Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 69 Suasana kota.


__ADS_3

Setelah sekian lamanya Andi berada di tempat Jupri.


Tidak terasa waktupun sudah menunjukan pukul 16:00.


"Setelah sekian lama gua tidak kesini dikira abang sudah punya istri." Cetus Andi.


"Gak tau nih An, gak ada wanita yang cocok buat gue, yang mengerti ke ada'an gue, barang kali di tempatmu ada gtu wanita yang baik yang ngertiin keada'an gue." Ujar Jupri.


"Ada sih, kalau elo' mau, namanya Mery dia bekerja di kedai gua." Tukas Andi.


Jupri terkejut, tapi bukan masalah wanita, Jupri terkejut ketika Andi menyebut Kedai miliknya.


"Jadi elo punya kedai, berarti elo' orang tajir dong." Cetus Jupri.


"Punya orang tua gua, yang sekarang khusus buat jatah nyokap gua." Ujar Andi.


"Punya orang tua ya punya anak juga." Tukas Jupri.


"Ya itu bagi orang lain, tapi bagi gua ya enggak, gua sama seperti orang-orang di luar sana, tidak punya apa-apa, motorpun itu peninggalan Almarhum bokap gua." Ujar Andi.


"Kan ada pepatah mengatakan, harta orang tua harta anak juga." Ujar Jupri.


"Iya itu kan pepatah mengatakan begitu, tapi bagi gua lain lagi, harta orang tua ya hak orang tua, terkecualai kalau orang tua kita sudah meninggal semua, baru hak warisnya jatuh pada keturunannya(anak)." Ungkap Andi.


"Wah ternyata elo pikirannya bijak juga." Ujar Jupri.


"Bijak apa bajak Bang." Tukas Andi.


Setelah itu Andi menoleh ke arah jam yang menempel di dinding rumahnya Jupri.


"Wah tidak terasa Bang, waktu sudah sore, gua pulang dulu ya, ingat nanti main ke tempat gua ya, tenang ada mery, orangnya cantik kok." Ujar Andi.


"Insa Allah, gue kapan-kapan main, dan gue juga pingin tahu Gang Si'iran, gue hanya dengar dari omongan orang saja, sedangkan tempatnya pun gue belum tahu." Ujar Jupri.


Setelah itu Andi beranjak keluar dari dalam rumah, memburu pada motornya, yang di kuti oleh Jupri.


"Oh iya gua sampai lupa, bentar ya gua mau bayar kopi sama roko dulu." Ujar Andi sambil berjalan menuju warung Buk Enok.


"Buk, tadi kopi sama roko berapa?." Tanya Andi.


Buk Enok langsung keluar. "Eeh si ganteng, mau pulang nih?." Ujar Buk Enok balik bertanya.


"Iya Buk, jadi berapa semua." Tukas Andi.


"Apanya?." Tanya Buk Enok belum konek rupanya.


"Masa Allah, tadi kopi dua sama roko dua bungkus semua berapa, Buk Enok yang yang demplon." Gurau Andi sedikit mengalem.

__ADS_1


Buk Enok malah tambah kegenitan di alem sama Andi.


"Emang Ibuk demplon, nak Andi naksir ya, hehee." Tukas Buk enok sedikit nakal.


"Iiihh, amit-amit, pantes nya Ibuk jadi nenek ku." Ujar Andi kesal.


"Jangan begitu atuh nak Andi, tadi nanya apa nak Andi." Timpal Buk Enok.


Andi sampai menepuk jidatnya sendiri, dengan sikapnya Buk Enok, lalu Andi mengambil sebuah pensil yang tergeletak di atas talase, lalu Andi menulis di atas kertas bekas bungkus roko, dan langsung di berikan pada Buk Enok.


"Nih Buk." Ujar Andi sambil menberikan sebuah kertas bekas bungkus roko.


"Apa ini nak Andi." Tukas Buk Enok.


"Ya di Baca dong." Timpal Andi.


Setelah Buk Enok membaca tulisan yang menggores di atas kertas roko, Buk Enok tersenyum.


"Hehee, semuanya lima puluh ribu nak Andi." Ujar Buk Enok.


Kemudian Andi pun mengambil dompetnya di saku celana bagian belakang, lalu di ambilnya uang sebesar Lima piluh ribu rupiah.


"Nih Buk, ma'af ya lama." Tukas Andi sambil memberikan uang tersebut.


"Tidak apa-apa ganteng, nyantai saja." Ujar Buk Enok.


