Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 147 Pulang Membawa Jenajah.


__ADS_3

Setelah itu Andi langsung menghubungi petugas kepolisian untuk segera datang ke tempat itu.


Singkat cerita.


Aparat kepolisian pun sudah datang, setelah mendapat laporan dari Andi tentang kasus terjadinya pembunuhan di sebuah bangunan kerucut.


Pihak kepolisianpun sudah membawa Rangga, dan Kawanan Jony Baret untuk menjalani proses hukum, atas tindakan nya yang sudah menghilangkan nyawa orang.


Setelah aparat kepolisian pergi, Andi pun langsung menghubungi pihak rumah sakit, untuk membawa Ambulance guna membawa jenajah Pajar Arya Wirata, karena Pajar Arya Wirata masih berada dalam tanggung jawab pihak Rumah Sakit Harapan.


Setelah pihak Rumah Sakit Harapan menjalani atopsi pada jenajahnya Pajar, barulah jenajah di bawa ke rumah untuk di urus sebaik-baiknya menurut agama yang di anut oleh keluarga Pajar Arya Wirata.


Setelah pengurusan jenajah beres, jenajah pun di bawa ke Masjid untuk melaksanakan solat jenajah.


Selepas itu, jenajah pun di masukan kedalam keranda, untuk di bawa ke tempat pemakaman umum.


Seluruh warga komplek Grand City berbela sungkawa atas meninggalnya Pajar Arya Wirata, karena almarhum semasa hidupnya, selalu baik pada setiap orang. Maka tak heran di sa'at kepulangannya Pajar menghadap ilahi, warga komplek ikut prihatin atas apa yang telah menimpa Pajar dan keluarganya.


Pemakaman pun selesai sudah, kemudian di langsungkan dengan tawasul atau tahlil, mengirim doa atas kepulangannya Almarhum untuk selama-lamanya.


Tiga puluh menit kemudian.


Orang-orang yang hadir di pemakaman telah bubar. Tinggal Vina dan Buk Rosa serta keluarga besarnya Pajar dan Ibuk Rosa.


Andi beserta keluarga besar Gang Si'iran ikut berduka atas musibah yang telah menimpa keluarganya Rosa.


Vina tidak henti-hentinya menangis, meratapi kuburan ayahnya yang masih merah, yang di penuhi oleh bunga-bunga yang masih segar.


Andi beserta keluarga besar Gang Si'iran berdiri di belakangnya Vina yang lagi jongkok.


Kemudian Andi maju dua langkah menghampiri Vina.


"Kamu yang sabat Vin, iklaskan kepergian ayahmu, jangan kau teteskan air matamu di kuburan ayahmu yang masih merah, karena akan menjadi penghalang jalan menuju surga." Ujar Andi sambil memberikan sapu tangan pada Vina.


"Makasih An." Jawab Vina sambil meraih sapu tangan dari tangan Andi.


Kemudian setelah suasana di kuburan sudah sepi, Buk Rosa memegang kedua bahunya Vina.


"Ayo nak kita tinggalkan kuburan ayahmu, doakan ayahmu supaya mendapat tempat yang indah di sisi Allah SWT, orang-orang sudah menunggu kita di rumah." Ajak Rosa.


"Ibuk pulang aja duluan, aku masih ingin di sini menemani ayah." Tukas Vina.


Kemudian Rosa menatap pada Andi, Erik dan Abeng.


"Nak Andi, nak Erik dan nak Abeng, temenin dulu Vina ya, takut kenapa-napa, ma'af ya kalau ibuk merepotkan kalian." Ujar Rosa.


"Baik Buk, sebaiknya ibuk pulang aja dulu, karena para tamu yang ngelayad lagi menunggu di rumah, biar Vina kami yang nemenin." Tuaks Andi.


Rosa pun lalu melangkah pergi meninggalkan Vina, Andi dan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Suasana di kuburan nampak sepi, angin bertiup menerpa daun dan bunga kamboja, yang banyak tertanam di sekitar tempat itu.


Andi, Erik dan Abeng masih berdiri menemani Vina.


...................


Seminggu kemudian.


Setelah acara tahlilan tujuh harinya selesai, Andi, Erik, Abeng dan Konta duduk di bangku di bawah pohon jambu bool, yang selalu di temani dengan secangkir kopi hitam.


Kemudian Vina datang membawa makanan kue-kue


"Biar lengkap ngopinya nih." Ujar Vina sambil meletakan kue di atas meja.


"Gak usah repot-repot Vin." Tukas Andi.


"Tidak ko, aku tidak merasa di repotkan, justru aku yang sudah merepotkan kalian." Ujar Vina.


