
Setelah itu Vina pun pamit pada Andi dan Konta, karena buru-buru, harus secepatnya sampai Rumah sakit.
Sedangkan Andi dan Konta pun langsung pulang, Sementara Rangga yang cukup lama pinsan.
Kini sudah nampak terlihat sadar, perlahan Membuka kedua netranya, lalu mengangkat tubuhnya sambil meringis, merasakan seluruh tubuhnya yang sakit.
"Kurang ajar, ternyata wanita arogan itu mempunyai tingkat bela diri yang hebat, awas lo' Vina, akan ku balas semua ini, akan ku pastikan keluargamu mendeeita." Gerutu Rangga bermonolog.
Kemudian Rangga bangkit berdiri dan melangkah terhuyung menuju pada mobilnya.
Setelah Rangga berada di dalam mobil, iapun langsung menyalakan mobil, dan melaju dengan kencang.
Api dendam yang kini Rangga bawa, selama Rangga mengendarai mobil, ia berpikir bagai mana caranya untuk membalaskan dendamnya pada Vina dan keluarganya.
"Pokoknya lo' dan keluarga lo' harus mampus, tapi sebelum elo' gue lenyapkan, gue harus mencicipi dulu tubuh elo' Vina, hahaha." Ujar Rangga bermonolog sambil tertawa bahagia.
Langkah apakah yang akan Rangga jalan kan, untuk membalaskan dendamnya pada Vina dan kedua orang tuanya.
Rangga langsung mengambil ponselnya dan menelpon pada orang kepercaya'annya.
📞.Rangga "Halo Mus, elo cari pembunuh bayaran di kota ini, yang biasanya menjalankan misinya dengan cepat."
📞.Mustapa "Sekarang Bos?."
📞.Rangga "Ya iya sekarang."
📞.Mustapa "Oke siap Bos, detik ini juga saya akan On the way.
📞.Rangga "Bagus, nanti kalau sudah dapat kabari saya."
📞.Mustapa "Siap Bos."
Rangga pun langsung menutup kembali ponselnya, dan terus melaju menuju rumahnya.
Setiba di depan rumah Rangga memijit tombol klason.
Tid tidid.
seorang lelaki berbadan gemuk langsung membuka pintu gerbang, mobil yang Rangga kemudi langsung masuk menuju garasi.
"Selamat malam tuan." Sapa lelaki gemuk, yang tidak lain adalah tukang kebun yang biasa mengurus tanaman dan menyiram bunga.
"Malam juga Paman." Jawab Rangga sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Setiba di dalam rumah, se orang wanita berambut panjang tingi semampai, keluar dari kamar menyambut kepulangannya Rangga.
"Sayang ko kamu pulangnya malam, lha itu mukanya kenapa?." Tanya wanita itu yang tak lain istrinya Rangga (Kentari).
"Aku abis berantem sayang." Tukas Rangga.
__ADS_1
"Sama preman?." Tanya Kentari.
"Bukan." Jawab Rangga.
"Lalu sama siapa?." Lanjut Kentari bertanya.
"Sama Vina, mantan istriku itu." Ujar Rangga.
"Apa.... Sama Vina, masa hanya dengan se orang Vina saja kamu sampai babak belur begitu, gimana ceritanya." Dontak Kentari tidak percaya.
"Ternyata Vina itu, jago berantem sayang, ilmu bela dirinya begitu hebat, sampai-sampai aku di buat babak belur begini." Ujar Rangga.
Kemudian Kentari melangkah ke ruangan tempat menyimpan obat-obatan dan meminta pada si Bibi pembantu rumah tangganya untuk membawa air hangat buat mengompres mukanya Rangga yang lebam.
Rangga duduk di sopa sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sopa.
Kentari dengan telatennya mengompres mukanya Rangga yang nampak lebam dengan air hangat.
"Kamu ini gaman sih sayang kok bisa-bisanya sampai berantem sama Vina, gimana ceritanya." Tikas Kentari.
Kemudian Rangga menceritakan awal mulanya ia sampai berkrlahi sama Vina.
"Nah begitu ceritanya, di kira aku pak pajar yang bawa mobil itu, ternyata Vina yang lagi duduk di trotoar menunggu si Andi brengsek itu." Ungkap Rangga.
