Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 157 Ada Pelangi di matamu


__ADS_3

Tidak terasa hari pun kini telah memasuki dore hari.


Andi dan Anggita pun langsung berpamitan pada Bela dan Brian untuk pulang.


"Hari sudah sore nih, ma'af Bel, kak Brian Aku pamit pulang dulu, makasih atas jamuannya yang sangat istimewa." Ujar Anggita sambil berpelukan dengan Bela Puspita.


"Iya sama-sama Git, nanti kapan-kapan gue akan main kerumah lo' sama kak Brian." Ujar Bela sambil melepaskan rangkulannya.


"Bener nih,, janji ya, gue tunggu kedatangan kalian, awas kalau bohong." Tukas Anggita.


Lalu Anggita bersalaman sama Brian.


"Aku pulang dulu ya kak." Ujar Anggita.


"Iya Git, hati-hati di jalan." Tukas Brian.


Andi tersenyum tipis, karena hati dan pirasat Andi yang selalu tajam membaca pikiran orang, bahwa Brian menaruh simpati pada kakaknya.


"Hmm...Gua juga pamit, Kak Bela, bang Brian, tanks banget atas jamuannya yang sangat istimewa." Timpal Andi sambil mendehm.


Brian pun agak kaget dengan dehemannya Andi, dan berkata dengan agak gugup.


"Ooh ii iya An, jangan bosan ya, kapan-kapan main lagi kesini." Ujar Brian.


"Iya Bang, insa Allah bila ada waktu senggang gua akan main lagi kesini sama Kak Gita." Sahut Andi sambil menautkan pandangannya pada Anggita.


Setelah itu Andi dan Anggita berjalan menuju pada mobilnya yang terparkir di area halaman rumahnya Bela.


Sesampainya di mobil Andi membuka pintu bagian kiri untuk Anggita dan di tutupnya dengan rapat.


Lalu Andi berjalan, kesebelah kanan dan di bukanya pintu.


Setelah Andi memasuki ke dalam mobil, Andi langsung menyalakan mobilnya, dan di pijitnya tombol klakson.


Tid tidid


Klakson berbunyi, Anggita dan Andi melambaikan tangannya pada Bela dan Brian.


Bela dan Brianpun membalas lambaian tangannya Anggita dan Andi sambil menatap mobil Pajero new sport yang sudah melaju perlahan keluar dari halaman rumah.


Semenjak kepergiannya Andi dan Anggita, suasana di rumah Bela menjadi sepi, hanya terdengar suara ibuk-ibuk yang ngobrol dari sanak saudaranya Bela yang masih ada untuk bantuin beres-beres perabotan bekas acara itu.

__ADS_1


Sementara Andi yang lagi melaju kendara'annya di jalan raya, yang sesekali menoleh pada Anggita, yang terkadang senyam-senyum sendiri.


"Ada apa dengan kak Gita, gua perhati'in wajahnya nampak riang begitu." Gumam Andi dalam hati.


"Oh gua tau, ternyata kak Anggita juga peka bahwa dirinya lagi di perhatiin sama lelaki tampan seperti Bang Brian." Lanjut Andi dalam hati.


Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata, jalanpun kini dalam keada'an normal, mungkin karena hari bertepatan dengan hari liburnya para karyawan dan pegawai negri sipil.


Andi yang merasa aneh dengan sikap kakaknya lalu berucap sambil batuk jaim.


"Hmm..Ohoo..Alhamdulilah ya Allah, akhirnya kakak aku telah menemukan takdirnya." Celetuk Andi.


Anggita pun langsung kaget, dan pura-pura tidak mengerti dengan perkata'annya.


"Iih apa'an sih lo'." Cetus Anggita.


Lalu Andi berkata sebuah kata ejekan pada kakaknya.


"Ada...Pelangi di bola matamu." Celetuk Andi sambil pegang kemudi dengan netranya tetap pokus pada jalan yang akan di laluinya.


Anggita terkekeh tertawa, sambil memandang Andi yang nampak terlihat lucu.


"Hihihihi...Dasar sinting lo'." Timpal Anggita.


