Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 34 Datangnya para jawara


__ADS_3

Kamal, Toglo, Gito, Pandi, Hasan dan Jaroni kini sudah tiba di depan kediamannya Jupri, sesuai dengan alamat yang telah di share lock oleh Andi pada Anggita.


Kamal dan yang lainnya berhenti di depan halaman rumahnya Jupri.


"Menurut alamat yang di share lock, Andi di sini tinggalnya." Ujar Kamal.


"Nama pemilik rumahnya siapa Bang?." Tanya Toglo.


"Namanya Kang Jupri, kerjanya di bengkel." Jawab Kamal.


"Coba aja tanya pada pemilik warung itu, sepertinya sudah buka." Pungkas Gito ikut bicara.


"Ooh iya, bentar gua tanya dulu." Tukas Kamal, lalu berjalan ke arah warung baru buka yang tak jauh dari tempat itu.


"Assalam mu'alaikum, ma'af Buk, saya mau Tanya." Sapa Kamal.


"Iya Pak mau Tanya apa?." Tanya pemilik warung.


"Rumahnya Bang Jupri di mana ya?." Tanya Kamal.


"Oh Bang Jupri, itu tuh yang catnya warna biru langit." Jawab tukang warung.


"Oh itu, terima kasih ya Buk." Ujar Kamal.


"Iya sama-sama pak, oh iya ada apa ya, ko banyak orang, apa Jupri punya masalah?." Tukang warung bertanya.


"Oh tidak Buk, cuma kami mau mencari ponakan saya yang bernama Andi, katanya tinggal di sini." Timpal Kamal.


"Nak Andi yang berkulit putih, tampan dan bertubuh jangkung." ungkap tukang warung.


"Iya benar Buk, itu ponakan saya, sudah sebulan ia tidak pulang ke rumah, jadi ibuk tau sama Andi ponakan saya itu." Ujar Kamal.


"Ya jelas tau atuh, dia kan suka ngopi di sini." Ujar tukang warung.


"Oh begitu ya, ya sudah aku mau menemui Bang Jupri dulu." Pamit kamal.


"Iya iya pak."


Kamal pun langsung pergi meninggalkan si pemilik warung, lalu masuk ke pekarangan rumah Jupri dan berjalan menaiki teras rumah.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Kamal memberi salam.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar ada suara yang menjawab salamnya dari Kamal.


"Wa alaikum salam."


Lalu pintu mulai terbuka perlahan, Sontak saja Jupri kaget ketika ia melihat ada enam orang pria dengan tingkatan usia yang berbeda-beda.


"Ada apa ini, kalian siapa dan mau apa mencari Saya?." Tanya Jupri sedikit gugup.


Lalu kamal menjelaskan kedatangannya pada Jupri.


"Ma'af Bang Jupri kalau kedatangan kami membuat Bang Jupri kaget, perkenalkan Saya Kamal Pamannya Andi, dan ini semua para famili Gang Si'iran.


Rasa gugup yang di rasakan Jupri kini terasa lega ketika kamal memperkenalkan dirinya sebagai Pamannya Andi, dan Jupri pun langsung bersalaman memperkenalkan dirinya pada para famili Gang Si'iran.


"Ooh jadi kalian ini dari Gang Si'iran?." Tanya Jupri.


"Iya Bang Jupri."


"Ya sudah, alangkah baiknya kita ngobrol di dalam saja, ayo masuk, ma'af rumahku ini berantakan maklum ku hidup se orang diri." Ajak Jupri.


Kamal dan yang lainnya pun langsung masuk kedalam dan duduk di sebuah sopa.

__ADS_1


"Kalian mau minum apa?." Tanya Jupri memberi pilihan.


"Tidak usah repot-repot Bang Jupri." Sahut Yang lainnya.


"Oh tidak ko, nyantai saja, bagaimana kalau ngobrolnya sambil minum kopi, soalnya di lihat dari tampang abang-abang ini semua pada jago ngopi." Ujar Jupri.


"Bang Jupri ini bisa aja, ya sudah kalau begitu, terserah Bang Jupri saja." Tukas Kamal.


Jupri pun lalu keluar, menuju warung untuk di bikinin kopi hitam tujuh gelas, lalu Jupri masuk lagi ke dalam dan duduk di sopa.


