
Tepat pagi ini semua keluarga Fiki yang sengaja tak pulang dari kediaman orang tuanya itu sudah siap dengan tugas masing-masing untuk mencari Naura. Dari segala pembagian sudah ditetapkan tadi malam, apalagi karena memiliki 4 keluarga sekaligus maka tugas itu semakin ringan ada yang ditugaskan untuk mencari ditempat teman-teman Naura. Ada yang mencari di kampus sekiranya Naura sudah mengenal salah satu teman atau apalah. Serta tugas mencari di kantor polisi yang akan melaporkan kehilangan Naura tapi nunggu 2×24 jam jadi agak nunggu sebentar lagi sambil berdoa semoga cepat ketemu. Sedangkan untuk tugas yang paling berat adalah mencari dari keluarga yang mungkin akan disinggahi Naura nanti. Pembagian yang sangat adil tak ada yang hanya berpangku dirumah mulai pagi ini. Sedangkan untuk Fiki ia tak bisa bangun pagi karena semalam ia tak bisa memejamkan mata sampai-sampai ia baru bisa tertidur subuh tadi. Berbekalkan pesan yang dititipkan pada bik Ina yang akan mengurus keperluan Fiki nantinya.
__ADS_1
Tepat pukul 09.00 pagi Fiki yang abru membuka matanya kaget karena sudah melihat cahaya matahari yang sangat terik sekali. Langsung saja ia melihat jam yang ada di dinding dan langsung berdiri karena kaget ternyata ia sudah bangun kesiangan. Baru akan masuk kekamar mandi untuk mandi ia langsung merasa sangat mual dan lemas, mungkin karena semalam ia tak selera makan kali ya. Semakin lemas dan lemas ia yang berpegang pintu kamar mandi pun akhirnya menagis sambil ia merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan kau siksa aku Naura, cepat pulang aku merindukanmu, kata Fiki yang menagis sambil ia merasa masih lemes itu.
__ADS_1
"Non, kita coba ke dokter aja gimana non, soalnya gak membaik kaya gini, ungkap bibik sambil memijit kening Naura. Melihat Naura yang tak bisa berbuat apa-apa bibik juga sangat sedih walaupun baru kenal tapi rasanya Naura adalah orang yang sudah dekat mereka. Sedangkan untuk memberi tahu ibuk Vineta tidak diperbolehkan oleh Naura sendiri takut menganggu ibuk angkatnya itu.
__ADS_1
"Udah bibik temenin Naura aja bik, nanti juga mendingan kata Naura lemah sambil ingin membuktikan bahwa ia tak kenapa- napa. Tapi Naura ingin mencium bunga mawar putih yang masih segar bik, bibik bisa bantu, kata yang tak terasa keluar dari mulut mungil Naura yang membuat bibik mendengarkannya langsung melihat kearah Naura yang masih tak bergerak itu. Rasa takut pun tak kunjung hilang dari bibik yang ketakutan itu.
__ADS_1