CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Akhirnya pasrah dengan keadaan


__ADS_3

Jika penikmat kopi ia pasti tahu hanya kopi lah sarapan yang sangat ia butuhkan. Apalagi kepadatan aktivitas sehari-hari yang tak tentu kesamaannya dari satu orang ke orang lain. Yang bisa menyatukan hanyalah segelas kopi untuk bisa membangkitkan itu semuanya.


Setelah memberikan 5 gelas kopi panas tadi akhirnya pak Aan langsung ikut duduk di dekat pak Catur, pak Budi, dan ibuk Dini yang memang sudah terbangun dari kejadian tadi. Dengan nada bicara yang pelan-pelan akhirnya mereka berempat merencanakan sesuatu untuk mengetahui siapa sebenarnya pemilik sapi tangan itu. Atau jika mau membawanya ke kantor polisi maka akan mendapatkan sidik jadi dari barang tersebut. Tapi karena berat rasanya untuk meninggalkan Naura di rumah sakit dengan keadaan yang belum membaik akhirnya di urungkan sampai kondisinya menjadi lebih baik lagi. Dan menunggu pendapat dari keluarga yang lain. Ya inilah kegunaan memiliki banyak keluarga yang apapun itu mereka selalu berunding untuk memecahkan masalahnya.


Tepat setelah kopi pak Aan yang sudah ditengak habis pak Rudi dan pak Cipto baru saja terbangun dan langsung menuju ke tempat mereka berkumpul itu. Mungkin karena kondisi badannya yang sudah tak seperti dulu jadi beliau tak bisa terlalu begadang seperti dulu. Apalagi untuk melakukan aktivitas yang begitu berat badan beliau sudah tak lagi bisa sesetamina seperti dulu. Dan waktu yang ditunggu akhirnya pun tiba setelah semua para laki-laki itu terbangun ibuk Dini langsung pamit untuk ke ruangan Naura dan Fiki untuk sekedar ingin mengetahui kondisi mereka saat ini. Dan setelah itu akan membeli minuman untuk mertuanya dan untuk ayahnya yang baru saja bangun itu. Setelah membuka pintu kamar Naura ternyata pemandangan yang indah saat ini sedang beliau lihat. Oca dan Oci yang masih seusai belia itu ikut tidur di pelukan ayahnya. Ia tidur diatas kasur yang sama persis yang digunakan oleh Fiki. Kebahagiaan yang tak bisa di ucapkan saat ini. Karena melihat anak dan cucunya begitu bahagia. Walaupun kedua anak itu baru saja mengenal ayahnya tapi ia tak memperlihatkan jika ada batasan dari kedua anak itu. Tanpa terasa tetes air mata jatuh di pipi ibuk Dini saat ini. Pas ia ingin membalikkan badannya untuk pergi ke kantin ternyata dokter Vineta juga tepat dibelakangnya yang sesekian detik sudah melihat apa yang ibuk Dini lihat tadi. Beliau juga merasa bahagia akhirnya melihat kedua cucunya bisa bersanding dengan ayah tercintanya. Mungkin bagi ayah dan ibuk mereka jika ada masalah biarkanlah berjalan apa adanya jika perlu membantu mencari solusinya agar anak mereka tak menjadi imbasnya.


Setelah menyadari apa yang ibuk Dini dan dokter Vineta pikirkan sama akhirnya ibuk Dini memeluk erat dokter Vineta karena tanpa ikatan apapun ia juga sangatlah mirip dengan mendiang almarhum Lia. Kenyamanan yang tak ia rasakan setelah Lia meninggalkannya, tapi dengan tubuh dokter Vineta ia bisa memeluk tubuh itu dengan lamanya. Karena itu tak hanya mimpi belaka tapi kenyataan.


"Terima kasih dok, kami semua merasa jika kami memiliki hutang Budi pada anda. Jika Anda berkenan anggaplah kami adalah bagian dari keluarga dokter, kapanpun dan di manapun keluarga dokter membutuhkan kami siap untuk membantu, penuturan ibuk Dini yang masih memeluk dokter Vineta itu.


