Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 149 Tanah kuburan.


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu, se iring dengan berputarnya roda kehidupan.


Suasana kehidupan di kota kembang, kini telah berkembang pesat.


Penduduk pun semakin padat, karena banyaknya para pelancong dari manca negara atau dalam negri yang datang ke kota itu, ada yang sekedar berkunjung menikmati ke indahan panorama alam di wilayah kota kembang.


Dan ada pula yang menetap membuka usaha bisnisnya.


Di era globalisasi, persaingan usaha bisnis, dari yang kecil-kecilan hingga ke perusaha'an bonavid, semakin bertambah pesat.


Padatnya kendara'an di arus jalan, dari hari ke hari semakin terasa sesak di pusat jantung kota, mungkin karena perkembangan jaman yang semakin meningkat sehingga kebutuhan manusia dalam dunia otomotip semakin banyak bertambah.


Buktinya di setiap rumah-rumah penduduk dari kaum menengah ke atas selalu terparkir kendara'annya lebih dari satu.


Makanya tidak heran, hampir di seluruh wilayah negri, jalanan selalu macet, padahal pembangunan jalan pun terus di perluas setiap tahunnya, dari jalan alternatip hingga ke jalan bebas hambatan.


Seperti halnya yang lagi di alami oleh Andi dan Konta, yang lagi melakukan perjalanan menuju jalan ketupat, memenuhi perminta'annya Gito, karena bengkel yang di kelola di jalan ketupat, di dua bulan terakhir mulai sepi pengunjung.


"Waduuh macaetnya parah banget nih." Ujar Andi.


"Ada apa ya, ko di jam segini bisa macet, padahal ini jam kerja para buruh ko bisa macet." Tukas Konta.


"Nanti di depan kita masuk jalan perkampungan aja dek." Ujar Andi.


"Oke Bang."


Andi dan Konta terus kemudi kendara'annya mencari celah yang kosong.


Demi memperlancar perjalanannya, lalu Andi dan Konta berbelok memasuki jalanan perkampungan.


Walau jalan kecil dan satu arah, di tambah lebih memutar, bagi Andi dan Konta jauh lebih baik dari pada terus-terusan harus melawan arus jalan yang macet.


"Abang tau jalan ini tembusnya ke mana?." Tanya Konta sembari terus mengemudi kendara'annya di belakang mengikuti Andi.


"Ya tau,, kalau gak tau gak mungkin abang melewati jalan perkampungan ini." Jawab Andi.


Walau jalan yang di laluinya cukuplah jauh dan memutar, akhirnya Andi dan Konta telah masuk ke jalan ketupat, hanya tinggal beberapa meter lagi Andi dan Konta akan segera sampai.


Tidak lama kemudian.


Andi dan Konta sudah sampai di depan bengkel.


Lalu keduanya melangkah turun dari motor, dan berjalan menghampiri Gito yang lagi duduk menunggu.

__ADS_1


"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi dan Konta.


Gito pun langsung menoleh ke arah pusat suara dan berkata.


"Wa alaikum salam, wah ko lama sih An, dan ini anaknya Astuti." Tunjuk Gito pada Konta.


Konta pun langsung menjawab.


"Iya Om, kenalkan nama ku Konta Lugina, panggil aja Konta." Tukas Konta yang selalu tersenyum.


"Wah sudah besar sekarang, kalau di perhati'in kamu mirip sekali sama bapakmu." Ujar Gito.


Kemudian Gito mempersilahkan pada Andi dan Konta untuk duduk.


"Ayo dudu-duduk." Ujar Gito.


"Iya terima kasih Om." Tukas Konta sembari menurunkan bokongnya duduk di kursi plastik.


"Pekerja Om yang tiga orang, sudah berapa hari gak masuk?." Tanya Andi.


"Mereka sudah seminggu absen, karena Om yang minta mereka libur dulu, soalnya para pengunjung juga sepi paling sehari ada lima, paling banyak sepuluh orang." Jelas Gito.


"Ko bisa Om, apa kinerjanya kurang bagus atau ada paktor lain?." Lanjut Andi bertanya.


