
Setelah mobil terparkir Andi membukana pintu mobilnya, kemudian berjalan mendekati pintu di mana Rara duduk, perlahan tangan Andi membukakan pintu mobil untuk Rara.
"Silahkan tuan putri." Ucap Andi sambil membungkukan badannya.
Rara hanya tersenyum tipis mendapat perlakuan yang begitu romantis dari Andi.
"Terima kasih pangeran yang tampan." Tukas Rara.
Andi tidak menyadari bahwa kehadirannya sudah di tunggu sedari tadi oleh Vina, yang lagi duduk di pojok teras Rumah Sakit.
Vina memandang Andi dan Rara yang begitu Romantis, lalu tersirat di hatinya ingin merebut kembali Andi yang pernah menjadi miliknya.
"Alangkah bahagian gue, bila hari ini masih bersamamu An, elo benar-benar lelaki yang sangat perhatian, begitu bodohnya aku, kenapa harus jatuh ke dalam pelukan Rangga, lelaki bajingan itu." Batin Vina mengungkapkan sebuah penyesalan.
Kemudian Vina berjalan untuk menyambut Andi dan Rara, dengan merubah sikapnya/menyembunyikan perasa'an cemburunya.
"Hai Andi, Rara." Panggil Vina sambil melambaikan tangannya.
Andi dan Rara yang lagi berjalan menaiki trapan tangga teras Rumah Sakit, langsung menoleh ke arah pusat suara.
"Vina, sudah lama menunggu?." Tanya Andi.
"Baru aja aku sampai sini." Ujar Vina berbohong.
Padahal dari semenjak Andi memasuki area parkiran, sampai Andi dan Rara terlihat begitu Fomantis, Vina sudah tahu semuanya.
Kemudian Rara mengulurkan tangannya pada Vina sambil menyapa.
"Mba Vina gimana kabarnya." Sapa Rara.
"Alhamdulilah baik, makasih ya kalian sudah mau datang menjenguk orang tua aku." Tukas Vina.
"Ya sudah sekarang langsung aja ke ruangan tempat ayahmu di rawat." Timpal Andi.
"Ayo ikuti aku." Ujar Vina.
Vina, Andi dan Rara berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju ruangan tempat dirawatnya ayahnya Vina.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan pintu ruangan tempat Pak Pajar Arya Wirata di rawat.
"Sebentar ya aku masuk dulu untuk memberi tahu Ibuk." Ujar Vina langsung membuka pintu ruangan tersebut.
Setibanya di dalam nampak Rosa lagi menyuapin suaminya.
"Kamu dari mana aja Vin?." Tanya Rosa.
"Aku habis jemput Bang Andi di depan mau jenguk ayah." Ujar Vina.
__ADS_1
"Oh ya, sekarang di mana Andinya?." Ujar Rosa balik bertanya.
"Masih di luar sama pacarnya." Jawab Vina.
"Ya sudah ajak masuk sini, yang kebetulan waktunya jam besuk." Tukas Rosa sembari melihat jam yang menempel di dinding atas ruangan.
Vina pun langsung keluar, meminta pada Andi dan Rara untuk masuk, karena waktu jam besuk sudah tiba.
Andi dan Rara lalu melangkah kan tungkai kakinya memasuki ruangan tempat Pajar Arya Wirata di rawat.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi.
Rosa lalu menautkan pandangannya menatap tengadah pada Andi begitu intens, betapa terkejutnya Rosa melihat penampilan Andi yang sangat tampan dan gagah sekali, lalu Rosa menjawab salamnya Andi.
"Wa alaikum salam, eeh nak Andi, ini siapa? Pacarmu ya?." Tanya Rosa.
Andi cuma menganggukan kepalanya sambil berkata.
"Om sakit apa Tante?." Tanya Andi.
"Ya begitulah nak Andi, kalau di ceritakan, rasanya tante ini merasa bersalah banget padamu, mungkinkah ini semua karma atas sikap tante padamu." Ujar Rosa teringat ke masa-masa ke belakang, di mana dirinya sering menyakiti hati Andi karena prilakunya yang kurang terpuji.
"Sudahlah Tante tidak usah membahas yang berlalu, aku pun sudah melupakan itu semua." Ujar Andi.
