Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 25 Perjalanan Andi Nayaka dan si Gery


__ADS_3

Setelah Andi mengorek keterangan dari pedagang roti bakar yang sempat di beli oleh ibuknya, yang lokasinya memang agak jauh dari rumah sakit, bahwa perempuan paru baya yang persis dengan poto yang di perlihatkan oleh Andi di ponselnya, pernah membeli roti bakar katanya untuk suaminya yang lagi di rawat dalam tahap pemulihan.


"Terus kira-kira mas lihat Gak ibuk ku waktu berjalan memasuki Rumah sakit?." Tanya Andi.


"Ya tidak lah mas, kan saya lagi jualan, emang ada apa gtu mas?." Tanya tukang roti bakar.


Lalu Andi menceritakan dari mulai ayahnya masuk dan di rawat di rumah sakit, sampai mengembuskan napas terakhirnya di tambah ibuknya yang telah hilang entah kemana, hingga saat ini belum ada kabar tentang keberadaan ibuknya.


"Saya ikut terharu mendengarnya, mas yang sabar mungkin itu semua ujian dari Allah." Tukas Tukang roti bakar.


"Iya mas, saya sudah berusaha sabar, tapi tidak semudah itu mas, karena saya manusia biasa, sabar ada batasannya." Ujar Andi.


Kemudian tukang roti bakar memberi sedikit lentera pada Andi.


"Sekarang mas datang ke toko Apotek itu, di situ kan ada cctv yang di arahkan kejalan yang mau mengarah kerumah sakit." Ujar tukang roti bakar sambil meluruskan telunjuknya ke toko Apotek.


Andi nampak semringah, titik terang kini mulai terbuka.


"Bener juga ya, semua cctv di rumah sakit mungkin sudah mereka atur untuk di sabotase, mudah-mudahan saja ada petunjuk lewar cctv kepunyaan toko Apotek itu." Ujar Andi.


"Iya mas semoga mendapat petunjuk ya." Timpal tukang roti bakar.


"Amiin, terima kasih ya mas." Ucap Andi.


"Iya sama-sama."


Lalu Andi berjalan menuju ke sebuah toko Apotek.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi.


"Wa alaikum salam, mau beli obat apa mas?." Tanya pelayan.


"Ma'ap mas aku mengganggu sebentar." Ujar Andi.


"Ada apa gitu mas, biasanya yang datang kesini pasti mau beli obat." Ujar Pelayan.


"Ya tentu saja, ini kan Apotek, tapi saya cuma mau tanya, pemilik Apotek ini mas sendiri." Timpal Andi.


"Saya cuma pelayan, yang punya itu si ibuk yang lagi duduk itu." Tunjuk pelayan pada wanita yang berusia kira-kira tiga puluh tahunan.


Begitu pelayan menunjuk ke arah Bosnya, wanita itu langsung mengangkat wajahnya dengan netranya memandang pada pelayan, lalu beranjak bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah menghampiri pelayan.

__ADS_1


"Ada apa Ron?." Tanya wanita tersebut.


"Ini Buk ada yang mau ketemu sama ibuk." Ujar Pelayan sambil menolehkan pandangannya ke arah Andi.


Andi pun langsung mengulurkan tangannya pada pemilik toko, sambil berkata.


"Ma'ap Buk kalau saya mengganggu." Ujar Andi


"Iya Dek ada apa?." Tanya pemilik Toko.


"Bolehkah kita bicara secara empat mata." Ujar Andi.


"Emang ada apa sih dek, bicaralah jangan bikin orang jadi bingung." Ujar pemilik Toko sedikit kesal dengan sikapnya Andi yang bertele-tele.


"Baiklah kalau Begitu." Tukas Andi.


Lalu menceritakan maksud kedatangannya ke toko tersebut, ingin melihat rekaman cctv di hari.. tanggal.... dan jam... yang andi sebutkan perihal ibuknya yang hilang tanpak ada kabar dan berita.


"Nah begitu buk, terakhir ku dapat inpo dari penjual roti bakar itu, pada hari, tanggal dan jam yang sama." Ujar Andi sambil menunjuk ke arah si penjual roti bakar.


"Ooh begitu toh, kenapa tidak ngomong dari tadi sih dek, oke kalau begitu ayo kamu ikut ibuk." Ajak pemilik Toko mengajak Andi masuk ke ruangan kecil untuk membuka rekaman cctv pada hari, Tanggal dan Jam yang Andi sebutkan.


Setelah sang pemilik Toko membuka rekaman cctv, nampak terlihat oleh Andi wanita paruh baya dengan mengenakan pakaian serba tertutup dan berjilbab.


