Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 112 salam olah raga


__ADS_3

Ke enam kawanan Victor berlari saling mendahului dan saling bertubrukan satu sama lainnya, karena semakin kuatnya rasa takut menyelimuti hati dn jiwanya.


Sehingga penampakan pun terus-terusan membayang-bayangi di jiwa mereka.


Saking tidak kuatnya mengendalikan rasa takut di hati, Akhirnya ke enam kawanan Victor sampai jatuh pinsan bersama'an dengan mengalirnya air pancuran membasahi celana jens nya.


Tampang memang pada sangar dan menakutkan tetapi ketika di hadapkan pada sosok makhluk astral, mereka semua tidak mampu menyingkirkan rasa takut yang telah menghantuinya.


Semua tergeletak tidak beraturan, ada yang kepalanya nyender di batu nisan dan ada pula yang tengkurap sambil memeluk kuburan yang nampak masih tanah merah.


Skip


..........................


Sementara di tempat lain.


Bendi yang di tugaskan untuk mencari keberada'annya Erik.


Masih berputar-putar di sekitar Jalan Angkasa satu, yang mengarah pada Jalan kabupaten.


Kemudian mereka berhenti, lalu satu persatu mengeluarkan roko, di bakarnya terus di hisap dan di hembuskan asap putih dari dalam mulutnya, begitu dan begitu sampai mereka menghabiskan roko sebatang.


"Sekarang gimana selanjutnya, apa kita terus mencari atau kita kembali ke markas." Celetuk dari salah satu mereka.


"Kita istirahat aja dulu di sini, Sambil menikmati suasana malam ini." Tukas Bendi.


"Kurang lengkap rasanya, bila tidak di barengi dengan sebotol Whisky." Usulnya.


"Iya betul."


"Betul juga ya." Tukas Bendi.


Di sa'at mereka mau melanjutkan pencariannya, dari sebrang jalan jalur kanan melintas kendara'an roda dua dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sontak saja mereka kaget, dan langsung bergegas menyalakan motornya.


"Bangsat, ayo kita kejar." Hardiknya.


Setelah sepeda motornya di nyalakan, mereka pun langsung tarik gas mengejar salah seorang pengendara roda dua yang melaju dengan kencangnya.


Jalanan pun sudah sangat sepi, lalu lalang kendara'an pun sudah tidak nampak lagi, hanya kawanan berandal Victor saja yang lagi melaju kencang kejar-kejaran.


Sieeng siieeng...


"Wooii berhenti bangsat." Teriak Bendi.


Namun di pengendara motor itu tidak menghiraukan teriakan dari Bendi dan kawanannya, ia terus menaikan speednya lebih kencang lagi.


Sehingga Bendi dan kawan-kawan kehilangan jejaknya.


Kemudian mereka menurunkan laju sepeda motornya dan memberi komando pada yang lainnya untuk berhenti.


"Kurang ajar, hebat juga orang itu, sampai tidak ke kejar, siapa orang yang sudah berani unjuk gigi pada kita." Cetus Bendi.


"Mungkinkah orang itu yang tempo itu bertarung sama kita." Celotehnya.

__ADS_1


"Temannya si Andi maksud lo'?." Tanya Bendi.


"Iya mungkin, Soalnya motornya sama Rx king." Ujarnya.


"Bisa jadi, waduuh kenapa tadi tidak kita kejar aja ya, sial pencarian kita akhirnya gatot." Tukas Bendi.


Setelah itu mereka terperanjat kaget, ketika mendengar suara orang di belakangnya.


"Orang yang kalian cari sudah ada di belakang kalian." Cetus suara misterius.


Kemudian Bendi dan kawanannya langsung membalikan badannya.


Mereka terbelalak membulatkan bola matanya, nampak terlihat Empat pria lagi berdiri sambil memeluk dadanya tersenyum mengejek.


Bendi dan kawanannya saling pandang, seperti meminta pendapat, ternyata ke empat orang yang berdiri itu adalah orang yang sedang di carinya.


"Benarkah mereka itu Andi, Abeng, dan temannya itu, lalu siapa orang yang satunya lagi." Bisik Bendi pada Rekannya.


"Terus bagaimana kita sekarang, waktu itu juga jumlah kita banyak, kita tidak berdaya di buatnya, apalagi mereka jadi tambah empat." Sahut salah satu rekannya yang sudah kena mental.


Ke empat pria itu tak lain adalah Andi, Abeng, Erik dan Konta, karena semenjak Abeng terbebas dari kejaran kawanannya Victor, Abeng langsung menghubungi, Andi dan Erik, sedangkan Konta sendiri yang sebelumnya lagi bersama Andi, hatinya terketuk ingin membantu abangnya yang lagi di landa masalah.


"Heh, kenapa kalian pada diam sih, bukan kah kalian tadi sangat ngotot." Cibir Andi.


"Hahahaha, jangan dulu berbangga hati Andi, waktu itu bolehlah kita tidak berdaya menghadapi kalian, tapi sekarang kalian yang akan di buat tidak berdaya." Cibir Bendi se akan mrmberi semangat pada rekannya.