"Makanya sayang jangan cari masalah terus, yang sudah berlalu ya sudah jangan terus-terusan mendendam, karena akan merugikan kamu sendiri." Ujar Kentari menasehati.
Rangga pura-pura baik di depan istrinya, padahal Rangga sedang merencanakan masalah baru lagi yang masih menyangkut tentang Vina.
Kini malam pun semakin larut, Rangga dan kentari langsung memasuki kamarnya.
Setelah Rangga meminum obat yang di berikan oleh Kentari, ia nampak tertidur nyenyak sekali.
Skip
....................
Sementara di tempat lain.
Andi dan Konta nampak masih belum tidur, mereka masih asik ngobrol ngaler ngidul, sambil bersenda gurau.
Kepulan asap putih hasil dari pembakaran sebatang roko yang di hisap oleh Andii dan Konta, menyatu bersama kabut yang sudah mulai menyelimuti jantung kota.
Si Gery yang sudah tertidur lelap dalam kerangkeng, mendadak bangkit sambil mengeluarkan gongongannya.
Andi dan Konta kaget, kenapa tiba-tiba si Gery bangun dan menggonggong begitu keras.
"Huus, diam kau Gery, berisik tau." Tegur Konta.
Tapi si Gery terus menggonggong sambil mentap tajam ke arah luar sana.
__ADS_1
Andi yang instingnya lebih tau bila si Gery mendadak terbangun dan terus mengonghong, berarti si Gery telah mencium sesuatu.
"Si Gery itu memberi tahu kita dek." Ujar Andi.
"Memberi tau apa sih Bang?." Tanya konta belum paham.
"Si Gery mempunyai insting dan naluri yang sangat tajam, walaupun dalam ke ada'an tertidur si Gery akan bangun, bila menangkap sesuatu di luar nalar kita."Jelasnya Andi.
"Maksud abang ada aura gaib gitu." Tukas Konta.
"Iya seperti itu." Jawab Andi.
"Waduuh jadi merinding nih gua." Ujar Konta.sambil meraba bulu kuduknya.
Malam yang mencekam yang terasa mencekam, di tambah angin bertiup begitu dingin, membuat Konta kulit wajah konta kian menebal.
"Wah malam ini terasa menyeramkan Bang, kita masuk aja kedalam." Ajak Konta.
"Iih penakut lo', tenang aja sih, mahluk astral itu selalu hidup berdampingan dengan kita, cuma kita nya aja yang tidak bisa melihat dengan mata telanjang." Ujar Andi memberi wawasan pada Konta.
"Masa sih bang, berarti sekarang juga ada dong dekat kita, iiih serem." Ujar Konta.
"Jangan terlalu penakut, penakut itu adalah penyakit, nih gua kasih tau, semakin kita takut, makhluk astral malah semakin dekat sama kita." Jelas Andi.
"Gua takut sama yang namanya goib, mendingan gua menghadapi sepuluh preman." Ujar Konta.
Andi tersenyum tipis, sambil menatap datar wajah Konta yang nampak pucat pasi.
Lalu Andi beranjak dari tempat duduknya mengajak konta untuk masuk.
"Ya sudah ayo kita tidur." Ajak Andi.
Kontapun langsung berjalan mendahului Andi masuk ke dalam rumah.
Andi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, ternyata Konta di pemuda tengil dan pemberani, penakut juga dengan hal-hal yang berbau mistis.
"Woi emang mau tidur sekarang." Ujar Andi.
"Iya." Jawab Konta singkat.
"Emang elo' yakin akan bisa tidur?." Tanya Andi.
"Gak tau." Jawab Konta.
"Ya dudah kita ngobrol aja dulu di sini sambil melihat acar televisi, biasanya jam segii banyak film-film keren." Ujar Andi sambil menurunkan bokongnya duduk di sopa.
Kemudian Andi meraih sebuah remot di atas meja untuk menyalakan Televisi.
Sementara Konta pergi ke ruang dapur untuk mengambil makanan cemilan di kulkas, dan air putih di sebuah poci.
__ADS_1
Malam semakin larut, seisi rumah di kawasan Gang Si'iran sudah terlelap dalam tidurnya.