
Panasnya terik cahaya matahari di siang itu, membuat Andi bermandikan keringat, apa lagi dalam gerakan jurus-jurus dasar Cimande, yang banyak menguras tenaga dan pikiran, membuat Andi semakin berambisi ingin belajar bela diri sampai pada titik paling sempurna.
Rasa pedih waktu andi di hina dan di injak harga dirinya membuat ia semakin berambisi ingin menguasai ilmu bela diri dari berbagai aliran.
Jaroni yang dengan telaten mengajarkan Andi ilmu bela diri warisan dari nenek moyang, hingga saat ini bela diri itu masih tetap di kembangkan dalam sebuah perguruan.
Tubuh jangkung yang masih ranum, tapi memiliki tulang yang sangat bagus, begitu gesit dan cermat dalam menyerap dan menangkap semua gerakan yang Jaroni ajarkan.
"Ayo nak Andi, sekarang tingkatkan gerakanmu supaya lebih cepat lagi." Teriak Toglo memberi semangat.
"Baik Pamaan." Jawab Andi sambil memainkan jurus-jurus yang telah Jaroni ajarkan.
Kulit yang putih bersih kini nampak terlihat mengkilap di basahi oleh cucuran keringat yang terus keluar dari pori-pori kulitnya Andi Nayaka.
Dari hari kehari berganti minggu dan bulan, setiap pulang dari sekolah di jam istirahatnya Toglo dan Jaroni, Andi selalu mengajak pergi ke bukit untuk mematangkan ilmu bela dirinya, apalagi dalam latihan ini Andi lagi mengasah ilmu bela diri dari Toglo, sebuah bela diri perpaduan antara silat Cimande, Tarung Derajat dan Karate yang berhasil Toglo kolaborasikan sehingga terciptalah sebuah jurus yang hebat dan mematikan.
Andi terus dengan gigih dan berambisi ingin menguasai bela diri itu, hampir tidak ada waktu yang terbuang oleh Andi demi tercapainya sebuah ke inginan.
Andi belajar ilmu bela diri bukan untuk kesombongan atau menjadi reader dari perkumpulan geng, melainkan hanya untuk membela diri di saat harga dirinya di injak-injak, dan keselamatannya lagi terancam begitu niat yang terlintas dalam hati Andi.
Pukul 12:50 Menit.
Toglo meminta pada Andi untuk menunda latihannya, guna di lanjutkan kembali besok siang, karena Jam masuk kerja yang tinggal sebentar lagi.
"Nak Andi, latihan hari ini cukup sampai sini dulu ya, karena Paman harus kerja." Ujar Toglo sambil menatap datar wajah Andi Nayaka.
"Iya Paman, aku pun mengerti, sekarang Paman Toglo dan Paman Jaroni berangkat duluan aja, soalnya waktu masuk kerja Paman tinggal sepuluh menit lagi, takutnya Ayah marah padaku." Timpal Andi sambil melangkah menghampiri Toglo dan Jaroni.
"Oke kalau begitu, Paman duluan ya, dan kamu jangan berlama-lama di sini, secepatnya kamu langsung pulang." Tutur Toglo sambil memburu pada motornya, yang di ikuti oleh Jaroni.
"Siaap Paman, aku mau meredakan dulu keringat." Tukas Andi.
Selepas itu Toglo dan Jaroni melajukan motornya menuruni bukit itu.
Sedangkan Andi masih duduk bersandar di balai-balai gubuk dengan di kipasi oleh angin sepoi-sepoi yang meniup terasa sejuk.
Huuuaaaamm..
__ADS_1
Beberapa kali Andi menguap, mungkin karena saking enaknya habis berkeringat di kipasi oleh semilir angin sepoi.
Sampai pada akhirnya Andi pun telah di kuasai oleh rasa ngantuk yang amat sangat, dan terbawa ke alam bawah sadar(mimpi).
Dalam mimpinya Andi melihat banyak darah dan kobaran api di sekitar rumahnya dan rumah kakeknya, di dalam mimpi itu Andi nampak sangat panik.
Lalu seorang kakek dan nenek bertubuh jangkung datang menghampiri Andi sambil berkata.
"Kenapa kamu diam saja, cepat kau padamkan api itu sebelum merembet kemana-mana." Tukas sang kakek.
"Aku bingung dan panik kek, bagaimana caranya memadamkan api yang semakin membesar itu." Jawab Andi.
