CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Naura yang mulai sadar


__ADS_3

Pak Huda yang melihat pemandangan itupun ikut menangis. Akhirnya ia juga masih bisa merasakan memiliki seorang putri lagi. Ia akan berjanji menyayangi dokter Vineta seperti ia menyayangi Aulia dulu. Tak terasa akhirnya butiran bening di pelupuk mata jatuh tak terbendung melihat bagaimana istrinya waktu ditinggalkan oleh Aulia begitu sangat terpuruk dan saat ini setelah mendengar pernyataan Vineta ia sangat bahagia.


"Makasih nak, aku akan menyayangimu sebisa kami, tapi apakah ibuk boleh meminta satu lagi padamu. Walaupun aku tau itu lancang tapi percayalah ibuk ingin menginginkan hal itu.


"Apa buk, Vineta akan berikan sebisa Vineta pada ibuk dan Bapak. Asalkan ibuk dan bapak tersenyum dan bahagia lagi.


"Apakah kamu mau memanggil kami dengan Mama dan Papa, ucap ibuk Fina sambil menatap suaminya seolah-olah meminta persetujuan padanya untuk permintaan hal ini.


"Iya Mah aku akan usahakan. Kemarin mas Aan bilang jika ingin pindah ikut ke kota bapak, eh Papa dan Mama lho. Tapi aku belum kasih persetujuan mau atau tidak.


Pak Huda yang mendengarkan hal itu pun teramat bahagia karena akhirnya mereka bisa bersama lagi untuk waktu yang lama.


"Papa senang dan bahagia sayang akhirnya kami bisa merasakan memiliki anak perempuan lagi. Kalau kamu berkenan biar kita berdekatan saja rumahnya nanti agar masih bisa bersama-sama lagi. Iya kan buk?


"Iya nak jangan jauh-jauh dari kami. Tapi karir kamu?

__ADS_1


Bisnis suami kamu juga bagaimana? , 'saking senengnya ibuk Fina sampai menyadari ini semua.


"Kan yang ajak saya untuk semuanya mas Aan Mah, jadi biarkan itu semuanya diatur sama dia langsung saja. Tapi Vineta mohon ini semuanya biar dirahasiakan dulu aja ya Pah, Mah biar mas Aan sendiri yang langsung tanya ke saya.


Di rumah sakit berbeda pak Aan sedang mengamati kedua cucunya yang sedang makan dengan lahapnya. Ia merasa kasihan karena di usia mereka seperti ini sudah begitu banyak musibah yang menimpa mereka. Harusnya di usia segini mereka bahagia- bahagianya. Bisa bermain dengan teman seumuran mereka tanpa merasakan khawatir. Tapi entah ini semua ulah siapa yang membuat keluarga mereka hancur seperti ini. Tapi yang pasti orang itu juga sangat cerdik karena sampai saat ini juga ia belum bisa membongkar ini semua. Tapi jika ia mengetahui ini semua ia akan sangat membalaskan dendam untuk semuanya. Sampai sang pelaku meminta untuk dibunuh saja.


"Keluarga pasien Naura, sapaan suster dari dalam ruangan Naura. Karena tak ada yang menemaninya jadi suster keluarga ruangan dan mendapati pak Aan dan kedua anak kecil.


"Iya sus, bagaimana apakah anak saya sudah sadar?


Apakah kami bisa melihat kondisinya. Kekhawatiran pak Aan yang seperti orang tua sendiri jika menyangkut tentang Naura dan kedua cucunya. Ia tak ingin kehilangan mereka semua hanya itu yang ia inginkan saat ini.


"Silahkan sus, terima kasih atas informasinya". Sambil menggandeng kedua cucunya akhirnya pak Aan langsung menuju ke ruangan Naura. Pak Aan ingin melihat bagaimana kondisinya, sedangkan kedua anak itu jika ditinggalkan diluar ruangan pak Aan masih takut walaupun ada anak buahnya tapi ia menyadari jika bahaya bisa datang kapan saja. Tidak masalah jika ia harus turun tangan seperti ini.