"Sepertinya ada yang tidak beres nih, bentar om batin saya mengatakan ada sesuatu di sini." Ujar Andi sambil memejamkan matanya memohon pada sang pencipta agar di beri petunjuk.


Sepertinya ke inginan Andi telah di dengar oleh yang maha kuasa, Melalui bisikan yang selalu datang bila Andi lagi dalam kebingungan.


"Cucuku kamu berjalan lima langkah ke depan pas di pintu ruang oprasional ada sesuatu yang tertanam." Begitu bisikan gaib yang bergeming di telinga Andi.


Andi pun langsung beranjak dari tempat duduknya, di langkah kan kaki lima langkah, sesuai dari petunjuk yang berbisik.


Ketika tepat lima langkah Andi berjalan, ia berhenti sambil menatap turun kebawah lalu membagikan pandangannya ke sekitar tempat itu.


Sontak saja Andi di kejutkan dengan sesuatu yang mencurigakan ada pecahan plesteran yang di sambung.


"Aneh sepertinya itu campuran pasir dan semen kaya belum lama, sementara yang lainnya nampk hitam bekas oli." Batin Andi.


Gito dan Konta yang terus memperhatikan Andi, lalu beranjak dari kursi tempat duduknya dan berjalan menghampiri Andi sambil bertanya.


"Ada apa An?." Tanya Gito.


"Coba Paman perhatikan, itu plesteran seperti baru deh, apa itu paman yang tambal apa gimana?." Tanya Andi sambil menunjuk ke arah plesteran yang nampak belum lama.

__ADS_1


"Tidak ko Om tidak merasa tambal, lagi pula plesteran nya gak kenapa-napa." Jawab Gito.


Kemudian Andi mengambil palu dan sepotong besi yang biasa di pakai untuk mencongkel ban.


"Untuk apa itu An?." Tanya Gito.


"Aku curiga om, di balik plesteran ini yang nampak masih baru." Jawab Andi.


Lalu Andi menurunkan tubuhnya dalam posisi jongkok sambil mengucap kan kata.


Bismillahi roman nirohim.


Kemudian di boboknya plesteran tersebut, hingga sedalam dua puluh centi meter.


Andi, gito dan Konta terkejut ketika yang di lihatnya, buntelan kain putih.


"Astag firullah hal adzim." Serempak mengucapkan istigfar.


"Nih ini Paman penyakitnya, aku yakin ada orang yang sudah mendzolimi bengkel kita, dek tolong ambilkan kantong plastik." Pinta Andi pada Konta.


"Baik Bang."


Setelah konta memberikan kantong plastik, Andi lalu memasukan buntelan kain putih tersebut kedam kantong plastik tersebut tanpa di sentuh oleh tangan, melainkan pakai alat bantu besi conkelan.


"Siapa orangnya yang telah berbuat hina ini, kurang aja." Geram Gito.


"Tenang saja Om, kita pasrahkan aja pada yang kuasa, kita doakan saja semoga di sadarkan dari kekeliruannya." Ujar Andi dengan bijaksana.


"Lalu mau di apain barang itu Bang?." Pungkas Konta bertanya.


"Gua akan bawa pada paman Toglo, karena paman Toglo lebih mengerti dengan hal yang berbau mistic." Jawab Andi.


Setelah mendapat sebuah benda yang di bungkus oleh kain putih, Andi pun langsung pamit pada Gito untuk membawa buntelan tersebut pada Toglo.


"Ma'af Om, aku harus menyerahkan dulu buntelan ini pada Toglo, karena kalau tidak buru- buru di bawa takut ada epek jahatnya pada kita." Ujar Andi.


Gito pun mengerti, biarpun ia masih ingin Andi lebih lama lagi.


"Iya An gak apa-apa, masih banyak waktu ko untuk kita ngobrol lagi." Tukas Gito.


Setelah itu Andi langsung memburu pada kendara'annya.


Andi langsung melangkah naik pada motornya, kemudan di nyalakan

__ADS_1


__ADS_2