Sedangkan dokter Vineta yang memang merasa dianggap keluarga ia akhirnya sudah bisa lebih akrab lagi dengan keluarga Naura dan Fiki itu. Beliau sudah memiliki rasa percaya diri mulai detik ini karena pengakuan dari ibuk Dini. Ia sudah akan memberikan keputusan yang terbaik untuk Naura dan kedua cucunya. Memang berat untuk melepaskan Naura jika ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi karena kejadian penculikan yang membuat Naura sampai saat ini belum sadarkan diri ia sudah merelakan apa yang akan terjadi untuk kehidupan mereka itu. Apalagi rahasia yang mengatasnamakan Oca dan Oci adalah adik Naura lambat laun juga akan cepat terdengar oleh siapapun. Takutnya yang akan mencelakai Naura dan Fiki memanfaatkan dengan adanya Oci dan Oca juga. Lebih menyakitkan jika mereka melakukan hal yang tak mengenakan kepada cucunya yang manis-manis itu.


"Makasih ya buk, aku merasa sangat bahagia sekali karena ada keluarga kalian yang ada didekat kami. Dan jika Naura dan Fiki ingin kembali ke rumah kalian lagi saya dan suami saya akan mengikhlaskan kepergian mereka dengan satu syarat buk, kata yang diucapkan oleh dokter Vineta itu menyita perhatian dari ibuk Dini yang langsung menatap wajah dokter Vineta. Ia ingin mendengarkan apa yang dokter itu ingin ucapakan. "Saya minta Naura dan Fiki tetap akan menyayangi kami semana mestinya mereka menyayangi orang tuanya buk, karena kami disini gak punya siapa-siapa lagi selain mereka semua, sambil menitihkan air mata akhirnya dokter Vineta bisa mengungkapkan apa yang ia takutkan jika Naura dan Fiki akan lupa pada beliau dan suami. Mungkin karena ia tak memiliki anak jadi rasa takut yang timbul amatlah besar.

__ADS_1


Ibuk Dini yang mendengar apa yang di inginkan dari dokter Vineta akhirnya ikut menagis karena ia juga tahu pasti bagian perasaan dari wanita cantik itu. Walaupun kita dikaruniai kekayaan yang melimpah dan derajat yang tinggi jika tak memiliki anak tak akan ada rasanya kebahagiaan karena disaat kita merasakan betapa beratnya pekerjaan hanya seorang anaklah yang akan membuat kita melupakan beban-beban itu. Jadi dapat dipastikan betapa dokter Vineta merasakan kehampaan sebelum beliau akhirnya bertemu dengan Naura dan bertambah dengan anak-anaknya itu. Hanya cucu-cucu kecil itu yang membuat kebahagiaan lebih dari yang belum ia rasakan saat ini. Karena larut dalam bincangan keduanya sampai tak mengetahui bahwa ternyata ibuk Dina, ibuk Fina dan ibuk Rita sudah melihat kejadian yang terjadi didepannya itu.


Pelukan untuk membuat semangat pun akhirnya beliau berikan pada anak yang mereka angkat itu. Apalagi ibuk Fina yang merasakan ada getaran sesuatu di hatinya melihat dokter Vineta menagis sepagi ini. Sampai ia beranggapan bahwa yang menangis itu adalah Lia anaknya. Akhirnya semuanya sedih dengan adanya kejadian ini yang tadinya ibuk Fina mau menyemangati malah menagis sesegukan sendiri karena akhirnya beliau juga mengingatkan ibuk dari Naura yang sudah lama tiada itu. Dapat di samakan dari bentuk wajah dan semuanya mereka ada kesamaan dengan dokter Vineta itu. Bayang-bayang yang sungguh nyata terpahat bagus diwajah itu.


