Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 79 Mawar Putih


__ADS_3

Ketika hari sudah mulai senja Andi dan keluarga besar Gang Si'iran telah melajukan lagi kendara'annya meninggalkan sebuah danau tempat wisata.


Dalam kepulangannya, kini Andi tidak lagi mengemudi mobil, karena hati dan pikiran Andi lagi di liputi oleh rasa kekecewa'an yang begitu dalam, setelah apa yang ia lihatnya dengan matanya sendiri.


Sebuah pengkhianatan yang tak mungkin terlupakan di benaknya Andi.


Anggita yang lagi nyetir, sesekali ia melihat Andi dari sepion yang berada di atas kepalanya.


Merasa heran dan tanda tanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Andi di danau itu.


Andi nampak banyak diam, dengan pandangan kosong, dan kedua netranya merah menyala seperti ada yang mengganjal di hatinya.


Ingin rasanya Anggita bertanya, tapi tidak memungkinkan dalam keada'an ia lagi nyetir.


Anggita melajukan mobilnya dengan keceptan tinggi, ingin segera sampai di rumah.


"Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada diri Andi, aku harus cepat sampai dan ingin menanyakan pada dek Konta dan dek Kanti karena dialah yang tau pasti." Batin Anggita.


Ketika Andi lagi hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba terperanjat kaget, begitu pula Sindi, Pak Dirman dan Buk Sari, mendengar suara rem yang di injak begitu pakem.


"Astagpirullah haladzim, gita.... kenapa."


Teriak Sindi yang hampir kepentok untung saja semua pakai sabuk pengaman.


Anggita langsung mengusap dadanya sambil berkata.


"Alhamdulilah ya Allah masih melindungi kami." Ujar Gita.


"Ada apa sih kak?." Tanya Andi.


"Itu ada orang nyebrang mendadak, tadi ketika masih jauh dia diam saja, di saat jarak dua puluh meteran ia nyebrang."


Andi langsung melihat keluar nampak seorang gadis lagi berdiri di pinggir jalan, dengan wajah pucat, mungkin kaget dan trauma setelah apa yang ia alaminya.


"Andi dan Anggita lalu keluar dari dalam mobil dan memburu pada gadis itu.


"Mb tidak apa-apa?." Tanya Anggita.


Gadis itu cuma menggelengkan kepalanya, lalu Andi kembali pada mobil untuk mengambil air Aqua botol, dan balik lagi pada gadis itu sambil memberikan air aqua tersebut.


"Ini mb minum dulu, biar hati mb tenang." Ujar Andi.


Gadis itupun lalu meraih aqua botol ukuran setengah dati tangan Andi.


Glek glek glek


Gadis itu meminum air tiga kali tegukan, kemudian Anggita meminta pada gadis itu untuk duduk dulu sejenak di atas trotoar.

__ADS_1


"Bagaiman mb sudah merasa tenang sekarang?." Tanya Anggita.


"Sudah, kalian tidak apa-apa, ma'afkan saya ya yang kurang hati-hati." Ujar gadis itu.


"Sudah Mb tidak usah memikirkan kami, justru aku dan kakaku merasa kaget takut mb kenapa-napa, tapi syukurlah semua baik-baik aja." Tukas Andi.


"Justru aku yang salah, padahal waktu jarak mobil masih jauh, aku seharusnya nyebrang." Ujar gadis itu.


"Mb jangan merasa bersalah begitu, yang penting semua baik-baik aja, dan lain kali kalau mau nyebrang lihat dulu kebelakang, atau menyebranglah di Zebracor." Ujar Andi.


"Iya mas, Mb terima kasih." Tukas gadis itu.


Andi memperhatikan gadis itu dari cara berpakainnya seperti layaknya gadis-gadis kampung pada umumnya.


"Sebenarnya Mb ini mau kemana?." Tanya Andi.


"Sebenarnya saya mau pulang kampung, tapi bingung." Jawabnya.


"Bingung kenapa?." Tanya Anggita.


Gadis itu tidak menjawab, ia cuma merunduk seperti malu akan berucap.


Andi yang lebih peka, dan membaca roman gadis itu, tersenyum penuh iba.


"Aku tau, Mb gak punya uang kan, emang habis dari mana?." Tanya Andi.


"Aku habis mencari lowongan pekerja'an, mendatangi setiap perusaha'an yang ada lowongan tapi semua sia-sia, dan ketika aku lagi jalan tiba-tiba ada pengedara motor dari belakang dan menjambret tas aku, dan uang buat ongkos pulang pun lenyap bersama tas itu." Ungkap Gadis tersebut.


