Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 51 Perjalanan Pulang


__ADS_3

Ke esokan harinya, sekitar pukul delapan pagi, Selepas sarapan, Vina pun pamit pada bibi dan Pamannya, berhubung Andi lagi banyak kerja'an di bengkel.


"Bibi, Paman Aku pulang dulu ya." Pamit Vina.


Lalu Andi pun bersalaman pada Lusiana dan Badru.


"Tante, Om saya pun pamit, terima kasih jamuannya, masakan Tante sungguh luar biasa enak." Ujar Andi.


"Sebenarnya aku masih kangen sama kalian, baru saja semalam harus di tinggal lagi." Ujar Lusiana.


"Iya Paman pun masih kepingin kalian di sini nginep lagi dua hari atau tiga hari lagi, Oh iya, makasih Vin oleh-olehnya, salam ya buat ayah dan ibukmu." Pungkas Badru.


"Iya Paman nanti aku sampaikan, sebenarnya akupun masih kepingin nginap lagi, berhubung Andi kan mengelola bengkel, kalau di tinggalkan nanti kerja'annya jadi terbengkalai." Ujar Vina.


"Oh jadi nak Andi bisa mesin juga ya." Timpal Lusiana.


"Bisa dikit-dikit Tante." Balas Andi merendah.


"Kebetulan ya pak, si dukun kan sudah lama mati, tadinya mau di jual tapi sayang itu motor kenangan Bapaknya sewaktu masih bujangan." Ujar Lusiana.


"Motor apa? Tante?." Tanya Andi.


Lalu Badru memotong pembicara'an.


"Cuma motor jadul nak Andi, itu tuh." Tunjuk Badru pada motor Yamaha Rx king.


"Owh, sepertinya se umuran dengan motorku di rumah, emang Om pernah ikut Club Rx king juga ya." Ujar Andi.


"Iya itu dulu, sekarang Om sudah jarang ikut pertemuan karena Om sudah tua, mungkin sekarang Om sudah di keluarkan dari anggota." Ujar Badru.


"Oh iya Om, insa Allah lain waktu aku datang lagi kemari, sekalian betulin motor Om." Ujar Andi.


"Iya nyantai saja nak Andi, Itu pun bila nak Andi ada waktu senggang, kapan-kapan main lagi kesini." Ujar Badru.


"Iya Om, insa Allah." Jawab Andi.


Selepas itu, Andi dan Vina langsung masuk kedalam mobil.


Setelah mobil di nyalakan Andi langsung menginjak gasnya, perlahan mobil melaju keluar dari halaman rumah.


Tid tidid.


"Mari, paman, Bibi." Ujar Vina sambil melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka, yang di ikuti oleh Andi.


Lusiana dan Badru membalas lambaian tangan dari Vina dan Andi, sambil berdiri menatap kepergian mobil yang di tumpangi oleh Andi dan Vina, sampai hilang di telan jarak yang semakin menjauh.


Jalanan yang berkelok, kadang di temui tanjakan dan turunan, yang di sisi kiri kanannya jalan banyak di tumbuhi pepohonan.


Langit mendadak mendung, dan angin pun berhembus cukup kencang, mungkin sebentar lagi akan segera turun hujan.

__ADS_1


Andi pun terus melaju dengan kecepatan di bawah delapan puluh kilo meter, sambil menikmati pemandangan di sekitar jalan yang ia laluinya.


Rintik-rintik air jatuh dari langit mulai membasahi jalanan yang sedang Andi lalui.


"An jangan terlalu kencang bawa mobilnya, di sini jalurnya rawan kecelaka'an, apalagi hujan begini biasanya suka keluar kabut." Celetuk Vina mengingatkan.


"Iya Vin, tenang aja." Jawab Andi.


Mobil terus melaju dengan pelan, mengingat medannya yang kecil dan banyak tikungan tajam.


Ketika Andi lagi melaju di jalanan yang datar, tiba-tiba Andi menurunkan laju kendara'annya dengan sangat pelan dan berkata pada Vina.


"Vin di depan sepertinya ada seorang pemuda lagi mendorong motornya, kasihan Vina mana hujan lagi, kita tolong dulu ya." Ujar Andi.


"Jangan sembarangan menolong orang yang tidak di kenal An, jaman sekarang banyak kejahatan dengan modus yang berbeda-beda." Timpal Vina.


"Insa Allah Vin, itu orang baik-baik, gua tolong dulu ya kasihan." Ujar Andi.


"Ya sudah, mobilnya ke pinggirin dulu tuh di depan ada gubuk." Ujar Vina.


