CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Menemukan pendonor yang cocok


__ADS_3

Di dalam ruangan penuh bau obat yang menusuk Indra penciuman pak Aan mondar-mandir tak tahu sangat cemasnya ia saat ini. Menanti dari kesekian keluarga yang sudah di cek dari kecocokannya. Walaupun pak Aan yakin mereka adalah orang asing semoga ada keajaiban yang sangat ia nantikan ada yang sangat cocok untuk istrinya. Apalagi kondisi dokter Vineta yang semakin lemah tak berdaya itu. Tawa yang ia nantikan saat ini setiap kalau ada yang membuat ia sebahagia apapun itu.


Sudah 15 menit akhirnya dokter yang ditunggu pun keluar dari ruang dimana ia tempati. Dengan kertas yang ada ditangannya ia langsung mendekati keluarga pak Catur dan juga pak Aan karena ternyata ada pendonor yang cocok pada istrinya itu. Oya istri pak Aan ya bukan istri pak Catur.


"Pak dari pemeriksaan tadi saya memiliki sempel yang sama persis dengan dokter Vineta. Tapi dari usianya apakah beliau masih sanggup melakukan operasi besar malam ini pak. Kecemasan yang dokter itu utarakan karena ini sudah dalam kondisi sedikit kurang fit juga. Tapi jika ini semakin ditunda akan berbahagia bagi dokter Vineta sendiri.


Dengan ucapan dokter itu yang sudah mendapatkan pendonor yang cocok akhirnya semuanya juga ikut lega walaupun belum tahu siapa itu. Dan tanpa terasa akhirnya air mata pak Huda dan istrinya jatuh karena saking bahagianya. Ia bahagia karena akhirnya orang yang sudah menolong kehidupan cucunya akan mendapatkan ganti untuk sumsumnya juga.


Sedangkan dokter yang langsung menyebutkan siapa orang yang berhak atas pendonor itupun langsung menyerahkan pada pak Aan.


"Pak Huda ini dari sekian hasil dari tes kami bapaklah yang sangat cocok dengan dokter Vineta. Akankah bapak bersedia untuk melakukan operasi malam ini juga pak!


Bagai disambar petir antara bahagia dan kaget ternyata dirinya sendiri lah yang sangat cocok dengan dokter Vineta. Dengan tepukan lembut istrinya dan anggukan kepala akhirnya pak Huda mengiyakan apa yang akan dikerjakan para dokter bedah malam ini juga. Pasrah pada Allah karena kehidupan hanya milik'Nya semata sedangkan dokter hanyalah perantaranya.

__ADS_1


Dengan dibantu para sahabatnya yang masih memberikan semangat untuk pak Huda akhirnya beliau sudah dipindahkan ke ruang operasi untuk langsung melakukan transfusi. Doa yang terbaik untuk beliau agar semuanya berjalan dengan apa yang di inginkan.


Walaupun semuanya panik tapi tak ada satupun yang memberikan kabar pada Fiki dan Naura. Karena nomor ponsel mereka yang sengaja tak diaktifkan dan pastinya memang dalam kondisi darurat juga. Berbeda dengan keluarga yang ada dirumah sakit sedang menunggu dan berdoa dimalam ini. Fiki dan Naura malah asih dengan permainannya itu. Mungkin jika di katakan mereka tak tahu waktu ya karena keluarga yang lainnya sedang kesusahan tapi mereka berdua masih bersenang-senang di kamar itu. Ya karena mereka telah melakukan hal itu sampai kedua kalinya. Tak tau dia itu ingin atau lagi butuh yang terpenting malam ini malam terindah milik mereka berdua. Apalagi permainan yang mereka lakukan dalam kesadaran masing-masing dan dengan keadaan suka sama suka. Tak seperti yang dulu Fiki meminta dengan begitu memaksa.


Karena merasa begitu gerah akhirnya Fiki mengajak Naura untuk mandi bersama mungkin jika setelah mandi mereka langsung bisa terlelap. Setelah membantu Naura untuk mandi ia langsung membersihkan dirinya sendiri.


