
Selepas itu Andi langsung mengetuk pintu tiga kali sambil mengucapkan salam.
Tok
Tok
Tok
"Assalam mu'alaikum, Buk, Ibuk aku pulang Buk." Sapa Andi.
Selang beberapa menit terdengar suara kunci pintu di buka.
Ceklek
Ceklek
Lalu pintu pun terbuka perlahan bersama'an dengan munculnya se orang wanita paruh baya yang nampak masih cantik, yang tak lain adalah Sindi.
"Andi... Ko sampai malam begini, emang PkL nya sampai malam?." Tanya Sindi.
"Tidak buk, Biasa seperti karyawan pada umumnya, cuma di jalan tadi ada kendala, ya nanti aku ceritain." Jawab Andi sambil melangkah kan tungkai kakinya memasuki kedalam rumah.
Kemudian Sindi langsung menutup pintu dan kembali di kunci.
"Kamu makan dulu nak, sudah tentu kamu capek seharian bekerja biarpun cuma PkL, yang pastinya banyak menguras tenaga dan pikiran." Ujar Sindi.
"Iya Buk, tapi aku suka, karyawannya pada baik padaku, dan aku juga sama dapat gaji, walaupun cuma satu perempat dari gaji karyawan, kan lumayan, bisa tambah ilmu juga." Saut Andi.
"Ya sudah tentu nak, apalagi perusahaan itu kan perusahaan Bonapid."
Kemudian Andi melangkah menuju ruang makan lalu menurunkan tubuhnya duduk di kursi untuk makan malam dengan lauk pauk yang telah di sediakannya oleh Sindi.
Selepas sehabis makan, Andi bergegas masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan Sindi masih duduk di sopa di ruang tengah sambil menonton acara televisi, lalu tiba-tiba ponsel Sindi berbunyi.
Sindi langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja, ternyata Nandi yang telah menghubunginya.
๐.Nandi "Assalam mu'alaikum mah."
๐.Sindi "Wa alaikum salam pah, gimana papah kerja'annya lancar gak?."
๐.Nandi "Alhamdulilah mah, kerjaannya lancar, gimana Andi pulang gak?."
๐.Sindi "Pulang pah, malahan barusan abis makan, sekarang lagi di kamarnya."
๐.Nandi "Ko PkL jam segini baru pulang sih mah ."
๐.Sindi "Katanya sih di jalan ada kendala, tapi mamah lupa mau nanya , padahal Andi sendiri bilang tadi katanya sehabis makan mau cerita."
Bersama'an dengan obrolan Nandi dan Sindi di tetlepon, Andi keluar dari dalam kamar langsung menghampiri ibuknya duduk di sopa.
__ADS_1
"Mamah ngobrol sama siapa?." Tanya Andi
"Ya sama siapa lagi kalau bukan sama Ayahmu dan ayahmu nanyain kamu kenapa jam segini baru pulang." Jawab Sindi.
"Ooh iya aku lupa mah, tadi aku mau cerita, tadi ku waktu dalam perjalanan pulang ada dua orang wanita yang di kejar-kejar oleh ke empat lelaki berwajah sangar, aku tidak tega melihatnya, lalu aku turun dari motor dan langsung menolong wanita itu, yang akhirnya aku terlibat perkelahian sama ke empat preman itu, al hasil ku bisa melumpuhkan mereka.
"Oh begitu toh."
Kemudian Sindi menceritakan pada Nandi di telepon, apa yang telah di alami oleh Andi dalam perjalanan pulangnya.
Dan tidak lama kemudian Nandi pun menyuruh Sindi supaya cepat tidur karena malam sudah mulai larut.
Telepon pun sudah di matikannya, Sindi beranjak dari tempat duduknya.
"Nak mamah mau tidur ya, sudah ngantuk." Cetus Sindi pada Andi yang lagi pokus menonton acara televisi.
"Iya mah." Jawab Andi Singkat.
Malam semakin larut, udara dingin menerpa menyelimuti kawasan Gang Si'iran dan seluruh wilayah di kota itu.
Malam itu suasana di Gang Si'iran nampak sepi dan mencekam, orang-orang yang biasa bagian bertugas ronda suka keliling rumah penduduk kini tidak terdengar ada suara kentungan berbunyi.
Pukul 01:30 menit dini hari.
Dari arah samping jalan Gang Si'iran, nampak ada sebuah mobil melaju ke arah rumahnya Nandi, dan mobil itu nampak terlihat berhenti kira-kira sepuluh meteran sebelum rumahnya Nandi.
Kemudian pintu mobil nampak terbuka dan keluar enam bayangan hitam, berpakaian seperti ninja semua wajahnya tertutup oleh cadar, lalu bayangan itu bergerak dengan sangat rapi sudah bisa di pastikan ke enam orang itu bukanlah orang-orang sembarangan, berkelebat seperti angin, dan berjalan tanpak terdengar Suara, sungguh mereka semua adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi.