"Apa itu Radig?." Tanya Anggita tidak mengerti.


"Rada gila." Jawab Andi.


"Iih sialan lo' sama kakakmu sendiri bilang begitu, kewalat lho." Ujar Anggita.


"Iya sori deh, abisnya tingkah kakak mendadak aneh, semenjak bertemu Bang Brian, oh gua tau, kakak suka kan sama Bang Brian, ayo ngaku?." Tanya Andi memaksa.


"Iih apa'an sih lo', ya nggaklah, Bela kan sahabt gue, masa gue suka sama abangnya." Ujar Anggita.


"Didalam agamapun tidak ada halangan untuk kita menyukai seseorang, asal jangan se darah." Tukas Andi.


Anggita terdiam membisu, sambil menatap ke arah depan jalan yang sedang di laluinya.


"Kok diam sih kak?." Tanya Andi.


"Udah jangan bahas dulu itu, cepetan supaya kita cepat sampai ke rumah." Ujar Anggita.

__ADS_1


"Oke-oke." Jawab Andi.


Andi pun langsung menaikan speednya, kini mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kemudi oleh Andi telah sampai di bundaran play over Jalan Delima.


Lalu Andi menyalakan lampu sennya ke kanan, memasuki kawasan jalan Delima Raya.


Dua puluh menit kemudian, mobil pajero new sport telah meluncur di jalan Gang Si'iran, yang tinggal beberapa meter lagi Andi dan Anggita akan segera sampai ke rumah.


Setibanya di depan gerbang, nampap pintu gerbang sudah terbuka, andi dan Anggita saling pandang dan bertanya.


"Lhoo..ko gerbangnya terbuka." Ujar Andi kaget.


"Iya ya, apa mungkin Konta kesini." Cetus Anggita.


Kemudian Andi melajukan mobil memasuki halaman pekarangan rumah.


Setelah Andi dan Anggita turun dari mobil, keduanya langsung bergegas memasuki ke dalam rumah, sambil berteriak memanggil ibuknya.


"Buk Buk, Ibuuk." Panggil Andi dan Anggita.


Bisingnya suara Andi dan Anggita berteriak, memanggil dirinya membuat Sindi langsung keluar dari dalam kamar.


"Gita, Andi kalian itu kenapa sih berteriak-teriak begitu berisik tau." Ujar Sindi.


"Ma'af Buk, aku dan kak Anggita begini karena mersa kaget, ko pintu gerbang sampai terbuka lebar begitu, aku takut Ibuk kenapa-napa." Tukas Andi.


"Ooh, itu bekas Pamanmu/Kamal tadi kan buka pintu gerbang bekas ngangkut mesin buat di bengkel Castam kamu Andi." Jelasnya Sindi.


"Oh itu aku lupa, kan mesin bending ruksak, bearti sudah beres dong, kenapa Paman tidak sekalian di bawa kesana aja ya." Ujar Andi.


"Tadi Pamanmu sudah bawa kesitu, tapi kuncinya di bawa sama Paman Hasan, kan sudah lama bengkel castam pakum, semenjak ayahmu tiada, dan Doni risen karena pindah ke semarang ikut istrinya." Ucap Sindi.


"Oh iya ya." Cetus Andi.


Setelah itu Andi langsung berjalan memasuki kamarnya, tak lama kemudian keluar lagi sambil membawa handuk, mungkin hendak membersihkan badannya karena hampir seharian di tempatnya Bela, apalagi perjalanan dari tempat Bela ke Gang Si'iran lumayan sangat jauh.


Selepas Andi membersihkan badannya, kemudian Andi menuju ruang dapur, di ambilnya sebuah gelas, lalu di tuang kopi dan gula ke dalam gelas tersebut.


Lalu di tungkan air putih panas pada gelas yang sudah di isi bubuk kopi dan gula, lalu di aduk-aduk sampai gula dan kopi itu larut secara merata sehingga menciptakan selera yang nikmat.

__ADS_1


Seperti biasa, Andi langsung membawa kopi itu ke depan.


Sambil duduk di bangku besi, terdengar suara gemericik air di kolam taman.


__ADS_2