
Fiki tak ingin menganggu adiknya yang tidur itu walaupun ia sendiri merasa sakit ditangannya. Jika ia bisa meminta pada Tuhan untuk jangan putar waktu untuk sesaat agar mereka bisa berdua dulu sebelum ia akan pergi kerumah eyang.
Semakin Fiki melihat Naura semakin Fiki memikirkan tentang perasaan yang tak seharusnya tumbuh dihatinya. Mungkin perasaan ini tumbuh baru satu tahun ini Fiki rasakan sangat menyiksa dirinya. Sampai bagaimana pun caranya ia tak memperlihatkan itu dari ibuknya dan bapaknya serta di depan Naura sendiri.
Sudah sekitar 10 menit Fiki memperhatikan Naura masih nyenyak tertidur akhirnya ia ikut memejamkan mata karena ia juga sebenarnya masih sedikit lelah. Tapi pas ia mencoba tertidur ternyata Naura terbangun dan mengangkat kepalanya dari atas tangan Fiki tersebut.
'Maaf kak, Naura sudah salah menilai kakak. Naura janji akan menurut apapun perkataan kakak hanya kakak saat ini yang Naura cintai. Padahal Naura sempat ingin menjauhkan hati ini tapi tetap tak bisa kak. Selamat istirahat kak kata Naura yang ternyata masih bisa didengar oleh Fiki. Setelah Naura mengucapkan kata tadi Naura sempat mencium pipi Fiki dan langsung beranjak pergi untuk mandi dikamar mandinya.
__ADS_1
Sedangkan setelah Naura pergi Fiki yang tadinya memejamkan mata langsung duduk dan mengingat perkataan Naura yang ternyata ada rasa yang sama dengannya itu. Andai kami bukan saudara kandung aku akan memilikimu Naura, jawab Fiki lirih dan pergi ke kamarnya untuk mandi juga. Karena tak ingin menganggu Naura yang sedang mandi dia langsung pergi saja.
"La kok kakak gak ada ya tadi aku mau mandi masih tidur, apa dia udah kembali ke kamarnya ya, tanya Naura yang setelah mandi tak melihat Fiki di ranjangnya. Aduh mata aku masih kelihatan sedikit sembab nanti ibuk sama bapak nanya gak ya, kata Naura yang setelah melihat didepan kaca rias pantulan wajah yang begitu putih nan berseri.
"Sayang, kamu masih tidur kah, panggil ibuk yang melihat kamar Naura masih tertutup rapat. Karena sepeninggalan Naura tadi waktu Fiki mau bilang ke rumah eyang tak ada terlihat batang hidungnya.
"Kamu gak kenapa-napa kan, kok ibuk baru ingat setelah kakakmu pamit ke rumah eyang kamu gak keluar kamar, tanya ibuk Dini sambil melihat sembab di sekitar mata Naura yang masih nampak terlihat jelas.
__ADS_1
"Gak kok buk, Naura gak kenapa-napa asal kakak tetap bisa jaga kesehatan disana. Oya kan eyang juga lagi sakit kan biar sembuh kangennya juga buk, jawab Naura yang sambil menyisir rambut basahnya.
Tepat malam ini setelah makan malam bersama keluarga Naura dan Fiki langsung seperti biasa ikut duduk di depan ruang keluarga untuk sekedar berkumpul apalagi esok Fiki sudah harus berangkat kerumah eyang.
"Sayang, besok kamu mau berangkat jam berapa biar bapak gak kerja aja biar bisa ngantar kamu juga, ucap pak Catur yang menanggapi anak laki-lakinya dan sambil mengusap perut istrinya yang semakin membesar itu.
"Fiki berangkat pukul 13.00 pak paling soalnya biar sampai tempat eyang sore. Oya makasih ya pak sampai merelakan mau libur cuma buat antar Fiki aja, kata Fiki yang merasa bahagia memiliki bapak yang sangat sayang padanya.
__ADS_1