Para ibu sendang bersedih sedangkan para ayah sedang memikirkan agar mereka menemukan siapa pemilik sapu tangan itu. Dari saling tukar pikiran akhirnya perundingan didepan kamar Naura pun dimulai sampai-sampai ibuk Dini yang mau mencarikan kopi untuk orangtuanya tadi gagal gara-gara hal ini. Pokoknya dengan niatan "Bismillahirrahmanirrahim" awal pencaharian kita dimulai dari sekarang, ajakan pak Budi yang menuntun yang lainnya ikut mengucapkan kata itu. Mereka semuanya ingin jika pelaku berhasil mereka tangkap sebelum Naura dan Fiki akhirnya menikah. Karena jika sampai Naura dan Fiki nikah tapi belum juga ketemu akan beresiko pada yang lainnya pula.


"Ah sial, umpat seseorang yang ada di ruangannya saat ini. Ya dia adalah Harun orang yang tadi ingin melihat keadaan Naura tapi terhalang adanya ibuk Dini yang melihatnya tadi. Untuk jubah hitamnya menutupi wajahnya dan kondisi lorong rumah sakit juga pas sedikit remang jadi tak akan terlihat. Ia merasa jika keluarga Naura itu sangatlah berat untuk ia masuki, contohnya semaunya pasti ada yang akan memergokinya dari posisi sengaja maupun tak sengaja. Rasanya ingin menyamakan diri agar ia bisa masuk keruangan Naura dan melihat keadaannya saat ini. Karena informasi dari perawat yang menanganinya itu Tika belum juga sadar. "Akankah Tika saat ini merasakan kesakitan ya. Aku minta maaf Tika aku tak bermaksud menyakitimu. Aku akan tetap mencintaimu Tika sampai kau rela hidup denganku nantinya, batin Harun yang melihat foto Tika diatas meja kerjanya itu. Walaupun ia saat ini binggun dan ketakutan akan kehilangan Tika tapi ia tak boleh terlihat pada siapapun karena akan menyangkut karirnya saat ini.


Pagi yang cerah di kamar Naura dan Fiki, sedikit cahaya yang masuk akhirnya mengusik Fiki yang masih enggan terbangun yang memeluk kedua anaknya itu. Tapi ia juga harus melihat keadaan Naura juga akankah ada keajaiban yang menyadari Naura untuk membukakan matanya itu. Dari doa apapun sudah ia panjatkan pada Allah agar ia bisa kembali melihat orang yang ia cintai lagi bisa bersanding dengan keluarga besarnya itu. Sorot mata yang sudah sedikit sehat dari hari kemarin akhirnya ia dapatkan karena penanganan rumah sakit yang tak terlewatkan. Dari apapun kebutuhan yang ia butuhkan juga selalu disiapkan oleh keluarganya. Walaupun ia pernah membuat keluarganya marah tapi ia mendapatkan kasih sayang yang pernah hilang lagi disini. Di kota ini ia berhasil menyatukan keluarga yang dulunya pecah karena dia juga. Bisa bertemu dengan kedua anaknya yang sangatlah lucu dan pintar ini. Tapi pas tatapan matanya tiba di sosok Naura yang masih setia terpejam hatinya langsung tersayat. Alangkah tersakitinya Naura gara-gara dirinya itu. Dari semuanya penderitaan Naura hanya dari pokok permasalahannya dari Fiki semua. Andai waktu bisa diputar kembali ia pastikan Naura akan mendapatkan kebahagiaan yang tak cukup untuk hanya dituliskan tapi harus di lakukan sampai ia tak lagi boleh merasakan kepedihan sedikit pun. Tapi ini adalah takdir yang Allah sudah catat di kehidupan mereka yang diharuskan untuk saling melengkapi disituasi seperti apapun itu. Pas ia ingin turun ke bawah dan ingin mendekati Naura Oci yang mengetahui hal itupun juga terbangun dan bertanya pada ayahnya.


"Iya sayang, ayah sudah lebih baik. Ayah ingin melihat ibuk dan membantu membersihkan wajahnya nak, mungkin ibuk sudah ingin cuci muka tapi ia tak bisa sendiri jadi masih ayah bantu.


