Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 63 Seberkas cahaya


__ADS_3

Dalam remangnya cahaya lampu lima wt, malam itu Toglo lagi mengajarkan Ali membaca dan menghitung.


Begitu telatennya Toglo mengajarkan anaknya supaya bisa menjadi anak pintar, karena Toglo sadar akan dirinya yang cuma menginjak bangku sekolah dasar itupun tidak sampai tamat karena paktor biaya.


Hari demi hari berganti minggu, bulan dan tahun tidak terasa Ali sudah menginjak bangku sekolah dasar kelas dua.


Ali yang mempunyai badan tegap dan gempal persis kaya ayahnya, berdarah dingin tidak banyak bicara tapi selalu gesit dan telaten dalam.belajar maupun bekerja membantu ibuknya.


kesehariannya wulan setelah risen dari Pt Anggita Surya Mandiri.


Wulan selalu menanam sayuran, untuk menghilang kan rasa suntuknya.


Alhasil tanaman pun bagus, walaupun cuma pakai pupuk kompos tapi Alhamdulilah tanaman sayuran Wulan banyak yang memuji.


Siang itu Ali baru pulang dari sekolah lalu, setelah ali Makan dan solat dhuhur, Ali mengajak ibukny untuk pergi ke ladang.


"Buk ayo kita keladang Buk, aku pingin lihat tanaman kita." Ajak Ali pada Ibuknya.


"Iya nak, bentar ya Ibuk mau solat dulu." Tukas Wulan.


Ali pun cuma menganggukan kepalanya, lalu ia duduk di kursi sembari menengadahkan wajahnya ke atas langit-lagit rumah.


Entah apa yang mendorong Ali, mengajak ibuknya pergi ke ladang.


Padahal hari ini Wulan tidak ada niat untuk pergi ke ladang, berhubung kerja'an di rumah cukup padat, memasak untuk makan siangnya Toglo, karena setiap jam istirahat Toglo selalu pulang, dan menggosok pakaian.


Setelah Wulan selesai solat, ia langsung mengirimkan chat pada suaminya.


📱"Sayang ma'af ya, kamu makan di situ aja ya, karena Ali memaksaku untuk pergi keladang, sekali lagi ma'apkan istrimu ini."


Selang beberapa menit Toglopun membalas chatnya dari Wulan.


📱"Iya sayang tidak apa-apa ko, ya sudah turuti aja Ali, mungkin ia ingin melihat hasil tanamannya, biar anak kita bahagia dengan hasil tanamannya selama ini."


Lalu Wulanpun balik balas


📱"Iya sayang terima kasih, kamu hati-hati ya kerjanya."


Setelah itu wulanpun langsung menutup ponselnya, dan beranjak keluar kamar.


"E'eeh di kira ibuk kamu tidak ada." Ujar Wulan.


"Aku kan nunggu Ibuk selesai solat, ayo Buk kita ke ladang sekarang." Ajak Ali.


"Ayo sayang, ada apa sih, tidak biasanya kamu maksa Ibuk untuk ke ladang." Ujar Wulan.


"Ya aku pingin libat hasil tanaman itu." Tukas Ali.


Setelah itu Wulan dan Ali,bergegas keluar rumah, tidak lupa mengunci pintu.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri pematangan sawah, karena jarak tempuh menuju ladang cukuplah jauh, itupun garapan hasil sewa milik kelurahan yang boleh di garap oleh masyarakat.


Tidak lama kemudian Wulan dan Ali telah tiba di ladangnya, nampak tanaman cabe dan sayuran seperti sawi dan kacang panjang, sudah mulai mau berbuah.


Ali nampak semringah, sambil membelalakan kedua bola matanya.


"Woww, tanaman kita sangat bagus sekali ya Buk." Ujar Ali.


"Alhamdulilah nak, panen sekarang lumayan cukup bagus di banding bulan kemarin." Ujar Wulan.


"Iya Buk, ayah pasti senang kalau tau." Timpal Ali.


Kemudian Wulan dan Ali berjalan ke arah gubuk.


Lalu duduk sambil tak henti-hentinya terus memandang pada tanaman.


"Padahal ya buk Paman Wawan mending bertani aja, dari pada kerja, kan lumayan kalau hasilnya bagus." Ujar Ali.


"Kalau kerja kan sudah ketauan pendapatannya sayang, kalau tani kan tidak menentu, kadang hasilnya bagus, terkadang juga hasilnya jelek, yang akhirnya tidak kebalik modalnya, yang ada malah nombok." Timpal Wulan.


"Ya kitanya harus pandai Buk, bila perlu baca buku tentang pertanian dan tata cara bercocok tanam yang baik dan benar." Tukas Ali.