Tok...tok


Yah.. Udah gak tahan ni Yah.


Mendengar rengekan anaknya yang ada didepan pintu Fiki dan Naura nampak panik. Karena mereka tak membawa baju sama sekali hanya ada baju mandi yang ada di kamar mandi itu. Mau tak dipakai dapat dipastikan jika anaknya akan melihat mereka berdua lagi tak memakai pakaian sama sekali. Tapi jika dipakai ia juga jadi bahan tanda tanya anaknya kenapa malam begini mereka mandi.


Saking bingungnya akhirnya ia langsung memakaikan baju mandi ke tubuh Naura. Karena gedoran pintu yang tak henti-hentinya juga. Setelah ia memakai jubah mandi juga akhirnya ia langsung membukakan pintu dan mendapati Oca masih menahan pipisnya. Setelah Oca lari ke dalam dan segera menuntaskan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


"Kok ayah sama ibuk pakai jubah mandi?


"Malam gini mandi Yah?


,Aku aja ngerasa kedinginan lho makanya kebelet pipis. Ocehan Oca yang tak tahu apa yang sebenarnya sedang ayah dan ibuknya lakukan itu. Tapi ia yakin jika melihat rambut keduanya yang basah menandakan jika sedang habis mandi. Tengah malam yang dingin bagi Oca berbeda dengan ayah dan ibuknya yang merasa sangat gerah sekali. Seperti di hantam pintu besar Fiki dan Naura hanya saling pandang karena pertanyaan anaknya itu. Tapi jika tidak dijawab maka pertanyaan yang lainnya akan segera muncul lagi.


"Ehem', deheman Fiki yang akhirnya menjawab pertanyaan anaknya itu..


"Udah tadi kan dirumah opa sama Oma kita belum sempat mandi nak jadi lengket. Kalau gak mandi ayah sama ibuk gak bisa tidur nyenyak nanti. Ya udah ya kakak bobok lagi ya disamping dedek biar besok kita bisa jalan-jalan lagi lho. Karena takut ketahuan Harun maka memang sudah direncanakan jika mereka akan berpindah-pindah tempat agar menghilangkan jejaknya itu. Apalagi kondisi dokter Vineta yang belum juga mereka ketahui itu.


Subuh ini suasana hening di rumah sakit karena sebagian dari keluarga yang menunggu operasi sudah mengistirahatkan tubuhnya. Hanya sebagian para bapak saja yang masih setia dengan kopi nya itu. Sesapan demi sesapan kopi hitam yang memberikan semangat untuk menanti hari esok. Hari dimana mereka semua berbagi tugas agar bisa mencari apa yang mengakibatkan rumah pak Aan terjadi kebakaran itu. Kejadian yang sangat janggal karena dari kejadian sebelumnya ia merasa ada yang sangat tidak beres.


Lampu ruang operasi juga masih menyala menandakan operasi yang sedang dilakukan belum juga selesai. Pak Aan yang sangat terlihat tak bertenaga lagi pun binggun karena Operasi malam ini tak selama waktu istrinya Operasi bersama Naura. Takut kehilangannya tiba-tiba muncul nyak karena memikirkan itu atau karena ketakutan yang ia rasakan. Yang pasti ia harus berbesar hati akan hasil akhir selanjutnya. Tapi jika operasi ini berjalan lancar maka ia akan berhutang Budi pada pak Huda yang akan ia jaga sampai sisa usianya nanti. Balasan yang tak sebentar karena telah memberikan kehidupan untuk orang yang ia cintai itu. Dan dengan adanya hal ini pula pak Aan mantap jika ingin ikut pindah ke kota keluarga besar Naura dan Fiki. Agar rasa persaudaraan mereka juga semakin lebih dekat lagi. Antara percaya dan tidak percaya jika akhirnya ia bisa merasakan betapa susah dan senangnya bersama keluarga besar yang tak pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2