Andi dan Anggita saling pandang dan berbisik pelan.


"Mb benar mau kerja?." Tanya Anggita.


"He'eeh." menganggukan kepala.


"Boleh saya lihat berkas lamarannya." Ujar Anggita.


"Oh silahkan Mb." Tukas gadis itu sambil menyerahkan map.


Kemudian Anggita membuka map tersebut dan di lihat dengan teliti, lalu di tutup kembali.


"Persyaratannya sudah lengkap, kalau mb mau kerja nanti bisa datang ke kantor saya, lain kali kalu mau melamar kerja mendingan secara online aja mb, kan banyak info loker di medsos, kan enak bisa hemat biaya dan tidak usah capek-capek keliling kota." Ujar Anggita.


"Beneran nih, berarti Mb dan Mas ini seorang pengusaha." Tukas gadis itu.


"Ya cuma perusaha'an kecil Mb Rara, itupun kalau kamu mau." Ujar Anggita.


Gadis itu terbelalak, lalu bertanya.

__ADS_1


"Ko Mb tau namaku?." Bertanya.


"Ya kan tadi aku baca di surat lamaran kamu, Nama kamu Rara Amyati kan?." Anggita balik bertanya.


"Hehee, iya mb." Jawabnya.


"Ini kartu nama saya, kalau kamu mau nanti bisa datang ke kantor saya, tidak usah pakai tes, yang penting berprilaku baik, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab." Jelas Anggita.


"Siap Buk, terima kasih." Ujarnya.


"Ko sekarang panggilnya ibuk sih." Ujar Anggita tersenyum.


"Rasanya aku kurang sopan bila panggil Mb, dengan seorang pengusaha yang akan menjadi bos saya." Ujarnya.


"Kan belum jadi karyawan saya, hehee ma'af bercanda ko, terserah kamu mau panggil aku apa, mau buk, mb, teteh itu hak kamu." Ujar Anggita.


Sementara Andi terus menatap gadis yang bernama Rara itu dengan intens, seperti lagi mengenali karakternya dari hatinya yang paling dalam.


"Kasihan juga gadis ini, sepertinya dia gadis baik-baik." Batin Andi.


"Oh iya mb, Ini ada uang buat ongkos mb pulang, ini hari sebentar lagi gelap, asal mb tau kehidupan di kota pada malam hari sangat membayakan pada gadis secantik mb, apalagi mb belum mengenal kota ini." Ujar Anggita meraih tangannya Rara, sambil meletakan uang di telapak tangan Rara.


"Aduh gimana ya, aku jadi tidak enak hati pada ibuk dan Bapak ini, aku sudah merepotkan kalian berdua, terima kasih Buk, pak sudah baik padaku." Ujar Rara.


"Iya sama-sama."


Setelah itu Andi berdiri untuk mencegat bis yang menuju tempat Rara.


Tidak lama kemudian sebuah mobil mini bus dengan tujuan tempat Rara datang dan berhenti ketika Andi mengacungkan tanganya.


"Buk, pak, sekali lagi terima kasih." Pamit Rara.


"Iya sama-sama, kamu hati-hati." Tukas Anggita.


"Jangan panggil aku Bapak, aku masih lajang ko, panggil aja aku Andi." Ujar Andi bernada keras ketika Rara mulai melangkah menaiki bus tersebut.


Setiba di dalam bus Rara menoleh keluar sambil melambaikan tangannya di balik kaca jendela bus, sambil tersenyum manis dengan rambutnya terurai menutupi sebagian alisnya.


Andi dan Anggita pun langsung membalas lambaian tangannya Rara.


Kemudian Anggita dan Andi kembali pada mobilnya.


"Tidak kenapa-napa Git gadis tadi." Tanya Sindi.


"Alhamdulilah tidak mah ia cuma sok aja, mungkin mendngar suara rem yang mendadak, aku juga kaget tadi kenapa keyika madih jauh ia berdiam saja, di saat jarak tanggung langsung nyebrang, oyomatis aku kaget." Ujar Anggita sambil melirik ke atas sepioan mrmperhatikan Andi yang duduk di jok paling belakang.


"Kenapa juga tuh anak, tadi ku lihat tadi bermuram durja, sekarang nampak bercahaya lagi, apa karena Rara, ah gak mungkin, e'eeh tapi aku lihat wajah Rara sangat cantik wajahnya putih bersih, dan mempunyai daya tarik di raut wajahnya yang polos." Batin Anggita.

__ADS_1


__ADS_2