"Tapi ayah sudah beneran sembuh?

__ADS_1


Oci pingin lihat ayah juga sehat biar bisa jaga kita dan ibuk yah,


"Udah ni lihat lengan kekar ayah sudah pulih lagi kan, ucapnya sambil melihatkan kedua lengannya itu bak binaragawan kan.


"Iya aku bahagia memiliki ayah seperti ayah, besok kalau aku berangkat sekolah ayah antar ya biar aku bisa lihat kan pada teman-teman aku yang selalu menanyakan dimana ayah aku yah, dengan ucapan anak kecil tadi Fiki tahu betapa anaknya juga menderita tak bisa hidup berdampingan dengan ayahnya. Kasih sayang Naura dan kakek neneknya tak sanggup untuk membuat para teman sekelasnya selalu mengejeknya. Tapi jika ada yang berani mengejek Oca dia pasti tidak akan segan-segan membalas apa yang ia perbuat pada adiknya yang membuat adiknya menangis akan mendapatkan balasan setimpal juga. Setelah ucapan Oci tadi akhirnya Fiki langsung menggendong anak laki-lakinya dan menciumi pipinya dengan bangga karena memiliki dia di kehidupan nyata. Dapat dipastikan saat ini ia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Oca dan Oci serta Naura.


"Ya udah kita lihat ibuk ya, kita ajak cerita tentang apa yang ingin kamu lakukan disekolah juga biar ibuk bangga sama kamu nak.


"Tapi yah, ibuk kadang larang Oca untuk membalas perbuatan teman-teman yang melukai kami, karena pasti akan mendapatkan hukuman juga dari guru gitu jelasnya manyun karena ibuknya tak sebangga ayahnya yang jika melihat anaknya bisa menjaga adiknya dari orang-orang jahat. Atau karena sifat laki-laki dan perempuan identik berbeda jadi ibuk melarangnya seperti itu yang jelas Oci lebih dekat dengan Opa Aan daripada dengan Oma Vineta dan ibuknya.


Pas Fiki mengambil lap untuk mengusap wajah Naura dan Oci mengambil air di bak mandi alangkah terkejutnya Fiki melihat ada bekas air mata yang keluar dari Naura. Jadi selama ia dan Oci bercerita tadi ternyata Naura juga mendengar apa yang mereka bicarakan itu. Hanya air mata yang bisa keluar dari Naura karena mata dan bibirnya tak kunjung memperlihatkan perubahan sama sekali. Dengan bahagia akhirnya Fiki langsung menekan tombol bantu untuk dokter jaga yang bisa langsung melihat kondisi Naura saat ini. Ia berharap jika ada jawaban dari dokter yang lebih baik lagi. Dengan bunyi sirine yang ada diruangan Naura akhirnya gerombolan keluarga yang ada diluar ruangan pun juga ikut binggung karena takut terjadi apa-apa akhirnya dokter Vineta langsung masuk dan akan mengecek apa yang terjadi pada Naura itu. Dan waktu beliau masuk Fiki langsung menceritakan apa yang terjadi pada Naura. Dengan harapan yang besar dan senyum yang mengembang akhirnya dokter Vineta langsung mengeceknya satu demi satu agar apa yang terjadi pada Naura juga langsung terdeteksi. Sedangkan Oci yang baru tiba dari kamar mandi dan memegangi gayung pun binggun Kate melihat Oma dan ayahnya terlihat begitu cemas seperti ini. Dengan buru-buru akhirnya Oci langsung menghampiri dan langsung melontarkan pertanyaan demi pertanyaan pada ayahnya itu.


"Yah bagaimana kondisi ibuk?

__ADS_1


Kok kelihatannya Oma khawatir kaya gitu yah, walaupun masih kecil tapi ia paling bisa membaca pikiran orang yang sedang kesusahan seperti ini.


__ADS_2