
Setelah Sindi menjalani pengobatan di ahli psikiater, Alhamdulilah Sindi sudah banyak mengalami kemajuan yang lebih baik.
Kejiwa'an sindi sudah kembali lagi seperti biasa, di tambah Sindi kali ini sering datang ke acara pengajian, dan sering mendapat pencerahan hati dan jiwa dari ustad, akhirnya Sindi sudah bisa menerima keada'an dan takdir yang telah menimpa keluarganya.
Pukul :08:00
Suasana di Gang Si'iran nampak cerah, mataharipun memancarkan cahaya dengan sangat terang.
Andi dan Anggita yang lagi duduk di bangku di taman halaman depan rumah, nampak asik bercanda dan saling ejek.
"Kak selama kakak di luar negri, apa ada cowo yang naksir sama kakak?." Tanya Andi.
"Uuh yang naksir banyak, cuma kakaknya gak mau." Jawab Anggita.
"Kenapa kakak gak mau, apa cowo-cowo di sana jelek-jelek?." Lanjut Andi bertanya.
"Sembarangan lo', cowo di sana pada ganteng-ganteng masalah rupanya sih tak jauh beda sama orang indonesia, makanya kamu lanjut kuliah dong." Tukas Anggita.
"Tidak kak aku tidak akan melanjutkan kuliah, aku mendingan kerja saja, biar bisa bantuin ibuk dan ingin membahagiakan ibuk kak." Jawab Andi.
"Ya itu hak kamu, kakak pun tidak akan maksa, memang benar perusaha'an peninggalan ayah pun tinggal nerusin walaupun cuma perusaha'an suplier, kalau mangamennya bagus pasti akan berkembang pesat." Ujar Anggita.
"Aku belum tertarik dengan kerja'an di kantor, aku lebih suka kerja di bengkel yang banyak geraknya, kerjaanku di sana pun Alhamdulilah dapat respon bagus dari Bos."
Ketika mereka lagi asik ngobrol, nampak ponsel Andi yang lagi di simpan di atas meja bergetar, ada panggilan masuk di aplikasi whatssap.
Drett
Dreettt dreettt..
"Uluuuh, rupanya kamu sudah punya pacar, siapa tuh Vina?." Tanya Anggita.
"Teman sekolah aku kak." Jawab Andi sambil meraih ponselnya.
📞.Andi "Iya halo Vin."
📞.Vina "An, lo' ada di rumah gak?."
📞. Andi "Ini aku lagi ngobrol sama kakak aku, emang ada apa?."
📞.Vina "Gue ke rumah lo' ya, boleh gak."
📞.Andi "Hahaha, Vina-vina, sejak.kapan gua melarang lo' datang ke rumah gua, ya boleh dong."
📞.Vina "Ya bukan begitu An, takutnya lo' lagi sibuk gitu."
📞.Andi "Kagak, gua lagi nyantai, cepetan gua tunggu, dandan yang cantik ya hehee.."
📞.Vina "Dasar gombal lo', ya sudah dulu."
__ADS_1
Panggilan pun langsung di tutupnya, Andi menyimpan kembali ponselnya ke atas meja.
Anggita cuma senyum-senyum tips mengejek pada adiknya.
"Hhhmmmm."
"Apa'an sih kak, kaya macan aja, menggeram." Cetus Andi.
"Enggak, siapa namanya pacarmu itu?." Tanya Anggita.
"Kakak dari tadi bilangnya pacar mulu, itu teman waktu sekolah aku, namanya Vina artiyana anak orang kaya." Ujar Andi.
"Hebat dong, adiku dapat pacar orang kaya, kakak ikut berbahagia." Ujar Anggita.
Bersama'an dengan Anggita berkata, sebuah mobil Honda civic berhenti di depan gerbang, dengan suara klakson berbunyi.
Tid tidid.
Andi dan Anggita menautkan pandangannya ke arah suara tersebut.
"Itu Vina temen aku itu kak." Ujar Andi sambil beranjak berdiri lalu melangkah menuju pintu gerbang dan membuka pintu gerbang.
"Haii Vin, masukin mobilnya." Sapa Andi.
Mobil pun langsung di kemudikan memasuki pintu gerbang, setelah mobil terparkir di dalam, sang pengemudi perlahan membuka pintu mobil lalu melangkah turun keluar dari dalam mobil, kemudian di tutup kembali pintu mobil tersebut.
"Ayo Vin kita ngobrol bareng kakak ku, sekalian berkenalan." Ajak Andi.