Setelah gambar vidio recaman di perjelas, nampak wanita itu berjalan mau mendekat ke area rumah sakit, tapi ada dua lelaki menghmpiri dan langsung membekam wajah wanita paruh baya itu dengan sehelai sapu tangan, lalu sebuah mobil datang dan berhenti, kemudian kedua lelaki itu membawa masuk wanita tersebut kedalam mobil, dan langsung tancap gas.


Wajah Andi langsung memerah, ketika Merk mobil dan warnanya yang sama persis dengan waktu pertama ia lihat di pemakaman almarhum ayahnya.


"Kurang ajar, benar duga'anku, ternyata pelakunya orang yang sempat ku lihat di pemakaman ayah." Batin Andi.


"Bagaimana dek apa sudah jelas?." Tanya pemilik toko.


"Iya Buk terima kasih, walaupun nomor polisinya tidak terekam camera, setidaknya aku kenal dengan mobil itu." Ujar Andi.


"Iya dek sama-sama, semoga ibukmu cepat di ketemukan ya." Ujar pemilik Toko ikut prihatin.


"Amiin Buk, terima kasih." Tukas Andi.


Selepas itu Andi pun langsung beranjak pergi meninggalkan toko Apotek tersebut, berjalan memburu pada motornya dan si Gery yang lagi tiduran di bawahnya.


"Gery bangun, kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Ujar Andi.

__ADS_1


Perlahan si Gery menggerakan tubuhnya lalu bangkit berdiri sambil memandang pada Andi yang lagi menyalakan motornya.


Setelah motor di nyalakannya, Andi langsung tarik gas dan kopling bersama'an dengan kaki kiri menekan porseneleng untuk memasukan gigi pertama.


Kini motorpun sudah melaju meninggalkan area rumah sakit, dengan suaranya yang khas dan kepulan asap putih tipis yang keluar dari selongsong kenalpot.


Andi terus memutar mutar di wilayah dalam kota, bahkan sampai ke peloksok pinggiran kota, setiap ada orang yang nongkrong Andi datangi dengan memperlihatkan poto Sindi di ponselnya, tapi tak satupun orang yang Andi tanyai mengenal atau pernah melihatnya.


Andi lalu menghentikan laju kendara'annya sambil menoleh pada si Gery yang nampak seperti ke lelahan.


"Kau lelah ya sobat, bentar ya aku belikan dulu makanan." Ujar Andi sambil melangkah turun dari motor, lalu bergegas pergi menuju pada sebuah warung nasi.


"Buk, bungkus Nasi dua, yang satu pakai ayam empat potong, dan yang satunya pakai ikan, Ur-ap dan sambal ya Buk." Pesan Andi.


"Baik Dek." Jawab pemilik warung nasi.


Tidak lama kemudian pemilik warung nasi, menyerahkan kantong plastik berisi nasi bungkus pada Andi.


"Berapa Buk?." Tanya Andi.


"Empat puluh ribu dek." Jawabnya.


Tanpak banyak komentar Andi pun langsung mengeluarkan dompetnya lalu di cabut dua lembar uang nominal dua puluh ribu, untuk membayar dua bungkus nasi.


Setelah itu Andi kembali pada si Gery yang lagi duduk.


"Nah ini buat kamu gery, dengan nasi dan empat potong ayam bakar, maka energimu akan kembali strong." Ujar Andi sambil membuka bungkusan Nasi lalu di daratkan di atas trotoar jalan.


Si Gery pun langsung menyantap makanan yang di berikan oleh Andi dengan laparnya.


Ketika Andi mau memakan makanannya tiba-tiba berhenti sambil melipatkan kembali kertas pembungkus nasi tersebut, karena Andi melihat pengemis yang nampak seperti kelelahan dan memandangi ke arahnya.


Andi bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri pengemis itu.


"Ibuk lapar?." Tanya Andi pada wanita tua dengan wajah yang lusuh dan dekil.


Pengemis itu cuma menganggukan kepalanya, lalu Andi menyerahkan nasi bungkus yang belum sempat di makannya.


"Ini buk makanlah." Ucap Andi.


"Lalu kamu bagaimana nak, tadi ibuk lihat kamu mau makan, dan sepertinya kamu juga sangat lapar." Ujar wanita tua itu.

__ADS_1


"Ibuk tidak usah memikirkan aku, aku gampang nanti beli lagi, ayo makanlah buk." Desak Andi.


Wanita itu pun langsung meraih nasi bungkus dari huluran tangannya Andi, dan memakannya dengan sangat lapar sekali.


__ADS_2