"Bentar ya kopinya lagi di bikin dulu, bagaiman kalau langsung pada poko pembicara'an kita, sbil menunggu kopi datang." Ujar Jupri.


Baru saja selang beberapa menit tukang warung datang dengan membawa nampan beridikan tujuh gelas kopi yang nampak masih mengepul.


"Ini kopinya kang Jupri." Ujarnya.


"Wah cepet amat sih Bibi." Ujar Jupri.


"Iya kebetulan airnya sudah mendidih, jadi tidak menunggu lama lagi." Ujar pemilik warung sambil mendaratkan gelas satu persatu di meja.


"Begini Bang Jupri, Andi sudah satu bulan lebih tidak pulang ke rumah, dan kami selaku saudaranya merasa cemas dan khawatir, takut terjadi apa-apa, maklum Kami belum lama ini abis berduka atas meninggalnya ayah Andi." Ujar Kamal.


"Iya Bang Kamal, akupun sudah tau semuanya dari Andi, dan aku ikut sedih atas apa yang telah menimpa Andi sekeluarga." Ujar Jupri.


"Lalu sekarang Andinya di mana?. Tanya Kamal.


"Ya itulah yang menjadi pikiran saya bang, semalam Andi minta ijin padaku mau keluar, bilangnya sih cuma sebentar, tapi hingga sa'at ini Andi belum memberi kabar." Tutur Jupri.


"Memang tidak memberi tahu Andi perginya kemana?." Tanya Kamal.


"Tidak Bang, malahan sama si Gery nya pun ikut." Ujar Jupri.


Ketika mereka lagi memperbincangkan masalah Andi, tiba-tiba terdengar suara binatang (Anjing) menggonggong sambil berlari memasuki teras rumahnya Jupri.


Gok gok gok..


Jupri dan kamal serta para famili Gang Si'iran kaget dengan kedatangannya si Gery.


"Lha.. Andinya mana." Sontak Toglo dan jaroni serempak.


"Wah gawat ini, mungkin si Gery akan memberi tahu pada kita semua tentang Andi." Tukas Jupri.


"Iya benar gua tau betul pada si Gery, jangan-janga sudah terjadi hal yang tidak di inginkan pada Andi." Pungkas Jaroni.


Lalu Jaroni yang sudah biasa memberi makan pada si gery kalau lagi tugas bertanya.


"Hai Gery majikanmu ke mana?." Tanya Jaroni.


Si Gery hanya menggonggong sambil memberi isarat pada Jaroni dan semua yang ada di situ untuk pergi mengikutinya.


"Ayo kita bertindak, si Gery mengajak kita ke suatu tempat." Ujar Jaroni.


"Iya benar itu, ayao cepetan." Ajak Kamal.


Kamal dan yang lainnya pamit dulu pada Jupri, untuk memenuhi ajakannya si Gery.


"Iya bang dan semuanya, kalian hati-hati semoga baik-baik aja." Ujar Jupri.


Setelah itu ke enam motor Rx king cobra melaju meninggalkan rumahnya Jupri.


Ke enam Jawara Gang Si'iran meluncur di jalan Angkasa menuju timur kota Bandung, mengikuti si Gery yang berlari di depan.


.................


Sementara di tempat lain.


Tepatnya di sebuah ruangan, Andi yang di sekap di ruang sangat kecil dengan kaki dan tangan di ikat, telah sadar dari obat biusnya.


Andi meronta-ronta ingin melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangannya.

__ADS_1


"Kurang ajar, di mana aku, ini semua pasti ulangnya para bajingan tengik itu." Gerutu Andi bermonolog.


Andi terus bergerak kesana kemari, terkadang menggelindingkan badannya ingin melepaskan tali tersebut.


Tapi tali yang mengikat kaki dan tangannya Andi begitu kuat dan kencang.


Sejenak Andi terdiam dalam ke ada'an terkujur dilantai, kedua netra Andi celingukan menjelajah sekitar ruangan itu untuk mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk memutuskan tali.


Tiba-tiba Andi tersontak, kedua telinganya menangkap suara jeritan meski samar-samar di dengarnya.