"Masuklah kamu kedalam kobaran api itu, dan pakailah ini agar tubuhmu di lindungi dari panasnya api, terus kamu padamkan pakai kain goni yang di basahi terlebih dahulu." Ujar sang kakek sambil memberikan cincin perak bermata batu berwarna merah.
Andi pun lalu menghulurkan tangannya menerima cincin perak itu, kemudian di masukan ke jari kelingking tangan kiri.
Dan setelah itu Andi berlari sambil membawa kain Goni yang sudah di basahi dan masuk kedalam kobaran api tersebut.
Api yang berkobar itu anehnya tidak sampai membakar rumah, malahan tidak ada kayu satupun yang terbakar, Andi terus menutup api dengan kain goni basah sampai berulang ulang, dan anehnya Andi tidak merasakan panas sama sekali, sampai akhirnya kobaran api tersebut berhasil Andi padamkan.
Andi celingukan kesana kemari mencari keberadaan sang kakek dan sang nenek sambil berteriak memanggil.
"Kek kakek, nek nenek, dimana kalian, kakek......" Andi berteriak sampai terbawa ke alam nyata.
Blaaaakk
Tubuh Andi terjatuh dari balai-balau bambu gubuk itu.
Lalu Andi tersontak bangun sambil membelalakan kedua netranya.
"Astagpirullahal adzim ternyata ku bermimpi." Gerutu Andi sembari bangkit berdiri lalu duduk di balai-balai bambu.
"Kenapa hatiku jadi merasa tidak enak begini ya dengan mimpiku itu, pertanda apakah itu, mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk di keluargaku." Batin Andi.
Setelah badannya terasa tidak lagi lengket oleh keringat, lalu Andi mengmbil bajunya yang di gantungkan di tiang gubuk, begitu Andi mau memakaikan bajunya secara tidak di sengaja netranya melihat di jari kelingking tangan kirinya ada suatu benda yang melingkar bermata merah.
"Haaahhh...bukankah benda ini yang di berikan oleh kakek di mimpiku itu." Sontak Andi membulatkan kedua bola matanya, sungguh tidak masuk akal tapi nyata ada.
__ADS_1
Karena rasa tidak percayanya Andi pada apa yang telah di alaminya di mimpi yang kini nampak ada di alam nyata, beberapa kali Andi menepuk pipinya sendiri lalu mencubitnya, sampai andi berteiak kesakitan.
"Tapi aku masih merasakan sakit, berarti aku tidak lagi bermimpi, ko bis ya, sungguh aneh tapi nyata." Gerutu Andi bermonolog.
Lalu di pakainya baju yang tadi sempat tertunda oleh rasa ke tidak mengertiannya Andi, lalu di langkahkan kakinya menuju pada motor Yamaha Rx king yang terparkir di samping gubuk.
Andi melangkah menaiki motornya lalu di nyalakannya, setelah itu Motor pun melaju meninggalkan bukit itu, menuruni jalan kecil penuh kerikil dan berbatu.
Preng
prengpeng
Suara yang keluar dari selongsong kenalpot bersama'an dengan terhempasnya asap putih tipis menyusuri jalan menuju gang Si'iran.
Pukul 14:30 Menit
Andi telah sampai di depan rumah, lalu melangkah turun dari motornya dan berjalan memasuki ke dalam rumah, yang kebetulan pintu depannya tidak terkunci.
"Assalam mu'alaikum, Buk ibuk." Sapa Andi memanggil ibuknya.
"W alaikum salam, Ibuk lagi masak di dapur, ada apa kamu panggil ibuk." Jawab Sindi.
Andi pun langsung bergegas melangkah menuju ruang dapur menemui ibuknya.
"Ibuk masak apa?." Tanya Andi agak semringah mencium aroma masakan yang menggugah rasa laparnya.
"Ibuk masak kesukaan Ayahmu." Jawab Sindi.
"Asiiik, kesukaan Ayah kan kesukaan aku juga, ibuk memang ibuk yang pintar sekali memasak, pantes aja ayah gak pernah mau di ajak makan di luar, karena masakan ibuk memang is the best." Ujar Andi me muji.
"Iya dong ibukmu ini kan ibuk yang pintar bikin suami betah di rumah." Tukas Sindi.
"Yoo'iii, ibik gtu lho." Ujar Andi.
"Kamu mandi sana, badan kamu asem begitu." Perintah Sindi.
"Iya Buk." Jawab Andi sembari melangkah menuju kamar mandi, untuk membersihkan badannya dari bau keringat.
__ADS_1