"Terima kasih nak Andi atas kemurahan hatimu." Tukas Rosa.
"Selamat malam Om, masih ingat sama aku Om." Lirih Andi menyapa.
Pajarpun langsung membuka matanya menatap pada Andi dan Rara.
Dengan suara agak serak dan netranya nampak sayu, Pajar berkata.
"Nak Andi ini." Ucap Pajar.
"Iya Om ini aku Andi Nayaka teman sekolahnya Vina, putri Om." Ujar Andi.
Kemudian Pajar membagi pandangannya pada Vina.
"Ini siapa? Pacarmu?." Tanya Pajar.
Sebelum Andi menjawab pertanya'an dari Pajar, Rara langsung memperkenalkan dirinya.
"Aku temannya Andi Om, kenalkan namaku Rara, dan Om semoga cepat sembuh ya." Ujar Rara.
"Iya terima kasih, kamu cantik sekali nak, dan kamu sangat serasi bila berada di sisinya Andi." Ujar Pajar.
"Ah Om bisa aja, ku cuma gadis desa Om, masih cantikan Mbak Vina." Tukas Rara.
__ADS_1
"Pada dasarnya semua manusia sama di hadapan Tuhan, mau orang kota atau orang desa, yang penting hatinya." Timpal Pajar.
Rara cuma menganggukan kepalanya, Pertanda mengerti dengan ucapannya Pajar.
"Om Cepat sembuh ya, dan Om jangan terlalu banyak pikiran, pasrahkan aja semua pada Allah Swt, karena beliaulah yang maha memiliki segalanya." Pungkas Andi.
"Iya nak Andi terima kasih, ma'afin Om ya, bila sebelumnya Om sekeluarga sudah banyak menyakitimu." Ujar Pajar.
"Sudah Om, tidak usah membahas masa lalu, yang terpenting Om harus memikirkan kesehatan Om." Tukas Andi.
Jam besuk pun sudah mau habis, Andi dan Rara pun pamit pada Pajar dan Rosa.
Setelah Andi dan Rada keluar dari ruangan tempat Pajar di rawat.
Vina pun ikut mengantarkan Andi dan Rara sampai parkiran.
"Oh iya, Vin gimana kalau kita makan-makan dulu, gua lihat di sekitar Rumah sakit banyak pedagang kuliner dengan aneka masakan." Ujar Andi sambil menoleh pada Rara.
Rarapun langsung respek dengan tatapannya Andi, yang se olah-olah meminta inin dirinya.
"Iya Mbak, mungpung kita bertemu, susah lo' cari kesempatan seperti ini." Ajak Rara.
"Gimana ya, mhhh, boleh juga sih." Jawab Vina pura-pura.
Padahal di hatinya ia merasa senang bisa bertemu Andi, dan pingin lebih lama lagi.
Apalagi dengan dandanan Andi malam itu nampak berbeda dengan biasanya, yang selalu bergaya lelaki Bad Boy, kini seperti seorang Sultan.
Kemudian Andi, Rara dan Vina berjalan kaki keluar dari area rumah sakit.
Mereka memasuki sebuah ruangan pedagang yang menjual makanan olahan.
Andi dan Rara duduk sejajar sedangkan Vina duduk menghadap pada Andi dan Rara.
Kemudian Andi segera memesankan makanan tiga porsi serta minumannya.
Tidak lama kemudian pesanan sudah datang mendarat di meja siap untuk di santap.
"Ayo Vin di makan, kalau gua lebih suka makanan seperti ini ke timbang makan-makanan yang serba modern." Ujar Andi.
"Iya sama aja, gue juga, apalagi dari sejak kecil gue kan tinggal di kampung di tempat bibi." Tukas Vina.
"Ooh jadi Mbak Vina pernah tinggal di kampung, di mana emang?." Tanya Rara.
"Aku dari kecil tinggal di Tasik, setelah lulus sekolah dasar aku pindah ke sini, melanjutkan sekolah SMP dan SMA." Jawab Vina.
"Oh begitu."
__ADS_1
Selama menyantap makanannya Vina, selalu melirik Andi, seperti ada yang beda dalam penampilannya Andi.