"Suara jeritan itu, apa jangan-jangan itu suara ibuk." Cetus Andi


Sementara suara jeritan itu sebenarnya tidak jauh dari tempat Andi di sekap, hanya terhalang dua sekatan ruangan saja.


Nampak seorang wanita yang sudah berusia kira-kira 45 tahunan, berparas nampak masih terlihat kecantikannya dengan lesung di pipinya lagi terbaring di sebuah tempat tidur yang empuk, dengan kedua kelopak matanya yang sudah bengkak, karena tidak henti-hentinya menangis.


Rekeeettt...


Terdengar suara pintu terbuka perlahan bersama'an dengan munculnya lelaki paruh baya berkulit putih dan berjambang, berjalan menghampiri Sindi.


"Bagaimana, apakah kamu sudah berubah pikiran, mau menikah dengan ku." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Ricard.


"Dasar manusia durjana, lebih baik saya mati, dari pada harus menerima tawaranmu itu, wanita mana yang mau menikah dengan lelaki macam kamu, dasar berengsek, lepasin saya." Berontak Sindi.


"Dasar wanita tidak tau diri, jadi kamu memilih mati bersama suamimu itu." Bentak Ricard.


"Suamiku masih hidup." Dengus Sindi.


Ricard yang terpesona sama kecantikannya Sindi dari semenjak ia masih bergabung dengan Jendra Cobert dan Handoko, samapi sa'at ini ia madih menyimpan rasa penasarannya pada Sindi, walaupun usianya Sindi sudah tidak muda lagi, tapi kecantikannya madih tetap terpancar.


Kemudian Ricard mendekap tubuh Sindi dengan paksa dan menekannya.


Sindi menjerit dan berontak, tapi tenaga Ricard lebih kuat, lalu Ricard membekam mulut Sindi dengan sebuah tisu yang dudah di campuri obat bius.


Sindipun akhirnya tidak berdaya karena obat bius sudah mulai bereaksi terhisap oleh pernapasannya, Sindi terbaring di atas kasur empuk.


Ricard memandang wajah dengan intens, lalu jantungnya mulai berdegup kencang, dan asmara birahinya mulai bangkit, perlahan Ricard menaikan baju gamisnya Sindi dari betis sampai ke atas lutut.


Nampak kulit putih dan bersih tanpak ada noda sedikitpun, perlahan tangan Ricard mengelus kaki Sindi samapai ke paha.


Perlahan senjata Ricard mulai bangun dan berdiri tegak, disitu Ricard tidak ada pilihan lain, ingin mencurahkan rasa birahinya yang sudah terpendam pada Sindi.


Ricard bernjalan merangkak mendekati Tubuh Sindi.


Ketika Ricard mau menaiki tubuh Sindi, Tiba-Tiba ada sekelebatan bayangan dan menghantam punggungnya dengan keras.


"Bangsaaaat ..."


Bruuuuggghh..


Ricard langsung terpental jatuh dari atas ranjang, lalu Ricard beranjak bangkit dan berdiri.


Nampak Andi sudah berdiri di samping ranjang tempatnya Sindi terbaring, dengan matanya memerah mandang Ricard penuh dendam.


"Dasar lelaki tua tidak beradab, aku bunuh kau bangsat." Teriak Andi melompat melewari tempat tidur.


Tapi Ricard masih bisa mengelak dari serangan Andi.


Kegaduhan suara keributan di ruangan tempat Sindi di sekap, sampai terdengar ke ruangan tempat Sutaji dan Marcu serta yang lainnya.


"Suara apa itu."


"Paling si Bos lagi bermain dengan istrinya Si Nandi itu." Sahut Sutaji.


"Tapi seperti suara perkelahian, jangan-jangan pemuda itu lepas dari ikatannya." Cetus Marcu.


Sutaji pun langsung beranjak, sontak saja ia merasa kaget.


"Iya benar, itu kaya suara berkelahi." Ujar Suraji.

__ADS_1


Baru saja mereka mau memburu ke arah suara yang berkelahi, suara menggonggong binatang (Anjing) dan bisingnya kenalpot dari sebuah kendara'an roda dua telah memecahkan suasana ditempat itu.


__ADS_2