
Hari demi hari tak terasa sudah 2 Minggu sudah eyang meninggalkan semuanya. Selama 2 Minggu ini keluarga yang kemarin datang juga masih senantiasa di rumah eyang untuk mengenang dan untuk berdoa agar eyang ditempat disurganya Allah, Amin.
Tetap di hari ini keluarga nenek Leni memutuskan untuk kembali ke AS dan sedangkan untuk nenek Dina dan kakek Budi pun juga ingin langsung pulang untuk menyelesaikan tugas yang selama ini tertinggal, begitupun pak Catur dan ibuk Dini yang juga ikut pulang menyisakan Fiki dan Naura yang kekeh tak mau untuk ikut ke rumah mereka dulu. Mungkin karena mereka sudah ingin menuntaskan pendidikannya atau karena wasiat eyang yang penting Fiki harus tanggung jawab atas Naura yang mana semua keluarga pasrahkan padanya. Semua ya telah berpamitan pada Fiki serta Naura dan langsung menuju ke setasiun untuk keberangkatan. Sebenarnya ada rasa tak tega meninggalkan Fiki dan Naura di rumah almarhum eyang, tapi mau bagaimana lagi mereka juga sudah harus melanjutkan pendidikan yang belum juga usai. Setelah semuanya pulang akhirnya Fiki dan Naura tinggal berdua karena bik Ijem tak bisa ikut menginap di rumah mereka itu. Semuanya nampak seperti biasa tak ada yang berbeda sama sekali. Tapi siapa sangka jika ini semuanya awal kehancuran Naura yang tak bisa menjaga dirinya sendiri.
__ADS_1
*******
Tak terasa bulan terakhir Naura bisa melanjutkan untuk sekolah SMU, setelah melewati ujian Nasional dan ujian sekolah maka Naura dinyatakan lulus, tapi ini pilihan paling sulit baginya karena keluarga besar menginginkan ia kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan kuliah bersama kakaknya. Keluarga besar yang ada di kota tak begitu merelakan jika Fiki dan Naura harus hidup jauh dari mereka. Tapi bagi Fiki ia tak akan mengecewakan eyang yang sudah memberikan warisan rumahnya untuk ia tinggali dan untuk ia jaga. Untuk masalah Naura ia tak begitu mengharuskan ikut dengan dirinya tapi dia juga berharap ia bisa tetap ada disamping adiknya agar ia bisa menjaganya. Apalagi ia juga sudah mengetahui hal besar jika Naura sedang dekat dengan laki-laki lain di sini. Walaupun ia tau semuanya dan merasa sakit tapi ia tak akan egois untuk melarang Naura untuk pisah dengan teman dekatnya selagi masih bisa ia kontrol.
__ADS_1
Suatu pilihan yang sulit baginya, apalagi ia juga tak mau pindah dari rumah Eyang yang begitu nyaman itu. Setelah binggun dengan pikirannya akhirnya ia keluar kamar dan menuju ke ruang keluarga untuk melihat Televisi eyang yang ada diruangan itu saja. Pas sampai di ruangan itu ternyata Fiki juga ada diruang itu sedang melihat berita yang melanda Palestina.
"Kamu belum tidur dek, kan udah pukul 9 malam lho, besok kan kamu harus sekolah kata Fiki yang mengalihkan perhatian pada adiknya yang baru datang itu.
__ADS_1
"Naura belum bisa tidur kak, besok kan walaupun Naura masuk sekolah kan hanya mengumpulkan buku-buku pelajaran yang tak harus diwaktu kan kak, jelas Naura lagi.