Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 113 .........


__ADS_3

Setelah itu Andi, Abeng, Erik dan Konta meluncur dengan sepeda motor Rx kingnya meninggalkan Ke enam kawanan Victor yang masih tergeletak kesakitan oleh luka-luka yang ia alaminya.


Satu jam kemudian.


Bendi dan kawanannya mulai bangun terhuyung -huyung, memburu pada kendara'annya.


"Sial kita kalah lagi." Ujar Bendi.


"Gue bilang juga apa, waktu itu jumlah kita dua belas, kita tidak mampu mengungguli Andi yang cuma bertiga, apalagi sekarang kita cuma ber'enam sedang jumlah Andi bertambah jadi empat, masih untung kita tidak di jadikan perkedel." Tukas salah satu dari mereka.


"Setidaknya kita sudah melakukan perlawanan, cukup untuk bukti pada Bang Victor bahwa kita tidak mampu mengalahkan mereka." Tukas Bendi.


"Sekarang langkah selanjutnya gimana?."


"Kita kembali aja ke markas, badan gue terasa remuk nih." Timpal Bendi.


Bendi dan kawan-kawan langsung melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat itu.


Malam pun semakin larut, suasana di jalan pun sudah nampak sepi sekali.


..................


Sementara di tempat lain.


Ke enam anggoa Victor yang lainnya, yang waktu itu tersesat di kuburan, nampak masih tergeletak pinsan.


Pukul 04:25 menit.


Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok dari sebuah perkampungan yang tidak jauh dari kuburan tersebut.


Ke enam kawanan Geng Victor, nampak sudah menggerakan tubuhnya.


Perlahan-lahan mereka mulai membukakan netranya.


Sontak saja mereka kaget ketika netranya menatap kebawah, ternyata yang mereka tiduri semalaman adalah sebuah kuburan.


Mereka langsung terperanjat.


"Jadi semalam kita tertidur di sini." Sontaknya.


"Iiih serem, ayo kita tinggalkan tempat ini."


"Lha motor kita di mana?." Ujar nya kaget, dan tidak menyadari bahwa motornya di tinggal begitu saja di bawah pohon kamboja dekat kuburan tua.


"Oh iya, gue ingat waktu itu kita berlari meninggalkan motor kita." Sahut salah satunya.


"Ayo kita kesana."


"Gue takut ah."


"Dasar lo', ini sudah pagi tau, katanya jin, Kunti lanak dan sejenisnya tidak akan nampak bila hari sudah mulai terang." Ujarnya.


Setelah itu mereka pun memberanikan diri berjalan memburu pada kendara'annya yang semalam mereka tinggalkan.


Pukul 05:30 menit.

__ADS_1


Cahaya di angkasa sudah nampak terlihat, mereka pun sudah mulai menyalakan sepeda motornya untuk keluar dari area kuburan.


Singkat cerita.


Mereka telah melaju beriringan di jalan raya menuju ke markasnya.


Skip


.........


Se iring dengan berputarnya jarum jam yang menempel di dinding pos jaga tempat Jaroni.


Di sebuah bangku besi, dengan Empat gelas kopi hitam telah terdampar di atas meja, kepulan asapnya yang memancarkan aroma mewangi menggugah selera.


Ke empat pemuda secara bersama'an meraih gelas kopi tersebut.


Seruupuutt..


Suara seripitan terdengar jelas.


"Aaah nikmat benar kopi pagi ini." Celoteh Pemuda bertubuh gempal dan berambut ikal.


Andi lalu mengeluarkan sebungkus roko Gudang Garam Filter.


Kemudian di ambilnya satu batang, dan di bakar ujung roko tersebut.


Desah napas bersama'an dengan menghembusnya asap putih keluar dari mulutnya Andi.


"Sebelum kita sampai kesini, semalam katanya ada beberpa orang yang mencuriga kan." Celetuk Andi.


"Apa mungkin orang yang sama, suruhan Victor." Sahut Abeng.


"Kalau memang itu orang-orang Victor, ko gak ada kapok-kapoknya tu orang." Timpal Erik.


"Orang macam Victor, gak akan ada kapok sebelumnya dendamnya terbalaskan." Ujar Andi.


Pukul 07:00


Erik dan Abeng undur dari hadapan Andi untuk pulang ke rumah.


