
Ayo Pah, Naura kita bawa ke ruangan bersalin takutnya kenapa- Napa lho. Kecemasan yang tak bisa digambarkan untuk Novel ini karena saking paniknya akhirnya dokter Vineta tadi membangun semua pelayannya untuk membantu menyiapkan kebutuhan Naura. Padahal sudah tengah malam tapi karena itu menyangkut nyawa keluarga itu sendiri maka pelayanan tadi langsung menuju ke formasi masing-masing.
Pak Aan yang berhasil mendorong Naura mengunakan kursi roda tadi akhirnya tiba diruangan praktik istrinya tadi. Dengan hati-hati pak Aan yang memindahkan Naura ke ranjang kecil itu langsung disuruh untuk menunggu Naura di luar ruangan saja. Sedangkan saat ini dokter Vineta sedang sibuk membantu Naura untuk lahiran.
"Ayo sayang dorong lagi yang kuat sayang, ucapan dokter Vineta yang sedikit terdengar dari balik pintu ruangan tadi. Nampak ketegangan malam ini apalagi pak Aan yang belum pernah mengalami ini semua. Takut bercampur was-was karena beliau ingin yang terbaik untuk Naura dan kedua cucunya nanti. Sampai pak Aan yang mondar-mandir di ruangan tempat Naura bersalin dan ditemani beberapa pelayan hanya bisa berdoa. Dan sedikit menarik karena pak Aan yang merasa tak selesai-selesai pun langsung melontarkan kata yang di jadikan pusat perhatian para pelayannya itu.
"Ya Allah cepatkanlah Naura untuk urusannya itu ya Allah, aku janji jika cucuku selamat dan dia adalah laki-laki maka satu perusahaan yang aku punya adalah miliknya. Dia adalah cucu yang akan meneruskan apa yang aku punya saat ini, ucapan pak Aan yang menjadikan para pelayan merasa jika beliau sangat menyayangi Naura seperti anaknya sendiri. Padahal kenyataannya mereka adalah orang lain yang hanya tak sengaja bertemu. Tapi apa boleh buat Naura yang selama hidup dengan keluarga beliau itu sanggup untuk merebut hati para kedua orang tua itu. Rasa bahagia yang teramat dalam bisa memiliki keluarga yang utuh. Mungkin ini sudah ditakdirkan sebelumnya agar beliau dan istri bisa merasakan merawat seorang bayi nantinya. Sudah cukup lama proses lahiran Naura tak kunjung usai dan disitu pula kecemasan pak Aan beserta pelayan yang ikut binggung.
Oek,, oek,,oek
Tangisan bayi yang terdengar dari balik pintu. Pak Aan dan para pelayan langsung bersorak gembira karena telah mengetahui jika nona kecil Naura telah berhasil melahirkan bayinya. Tepat sekitar 15 menit lagi terdengar tangisan bayi yang satunya. Lega bercampur bahagia karena sekarang mereka memiliki keluarga tambahan. Walaupun mereka semua tak ada ikatan darah tapi ntah kenapa dokter Vineta dan pak Aan sangat menyayangi Naura seperti putrinya sendiri. Setelah semuanya yang ditunggu-tunggu sudah lahir dibantu pelayan pribadi yang membantu dokter Vineta tadi langsung membawa kedua bayi yang lucu-lucu keluar ruangan agar pak Aan tak terlalu menunggunya.
__ADS_1
"Wah cucuku, aku sayang kalian, ucap pak Aan yang melihat pelayanan rumahnya yang keluar dari ruangan bersalin Naura sambil membawa dua bayi yang sudah rapi dan lucu itu. Takut ingin mengendongnya ala hasil satu bayi yang digendong pelayanan yang tadi ikut menunggu diluar ruangan tadi.
"Tuan, bayinya cantik tuan, satu kalimat yang terucap dari pelayanan itu. Membuat pak Aan yang ingin melihatnya juga.
"Apakah jenis kelamin cucu ku bik, aku ingin cepat mereka besar dan bisa aku ajak main ke mana-mana bik, sapa pak Aan yang sambil menoel pipi bayi mungil itu.
Oek,, oek,,
Mungkin karena satu dari mereka diperhatikan maka bayi yang satupun ikut menagis karena tak ingin kalah perhatian. Langsung saja pak Aan melihat bayi yang tadi menangis.
"Mah, aku bahagia sekali mah bisa bersama mereka. Apakah cucu kita ada yang laki-laki? ,tanya pak Aan yang langsung mendekati istrinya tadi.
__ADS_1
Dokter Vineta yang ditanya suaminya pun langsung menangis tak kuat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya itu. Karena selama ini ia tak bisa membuat suaminya bahagia. Karena tak mendapatkan keturunan itu adalah hal yang sangat menyakitkan daripada tak dianggap sebagai teman. Sambil mengusap air mata akhirnya dokter Vineta mengangguk kepala tanda iya atas jawabannya dari suaminya.
"Iya Pah, cucu kita satu laki-laki dan yang satu perempuan. Kita telah memiliki keluarga lagi Pah, sahut dokter Vineta langsung memeluk suaminya.
"Wah jika ada yang laki-laki satu perusahaan Papa yang ada di daerah W sudah milik dia sejak ia menangis tadi Mah. Tadi aku sempat bilang jika cucuku ada yang laki-laki ia yang akan meneruskan apa yang aku punya ini Mah. Mungkin ini semua sudah takdir Allah kita dipertemukan dengan Naura."Terus Naura gimana Mah?
"Naura sedikit sudah membaik dia sedang di tunggu bibik Pah. Apa Papa gak terlalu berlebihan jika memberikan kantor Papa pada cucu Papa? ,Kita kan hanya keluarga sementara jika Naura ketemu keluarganya juga akan kembali kan Pah, kata dokter Vineta yang menyadarkan suaminya itu.
"Nggak mah, aku ikhlas kok memberanikan itu semua. Walaupun mereka sudah dijemput keluarganya pun aku akan tetap menyayangi mereka semua Pah, ucap pak Aan pada istrinya yang disaksikan para pelayannya itu. Mendengar itu semua dari suaminya akhirnya dokter Vineta langsung memeluk tubuh suaminya sambil menagis sejadi-jadinya.
"Terima kasih Pah, atas perhatian Papa pada Naura dan cucu-cucu kita. Semoga itu semua tak akan cepat terjadi. Karena sekarang mereka adalah cucu kita yang harus dijaga sampai kapanpun Pah, sahut dokter Vineta yang membenarkan ucapan suaminya itu.
__ADS_1
Setelah pernyataan tadi akhirnya suami istri tadi langsung masuk ke ruangan Naura dan melihat keadaan Naura yang masih tertidur karena bius yang masih berpengaruh. Saling memberikan perhatian pada anak yang sudah mereka rawat itu. Tak ingin meninggalkan dia dalam keadaan susah jadi mereka malah menyayangi Naura bak anak sendiri.
"Makasih ya Allah kau berikan kami anak sebaik Naura ini, semoga dia tetap akan jadi anak kami selamanya, amin doa dokter Vineta sambil menyingkirkan rambut Naura yang masih tertidur itu. Pak Aan yang melihat itupun langsung menepuk pundak istrinya agar tak kembali ceria di saat Naura terbangun nanti. Andai Allah mengijinkan mereka memiliki anak kandung sendiri pasti bahagianya melebihi yang saat ini mereka berdua rasakan.