Wulan tersenyum mendengar usulan anaknya, seperti layaknya orang dewasa yang sudah menguasai bab bercocok tanam.


"Ali-Ali, mengolah tanah itu tidak semudah seperti yang di ucapkan atau yang di tuliskan di buku, pada kenyata'annya gampang-gampang susah." Ujar Wulan sambil mengelus rambut ali yang tebal.


"Kamu salah nak, manusia itu punya batasan dari kemampuan, dan tak luput dari kelemahannya juga, yang maha kuat, maha gagah dan maha perkasa, ialah Tuhan semesta alam." Tukas Wulan memberi petuah pada Ali.


"Iya Buk, aku seperti berada dalam naungan sebuah cahaya, ibuk, Ayah, Bibi dan Paman yang selalu memberikan lentera padaku." Ujar Ali.


"Ibuk juga bangga sama kamu sayang, walupun kamu masik Anak-anak, tapi pola pikirmu seperti orang dewasa, dan kamu sangat mengerti kesusahan orang tua." Ujar Wulan sembari memeluk tubuh Ali.


Bunga cabe nampak seperti tersenyum menyaksikan antara Ibuk dan anak yang begitu saling menyayangi.


Begitu pula daun-daun kacang seperti bertepuk-tepuk tertiup angin, memberi semangat pada Wulan dan Ali.


Tidak terasa waktu terus bergeser seiring dengan berputarnya jarum jam.


Pukul 14:30 menit.


Wulanpun mengajak Ali untuk pulang, karena wulan harus me masak mempersiapkan makan untuk suaminya pulang kerja.


"Ayo nak kita pulang, karena Ibuk harus segera memasak untuk makan Ayah nanti pulang kerja." Ajak Wulan.


"Iya Buk." Ujar Ali sembari menurunkan kakinya menginjak ke bumi.


Ali berjalan di depan, Wulan mengikutinya dari belakang.


Para petani yang lain, saling tegur sapa sama Ali dan Wulan.

__ADS_1


"Hai Ali, mau kemana kok buru-buru amat." Tegur sapa dari para petani.


"Iya Paman aku pulang, sebentar lagi Ayah pulang, Semuanya aku duluan ya." Tukas Ali yang terus melangkah kan kakinya.


Tidak lama kemudian Ali dan Wulan telah sampai di depan rumah.


"Alham dulilah akhirnya kita sampai juga nak." Ujar Wulan.


"Iya Buk, sebenarnya aku masih betah, nanti kalau ayah libur kita kumpul bareng sama Bibi dan Paman ya buk, sambil makan." Ujar Ali.


"Iya sayang, ibuk masuk dulu ya mau masak, bentar lagi ayahmu pulang." Ujar Wulan.


"Iya Buk, masak yang enak ya Buk." Tukas Ali.


Wulanpun tersenyum manis sambil menganggukan kepalanya, lalu tangan nya meraih kunci di saku celana.


Ceklek ceklek


Terdengar suara kunci terbuka, lalu Wulan memegang gagang pintu sambi di tarik kebawah dan di dorongnya.


Perlahan Wulang melangkahkan tungkai kakinya memasuki kedalam rumah.


Sementara Ali duduk di Bangku sambil memandang ke arah selatan.


Tiba-tiba ada seberkas cahaya berkelebat, Ali pun sampai terperanjat kaget.


"Apa'an tuh." Batin Ali sambil menoleh ke arah cahaya tersebut.


Lalu Ali bangkit dan memburu pada cahaya tersebut yang nampak berkilauan di bawah sebuah pohon rambutan.


Dengan sangat hati-hati sekali Ali melangkah, mendekati cahaya yang terus berkedip-kedip menyilaukan pandangan.


Setelah Ali mendekati pada letaknya cahaya tersebut, tiba-tiba sirna.


Ali terbelalak kaget ketika yang ia lihatnya hanya sebuah golok dengan panjang tiga puluh cm, dengan gagangnya membentuk kepala burung kakak tua.


"Hah golok, lalu cahaya tadi kemana." Gerutu Ali.


Lalu Ali membalikan badannya, berniat mau kembali ke rumahnya.


Tapi tiba-tiba langkah Ali terhenti ketika ada suara tanpak wujud bergeming jelas di telinga Ali.


"Ali cucuku, ambilah golok itu, barang kali nanti bisa berguna untukmu."


"Anda siapa, kenapa anda bisa tau namaku?." Tanya Ali.


"Aku adalah leluhurmu." Ujar suara itu lalu menghilang.


Kemudian Ali kembali ke tempat di mana golok itu berada, dan di ambilnya golok tersebut.

__ADS_1


__ADS_2