
Malam yang terus semakin larut, dan rasa kantuk kini telah menguasai diri Andi.
Lalu Andi berjalan menuju pos jaga untuk merebahkan tubuhnya dari rasa letih.
Andi berbaring di meja kayu tempat Jaroni rebahan kalau lagi bertugas.
Lama-kelama'an Andi nampak sudah memejamkan kedua netranya, larut dalam tidurnya yang membawa sukmanya ke alam bawah sadar(mimpi).
Ke esokan harinya.
Ketika matahari belum memancarkan sinarnya, Andi lagi duduk santai bersama kedua adik sepupunya yaitu Konta dan Kanti, setelah mereka melakukan penyegaran tubuh dengan berolah raga, lari-lari di sepanjang jalan Gang Si'iran.
Konta dan Kanti yang sudah lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Kini seperti ada ke bebasan dalam hidup, tak ada lagi pelajaran yang harus Konta dan Kanti pikirkan begitu pikirnya dari kedua anak kembar itu.
"Eh Btw, kalian mau lanjut kuliah di mana?." Tanya Andi.
"Gak tau aku, sebenarnya ku sudah malas untuk melanjutkan kuliah, nanti juga ujung-ujungnya kedapur juga." Jawab Kanti sambil menggelitik.
"Ya iya dong, kalau cewe itu, setinggi apapun pendidikannya tetap aja nantinya di dapur dan di kasur." Tukas Andi.
"Iiiihh, Bang Andi jorok." Timpal Kanti.
Konta hanya tersenyum tipis sambil menautkan pandangannya pada Kanti.
"Siapa yang jorok sih." Ujar Andi.
"Tadi aang bilang di kasur." Tukas Kanti.
"Itu bukan jorok tau, nanti juga kamu akan tahu, itu hanya istilah." Pungkas Konta ikut bicara.
"Tuh dek Konta juga ngerti, hehee." Tukas Andi.
.....................
Sementara di tempat lain.
Rangga yang lagi diem-dieman sama Vina(istrinya).
Dari hari kehari berganti minggu Vina semakin tidak kerasan bila berdekatan dengan suaminya, mungkinkah karena sikap Rangga yang terlalu kasar pada Vina atau pengaruh Rangga di hati Vina sudah mulai memudar.
Vina bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, cuma seoatah kata yang Vina ucapkan pada mamanya.
"Aku berangkat." Ucap Vina melangkah pergi keluar rumah.
"Kamubtidak sarapan dulu?." Tanya mamanya.
"Tidak mah, aku belum mau." Ujar Vina.
Pajar sama Istrinya hanya saling pandang, lalu bertanya pada Rangga yang lagi menikmati sarapan pagi bersamanya.
"Kamu ada masalah sama Istrimu Rangga?." Tanya ibuk mertua.
"Ya begitulah buk, akhir-akhir ini Vina tidak lagi menganggap aku suaminya." Jawab Rangga.
"Kenapa?."
"Vina teringat kembali sama mantan pacarnya." Jawab Rangga.
"Andi mantan Navi maksudmu?." Tanya Ibuk Mertua.
Rangga cuma menganggukkan kepalanya.
"Pah, papah cepat bertindak dong, supaya anak itu tidak mendekati anak kita lagi, jangan sampai rumah tangga anak kita jadi berantakan hanya karena gara-gara mantan navi itu." Usul Rosa.
Pajar belum menjawab perminta'an Rosa(istrinya), ia tetap pokus pada makanannya yang tinggal sedikit lagi.
Setelah makanannya habis, Pajar meraih gelas yang berisikan air putih dan meminumnya untuk mengantarkan makanannya yang tersendat di tenggorokan.
Setelah itu Pajar beranjak bangkit dari kursi meja makan, sambil memberi isyarat pada Rosa agar mengikutinya pergi ke kamar.
"Sebentar ya nak Rangga." Ujar Rosa sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
"Iya mah." Jawab Rangga.
Setibanya Pajar dan Rosa di dalam kamar, Pajar langsung menutup pintunya rapat-rapat.
"Ada apa pah?." Tanya Rosa tidak paham.
"Kamu itu gimana sih mah, jangn terlalu memihak pada Rangga, orang tua itu harus bijak kalau belum tau duduk permasalahannya, jangan asal ceplos aja." Tegur Pajar.
"Jelas-jelas kata Rangga, si Andi itu mulai dekat lagi sama anak kita pah." Ucap Rosa.
"Itu baru kata Rangga, kita hatus cari tau dulu kebenarannya papah yang lebih tau kenapa Vina jadi begitu sama Rangga." Tukas Pajar.
"Ya emang kenapa sih pah." Desak Rosa.
"Waktu di kantor Rangga berantem sama Vina, sampai Rangga yang duluan menampar anak kita." Jawab Pajar.
"Ya Rangga begitu, karena ada alasannya kali pah." Bela Rosa.
"Iya papah tau pasti ada alasannya, tapi tidak mesti main tangan dong, dari Vina kecil hingga dewasa papah belum pernah menyentuh anak kita, dengan mendidik cara begitu, bukan tambah baik, malah akan semakin berontak." Tukas Pajar.
"Ya wajarlah bila seorang suami memberi pelajaran pada istrinya." Tukas Rosa bersik keras.
"Terserah mamah deh, lantas mamah juga rela bila papah menampar mu." Timpal Pajar.
"Kok jadi mamah sih yang kena imbasnya." Ujar Vina.
Pajar tidak mau lagi berdebat sama istrinya yang keras kepala, lalu Pajar membuka pintu Kamarnya dan melangkah menuju keluar rumah memburu pada mobilnya yang terparkir di garasi.
Pajar langsung menyalakan mobilnya, kemudian mobil pun melaju keluar dari garasi.