"Nah ini kakaku." Ujar Andi.
Vina pun lalu mengulurkan tangannya sambil mempekenalkan dirinya pada Anggita.
"Salam kenal kak, aku Vina Artiyana biasa di panggil Vina saja." Ujar Vina.
"Anggita eka putri kakaknya Andi, wah ternyata pacar adiku sangat cantik, tajir lagi." Ujar Anggita memperkenalkan dirinya.
"Ah kakak bisa aja, aku biasa saja kak, malahan kakak Anggita sungguh sangat cantik sekali." Tukas Vina.
"Ayo silahkan duduk, mau minum apa?." Tawar Anggita.
"Oh tidak usah repot-repot kak." Ujar Vina.
"Tidak ko, masa ada tamu tidak di kasih minum." Tukas Anggita.
"Oh ya sudah kalau begitu." Ujar Vina.
Kemudian Anggita beranjak berdiri dan melangkah pergi memasuki kedalam rumah untuk membuatkan minuman buat Vina.
Setiba di ruangan dapur, nampak Sindi lagi sibuk memasak untuk persiapan sarapan pagi.
__ADS_1
"Buk lagi masak apa?." Tanya Anggita sambil menghampiri sebuah kulkas.
"Ya masak kesukaan anak kesayangan ibuk dong, eeh kamu bikin apa Gita?." Tanya Sindi.
"Ini Buk aku mau buatin Orange just buat mantu ibuk, hehehe."Kekeh Anggita.
"Waduuh, jadi putri ibuk ini sudah punya kekasih." Ujar Sindi tersenyum semringah.
"Eeh bukan Buk, aku belum punya pacar."
"Lalu siapa yang kamu maksud itu?." Tanya Sindi.
"Ya itu pacarnya Andi Buk." Jawab Anggita.
Sindi tercengang kaget dengan kabar yang Anggita bawa, karena baru kali ini mendengar Andi punya pacar, rasa penasaran Sindi lalu bertanya pada Anggita.
"Cantik gak pacarnya Andi?." Tanya Sindi.
Anggita cuma membalas dengan mengacungkan jempolnya.
"Aku jadi penasaran sih." Gerutu Sindi.
"Kalau ibuk pingin lihat ya sudah, sekalian bawain makanan cemilan, karena aku bawa minuman tiga gelas." Tukas Anggita sambil pokus ke blander.
Selepas itu Anggita dan Sindi pun berjalan keluar menuju pada bangku tempat yang sudah biasa di pakai duduk, karena tempatnya yang enak di bawah pobon mangga yang daunnya rimbun dan suasananya pun tersaa adem, sangat cocok untuk bersantai.
Setibanya di tempat, Andi pun lalu berdiri sambil berkata pada Vina.
"Ooh iya Vin gua lupa, kenalkan ini ibuk ku." Ujar Andi.
Vina pun langsung mengangkat tubuhnya dari posisi duduk, sambil memberi salam pada Sindi.
"Buk, kenalkan aku Vina, teman Andi sewaktu sekolah." Sapa Vina.
"Iya nak, saya ibuknya Andi, sekarang kamu melanjutkan kuliahnya di mana?." Tanya Sindi sambil menurunkan bokongnya duduk di bangku.
"Kemungkinan aku akan kuliah di Singapura Buk." Jawab Vina.
"Ini kakaknya Andi juga baru lulus universitas di Singapura." Timpal Sindi.
"Oh ya, bagus dong, aku bisa tanya-tanya ke adaan di sana, bagaiman orang-prang di sana." Ujar Vina.
"Tradisi masyarakat di sana tidak jauh beda dengan negri kita, orangnya pun ramah-ramah dan baik." Timpal Anggita.
"Ma'af nak Vina kalau ibuk boleh tau, nak Vina asli orang sini?." Tanya Sindi.
"Aku asli made in Bandung, Ayah Orang sini asli sedangkan ibuk orang tasik, cuma dari sejak kecil aku selalu di ajarkan bahasa indo, malahan bahasa daerah ku belum mengerti betul Buk." Tukas Vina.
"Mungkin karena pergaulannya Buk, kan Vina anak komplek perumahan mewah." Pungkas Andi ikut nimrung.
__ADS_1
"Iya benar apa kata Andi, dari kecil ku bergaul dengan orang-orang komlek dari berbagai suku, jadi ku sudah biasa pakai bahasa indo." Ujar Vina.