"Ibuk, bagaimana kondisi ibuk?

__ADS_1


Kami takut buk lihat ibuk sakit kaya gini. Ayah juga begitu sakitnya ayah sampai saat ini ayah beliau sadarkan diri ibuk. Tangisan Oci yang tak bisa dibendung lagi.


"Iya nak ibuk tak apa-apa. Oya kalian sudah makan kan. Ibuk hanya butuh sedikit istirahat saja kok. Dan satu lagi, kita doakan Ayah agar cepat pulih ya. Biar bisa sama-sama lagi sama kita. "Pah, terima kasih sudah mau jaga anak-anak Pah. Saya belum kuat apa-apa rasanya, bagaimana kondisi kak Fiki Pah?


Separuh apakah lukanya dan kenapa kami mendapatkan musibah ini Pah. Rasanya baru kemarin kami bahagia tapi kenapa sudah begitu cepatnya ini berlalu pada kehidupan kami Pah.


"Sudah sayang kita berdoa saja untuk kesembuhan Fiki, untuk urusan anak-anak kamu serahkan pada Papa saja. Kamu fokus pada kesembuhan kamu saja ya. Satu lagi kamu harus kuat untuk anak-anak kamu lho karena masalah ini gak ada yang tahu selain Papa. Papa gak mau jika semuanya juga ikut khawatir nak.


"Iya Pah aku harus kuat untuk menjaga anak-anak dan kak Fiki juga Pah. Oya Pah sebelum kecelakaan ini terjadi tadi kak Fiki minta ke saya untuk pindah ke kota kami lagi, apakah Papa tak keberatan jika anak-anak kami ajak pindah kesana. Mungkin kami akan berkunjung kesini sebulan sekali atau malah bisa lebih 🙂".


Takut Papa Aan merasa bersedih akhirnya Naura mengutarakan jauh-jauh hari sekalian jadi jika Fiki sudah tersadarkan dan meminta ini semua ia sudah siap untuk menjawabnya.


"Iya kita semua akan pindah kesana juga kok, Papa juga ingin hidup berdampingan dengan kakek Huda dan bisa merawatnya nak, untuk membalas budinya pada Mama kamu. Karena beliau sudah mendonorkan sumsum tulang belakang pada Mama beberapa waktu itu setelah kejadian kebakaran itu. Tapi maaf kami tak memberitahu kamu takut kamu berfikiran macam-macam padahal kondisi kamu juga belum setabil. Yang terpenting saat ini kita harus bisa menjaga mereka semuanya sayang, kata Papa Aan yang melihat ke arah kedua cucunya yang tertidur di kursi belakang, mungkin karena kekenyangan akhirnya mereka langsung tidur. Terlihat sekali rasa capek yang dialami mereka saat ini.


Naura yang mendengar cerita tentang operasi Mama Vineta pun merasa bersalah. Waktu mereka membutuhkan dia tak ada disana. Sedangkan saat itu pastinya sangat terpuruk bagi keluarganya.

__ADS_1


"Maafkan Naura Pah, jika bukan karena Naura tidak akan seperti ini. Sedangkan Naura tak bisa membantu apapun". Deraian air mata tak henti-hentinya keluar di pelupuk mata Naura yang indah itu. Betapa hidupnya hancur mengetahui jika keluarganya sakit gara-gara dirinya, tapi tak ada yang tahu penyakit dan kesembuhan serta kesehatan hanya Allah yang tahu itu semua.


"Sudah kami semua sayang kok sama Naura. Yang terpenting saat ini kamu cepet pulih ya biar bisa jaga anak-anak. Soalnya Papa kesini gak kasih tahu semuanya takut semuanya khawatir nak. Setelah memberikan semangat untuk Naura akhirnya pak Aan mendekati Oca dan Oci yang masih tertidur itu. Rasanya ia ingin sekali mengajak mereka pergi agar tak diganggu orang tak bertanggung jawab lagi. Tapi ia tak akan egois karena mereka masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya juga.


__ADS_2