Satpam yang bertugas jaga, langsung dengan sigap membuka pintu gerbang.
"Selamat jalan tuan hat-hati." Sapa Satpam.
Pajar hanya membunyikan klasonnya, mungkin karena rasa kesal pada istrinya.
Sementara Rangga.
Setelah selesai makannya, ia langsung berpamitan pada Rosa untuk berangkat ke kantor.
"Iya nak Rangga kamu hati-hati di jalan." Ujar Rosa.
"Iya makasih mah." Sahut Rangga, sambil berjalan keluar rumah.
Kini Rangga sudah melaju keluar dari komplek Grand City.
Hiruk pikuk kendara'an sudah mulai memadati jalan raya, Rangga pun melaju agak sedikit pelan.
"Waduuh gimana nih, sudah mulai macet." Batin Rangga.
Karena Rangga ingin segera sampai di kantornya, Rangga langsung berbelok ke kanan, guna menghindari macet.
Rangga melaju di jalan yang tidak terlalu lebar, jalan perkampungan yang menghubungkan antara dua kecamatan.
Walaupun Rangga tidak melaju dengan kencang, karena medan jalannya yang kecil dan banyak tikungan, yang penting bagi Rangga bisa melaju dengan lancar.
Ketika Rangga lagi asik mengemudi mobil, tiba-tiba ada dua sepeda motor menempel bodi mobil, sambil mengetuk-ngetuk pintu kaca jendela samping kanan.
"Itu orang mau ngapain sih, mau begal gue apa." Gerutu Rangga, sambil menginjak gasnya banting setirnya ke kanan, berniat ingin memeped dua sepeda motor yang terus menempelnya.
Tapi kedua pengendara motor itu, sangat lihai dalam mengendalikan kendara'annya.
Brugh brugh..
Terdengar suara benturan pada bodi belakang mobilnya.
"Woi jangan macam-macam ya sama gue." Teriak Rangga sambil mengintai dari kaca sepion.
Lalu kedua pengendara motor itu langsung menyalip mobilnya Rangga, sambil mengetuk kaca jendela mobilnya dengan selongsong pistol.
Tok tok tok.
"Berhenti, gak lo' atau peluru ini akan menghancurkan batok kepalamu." Ancamnya.
__ADS_1
Rangga tidak memperdulikan ancaman dari pengendara motor tersebut, ia malah langsung ngegas mobilnya.
Mobil Honda civic warna maroon, melaju dengan cepat meninggalkan dua pengendara motor, sehingga Rangga kini telah berbelok ke jalan raya pelita.
Dan kedua pengendara itu, menurunkan laju speednya, kemudian berhenti sejajar.
"Gimana nih langkah selanjutnya." Bertanya.
"Sekarang kita kembali lagi ke markas, memberi laporan pada Bang Jorda." Jawabnya.
Ternyata kedua pengendara sepeda motor itu, tak lain adalah Babon dan Tenggo.
............
Tiga hari kemudian.
Bertepatan dengan libur panjang para karyawan, Jorda, Babon dan Tenggo sudah bersiap-siap untuk menjalankan misinya yang terakhir.
Ketika malam telah tiba, Jorda melacak keberada'annya Rangga, yang berada di luar kota Bandung.
Di sebuah Fila di wilayah kota kabupaten sebelah barat kota Bandung.
Rangga lagi asik bersama wanita yang bukan istrinya.
Rangga memberi alasan pada Vina, dan mertuanya, ada meeting di luar kota mengerjakan proyek baru.
Tapi nyatanya, lelaki yang selalu di banggakan oleh Rosa, kini telah asik memadu kasih dengan wanita simpanannya.
Malam itu, setelah Rangga selesai bercinta dengan Kentari wanita simpanannya.
Mereka duduk di teras Fila lantai atas, sambil menikmati udara malam pegunungan yang terasa dingin menusuk pori-pori kulit.
Pukul 23;40 menit.
Ketika Rangga dan Kentari lagi asik bermesra'an, di ronde kedua.
Cuaca udara malam mendadak terasa panas, lalu Rangga turun dari ranjang setengah bugil mengambil remote Ac yang berada di meja agak jauh dari ranjang tempat tidur.
Kentari yang lagi tidur terlentang tanpak busana, tersenyum melihat rudalnya Rangga yang Long BiG.
Setelah itu Rangga meneruskan kembali permainannya.
Karena lagi asiknya mereka bercinta, dengan dorongan sahwat dari keduanya, sehingga mereka tidak mengetahui, diluar fila ada tiga bayangan hitam berkelebat, memasuki lantai dasar fila.
Kemudian bayang tersebut bergerak ke atas(lantai dua).
Langkah yang sangat teratur tidak terdengar suara sedikitpun, menuju kamar di mana Rangga dan Kentari lagi bercinta.
Keletrek
Ceklek ceklek
Suara kunci pintu terbuka.
Sontak saja Rangga terkejut sambil melepaskan permainannya.
Rangga terperanjat membalikan tubuhnya, dengan netranya melotot ke arah balik Pintu.
"Gak ada apa-apa ko." Ucap Rangga.
Lalu kentari bangkit sambil nenyandarkan punggungnya di sandaran ranjang tempat tidur.
"Ada apa sayang?." Tanya Kentari.
"Seperti suara kunci terbuka sayang, Sebentar ya aku lihat dulu." Tukas Rangga, sambil meraih kain untuk menutupi tubuhnya.
Baru saja Rangga mau melangkah.
Dor dor dor.
Suara tembakan yang tidak begitu kencang suaranya, seperti telah di redam.
Auugh
__ADS_1
Kentari Kaget dan menjerit ketika melihat Tubuh Rangga ambruk dengan bersimpuh darah.