Panjang umur, baru saja di ceritain sidah pada datang." Cetus pak Dirman.
Kemudian kelima orang pengendara motor itu turun, yang tak lain adalah, Kamal, Toglo, Rendi, Hasan dan Gito, melangkah menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum." Sapanya secara serempak.
"Wa alaikum salam." Semua menjawab.
"Belum ada kabar Buk, kita mencari kesemua peloksok kota sambil nanya-nanya tapi satupun tidak ada yang tau." Ujar Kamal.
"Ya sudah kita butuh kesabaran, dalam menghadapi permainan licin dari para Geng itu, saya yakin ini semua adalah masalah yang sudah lama, kini di ulang kembali, sungguh perencanaan yang sangat matang." Cetus Pak Dirman.
"Sekarang gini aja, aku akan bikinin kopi buat kalian pasti cocok di suasana senja yang terasa dingin begini." Usul Astuti.
"Wah mantap nih." Celetuk Hasan.
Astuti pun langsung beranjak bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ruangan dapur untuk merebus air buat bikinin kopi pada para Famili Gang Si'iran yang sudah tidak muda lagi.
............
Malam pun kini telah datang, suasana kota terasa dingin menusuk.
para penguasa malam telah bermunculan dari berbagai kubu atau kelompok dengan wilayah dan ke kuasa'annya masing-masing.
Dan kejahatan pun mulai bermunculan dengan modus yang berbeda-beda.
Perebutan kekuasaan dari kedua kelompok sering terjadi hanya karena ingin melebarkan sayapnya untuk memperluas daerah kekuasaannya.
Pukul 22.00
"An, gue nanya nih." Ujar Jupri.
"Mau Tanya apa kang." Tukas Andi.
"Sebenarnya lo' itu ada masalah dengan keluarga apa gimana, tapi ma'af bukannya gue kepo sama urusanmu." Ujar Jupri.
Lalu Andi pun menceritakan apa yang telah menimpa pada keluarganya, dari mulai meninggal ayahnya karena kecelakaan dan hilang ibuknya dari rumah sakit.
"Nah begitu kang, sebenarnya gua lagi mencari nyokap yang hilang tanpak berita, dan perihal meninggal ayah di temukan ada kasus sabotase di mobil ayah gua, sehingga remnya menjadi blong, padahal sewaktu mau berangkat ayah telah mengecek kendara'annya sebaik mungkin." Jelas Andi.
"Ooh begitu, gue turut prihatin ya, semoga ibukmu cepat di ketemukan." Ujar Jupri.
"Amiin kang terima kasih atas doanya." Jawab Andi.
"Lalu kapan lo' mulai bergerak?." Tanya Jupri.
"Paling sebentar lagi gua akan keluar." Ungkap Andi.
"Wah kalau bisa jangan sekarang An." Saran Jupri.
"Memang kenapa sih kang?." Tanya Andi.
"Bukan apa-apa gue kuatir, karena malam ini banyak Geng jalanan yang lagi bertikai memperebutkan daerah ke kuasa'an." Usul Jupri.
"Kalau gua diam terus di sini, bagaiman bisa cepat ketemu sama ibuk gua." Tukas Andi.
__ADS_1
"Iya gue mengerti, tapi jangan malam ini." Desak Jupri
Andi pun sejenak terdiam, srperti menimbang-nimbang dengan ucapannya Jupri yang sudah sangat kuatir pada dirinya.
"Kang Jupri begitu kuatir pada gua, padahal saudarapun bukan, gua harus bisa menghargai akang Jupri." Batin Andi.
Lalu Andi pun memutuskan untuk menuruti kata-kata Jupri.
"Okelah kalau begitu gua akan turuti akang." Ujar Andi.
Dan malam pun semakin larut, Andi dan Jupri pun sudah memasuki kedalam rumah, sedangkan di Gery tiduran di atas kardus yang sengaja Andi tata untuk tempat tidur di Gery agar tidak kedinginan.
Ke esokan harinya.
Matahari telah memancarkan sinarnya untuk membagikan cahaya pada bumi.
Jupri mengajak Andi ke tempat kerjanya di sebuah bengkel kendara'an roda dua.
"Sekarang lo' ikut kerja sama gue." Ajak Jupri.
"Kerja apa kang?." Tanya Andi.
"Bengkel, sepertinya lo mengerti dengan mesin endara'an roda dua." Tukas Jupri.
"Akang tau dari mana saya mengerti mesin, kerjapun belum." Timpal Andi.
"Waktu itu gue melihat lo' betulkan motormu, dan gue lihat lo' seperti sudah biasa." Ujar Jupri.
"Iya itu kan motor batangan gua, ya pastilah gua hapal keluhannya." Ujar Andi.
"Sudah ayo berangkat." Ajak Jupri.
"Si Gery gimana." Tukas Andi.
"Ya bawa, biar nanti jadi penjaga di depan bengkel." Jawab Jupri.
Setelah itu mereka pun berangkat pergi dengan kendara'annya masing-masing, dan Si Gery mengikuti dari belakang.
Ketika Andi lagi melaju di belakangnya Jupri, dari arah yang berlawanan, secara tidak di sengaja Andi melihat mobil Honda Brio warna merah melaju dengan kencang.
Andi tersontak kaget dan menghentikan laju kendara'annya.
"Mobil itu, gua ikuti gak ya?." Batin Andi bertanya sendiri.
Kemudian Jupri menoleh kebelakang nampak Andi lagi berhenti.
"Woi, ayo cepetan kenapa lo' berhenti." Panggil Jupri.
Andi pun lalu melajukan lagi motornya, dengan pikirannya masih pokus pada mobil Honda Brio tersebut.
Siapakah pengendara mobil Honda Brio itu, apakah orang yang Andi curigai selama ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To be continued
Jangan lupa like, comentar, saran, Rat, berikan Vote dan hadiah serta jadikan favorit bila suka.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, Salam sehat dan sukses selalu