Andi pun langsung meminggirkan mobilnya, lalu keluar, dan berjalan ke arah seorang pemuda yang lagi mendorong sepeda motornya.


"Ma'af mas, itu motornya kenapa?." Tanya Andi.


"Tidak tau Bang tiba-tiba mati." Jawabnya.


"Boleh saya bantu betulin." Ujar Andi menawarkan jasa.


"Insa Allah bisa." Jawab Andi.


" Ya sudah."


Kemudian pemuda itu mendorong motarnya ke arah gubuk.


"Mas bawa kunci-kuncinya gak?." Tanya Andi.


"Oh ada Bang, bentar ya." Jawabnya sambil membuka kunci jok, lalu di ambil sebuah kunci-kunci.


"Ini Bang."


Andi pun lalu mensetandarkan motor tersebut, lalu di buka dulu bagian businya, dan di selah beberapa kali.


"Businya masih bagus." Ujar Andi sambil memeriksa bagian onderdil yang lainnya.


Lalu Andi Andi membuka bagian karburator.


"Wah karburatornya mas, banyak air didalam, bentar ya saya bersihin dulu, ini motor mesinnya masih bagus, cuma sayang jarang di service ya." Ujar Andi.


"Iya benar Bang."

__ADS_1


Andi dengan sangat telatennya membersihkan karburator, yang nampak banyak kotoran yang sudah berkarat, sehingga aliran bahan bakar dari karburator ke bagian mesin menjadi tersendat-sendat.


Sementara Vina memperhatikan Andi dari dalam mobil, tersenyum penuh bahagia.


"Alhamdulilah ya Allah, aku di pertemukan dengan Andi, pemuda baik dan welas asih, sungguh beruntung nasibku, andai Andi adalah jodohku." Batin Vina bermonolog.


Tidak lama kemudian Andi telah memasang kembali karburatornya.


Setelah terpasang rapi dan aman, lalu Andi mencoba menyalakan motor tersebut.


Hanya sekali selah saja motor tersebut langsung menyala.


Nampak roman berseri-seri di balik wajah pemuda itu, karena masih ada orang kaya yang mau menolongnya.


"Nih mas seakrang motornya sudah nyala, nanti bahan bakarnya di isi, soalnya tinggal sedikit lagi, dan jangan lupa di service, sayang nih motornya masih mulus dan suaranya pun masih lembut, padahal ini motor sudah tua." Ujar Andi mengingatkan.


"Iya Bang, karena aku sering ganti oli, cuma kalu service jarang, terus berapa biaya oprasionalnya." Ujarnya.


Andi hanya tersenyum tipis dan berkata.


"Ih tidak usah mas, ku menolong mas iklas ko." Ujar Andi.


"Ih kenap tidak mau di bayar Bang."


"Simpan saja uang mas, buat keperluan mas di jalan, ya sudah ku tinggal dulu ya, karena perjalananku masih jauh." Ujar Andi.


"Terima kasih Bang, semoga kebaikan Abang di balas berlipat ganda oleh Allah, hati-hati di jalan." Ujar pemuda itu.


"Iya mas sama-sama." Jawab Andi sambil berlari dengan sedikit membungkukan punggungnya memburu mobil yang terparkir di belakang lokasi gubuk, karena hujan yang semakin deras.


Setelah Andi berada di dalam mobil, lalu Andi menyalakan kembali mobilnya.


Tid tidid


Andi menekan tombol klasonnya sambil berkata.


"Mas saya duluan ya." Ucap Andi sambil menoleh ke arah pemuda yang lagi berdiri di depan gubuk.


"Iya Bang, sekali lagi terima kasih." Ujarnya bernada agak keras karena tertiban oleh suara hujan yang semakin deras.


"Untung masih ada orang baik, coba kalau tidak ada Abang tadi, mungkin aku akan mendorong motor sampai ku menemukan bengkel." Gerutu pemuda tersebut.


Sementara Andi dan Vina sudah melajukan mobilnya jauh dari lokasi pemuda yang di tolongnya.


Tiga jam kemudian Andi sudah memasuki perbatasan wilayah kota bandung.


Hujan pun masih terus mengguyur dengan deras, suara geledeg begitu keras terdengar dan kilatan-kilatan halilintar menggurat membelah di angkasa.


Andi terus mengemudi mobilnya, tidak menghiraukan hujan yang semakin deras, yang ada di hati Andi ingin cepat sampai di rumahnya

__ADS_1


Vina.


Tidak lama kemudian Andi sudah memasuki gerbang gapura perumahan Grand City, sebuah perumahan elite di kota itu.


__ADS_2