"Eh kamu ngapain aja sama Buk Enok, kok lama banget sih?." Tanya Jupri.


"Tua tuh Buk enok, rupanya sudah rada-rada gitu ya." Ujar Andi.


"Hahaha, memang gitu Buk Enok, apalagi kamu kan ganteng pastilah jadi bahan tontonan janda tua itu." Ejek Jupri.


"Ah sue lo' malah elo jadi ketularan Buk Enok." Tukas Andi.


"Sori kawan gue kan bercanda." Ujar Jupr.


"Ya sudah gua pulang dulu ya, kaya nya gua solat maghrib di jalan nih." Pamit Andi.


"Solat dulu aja di sini An." Tawar Jupri.


"Entar aja di jalan."


"Ya sudah, hati-hati lo' apalagi sekarang malam minggu, suka banyak orang-orang sinting di jalan." Ujar Jupri.


"Oke makasih Bang." Jawab Andi sambil menyalakan sepeda motornya.


Setelah itu Andi melaju keluar dari halam rumah Jupri, menelusuri sepanjang jalan gang kecil di antara padatnya rumah penduduk.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Andi sudah tiba di jalan Raya.


Suara kenalpot pun terdengar dengan suara khasnya, melaju dengan cepat di jalan Angkasa.


Ketika Andi lagi melaju terdengar suara adzan maghrib yang berkumandang di setiap masjid, Andi pun lalu membelokan kendara'annya memasuki halaman Masjid.


Lalu Andi melangkah turun dari motornya, berjalan menuju tempat wudhu.


Kemudian Andi langsung masuk kedalam, dan berdiri di barisan ke tiga untuk melakukan solat berjama'ah.


Setelah selesai solat berjama'ah, Andi berjalan menuju sebuah kas bertuliskan kotak amal, lalu Andi mengeluarkan dompetnya dan di ambil selembar uang, lalu di masukan melalui lubang kecil di kotak tersebut.


Kemudian ia melangkah keluar teras, lalu Andi menurunkan tubuhnya duduk di teras sambil memakai kan sepatu.


Setelah itu ia berjalan menuruni trapan tangga Masjid menuju pada motornya yang terparkir di halaman masjid.


Lalu Andi melajukan kembali motornya keluar dari halaman masjid menuju jalan raya.


Sementara suasana kota di malam hari, bertepatan dengan malam minggu sangat ramai sekali.


Lalu lalang kendara'an yang kebanyakan anak-anak muda yang mau bermalam minggu, memenuhi setiap tempat hiburan dan tempat perbelanja'an.


Andi masih tetap melaju keluar dari Jalan Angkasa, memasuki Jalan Halilintar, yang kebetulan lampu stopan lagi berwarna hijau.


Para petugas pun sudah mulai beroperasi keliling ke setiap jalan-jalan yang di anggap paling rawan kejahatan


Andi terus melaju di Jalan Halilintar, bersama'an dengan melengkingnya suara Alarm pada mobil petugas yang melaju dengan kencang.


Andi celingukan sambil berkata-kata dalam hatinya.


"Mobil patroli lagi ngejar apa sih, gua tidak melihat hal yang mencurigakan." Batin Andi sambil melaju kencang.


Ketika Andi melihat ke jalur kanan, nampak terlihat oleh Andi sebuah motor Yamaha Vixion sedang melaju dengan kecepatan tinggi, yang tentunya akan membahayakan dirinya dan pengguna jalan yang lain.


Lalu Andi menarik gasnya dengan cepat untuk mencari putaran arah dan menempel pada mobil patroli yang lagi berbelok arah.


Tid tidid..


"Ma'af pak, kalau boleh saya tau, bapak lagi ngejar apa?." Tanya Andi bernada keras karena bisingnya suara kendara'an.


"Oh kebetulan dek, tolong kejar motor yamaha Vixion dengan nomor polisi xxxxx, dia pelaku penodongan di lampu merah Angkasa, yang mengakibatkan korban terluka kena goresan senjata tajam." Tukas Polisi.


"Baik pak, saya siap membantu." Ujar Andi sambil celingukan berbelok mengambil jalur kanan.


Kemudian motor Yamaha Rx king cobra, yang sudah di korek bagian dalamnya meluncur dengan cepat seperti sebuah busur lepas dari gondewa.


Weng weeeengggg...

__ADS_1


Suara kenalpot dari motor Yamah Rx king begitu nyaring se akan memecahkan gendang telinga.


__ADS_2