"Bagus, itu baru namanya preman, lalu yang lainnya pada kemana, kalau cuma kecoa yang menjadi lawan gua, mendingan gua pulang aja deh." Ejek Andi.


"Bangsat, sombong sekali kau." Bentak Bendi.


"Hebat-hebat, sekarang kawanan tikus got sudah meruncingkan taringnya." Cibir Andi.


Bendi dan kawanannya kini mulai Bangkit amarahnya, dan menyerukan pada rekannya untuk melakukan serangan.


Pertarungan pun tidak bisa di hindari, Bendi dan rekannya langsung melompat sambil melancarkan Pukulan dan tendangannya.


Andi, Abeng, Erik dan Konta langsung menyambut serangan mereka.


Konta yang darahnya masih menfidih darah muda di tunjang dengan Bela diri yang ia pelajari dari Toglo dan Jaroni, begitu brutal dan bringas.


Gerakan Konta begitu agresip dan mematikan, di dalam tubuhnya Konta telah mengalir darah Kamal dan Astuti yang sama-sama sableng.


Konta melompat sambil berteriak.


"Heeeaaa, modar kau bangsat."


Buk buk


Pukulan beruntun Konta telah mendarat dengan mulus.


Auugh..


Lawannya Konta terjatuh, tapi tidak menunggu lama lagi, langsung bergegas bangun, dan membangun kuda-kuda untuk menyerang kembali.


Konta yang tabiatnya mewarisi sipat kamal, agak slengean, langsung menantang lawannya.

__ADS_1


"Oh kuat juga daya tahan tubuhmu Bang, ayo maju serang gua." Tantang Konta.


"Bangsat jangan jumawa kau." Bentaknya sambil melompat menerjang Konta dengan meluncurkan bogemnya mengarah pada wajah.


Konta dengan replek mengkaper serangan lawannya dengan tangan kiri, sambil menggeser kaki kirinya kesamping, dan di sa'at itu pula elbonya konta langsung menusuk tulang rahang lawan.


Deeasss...


Jergjeg...


Lawan Konta terhuyung hilang keseimbangannya, melihat situasi begitu Konta tidak memberi ruang gerak pada lawannya, dengan cepat Konta melompat meluncurkan pukulannya.


Buk


Buk


Buk


Tiga Bogem mentah konta telah bersarang di wajah dan di ulu hati lawan.


Blaak..


Lawannya Konta kini tidak bisa lagi menahan keseimbangan, tubuhnya melayang dan jatuh tersungkur menimpa beton pembatas trotoar.


Sementara Andi, Abeng dan Erik bergerak sangat cepat dalam menjatuhkan lawannya, Bendi yang merupakan perwakilan dari Victor kini tidak bisa berdaya di buatnya, dalam menghadapi serangan-serangan Andi.


Begitu pula kawanannya, hanya mampu bertahan dalam beberapa jurus saja, dalam menghadapi amukan dari Erik dan Abeng.


Baru saja mereka sembuh dari lukanya, kini harus mengalami lagi luka yang amat parah.


Ke enam kawanan Victor kini telah terkapar di pinggiran trotoar, dengan luka lebam di setiap wajahnya.


Andi yang merasa jenkel dengan ulah mereka, berjalan menghampiri Bendi yang lagi meraung kesakitan, merasakan Sakit di tulang hidungnya yang remuk di tambah darah yang terus ngocor dari kedua lubang hidungnya.


Kemudian kedua tangan Andi menjambah kerah jaketnya Bendi, lalu di angkat.


"Heh kecoa, elo dan kawananmu itu tidak ada kapok-kapoknya ya, mau sampai kapan kalian memusuhi gua." Bentak Andi sambil menggigit giginya sendiri saking kesalnya pada mereka.


"Aa am aampun Bang." Tukas Bendi dengan tubuhnya gemetaran.


Lalu Konta melangkah mendekati Andi dan berkata.


"Orang seperti ini gak akan ada kapoknya Bang, sebelum nyawanya lepas dari badan." Celoteh Konta menakut-nakuti Bendi.


Mendengar ucapannya Konta, wajah Bendi berubah menjadi pucat pasi, dengan kedua bibirnya bergetar.


"Elo' dengar kan apa kata adik gua." Ujar Andi.


"Ii ii iiya denger Bang, aa a a aampun bang." Melas Bendi sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oke gua ampuni lo' asal elo dan kalian semua mau bertobat kembali ke jalan yang benar." Ujar Andi sambil menujuk pada ke lima anak buahnya Bendi.


"Lalu bagaiman nasib saya nanti di tangan Bang Victor." Tukas Bendi.


"Ternyata elo lebih takut sama si Victor ketimbang takut sama Tuhan, bilangin sama si Victor, gua tantang duel, mau pilih di Ring atau di alam terbuka." Ujar Andi kesal, sambil melepaskan cengkraman kerah jaketnya Bendi sembari di dorong.

__ADS_1


Tubuh Bendi langsung terhempas jatuh menimpa pinggiran jalan.


__ADS_2