Si Gery yang insting pendengarannya lebih tajam dari manusia dan sudah mencium satu aura jahat yang lagi mengintai rumahnya Nandi dan pak Dirman.
Sepontan si Gery langsung bangun dan mengonggong dengan keras.
Gouuk goouuk goouuk goouukk.
Pak Dirman Yang baru saja masuk habis dari lapaknya memisahkan barang yang akan di angkut besok pagi, langsung terperanjat kaget, pak Dirman bergegas mengambil senter, lalu keluar dari rumah lewat belakang gudang.
"Sepertinya suara Si Gery ini berbeda dengan biasanya, dan suasana malam inipun nampak sepi mencengkam, coba ku tengok ke arah rumah Nandi." Ujar pak Dirman bermonolog.
Tidak hanya pak Dirman yang mendengar gonggongan Suara si Gery, Buk sari dan kamal serta Andi pun mendengarnya.
Kamal pun langsung beranjak bangun dari tempat tidurnya, lalu netranya menoleh pada kedua anak kembarnya yang kamarnya bersebelahan.
"Konta, Kanti lagi tidur pulas." Batin Kamal.
Sedangkan Astuti tidak ada di rumah menyusul Nandi ke semarang tadi pagi bersama Nina yunita, karena Nandi yang meminta untuk merampungkan kerjaannya supaya cepat selesai.
Kamal berlari ke arah suaranya si Gery, begitu Kamal tiba di sudut rumahnya pak Dirman (mertuanya) Kamal langsung melesat mau menghajar, tapi apa yang terjadi Kamal langsung tersontak kaget karena tidak adanya penerangan di sudut luar sampaing kiri itu, ketika orang itu menoleh ke arah kamal yang mau menghajar.
"Ibuukkk...Di kira orang jahat, untung saja ibuk menoleh ke arahku, ma'af Buk aku tidak tahu kalau ibuk ada di sini, ibuk ngapain di sini." Sontak Kamal bercampur rasa malu.
"Sssttt jangan berisik." Buk sari menempelkanรพ jarinya di kedua bibirnya.
__ADS_1
"Ibuk mau menyusul bapak, sepertinya ada yang tidak beres di rumahnya Nandi." Lanjut Buk sari.
"Sebaiknya ibuk masuk saja kedalam rumah, biar aku sama bapak yang mantau." Bisik Kamal.
Tiba-tiba kamal dan Buk sari di kagetkan oleh suara pak Dirman.
"Wah itu suara Bapak Buk." Ujar kamal langsung berlari ke arah rumahnya Nandi.
Ketika sampai di tempat nampak pak Dirman lagi bertarung melawan enam orang yang bercadar seperti Ninja, dan pak Dirman nampak kewalahan dan terjatuh.
Kamal pun langsung melesat menerjang ke enam orang yang bercadar itu.
"Woiii siapa kalian." Bentak Kamal.
Ke enam orang bercadar itu tidak berkata sedikitpun, mereka hanya menggunakan bahasa kode dengan sesama temannya.
Di sa'at itu pula Andi keluar lewat pintu samping, lalu bergegas ke arah depan pekarangan rumahnya.
"Ada apa ini, Ujar Andi sedikit kaget, ketika melihat kamal lagi bertempur melawan ke enam orang bercadar.
Tanpak banyak komentar lagi Andi langsung melesat melompat ke tengah-tengah arena pertempuran.
Buk sari yang melihat suaminya yang tergeletak, langsung memburu pada pak Dirman.
"Bapaak, tidak apa-apa?." Tanya Buk sari.
"Dada terasa sesak Buk, terkena tendangan orang bertopeng itu, kita harus kasih tau warga Buk." Ujar pak Dirman segera bangkit dan berdiri agak terhuyung sambil memegang dadanya.
Di suasana malam yang semakin larut, kini suasana berubah jadi menegangkan kamal dan Andi yang lagi bertarung dengan Ke enam orang bercadar, yang tingkat kepandaian bela dirinya sudah berada di atas rata-rata.
Nampak terlihat kelelahan, di sisi lain karena usia yang sudah mulai menua, di tambah orang-orang bercadar itu buaknlah orang sembarangan.
Melihat ke adaan yang semakin tidak memungkinkan Buk sari pun langsung berteriak minta tolong pada warga yang lagi
tertidur pulas.
Toloooong tolong toloong
Teriak Buk sari.
Selang Beberapa menit warga pun pada berdatangan.
Begitu mendengar teriakan memanggil warga para manusia bercadar itu, melompat dengan cepat keatas tembok dan memburu pada mobilnya.
Siapa mereka sebenarnya, dan rumah siapa yang akan di jadikan sasarannya.
ikuti kisahnya di episode selanjutnya.
Bila suka, tinggalkan like, comentar, Rat, Vote serta favorit
Terima kasih atas dukungannya salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1