Sementara Andi masih duduk di temani oleh Konta.


"Oh iya Bang, orang-orang yang menjadi lawan kita semalam musuh abang waktu SMA itu bukan?." Tanya Konta.


"Bukan Dek, pimpinan mereka musuh abang waktu di dalam penjara." Jawab Andi.


"Ooh gitu, memangnya di penjara sering terjadi perkelahian?." Ujar Konta lanjut bertanya.


"Penjara itu tempat berkumpulnya orang-orang jahat, dari berbagai macam kasus." Jawab Andi.


"Ber'arti abang juga termasuk orang jahat dong." celetuk Konta dengan polosnya.


"Ya bisa juga di bilang begitu, namanya membunuh kan sudah menghilangkan nyawa orang, dan itu sudah jahat menurut hukum dan agama pun tidak boleh." Ungkap Andi.


Konta manggut-manggut pertanda mengerti dengan ujarannya Andi.

__ADS_1


Andi tersenyum tipis ketika konta berkata tentang dirinya, sambil mengingat ke masa itu, di mana dirinya sampai gelap mata, karena di liputi oleh sebuah dendam.


Ketika itu pula Anggita dan Sindi muncul di balik pintu gerbang, baru pulang dari pasar membeli sayuran.


"Ibuk dan teh Anggita abis dari mana?." Tanya Konta.


"Dari pasar nak, beli sayur buat sarapan pagi ini gak ada apa-apa, kebetulan stock di kulkas abis." Jawab Sindi.


Bersama'an dengan munculnya Sindi dan Anggita, nampak Rara dan kedua rekannya berjalan melintas di depan gerbang.


"Stt sst, Bang itu tuuh..." Bisik Konta sambil memberi isyarat.


"Apa sih lo'?." Tanya Andi.


"Ya elah, suka pura-pura aja sih bang, itu tuh pacar Abang ." Ujar Konta sambil memberi isarat dengan membalikan mukanya.


Andi pun lalu menolehkan pandangannya ke arah luar depan gerbang.


"Oh Rara maksud lo'?." Andi balik bertanya.


"Iya, terus siapa gitu, wah gua jadi tanda tanya nih jangan-jangan pacar abang banyak." Sahut Konta.


"Huss, ngaco lo', gua bukan tipe cowo kaya gitu." Tukas Andi.


Lalu Andi menyapa pada Rara dan dua temannya yang lagi melintas di depan gerbang.


"Hai Ra, Mita, Alya sini ngopi dulu, mau pada kemana kalian?." Tanya Andi.


Rara, Mita dan Alya pun langsung berhenti dan menolehkan pandangannya pada pusat suara yang menyapanya.


"Eh Pak Andi, iya pak terima kasih, kami mau kedepan cari buat sarapan." Jawab Rara.


"Sarapan sini aja sih." Tawar Andi.


"Terima kasih pak, sambil jalan-jalan aja, itung-itung olah raga pak." Timpal Mita.


"Oh ya sudah, kalian hati-hati." Ujar Andi.


"Iya pak, makasih." Serempak menjawab.


Rara melirikan pandangan pada Andi sambil melemparkan senyum manisnya.


Andi pun mebalas senyumnya Rara dengan tatapan yang seperti menembus hati dan jiwanya Rara.


Ketika Andi dan Rara saling pandang, konta yang sedari tadi terus memperhatikan Andi, ia tersenyum dan berkata.


"Ciee, cieee yang saling bertatap begitu intens sekali, cihuuuyyy." Ejek Konta.


Andi langsung mengalihkan pandangan nya pada gelas kopi di meja, perlahan tangan kanannya meraih gelas tersebut utuk di minum.


"Apa'an sih dek, berisik tau." Tukas Andi sambil mendarat gelas kopi di meja.


"Hehe, iya ma'af." Sahut Konta sembari tersenyum tipis.


"Oh iya dek, nanti kita jalan-jalan yu." Tawar Andi.

__ADS_1


"Ah males, abang kan sama Mbak Rara, nanti gua cuma jadi kambing conge." Ujar Konta.


"Haha, iya kagak dek, gua mau sekalian mau berkunjung ke tempat relasi busnis gua." Tukas Andi.


__ADS_2