"Enggak ko, kami pun tidak merasa di repotkan." Ujar Andi membalikan ujaran Vina.


"Ada satu perminta'an dari gue." Ucap Vina.


"Apa tuh?." Pungkas Erik bertanya.


"Kalian jangan dulu pulang ya, temenin gue dulu ya, kalau kalian pada pergi, gue merasa sedih." Tukas Vina.


"Oke siap, kami pun mengerti dengan kondisi lo' sa'at ini." Ujar Abeng.


"Sama-sama." Serempak menjawab.


"Idiiih kompakan amat sih." Ujar Vina.


"Kita kan sahabat yang pastinya selalu kompak." Ujar Andi.


Vina kini sudah nampak bergairah lagi hidupnya, ia pun sudah mengiklaskan kepergian ayahnya, di tambah mendapat pencerahan hati dari ustad, bahwa semua mahluk hidup pasti akan menglami yang namanya kematian.


Sesuai dengan baca'an bila ada orang yang meninggal atau kena musibah, setiap orang muslim pasti mengucapkan, Inalilahi wa ina ilaihi rojiun.


Vina memang agak begitu kurang tentang pengetahuan agamanya, karena dari semenjak sekolah SMP hingga masuk bangku kuliah ia di sibukan dengan buku pelajaran di sekolah atau di kampus.


Karena orang tuanya juga selalu sibuk dengan bisnisnya, sehingga anaknya kurang begitu memahami dalam hal agama.


Malam itu cuaca nampak cerah, angin sepoi-sepoi meniup begitu sejuk, seperti lagi memberi kesejukan pada Vina sekeluarga.


Kepulan asap dari aroma tembakau yang terbakar, menjadikan suasa di blok G/10 Komplek Grand City menjadi hingar bingar, apalagi Konta yang gemar sekali bergurau persis seperti ayahnya Kamal.


Vina pun cekikikan dengan leluconnya Konta yang selalu membuat orang tertawa.


"Aduuh sampai sakit nih perut gue, dari tadi ketawa mulu." Ujar Vina.

__ADS_1


"Awas banjir lho." Timpal Abeng.


"Iih jorok tau, ya kagaklah emangnya para manula, kalau tertawa suka di barengi sama buang air kecil dan gas alam." Tukas Vina.


Konta tertawa tipis sambil menyeripit kopi di gelas kaca.


"Mantap benar nih kopi." Ujar Konta sambil meletakan gelas kopi di meja.


Andi pun tersenyum melihat wajah Konta yang lucu.


Kemudian setelah itu, Konta menghisap sebatang roko, dan di hembudkanya asap putih dari mulutnya.


"Widiih nikmat benar lo merokoknya." Tukas Abeng.


"Iya dong bang, kalau meroko itu yang di butuhkan kita adalah nikmatnya dari cita rasa tembakau." Ujar Konta.


"Ah elo bisa aja sih dek, kaya makanan aja." Ujar Andi.


"Ya iyalah, masa iya-iya dong." Tukas Konta


Tersenyum semringah nampak di wajah Vina, merasa sangat terhibur dengan kehadiran nya Konta di tengan-tengah mereka.


Kini malam pun semakin larut, Andi menyingsingkan lengan jaketnya melihat jarum jam telah menunjukan pukul 23:45 menit.


Andi, Erik dan Abeng serta Konta sepakat untuk pamit pulang pada Vina.


"Vin kami pamit dulu ya, sudah jam dua belas kurang nih, soalny besok gua harus kerja." Pamit Andi.


"Oh iya, makasih ya semuanya, sudah menemani gue." Tukas Vina.


"Elo yang sabar ya, tetap semangat." Timpal Erik.


"Gua juga pamit ya, nanti kapan-kapan kita kumpul bareng lagi." Pungkas Abeng.


Kemudian Konta pun beranjak bangkit sambil mengambil dua potong kue bolu susu.


"Gua juga pamit, dan ma'af gua ambil kue dua potong." Ujar Konta sambil memakan kue tersebut.


Vina tertawa sedikit.


"Iya bawa aja semua, gue masih banyak ko di kulkas." Tawar Vina.


"Enggak ko, butuhnya juga cuma dua." Jawab Konta.


Andi sampai geleng-gelengkan kepala.


"Dasar sio kerbau, ngunyah aja." Ujar Andi.


"Hahaha...Ko abang Andi jadi sewot sih, mbak Vina juga tidak apa-apa, iya kan mba." Ujar Konta sambil menoleh pada Vina.

__ADS_1


Vina menganggukan kepalanya, sambil tersenyum tipis.


__ADS_2